Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Dia Yang Datang Dari Masa Lalu (Part 1)


__ADS_3

"I love you, Panji!" kalimat itu terus saja berdenging ditelinga Zikra. Deru suara sepeda motornya pun yang melaju kencang tidak mampu mengalahkannya. Suara itu yang terus saja berulang dan sangat memuakkan. Dia sangat terpukul hingga meninggalkan luka dan rasa sakit di dalam hatinya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian tadi. Kini dia baru mengetahui, dibalik sikap lugu Syifa menyimpan seribu kebusukan. Bayangan tentang Syifa yang selalu ingin mengakhiri hubungan pernikahan mereka, menari-nari di dalam memori ingatannya. Menambah luka batin yang sedang dideritanya


Apakah ini alasanmu tidak bisa menerimaku, demi memilih dia? Kamu jahat Syifa ... apa salahku hingga kamu tega melukai hatiku?


Zikra mengehentikan laju motornya. Sekuat tenaga berteriak melepaskan emosi jiwanya. Hingga suaranya mampu memecah keheningan malam.


“Aaaaa ….”


Syifa menangis setelah Nadya menolaknya hendak menjelaskan semua yang terjadi. Dia telah sangat marah


padanya. Pasalnya tidak menghiraukan permintaannya. Kini seakan tidak ada lagi celah untuknya bisa memperbaiki hubungan baik yang telah terjalin selama bertahun-tahun.


“Pa, kayaknya gue jatuh cinta deh,” ujar Nadya ketika saat istirahat bersama di kantin kampus di suatu siang.


“Jatuh cinta?” Syifa mengerutkan dahi. “sama siapa? Jangan bilang elo jatuh cinta sama Zikra lagi. Dia suami gue


sekarang,” lanjutnya geram.


“Tenang. Sekarang Bang Zikra buat gue cuma masa lalu. Lagian masih banyak ikan di laut. Ngapain gue capek-capek jadi pelakor,” sahut Nadya ringan.


“Terus, elo jatuh cinta sama siapa?” tanya Syifa penasaran.


“Sama Panji,” jawab Nadya tersipu malu.


“I love you, Panji!” mendadak kalimat itu mengiang di telinganya, merusak kenangan manisnya bersama Nadya. Ia


menangis sejadi-jadinya.


Syifa segera menyeka air matanya sebelum masuk ke dalam rumah. Memberi salam saat masuk rumah. Mencoba mengulas senyum meskipun sulit. Tetapi apakah senyum itu mampu menghapus luka di hati Zikra? Ia yakin pemuda itu pasti sangat terluka melihat kejadian di kafe tadi.


Zikra sudah mengganti bajunya bersiap hendak tidur. Sebelum tidur biasanya dia akan mengisi air ke dalam


botol minum di dapur. Dia menjawab salam Syifa di dalam hati. Sekilas dia melirik kedatangan Syifa. Mata gadis itu terlihat sembab seperti habis menangis. Mulutnya terasa terkunci, lidahnya pun keluh. Membuatnya tidak punya


gairah untuk bertanya atau sekedar menyapa.


Syifa melihat Zikra di dapur. Ia langsung bergerak mendekatinya. Namun Zikra bergegas beranjak pergi ketika


gadis itu mulai mendekat. Berjalan melewatinya seolah-olah tidak melihat kehadirannya.


“Zikra, tunggu!” seru Syifa cepat. Memutar tubuhnya.


Kontan Zikra berhenti. Tidak membalikkan badan hanya memunggungi. Dia tidak ingin melihat wajah wanita yang


telah mengkhianatinya secara terang-terangan.


“Ada apa? Katakanlah cepat. Aku udah mengantuk ingin segera tidur,” sahutnya dingin.


“Aku … aku …”


“Kalo enggak ada hal yang penting, sebaiknya jangan dibicarakan sekarang. Masih ada besok,” selanya lalu beranjak masuk ke dalam kamar. Menutup pintu rapat-rapat.


“Tapi, Zik,” Syifa mengetuk pintu kamar suaminya beberapa kali. “aku mau menjelaskan kejadian di kafe tadi. Zik,


Zikra ...” mengetuk pintu kembali. “sumpah demi Allah, aku sama Panji enggak ada hubungan apa-apa. Tadi aku cuma main game, dan sungguh, aku enggak ada maksud untuk … Zik … Zik … Zikra …,” Tidak ada jawaban. Syifa menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Zikra seraya mengusapnya beberapa kali. “maaf … maafkan aku … aku enggak bermaksud membuatmu sakit hati. Maaf …,” tandasnya lirih. Beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Zikra bergerak menuju tempat tidurnya, setelah sebelumnya berdiri di balik pintu kamarnya seraya menggenggam


erat botol minumnya. Duduk di atas kasur menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Sepasang mata indahnya menatap hampa dinding kamar yang sejurus dengannya. Hatinya terasa sakit dan perih menyisakan luka batin, yang entah kemana dia hendak mencari obat penawarnya. Dia menghela nafas untuk melonggarkan dua


rongga dadanya yang terasa sempit terhimpit cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Syifa terduduk di lantai menyandar pada pinggir tempat tidurnya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia frustasi dan sedih


telah kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang sangat dicintainya.


Malam panjang berlalu dengan kedukaan hati sepasang suami-istri yang takut kehilangan. Ironinya mereka tidak


berani menghadapi cinta mereka yang telah bersemi. Susah-payah menutupi kebenaran hati hingga tidak mengakui perasaan masing-masing. Tanpa mereka sadari kini tersesat dalam labirin taman cinta.


*

__ADS_1


Sebelum subuh Syifa sudah bangun. Memasak makanan untuk sarapan pagi. Ada secercah asa memotivasi dirinya. Senyum pun mengembang menyambut kehadiran Zikra di meja makan. Pemuda itu telah berpakaian


rapi siap berangkat kerja. Sebelum berangkat biasanya Zikra akan memakan apa pun yang Syifa masak. Namun tidak hari ini, Zikra hanya meneguk air putih yang dituangnya sendiri ke dalam gelas, tanpa menyentuh makanan yang telah disiapkan istrinya. Bahkan kotak makan pun sengaja ditinggalkan begitu saja di atas meja.


Syifa sangat sedih menatap kepergiannya. Buru-buru ia mengejar pemuda itu untuk menyerahkan kotak makan yang telah disiapkan untuknya. Tetapi sepeda motornya telah melesat jauh meninggalkan rumah mereka. Tidak terasa air mata Syifa jatuh berlinang di pipinya. Kemudian jatuh di atas tutup kotak makan yang digenggamnya.


“Mungkin dia lupa,” ucapnya lirih menghibur diri sendiri. “atau mungkin sebaiknya seperti ini, supaya saat itu


tiba, enggak ada lagi luka yang tertinggal.” Menyeka air matanya.


Seperti biasa Syifa mencoret tanggal yang telah dilewatinya setiap hari. Kebiasaan itu sering dilakukan sejak


pertama kali tinggal bersama Zikra. Tersisa dua puluh lima hari lagi. Ayahnya akan datang menjemputnya. Ia mendengus pelan. Dilirik dompet lipat hitamnya.


“Tinggal segini?” dengusnya menatap satu lembar mata uang lima puluh ribu. “ya udah, entar mampir ke ATM deh


sebelum ke kampus. Lagian gue kan belum ambil uang jatah bulan lalu. Lumayan. Apalagi kalo jatah bulan ini juga udah ditransfer. Enak double deh uang jajan gue,” tuturnya riang.


Syifa terkejut saat saldo ATM-nya belum bertambah, setelah diperiksa di ATM dekat mini market. Ia menghela nafas panjang.


“Ya ampun, gimana gue mau melanjutkan hidup kalo begini caranya?” keluhnya sedih. Menyandarkan punggunya


lemas di dinding kaca ruang ATM yang sempit. “apalagi uang belanja kemarin udah kepake sama gue. Sedangkan gue udah janji bakalan cepat menggantinya. Kalo begini kejadiannya, gimana gue bisa jelasin sama Zikra. Mana dia masih marah sama gue lagi.”


Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Setelah itu mencari satu nama kontak dari daftar nama yang ada. Lalu


menghubunginya. Tetapi nomor kontak yang dihubunginya tidak aktif.


“Ada apa ini? kenapa nomornya enggak aktif begini?” tanyanya sendiri seraya mengakhiri sambungannya.


Setibanya di kampus Syifa bergerak masuk ke dalam kelasnya. Duduk dideret kursi ketiga paling tengah. Pikirannya melayang mencari jalan keluar agar dirinya tidak kehabisan uang. Dan tidak perlu meminta uang kepada Zikra.


Sebagai seorang suami Zikra berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya, yaitu Syifa. oleh karena itu,


dia selalu memberikan sebagian besar penghasilan bulanannya kepada Syifa. Tetapi rasa gengsi gadis itu terlalu tinggi. Ia sering menolak uang pemberian Zikra. Walau pun pada akhirnya menerima dan menggunakannya.


Pada saat galau seperti ini biasanya Syifa selalu membaginya dengan Nadya. Namun semenjak peristiwa di kafe tempo hari, Nadya selalu menunjukkan sikap dinginnya pada Syifa. tidak jarang gadis itu pergi menghindarinya.


Panji sengaja masuk ke dalam kelas Syifa. Mencari duduk dekat dengan gadis itu. Tetapi dia langsung pergi


Syifa turun dari angkot di depan gang menuju rumahnya. Setelah itu ia berjalan kaki sampai tiba di rumahnya. Di tengah jalan ia melihat seorang gadis cantik. Rambutnya indah bergelombang dengan warna dark brown. Tubuhnya tinggi ideal. Kulit putih mulusnya menandakan dia sering melakukan perawatan. Berdiri tidak jauh dari mobil sedan merahnya. Gadis itu sedang mencari alamat rumah seseorang.


“Neng Syifa,” seru Bang Ari, penjual bensin eceran, mengibaskan tangang meminta gadis itu mendekat.


Serta merta Syifa menoleh, bergerak mendekatinya.


“Ada apa, Bang?” tanya Syifa penasaran.


“Coba deh dilihat!” titahnya menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah seseorang.


Syifa langsung menanggapi kertasnya.


“Lho, inikan alamat rumah saya, Bang,” ujarnya terkejut. “kok abang …”


“Jangan salah paham dulu,” sergah Bang Ari cepat. “ini nih, si Eneng lagi cari alamat orang yang namanya Fatir. Abang udah bilang kalo alamat rumah ini yang punya namanya Mas Gan sama Neng Syifa. Enggak


ada yang namanya Fatir di kompleks ini,” lanjutnya menjelaskan.


Gadis dengan tinggi seratus tujuh puluh satu senti meter itu, berdiri bertatap muka dengan Syifa. Senyumnya


terlihat mempesona dengan gigi-giginya yang rata dan putih. Aroma parfumnya semerbak sangat harum masuk dan menusuk ke dalam rongga hidung Syifa.


“Maaf, kenalkan namaku Ayuniatara,” gadis itu mengulurkan tangan mengajak Syifa berkenalan. “panggil aja Ayu.”


“Syifa,” sahutnya menyambut keramahan gadis itu.


“Aku udah keliling-keliling mencari alamat ini, tetapi baru ketemu sekarang. Tapi sayang, pemiliknya bukan Fatir.”


“Fatir?”


“Iya. Dia pacar aku, tapi itu dulu sewaktu kita masih sama-sama tinggal di Surabaya,” gadis itu tersenyum getir. “berhubung aku lagi liburan, jadi, aku menyempatkan waktu untuk menemuinya.”

__ADS_1


“Oh.” Syifa menganggukkan kepala.


Setelah beberapa saat terlibat obrolan berbau nostalgia, kedua gadis itu akhirnya berpisah. Ayu memilih


kembali pulang dengan mobil sedan mewahnya. Sedangkan Syifa melangkah maju menuju rumahnya.


Di depan rumah, ia disambut hangat oleh Dio. Anak tetangga depan rumahnya. Usia bocah itu sebaya dengan Ade. Oleh sebab itu, acap kali terserang rasa rindu pada adik bungsunya, kehadiran Dio sedikit banyak mampu mengobati rasa rindunya.


Tidak lama berselang, Mama Dio datang hendak menjemput bocah itu pulang. Melihat kedatangan Mamanya, Dio langsung bersembunyi di belakang Syifa. Kemudian Mamanya berhasil menggendong Dio, setelah puas main kucing-kucingan. Suara gelak tawa pun pecah, menghibur hati Syifa yang nelangsa.


Sebelum pulang, Mama Dio sempat memberitahu Syifa tentang seorang wanita muda. Dia tengah mencari alamat rumah seorang pemuda bernama 'Fatir'. Gadis itu pun menanggapinya, dan sedikit menceritakan pertemuannya dengan wanita muda itu di tengah jalan tadi.


*


Makan malam telah selesai Syifa siapkan di atas meja makan.


"Tinggal menunggu dia pulang," gumamnya dengan senyum bahagia.


Beberapa menit kemudian. Zikra pulang. Menyimpan sepeda motornya di ruang tamu. Karena belum memiliki garasi khusus.


"Kamu baru pulang?" tegur Syifa menyambut kedatangan pemuda itu.


Sontak matanya menoleh ke sumber suara.


"Hmm."


"Biar aku bantu," imbuh Syifa menawarkan bantuan seraya menyodorkan tangannya.


"Tidak perlu," sahutnya dingin. Lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Syifa terdiam menahan kegetiran. Senyumnya mengembang saat Zikra masuk dapur.


"Kamu mau makan?"


"Aku udah makan tadi di restoran bareng sama teman-teman kantorku," jawabnya dingin. Mengambil gelas dari dalam rak piring. Menuangkan air di dalamnya. Kemudian meneguknya sampai habis.


Syifa mendengus pelan. Memperhatikan pemuda itu dari ekor matanya.


Apakah dia masih marah?


"Zik,"


Langkah Zikra terhenti mendengar suara gadis itu memanggilnya. Dia tidak menjawab. Hanya berdiri mematung menunggu Syifa berbicara.


"Tadi sore ada wanita cantik cari alamat rumah kita."


"Siapa?"


"Namanya Mbak Ayu ... Ayuniatara."


Zikra terbeliak kaget mendengar nama itu disebut. Nama yang telah lama hilang dari ingatannya.


"Tara!" gumamnya pelan.


"Kamu kenal enggak? Katanya sih dia mau cari cowok yang pernah jadi pacarnya dulu."


"Siapa namanya?"


"Fatir."


Zikra terperanjat kaget.


"Kamu kenal sama cowok itu?"


Zikra tidak menjawab. Dia memilih masuk ke dalam kamarnya.


Syifa tertegun melihat sikap Zikra yang mendadak aneh, setelah mendengar nama-nama yang disebutnya barusan. Ia hanya mendengus pelan.


Fatir, siapa dia? Mungkinkah dia itu kamu, Zik?


 

__ADS_1


 


Bersambung ....


__ADS_2