Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Rindu Yang Menggantung


__ADS_3

Sore harinya setelah selesai mengikuti mata kuliah terakhirnya. Syifa terpaksa naik angkot pulang ke rumah. Lagi pula sebelumnya ia sudah sering pulang-pergi menggunakan jasa si mobil oranye. Bahkan saat masih duduk dibangku sekolah pun ia sangat menggantungkan mobilitasnya pada transportasi umum itu.


Syifa sengaja tidak meminta dijemput Zikra yang pastinya sedang sibuk dengan urusan kantornya atau hal lain yang tidak diketahuinya. Ia sudah banyak menghabiskan waktunya bersama Zikra selama libur mandirinya kemarin. Mungkin sampai mengganggu aktivitasnya di kantor. Pasalnya Zikra tidak mengatakannya secara langsung. Ia hanya menerka-nerka saja. Atau menghubungi Mang Ucup, sopir yang merangkap tugas menjadi tukang kebun di rumah yang baru dibeli Zikra. Berhubung kali ini ia akan pulang ke rumah lama. Rumah yang ditinggalinya sejak Ayah melimpahkan tanggung jawab kepada ZIkra sebagai suaminya, sebelum keberangkatannya menuju Batam.


Belum terlalu lama Syifa tinggal di rumah itu. Namun cukup banyak kenangan yang dilaluinya bersama Zikra. Sedih dan bahagia dilaluinya bersama. Membahas tentang kenangan, mendadak gadis itu jadi teringat kenangannya bersama keluarganya di rumah yang kini sudah ditinggalkan. Rumah itu sempat dikontrakkan oleh Ayah kepada orang lain menjelang kepergiannya ke Batam. Berhubung Ayah berada jauh diluar pulau Jawa, jadi tidak bisa mengurus prosedur kontrak-mengontrak rumah. Makanya Ayah mempercayakan urusan itu ditangan Cang Sholeh. Lantara Syifa belum mengerti mengenai urusan itu.


Kemudian Syifa memutuskan mampir sebentar ke rumah itu. Rumah yang terletak dikompleks perumahan biasa. Ia turun dari angkot di depan gang menuju rumahnya dulu. Setelah itu berjalan kaki masuk ke dalam gang.


Beberapa orang yang dulu pernah menjadi tetangganya di rumah lama menyapanya ramah. Syifa pun membalasnya dengan ramah pula. Kenangan demi kenangan selama tinggal di lingkungan kompleks perumahan berkelebatan di dalam benaknya. Sedari kecil ia sudah tinggal di daerah itu. Suka dan duka selalu dilaluinya bersama keluarga dulu. Jika waktu bisa diputar kembali. Ingin rasanya mengulanginya sekali lagi.


Tiba-tiba gadis itu terkejut melihat sebuah papan kecil yang digantung di atas gerbang rumahnya bertuliskan 'RUMAH INI DIJUAL.'


Dalam hati Syifa bertanya, "Siapa yang udah menjual rumah orang tua gue? Kok gue enggak tahu ya?"


Oh, Tuhan... bagaimana kabar Ayah, Bunda, dan Ade ya? Di mana mereka semua kini? Mengapa tidak ada kabar beritanya sedikit pun? Aku sangat merindukan mereka semua. Aku ingin bersama mereka saat ini juga. Memeluk dan bermanja-manja seperti dulu lagi. Lirih batin Syifa meratapi kerinduannya yang sulit terobati. Rindu yang terasa menggantung antara langit dan bumi.


Betapa hatinya sangat sedih bila benar sampai terjual rumah milik orang tuanya. Kemana mereka akan tinggal setelah mereka kembali dari Batam? Tidak rela rasanya harus kehilangan rumah ini.


Tidak lama berselang. Bu Lasmi yang memiliki rumah tepat di samping rumah lamanya, baru saja kembali dari luar hendak masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba melihat Syifa yang tengah berdiri mematung di depan rumahnya. Kemudian wanita yang kira-kira berusia sebaya dengan Bunda mengajaknya mampir. Tanpa ragu Syifa langsung bertandang masuk dan duduk di kursi teras rumah Bu Lasmi.


"Eh, Mbak Syifa, kemana aja, baru kelihatan?" tegurnya ramah.


"Iya Bu."


"Gimana kabar Ayah sama Bunda, baik?" lanjutnya ingin tahu.


Syifa terdiam sejenak. "Baik." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Oya. Kapan kamu dan keluarga balik ke sini? Kok gak langsung kembali ke rumah sini, tapi malah dijual?" selidik Bu Lasmi.


Belum sempat Syifa menjawab, Bu Lasmi langsung berbicara lagi.


"Humph... mentang-mentang kerja di Batam, dapat gaji besar mau langsung menetap di sana. Dan enggak mau balik ke sini lagi, ya. Jadinya rumahnya langsung dijual aja."


"Enggak gitu kok Bu Lasmi." bantah Syifa.


"Ngomong-ngomong mana Bundamu? Kok kamu cuma sendiri aja?" Bu Lasmi celingak-celinguk mencari sosok Bunda.


"Saya datang sendiri kok, Bu Lasmi."


"Lho, kok bisa sendiri? Terus, Bundamu di mana?"


"Masih di Batam." sahut Syifa ragu.


"Enggak. Saya memang enggak ikut Ayah Bunda ke Batam."


"Lho, kok bisa?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Ceritanya panjang Bu Lasmi. Enggak cukup satu bab kalo ditulis di buku." jawab Syifa asal-asalan.


Karena ia tidak tahu harus mulai cerita dari mana. Belum lagi masalah pernikahannya yang masih belum diketahui oleh warga sekitar. Pasti sudah pada tahu kan proses pernikahan Syifa dan Zikra bagaimana? Sampai orang tuanya berangkat ke Batam dan meninggalkannya di Bekasi. Lalu tinggal di rumah Zikra sampai saat ini.

__ADS_1


Walau pun para tetangga tahu dan pernah melihat sosok Zikra, lantaran pernah beberapa kali datang ke rumah Syifa. Tetapi mereka tidak penah tahu Zikra sudah menikahinya. Berdasarkan permintaannyalah kedua orang tuanya yang merahasiakan pernikahannya sampai lulus SMA. Namun belum sempat bercerita kedua orang tuanya sudah memutuskan pindah ke Batam.


"Ealaaahh. Kamu ini bisa aja." Bu Lasmi tampak kecewa.


Syifa tersenyum miris.


*


Di rumah kontrakan sederhana yang ditinggali Fauzi beserta istri dan anak bungsunya.


Fauzi terseok-seok merangkak keluar dari dalam kamar mandi. Pelan-pelan pria yang kini tidak segagah dulu menuju lemari susun untuk mengambil pakaiannya. Mengambil kaos berkerah dan celana panjang dengan hanya satu tangan yang normal. Sementara tangannya yang lain lumpuh akibat strok yang menyerang separuh tubuhnya.


Biasanya istrinya yang selalu membantu menyiapkan segala kebutuhannya. Namun saat ini istrinya belum pulang. Maka mau tidak mau Fauzi harus usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.


Dalam hati dia menangis pilu. Menangisi nasib dan kebodohannya yang sudah berhasil ditipu mentah-mentah oleh temannya sendiri. Dan membawa kabur uang tabungannya. Hingga menyebabkan penderitaan pada istri dan anaknya, juga dirinya sendiri.


Sungguh dia adalah suami dan ayah tidak berguna. Hanya bisa menyusahkan istri dan anaknya. Entah bagaimana dengan putri sulungnya yang dia tinggalkan bersama lelaki yang baru dikenalnya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia? Ataukah sebaliknya?


Hah, dia sangat merindukannya. Tidak terasa air matanya mengalir di pipinya.


Syifa... bagaimana kabar kamu, nak? Semoga kamu baik-baik saja bersama suami. Ayah berharap lelaki yang Ayah pilihkan untukmu adalah lelaki yang baik. Lelaki yang bertanggung jawab dan sayang terhadapmu, nak. Ayah di sini sangat kangen kamu, nak. Lirih batin Fauzi memikirkan putri tercintanya.


Bersambung .....


***


Happy reading!

__ADS_1


🙋 Hai readers! 🙏 maaf ya update hari ini cuma sampai di sini dulu ya. Author untuk ngantuk begadang teros hampir tiap malam. Jangan lupa untuk kasih vote, like, n komen yang positif ya. Supaya author semangat buat update episode terbaru. Mampir juga ke karya author yang lain. Semoga kalian suka dengan ceritanya. ❤️ luv u all!


__ADS_2