Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Aku Ingin Selalu Bersamamu


__ADS_3

“Aura, ayo kita naik!” seru Agra setelah kepergian Syifa. Raut wajahnya tampak tidak seceria sebelumnya. Ada


sejumput kekecewaan yang bersemayam di dalam hatinya.


“Iya. Ayo!” sahut Aini antusis. Senyum semringah mengambang di bibirnya setelah sebelumnya bersembunyi dibalik tirai cemburu, melihat Agra lebih akrab dengan Syifa hingga sering mengabaikannya. Tetapi senyumnya tidak berlangsung lama. Karena lagi dia kecewa. Sikap Agra tidak sesuai ekspektasinya.


Agra berjalan sendiri dan meninggalkannya. Dia sangat sedih merasa dibaikan. Padahal tangannya yang telah terulur berharap bisa bergandengan tangan selama meniti jembatan yang ada di hadapannya.


Sejak mengenal Agra di universitas, Aini sudah jatuh cinta pada sosoknya yang menyenangkan dan humoris. Sebelumnya tidak pernah seorang cowok pun yang mampu mengoyak hatinya sampai ingin menjadikannya


pacar. Walaupun ketika duduk di bangku SMA dia pernah menyukai Angga, sang Arjuna sekolah. Tetapi tidak lantas membuat dirinya terobsesi untuk mendekatinya.


Aini sempat berpikir, setelah kedekatannya itu Agra akan menembaknya menjadi pacar. Namun setelah Agra


bertemu dengan teman  semasa SMP-nya, yaitu Syifa. Menyadarkanya akan harapannya hanya berakhir menjadi angan semata.


Selama dekat dengan Agra, Aini sering mendengar cerita tentang seorang cewek yang sudah dijodohkan sejak kecil. Sampai tidak ada seorang cowok pun yang berani memacarinya. Termasuk dirinya


yang ternyata waktu itu diam-diam menyukainya. Untuk demi bisa selalu bersama cewek itu, dia rela dibully oleh teman sekelasnya. Tetapi Aini tidak pernah menyangka jika cewek itu adalah Syifa.


Seteli tiga uang dengan Aini. Ayuniatara mengerucutkan bibirnya menahan getir yang juga diabaikan oileh Zikra. Gadis itu memang sangat keras kepala dan terlalu terobsesi dengan cinta Zikra. Dia pun pernah ditolak sekali namun tidak menyurutkan asanya agar tetap selalu bersamanya. Oleh karena itu, sebisa mungkin dia akan merebutnya dari pelukan Syifa. Walaupun gadis itu adalah istri sahnya pemuda itu.


Sebenarnya Ayuniatara tidak ada dalam daftar rencana orang yang ikut dalam liburan kali ini. Beruntungnya kemarin malam dia berhasil menghubungi Aini, yang diketahuinya dari status Instagram milik Aini. Dia pun sengaja datang dan merusak perjalanan mereka dengan beralasan mobilnya mogok di jalan. Dengan mengabaikan perasaan Syifa, dia menyerobot duduk di samping kemudi agar bisa lebih dekat dengan Zikra. Bodohnya gadis itu hanya duduk manis di bangku belakang menjadi penonton.


Ayuniatara sangat senang dan tertawa dalam hati waktu itu.Dia merasa menjadi pemenang atas cinta Zikra. Begitu pula setelah sampai di resort tangannya tidak mau melepaskannya bagai pasangan kekasih yang dimabuk cinta. Sementara dia tahu Zikra sangat tidak nyaman dengan keberadaannya. Bukan Ayuniatara namanya jika langsung menyerah begitu saja.


Tetapi pemandangan saat Zikra melepas genggaman tangannya, lalu beralih menggenggam erat gadis ingusan itu sontak membuatnya menjadi orang kerdil. Tidak bisa menunjukkan senyum penuh kesombongannya lagi.


Sinar matahari begitu terik seakan membakar kulit. Syukurlah ada semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, sedikit banyak dapat menyejukkan suasana. Tumbuhan mangrove yang tumbuh di sekitar kanan dan kiri jembatan yang digenangi air laut dangkal memberi kesan hijau, dan sedikit memberi aura kesejukan di cuaca panas seperti itu.


Sebenarnya tidak ada yang spesial pada jembatan kayu berwarna merah muda mencolok itu. Hanya rasa ngeri yang menantang adrenalin saat meniti jembatan di awal masuk. Tetapi setelahnya hanya ada jembatan kayu biasa pada umumnya.


Syifa menghela nafas panjang setelah berhasil satu demi satu meniti anak tangga jembatan cinta.


Zikra tersenyum cerah melihat ekspresi takut bercampur lelah pada wajah Syifa. Gadis itu tampak sangat imut membuatnya tidak bosan menatapnya. Tangannya masih menggandeng erat jemari gadis yang telah resmi menjadi istrinya. Tanpa ragu dia menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinganya, saat rambutnya tertiup angin sampai menghalangi pandangan matanya.


Syifa tertunduk tersenyum malu mendapat perlakuan istimewa dari Zikra. Wajahnya merona disertai desiran halus di rongga dadanya. Ini adalah sejarah terindah dalam hidupnya. Dalam hati berharap ia bisa merengkuh kebahagiaan ini untuk selamanya. Tidak ada seorang pun yang datang mengusik keharmonisan mereka.


"Kamu capek?" tegur Zikra penuh perhatian.


"Iya." Syifa mengangguk pelan.


"Ya udah, kita istirahat aja yuk di sana." Zikra menunjuk ke sebuah gazebo paling kanan. Di sana


terlihat paling sepi dibandingkan gazebo yang lain, telah dihuni oleh beberapa pengunjung lain yang sedang berteduh.


Agra menatap nanar kedekatan Syifa dengan cowok yang seharusnya ada bersama kakak sepupunya, Ayuniatara. Tangannya mengepal erat menahan kepahitan hatinya.


Pandangan Ayuniatara teralihkan ketika melihat dua pengunjung lain yang juga berjalan di jalan yang sama


dengannya. Namun langkah mereka lebih cepat darinya. Ada hal yang membuatnya iri pada dua orang asing itu, yaitu mereka tampak bergandengan erat sambil berjalan beriringan. Sesekali terdengar suara gelak tawa harmonis mereka yang terkesan romantis.


Syifa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bangunan terbuat dari kayu itu. Dirinya yang kini berada di dalam gazebo dapat melihat tumbuhan mangrove yang rimbun dan rindang. Ada beberapa perahu yang sedang mengapung di atas air laut. Berhubung tempat ini adalah tempat wisata, maka perahu-perahu itu dapat dipastikan bukan perahu nelayan. Melainkan perahu angkutan untuk mengantar para wisatawan berkeliling hingga hutan mangrove. Apalagi saat ini sedang akhir pekan, maka pengunjung yang datang lebih banyak dari hari-hari biasa.


"Kamu lagi mikirin apa?"


Serta merta Syifa menoleh ke sumber suara. Sontak ia terkejut ketika melihat Zikra sudah ada di belakangnya dengan jarak yang sangat dekat.


"Ah, enggak kok." Syifa tampak gugup buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan. Sepertinya ia belum


terbiasa bersama Zikra sedekat itu. Tidak heran kegugupan dan debaran jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya sering datang menggodanya. Lagi, pipinya bersemu merah. "aku cuma lihat perahu-perahu itu aja." lanjutnya mengacungkan jari telunjuknya.


"Kamu mau naik perahu?" Zikra mendekatkan wajahnya ke telinga Syifa.


"Naik perahu?" terdengar suara Agra baru saja muncul di belakang mereka.


Serta merta Zikra dan Syifa memutar kepala bersamaan ke sumber suara.


"Wah, ide bagus. Ayo, kita naik perahu sama-sama." lanjut Agra antusias.


Syifa dan Zikra saling bertukar pandang.


Aini mendengus pelan. Berusaha menyunggingkan senyum ingin mengambill hati Agra. "Aku juga mau,


Gra."


"Fatir, kita duduk di bangku paling depan ya, supaya bisa lihat pemandangan lebih enak." Tiba-tiba


Ayuniatara menarik lengan Zikra menjauh dari Syifa. Lalu melingkarkan tangannya manja di lengan Zikra.


Syifa terdiam melihat suaminya digeret gadis lain.


Haduh! Lelah hayati deh, lihat pemandangan begini lagi. Alamat jadi obat nyamuk lagi deh gue!


Zikra tampak kesal saat melirik Syifa yang terlihat acuh. Padahal gadis itu bisa saja menghalangi Ayuniatara


mendekatinya dengan berbagai macam alasan atas nama nyonya Zikra.


Ini cewek enggak peka apa ya? Atau emang enggak cinta? Masak suaminya didekatin cewek lain kelihatan santai-santai aja. Enggak marah sama sekali.


Zikra menepis pegangan tangan Ayuniatara seraya melirik Syifa. "Sori, Tara. Aku ..."


"Mbak, apa Mas Zikra ini cowok yang selalu Mbak ceritain?" Agra sengaja mengatakan hal itu, dengan


harapan Syifa menjauhi Zikra.

__ADS_1


Ayuniatara tampak tersenyum malu. Diam-diam gadis itu sering menceritakan kisah cintanya yang hanya sesaat pada Agra. Tentu saja cerita yang dia ungkapkan sudah dimodifikasi hingga terkesan memiliki kisah romantis layaknya pasangan yang saling mencintai.


"Cerita? Cerita apa?" Zikra mengernyit heran.


"Ah! Enggak kok ..."


"Mbak Tara ini sebenarnya jaim apa julit sih? Suka malu-malu mengakuinya, tapi perbuatannya gercep juga."


Agra menyeringai menggoda. "pantas aja sedari tadi digandeng terus, enggak mau lepas."


Syifa mengerutkan bibirnya menahan amarahnya. Lalu membuang pandangannya kembali ke arah laut yang tenang. "Humph! Ternyata semua cowok itu sama. Dasar kucing dapur!" umpatnya setengah berbisik.


"Kamu ini ngomong apaan sih, bocah tengil?" ucapan Ayuniatara seakan ingin mengelak, tetapi perbuatannya seakan mengaminkan.


Dering suara ponsel Ayuniatara mampu mengalihkannya. Kemudian memisahkan diri sejenak untuk menerima panggilan. Sebenarnya dia enggan menerimanya. Pasalnya membuat Zikra kembali mendekati Syifa. Tetapi bila mengabaikannya dia khawatir dapat menggagalkan rencananya.


“Iya. Tunggu aku aja di situ. Aku akan segera ke situ.” Ujarnya mengakhiri sambungan telepon.


“Dari siapa, Mbak?” tanya Agra ingin tahu.


“Oh, dari teman kantor Mbak. Mereka udah sampai di penginapan.” Sahutnya.


“Teman kantor?” Agra meminta penjelasan. Walaupun cowok itu belum terjun langsung untuk mengelola resort milik keluarganya. Sedikit banyak dia tahu siapa saja yang menyewa penginapan yang terletak di pinggir pantai itu.


“Iya. Jadi, seminggu yang lalu kantor Mbak memberikan voucher menginap untuk beberapa karyawan yangb memiliki kinerja bagus.” Jelasnya agak terbata.


Sebenarnya di kantor tempat Ayuniatara bekerja, tidak lain perusahaan milik orang tuanya tidak ada hal yang


diucapkan gadis itu. Dia sengaja menanggung resiko agar bisa selalu dekat dengan Zikra, sekalipun harus menipu rekan kerjanya, Bonang dan Rifa’i untuk memuluskan rencananya.


Agra menyewakan sebuah perahu mesin untuk mereka. Berkeliling agar bisa menikmati pemandangan di sekitar perairan asin menuju hutan mangrove.


Zikra sengaja duduk berdekatan dengan Syifa. Bahkan tanpa sungkan tangannya merangkul bahu gadis itu, yang disambut semu merah di wajah Syifa karena malu sampai penolakan halus. Tetapi dia tetap menempelkan lengannya sampai tubuh bagian samping mereka saling bersentuhan. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi si cowok tengik, Agra, yang mendekati istrinya. Selain itu membuat Ayuniatara gerah melihat keromantisan mereka, dan tidak berusaha untuk mengganggunya lagi.


Namun ada yang diam-diam membuat hati Zikra sedih. Apalagi bila bukan tentang Aini. Padahal dialah yang paling antusias mengajaknya berlibur agar bisa berbulan madu dengan Syifa. Gadis itu sempat berharap besar atas hubungannya dengan Agra. Sayangnya, manusia hanya bisa berencana. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Agra mendekati Syifa dengan kenangan-kenangannya semasa SMP. Lalu membuat Aini menjadi orang asing dalam cerita yang didongengkannya.


Di sepanjang perjalanan dengan perahu mesin yang suaranya sangat memekakkan telinga. Mereka menjumpai para pemancing yang sibuk dengan kailnya, berdiam di tengah laut pada batang-batang bambu yang disusun rapi menjadi keramba. Ada pula rumah-rumah yang terbuat dari pagar bambu berbentuk panggung, berdiri kokoh di atas daratan menyerupai pulau buatan.


Setibanya di hutan mangrove mesin motor yang tadi digunakan untuk menggerakan perahu dimatikan. Mengizinkan para penumpang yang masih berada di atas perahu untuk melakukan kegiatan sesuka hati untuk beberapa saat. Tentu saja kegiatan yang sering dilakukan kebanyakan pengunjung adalah berswafotoria di antara rindangnya hutan mangrove.


Aini langsung mengajak Agra menyempatkan diri berswafoto bersama. Rona keceriaan terpancar di wajahnya. Zikra pun girang melihat ekspresi adiknya tanpa dibuat-buat.


Bukan Ayuniatara namanya jika langsung patah arang dan melepaskan Zikra begitu saja. Tanpa sungkan dia menarik pemuda itu turun dari perahu. Pindah ke daratan yang dikelilingi tumbuhan berakar tunjang, berbentuk seperti jari-jari tangan yang sedang mencengkeram tanah. Setelah berswafoto dengan pose yang sangat mesra.


Syifa mendengus sambil membuang muka. Mengeluarkan ponselnya dan berswafoto sendiri. Setelah beberapa jempretan ia memutuskan untuk kembali ke perahu. Perasaannya cukup luka melihat kemesraan suaminya dengan gadis lain. Dengan sikap Zikra yang masih peduli pada Ayuniatara, membuatnya ragu akan cinta Zikra terhadapnya.


Zikra langsung meninggalkan Ayuniatara ketika melihat Syifa sudah duduk di atas perahu.


"Ngapain nungguin orang yang lagi asyik bermesraan, bikin sakit mata aja." sahut Syifa ketus tanpa melihat wajah Zikra.


"Kamu marah ya sama aku?"


"Ngapain marah? Toh, yang di hati kamu tetap dia bukan aku." suara Syifa terdengar bergetar. Entah mengapa dadanya terasa sesak dan sedih bersamaan menyelimuti perasaannya. Wajahnya tertunduk menutupi matanya yang mulai basah dan terus memenuhi pelupuk mata.


Zikra tidak bisa mendengar kalimat yang diucapkan Syifa. Karena pada saat Syifa mengucapkannya bertepatan dengan suara mesin yang baru saja dihidupkan si empunya perahu. Dia hanya terdiam berusaha menebak apa yang baru saja diucapkan istirnya.


Di bawah payung besar dengan corak pelangi, meja kayu bundar dan kursi kayu terletak di bagian belakang penginapan, adalah tempat yang dipilih Agra untuk menikmati makan siang bersama Aini, Ayuniatara, Zikra dan Syifa, setelah selesai berkeliling dengan perahu.


"Katanya ada acara kantor, kok Mbak cuma datang senirian sih?" selidik Agra merasa curiga.


"I-iya. Enggak kok, ada teman kantor Mbak yang bakalan datang juga. Mungkin sebentar lagi mereka sampai."


"Oya?"


"Hmmm." Ayuniatara menganggukkan kepalanya.


Agra tidak langsung percaya dengan ucapan kakak sepupunya. Sedari tadi dia merasa ada yang tidak beres pada gadis yang disapa Mbak Tara itu. Bahkan kini dia pun mulai ragu dengan kisah cinta Mbak Tara-nya itu dengan Zikra, setelah melihat bagaimana cowok itu berusaha menghindari Ayuniatara, dan terus saja mendekati Syifa.


Agra pun belum mengetahui ada hubungan apa antara Syifa dan Zikra. Teman lamanya itu belum bercerita banyak tentang hal itu. Selama ini yang dia tahu hanya masalah Syifa telah dijodohkan oleh seorang lelaki yang belum pernah dikenalnya sejak kecil.


Mungkinkah Zikra adalah orangnya?


Agra melihat Syifa, Zikra dan Ayuniatara secara bergantian. Mulutnya masih mengunyah pelan makanan yang telah tergiling oleh giginya.


"Syif, gue baru ingat, elo kan suka banget sama udang saus tiram, iya kan?" ujarnya mencairkan kebekuan yang sempat terjadi beberapa saat. "lihat nih! Gue udah sengaja minta koki terbaik di sini buat nyiapin ini khusus buat elo." Agra mendekatkan piring berisi udang saus tiran yang yummy, membuat orang ngeces melihatnya. "gue suapin, ya!"  lanjutnya mengangkat sendok yang telah terisi seekor udang berlumur saus tiram.


Syifa tersentak kaget. Tatapannya bersirobok dengan Zikra, menggelengkan kepala pelan seakan sedang memberi penjelasan, bahwa hal itu bukan atas kemauannya sendiri.


Ayuniatara tersenyum bahagia, merasa cara adik sepupunya mendekati Syifa sebagai bantuan suka rela untuk memuluskan rencananya.


Wajah Aini pias melihat kedekatan cowok yang sudah lama ditaksirnya itu dengan kakak iparnya sendiri. Tanpa sadar dia mencengkeram erat sendok dan garpunya seakan ingin mematahkannya menjadi dua bagian.


Zikra mengunyah lambat makanan di dalam mulutnya. Dadanya terasa bergemuruh menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, istri yang dicintainya digoda oleh cowok lain. Jika bukan Agra cowok yang sedang disukai Aini, sudah sejak tadi dia mendaratkan bogeman mentah ke wajah bocah tengik itu.


"Ayo, buka mulut lo!" titah Agra mengarahkan sendok ditangannya ke mulut Syifa. "a..."


Syifa melirik wajah Aini yang tampak merah padam. Sepertinya gadis itu geram padanya, karena telah merebut perhatian Agra.


Mendadak Zikra membelokkan tangan Agra, hingga sendok berisi udang itu masuk ke dalam mulutnya. Dengan cepat ********** habis.


Aini, Ayuniatara juga Syifa terkejut. Mereka semua tahu bahwa Zikra alergi udang. Tubuhnya akan gatal dan merah yang disertai bintik merah di permukaan kulitnya.


"Mas Zikra ternyata suka juga ya?" seringai kecil menyungging di bibir Agra merasa tidak berdosa.

__ADS_1


"Aa, enggak papa?" tanya Aini panik sambil menyentuh bahu kakaknya.


"Enggak." sahutnya menggelengkan kepala pelan. Menahan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya.


Ayuniatara meneguk salivanya susah payah. Dia sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada Zikra, setelah mengingat peristiwa makan malam di rumah Surya beberapa waktu lalu.


"Aura, kamu tahu gak? Tentang Syifa sewaktu di SMP dulu." Agra mengalihkan pembicaraan. Wajahnya tampak semringah mengingat masa itu.


Aini menoleh ke arah Agra dengan tatapan dingin.


"Dulu, Syifa tenar banget lho. Kamu tahu kenapa?"


"Elo ngomong apaan sih, Gra?" sela Syifa tidak enak hati pada Zikra yang diam-diam sedang menatapnya tajam. "elo enggak usah ngomongin masalah yang udah berlalu, udah basi tahu!"


"Enggak papa lagi, Syif."


Syifa yang duduk diapit oleh Agra dan Ayuniatara, menatap Zikra dengan perasaan campur aduk. Ingin rasanya ia berlari memeluk suaminya yang wajahnya perlahan berubah pias. Gejala alergi sedikit demi sedikit mulai muncul di permukaan kulit tangannya.


Aini memberikan air minum pada Zikra sambil mengelus punggungnya penuh kasih sayang.


Zikra pun langsung meneguknya perlahan.


"Syifa tenar karena dia masih kecil udah dijodohin sama orang tuanya. Hahaha," lanjut Agra disertai tertawa renyah. "udah kayak Siti Nurbaya aja? Makanya, dulu kita sering ngeledekin dia, kalo calon suaminya bakalan setua Datuk maringgi, anunya kecil dan lemah seperti jamur Enoki. Hahaha ..." cowok itu kembali tertawa geli.


Tiba-tiba Zikra tersedak. Entah sengaja atau tidak air yang masih di mulutnya menyembur tepat mengenai wajah Agra.


Sontak suara tawa bocah tampan nan tengik itu terhenti. Terdiam sejenak sebelum mengusap wajahnya yang basah.


"Sori-sori, aku enggak sengaja." Zikra langsung meminta maaf lalu terbatu.


Ayuniatara membantu membersihkan wajah adik sepupunya dengan tisu.


"Agra, elo enggak papa kan?" tanya Syifa tidak bermaksud memberi perhatian. Namun sikapnya itu diartikan lain oleh Zikra dan Aini.


"De, Aa mau ke kamar." ujar Zikra dingin. Beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya. Tubuhnya tampak melemah. Beberapa kali tangannya terlihat mencengkram pahanya untuk menahan rasa sakit yang mulai menyerang sekujur tubuhnya.


"Zik, aku antar ya." Syifa beringsut dari kursinya.


"Enggak perlu!" sergah Aini ketus. "semua ini gara-gara elo. Gue bakalan buat perhitungan sama elo."


Syifa terdiam mendengar kata-kata Aini dengan nada ancaman. Kali ini adik iparnya itu tampak sangat serius.


"Fatir, aku bantu ya." Ayuniatara langsung memapah Zikra tanpa ragu. Diam-diam dia menoleh ke belakang sambil tersenyum sinis kepada Syifa.


Air mata Syifa jatuh berderai tanpa permisi. Namun buru-buru disekanya mengingat alergi yang diserita Zikra sudah menjalar nyaris keseluruh tubuhnya. Tanpa sungkan ia meminta bantuan Agra pergi membeli obat.


Dari jendela kamar penginapan Aini dan Ayuniatara menyaksikan kebersamaan Syifa dan Agra. Tentu saja Ayuniatara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membakar api cemburu di hati Aini.


Zikra memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur ,dari pada mendengar obrolan dua gadis yang masih menatap ke arah luar jendela. Meskipun dalam hati dia kecewa Syifa tidak ada bersamanya saat ini.


Aini menghalangi Syifa masuk ke dalam kamar untuk menemui Zikra. Tanpa basa-basi dia langsung menampar Syifa ketika baru kembali bersama Agra. Api cemburu yang telah membakar hatinya menutup mata dan telinganya.


"Dasar perempuan enggak tahu diri! Perempuan enggak benar!" hardiknya. "seharusnya dari awal gue biarin elo kabur di hari pernikan elo sama Aa gue. Supaya elo bisa puas mengejar setiap cowok yang udah elo goda."


"Tapi, Ni. Gue sama Agra emang benar enggak ada papa. Kita cuma temanan doag, enggak lebih." Syifa mencoba menjelaskan sambil menahan nyeri di pipinya sambil meremas bungkus obat yang baru saja dibelinya untuk Zikra.


"Aura, kamu enggak boleh berlebihan seperti itu. Aku sama Syifa adalah teman lama. Dia teman terbaik aku." Timpal Agra berharap Aini bisa menerima alasannya. "lagi pula, diantara kita enggak ada hubungan apa-apa. Aku hanya menganggap kita berteman baik. Jadi, tolong berhenti menyalahkan Syifa."


"Cukup Agra!" pekik Aini lirih. Hatinya sangat hancur mendengar pengakuan jujur Agra. Ternyata selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Hatinya terkoyak sungguh sangat menyakitkan.Air matanya jatuh tidak tertahankan. "maaf, ternyata aku udah salah mengira semua kebaikan dan perhatian kamu selama ini." suaranya bergetar.


"Agra, kenapa kamu enggak terima Aini jadi pacar kamu sih? Aini kan cantik dan baik hati. Dari pada bersama cewek centik yang enggak tahu diri dan statusnya." Ayuniatara berusaha menjadi pembela yang memihak Aini. Tetapi siapa sangka malah membuatnya memancing di air keruh. "sebaiknya kamu jauhin cewek seperti itu. Jangan sok seolah-olah kamu jatuh cinta sama dia."


"Mbak Tara, aku tahu maksud Mbak baik. Tapi, tolong hentikan sifat kemunafikan Mbak." pinta Agra sudah muak dengan kemunafikan kakak sepupunya. "Mbak Tara dan Aura. Aku sudah kenal Syifa jauh sebelum kalian mengenalnya. Dia anaknya baik. Enggak seperti yang kalian tuduhkan." dan, jujur harus aku akui, kalo aku memang jatuh cinta sama Syifa. Bahkan sejak kami masih SMP."   pengakuan Agra membuat Syifa dan Aini terbelalak.


"Agra?" Syifa tidak percaya mendengarnya.


"Maaf, Syifa. Tapi apa yang gue omongin ini adalah benar. Maaf, gue enggak maksud mengganggu hubungan lo dengan siapa pun. Inilah kenyataan yang selama ini gue pendam." Agra tersenyum pahit.


Kreek! Suara pintu dibuka. Semua orang mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Tidak lama berselang Zikra keluar dari kamar sambil menggeret kopernya. Wajahnya tampak lesu dan mengerikan akibat alergi yang sudah merajai kulitnya.


"De, kita pulang." titahnya. "memang sebaiknya kita cepat pulang. Liburannya udah selesai." melirik Syifa dingin.


"Zikra ..."


"Jangan dekatin Aa gue lagi!" sergah Aini menghalangi dengan tangannya. "elo sebaiknya pergi jauh dari Aa gue."


"Tapi, Ni. Zikra suami gue, gue berhak ..."


"Cukup!" bentaknya.


Syifa hanya menangis tidak berdaya.


Zikra bergeming dengan tatapan dingin.


Aini langsung menggeret kopernya keluar meninggalkan penginapan. Setelah sebelumnya sempat mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf pada Agra atas sikap dan perasaannya selama ini. Kemudian membawa Zikra pergi bersamanya.


Agra menarik lengan Ayuniatara saat akan ikut bersama mereka pergi. Dengan kasar dia menyeret kakak sepupunya pergi meninggalkan Syifa sendiri.


Tangis Syifa pecah meratapi nasibnya yang ditinggalkan.


Zikra ... kenapa sih, kamu enggak percaya sama omongan aku? Aku sama Agra enggak pernah ada hubungan apapun. Kami adalah teman. Selamanya hanya akan menjadi seperti itu. Karena di hati aku cuma ada kamu. Cuma kamu untuk selamanya ....


 


 

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2