
Zikra menatap foto Syifa lekat-lekat. Setelah menyelesaikan tugasnya memeriksa dokumen yang menggunung di atas meja kerjanya di kantor. Sesekali diusapnya dengan jari. Dia sangat merindukan sosok nyata wajah gadis itu. Sudah berbulan-bulan lamanya dia mengerahkan orang-orang suruhannya mencari ke seluruh penjuru kota, bahkan sampai keluar kota. Tetapi sampai saat ini hasilnya tetap nihil.
Meskipun demikian, Zikra masih tetap bersyukur karena bisa menyelamatkan keluarga Syifa dari kasus penculikan waktu itu. Dengan dibantu oleh Derry dan anak buahnya. Mereka berhasil menggagalkan aksi penculikan itu. Kini kedua orang tua Syifa, juga adik bungsunya hidup dengan aman dan damai di rumah mereka sendiri, yang sempat ditinggalkan serta nyaris dijual oleh kakak kandung ayah.
Seandainya saat ini Syifa berhasil ditemukan, alangkah bahagianya hati Zikra. Begitu pula dengan Syifa yang selama ini begitu merindukan keluarganya, sudah pasti kebahagiaannya lebih berlipat ganda dari apa yang dirasakan Zikra.
"Sayang... enam bulan udah berlalu, tapi aku belum juga bisa menemukan kamu, sayang. Dimana kamu? Aku disini merindukan kamu, sangat, sangat merindukan kamu. Sampai rasanya aku mau gila menahan rindu ini." bisik batin Zikra lirih.
Mendadak Zikra teringat ada satu hal mengusik pikirannya. Sudah dapat dipastikan hal tersebut bukan sesuatu yang dapat diremehkan. Buktinya hal tersebut mampu membuatnya berada dalam dilema besar. Hingga saat ini Zikra masih belum bisa menentukan solusi yang baik.
Humph... Zikra mendengus kasar. Beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya. Dia yang kini berdiri di lantai sepuluh depan kaca jendela transparan, mampu melihat pemandangan di luar sana. Semuanya tampak sangat jelas melihat pemandangan sekitar kota Jakarta di luar gedung kantornya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku udah enggak bisa mengulur waktu lagi. Sementara Syifa masih belum ditemukan." gumamnya pada diri sendiri. Hatinya benar-benar sangat gundah. Batas waktu yang diberikan Ayuniatara hanya sampai hari ini. pikirnya putus asa.
Tiga hari yang lalu, Ayuniatara mengajukan kerja sama kepada Zikra. Menurut gadis itu, kerja sama yang mereka jalin akan memberikan keuntungan bersama. Pasalnya kedua belah pihak tidak akan ada yang dirugikan.
Sore itu, di sebuah kafe tidak jauh dari kantor Zikra.
"Apa maksudmu?" selidik Zikra meminta penjelasan Ayuniatara, mantan pacarnya di masa lalu.
"Aku tahu dimana Syifa berada saat ini." sahut Ayuniatara cepat. Berharap Zikra tertarik dengan penawarannya.
Alhasil, bagai ikan yang memakan umpan pada kail yang terjulur di dalam air. Pemuda tampan itu langsung tertarik.
"Apa mau mu?" telisik nya tanpa basa-basi.
Ayuniatara menyeringai. Dalam hati dia merasa di atas angin. Juga sangat yakin Zikra akan mengikuti permainannya.
"Menikahlah denganku."
Sontak Zikra mendelik tajam. Tanpa sadar dia beranjak berdiri.
__ADS_1
"Aku rasa... enggak ada lagi yang bisa kita diskusikan." Zikra tidak tertarik dengan penawaran yang diajukan oleh gadis itu. Penawaran yang menurutnya sangat konyol.
Di dalam kamus hidupnya pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Bukan untuk diremehkan . Apalagi digunakan sebagai alat negosiasi seperti yang dilakukan Ayuniatara saat ini. Meskipun dalam hati Zikra mengakui awal pernikahannya dengan Syifa bukan berdasarkan cinta. Tapi setidaknya dia tidak pernah mempermainkan pernikahannya.
Zikra menarik ujung jasnya hendak mengaitkan kancing ke dalam lubangnya. Setelah itu dia memutar tubuhnya siap beranjak pergi.
"Kamu yakin tidak tertarik dengan kerjasama ini?" pertanyaan Ayuniatara sukses membuat Zikra ragu beranjak. Kemudian dia memilih untuk tetap bertahan.
"Aku tahu, kamu udah enggak punya perasaan cinta terhadap aku..." Ayuniatara sengaja tidak langsung menyelesaikan ucapannya. Dia ingin memastikan seberapa tertariknya sang mantan pacar dengan apa yang ditawarkan.
"Aku pun tahu kalo cinta dan hatimu hanya untuk Syifa. Sampai kamu kebucinan sama dia." lanjut gadis yang disapa Tara oleh Zikra itu, setelah beberapa detik terdiam menunggu respon Zikra. Namun pemuda itu masih memasang tampang dinginnya.
"Tapi percayalah, semua ini hanya kesepakatan kerjasama saling menguntungkan. Enggak ada hubungannya dengan hati." tuturnya berhasil membujuk Zikra. Akhirnya mereka berdua sepakat melakukan kerjasama itu.
Ayuniatara memang sengaja memanfaatkan Zikra untuk melawan Tasya, adik tirinya. Juga Haryanto Atmaja yang tidak lain adalah ayah tirinya. Untuk merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Karena dia tahu Zikra adalah orang yang tepat dan cukup kuat untuk melawan mereka. Sepertinya ada kebencian yang tersirat di antara mereka. Ya, Ayuniatara sangat membenci keduanya. Ayah dan anak itu sudah begitu kejam kepadanya, serta mendiang ibu kandungnya.
Sementara mereka tengah berupaya menyingkirkan Ayuniatara, untuk menguasai seluruh harta kekayaan dan perusahaan peninggalan dari mendiang kakeknya. Yang selalu diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.
Oleh sebab itu, saat mengetahui upaya pelenyapan Syifa pada malam itu. Tara sengaja menculik gadis malang itu. Bukan tanpa sebab. Melainkan upayanya untuk menggagalkan rencana jahat Haryanto Atmaja. Selain itu dia ingin menyingkirkan gadis itu dari hidup Zikra. Tetapi Syifa berhasil kabur sebelum sempat melakukan sesuatu padanya.
*
Ayuniatara sudah memesan ballroom hotel bintang lima di Jakarta, tentu saja untuk upacara pernikahannya dengan Zikra. Surat undangan pernikahan pun sudah disebar. Bila ditanya, apakah dia bahagia? Jawabannya sangat bahagia. Pasalnya rencananya untuk memiliki Zikra telah berhasil, walaupun belum seratus persen. Tapi setidaknya dia sudah selangkah lebih maju dari Haryanto Atmaja dan Tasya. Terbilang masih jalan ditempat.
Surya membanting surat undangan pernikahan Zikra dan Ayuniatara di atas meja setelah selesai membacanya. Pria itu tampak sangat kecewa dengan keputusan putra sulungnya itu. Wajahnya merah padam menahan amarah yang tidak bisa diluapkan. Walau bagaimanapun dia tahu alasan Zikra mau melakukan hal yang tidak ingin dilakukan.
Berbeda dengan sang Mama yang tampak bahagia. Akhirnya dia memiliki menantu yang sederajat dengan keluarganya. Tidak seperti Syifa. Gadis itu tidak dapat dibanggakan dari sudut manapun dia memandang.
*
Di rumah Fauzi.
__ADS_1
Ade sedang bermain bersama teman, anak dari tetangga sekitar rumahnya di teras rumah. Semua mainan yang dimilikinya tumpah ruah di lantai. Bocah-bocah itu tampak sangat menikmati kegiatannya dengan senang. Tidak ada beban maupun derita yang terpancar dari bocah-bocah polos itu.
Fauzi dan istrinya memilih berada di dalam kamar mereka. Bukan untuk melakukan kegiatan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Melainkan bersembunyi menumpahkan air mata setelah membaca surat undangan pernikahan Zikra dengan gadis lain, yang dikirim tadi pagi oleh Zikra sendiri.
Ketika menghadap kedua orang tua yang sangat disayangi oleh istrinya itu, dia bersimpuh dan memohon maaf atas apa yang akan dilakukannya. Berhubung mereka belum mengetahui fakta sebenarnya tentang Syifa, kedua orang itu hanya bisa merestui.
*
Di ruang kerja Haryanto Atmaja
"Pa, kita enggak boleh tinggal diam melihat Mbak Ayu berhasil menikah dengan Zikra." rengek Tasya.
"Kamu tenang saja. Papa sudah punya rencana untuk menggagalkan pesta pernikahan mereka." sahut Haryanto Atmaja menenangkan putri kandungnya. Dia menyeringai licik.
Bersambung...
***
🙋 Hai readers... 🙏 maaf ya baru update lagi hari ini. Karena author terlalu larut dengan tugas-tugas di dunia nyata. Semoga update hari ini bisa mengobati rasa penasaran para readers semua.
Jangan lupa untuk kasih vote, like n komen positif yang selalu author tunggu.
❤️❤️ Luv u all... 🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading... 🤗😁✌️🥰