
Awan kesedihan tampak telah berganti dengan cahaya kebahagiaan. Kebekuan yang pernah menyelimuti hati Syifa dan Zikra pun kini telah mencair. Sepasang suami-istri muda itu mulai membuka hati. Kendati keduanya masih enggan untuk mengakui perasaan masing-masing.
Syifa telah menyiapkan sarapan pagi di atas meja makan. Senyum simpul menyambut kehadiran Zikra mengisi kursi kosong di depannya. Pemuda itu membalas senyumnya hangat. Kemudian mereka sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan sebuah kotak kecil disodorkan Syifa ke hadapan Zikra.
“Apa ini?” tanya pemuda itu dengan nada terkejut. “kado?” meraihnya.
“Sori, aku baru sempat kasih kado buat kamu,” sahutnya malu. “maaf, kalo kado aku kalah besar dengan kado yang dikasih mbak Ayu ke kamu. Bahkan harganya jauh lebih mahal dari kado yang kamu pegang sekarang. Tapi aku mohon, jangan lihat harganya ya.”
Zikra menarik segaris senyum di bibirnya.
“Tapi aku kan enggak minta,” kilah pemuda itu ringan.
“Emang benar sih kamu enggak minta. Tapi aku kan enggak enak. Apalagi mbak Ayu yang jauh-jauh datang dari Surabaya aja kasih kamu kado. Masak aku yang tinggal dekat sama kamu, satu atap lagi sama kamu enggak kasih kamu kado? Dimana otakku?”
Zikra menyeringai kecil.
“Lagian, kenapa kemarin kamu enggak kasih tahu aku dulu kalo kamu ulang tahun?” protes Syifa. “aku kan enggak tahu hari ulang tahun kamu.”
“Aku memang sengaja enggak kasih tahu siapa pun tentang hari ulang tahunku. Karena aku enggak suka pesta. Perihal Tara kasih aku kado itu urusan dia. Aku pun enggak minta. Udahlah enggak usah dibahas. Aku kan bukan anak TK. Ngapain mau pesta ulang tahun segala. Aku udah gede, udah punya istri lagi,” jelas Zikra
seraya melirik gadis di depannya.
“Ya seenggaknya aku tahu. Enggak kayak kemarin …” Syifa teringat peristiwa kemarin malam. “aku udah kayak orang dungu yang enggak tahu apa-apa,” lanjutnya membatin.
“Maaf,” Zikra meraih tangan Syifa lalu menggenggamnya lembut. “aku janji, lain kali kalo ada sesuatu tentang diriku, aku akan memberitahu terlebih dahulu sama kamu.”
Syifa tersentak kaget. Namun ia tidak menepisnya. Tatapan mata Zikra yang begitu lembut dengan senyum ceria. Hingga membuatnya terbuai dalam lamunan. Desiran lembut mengalun di atas tempo yang semestinya di dadanya. Mengusik jiwa yang tenang.
“Makasih,” ujar Zikra.
Syifa terhenyak dari lamunannya.
“Boleh aku pakai sekarang?” tanya Zikra mengeluarkan isi dari dalam kotak kado pemberian istrinya.
Sebuah jam tangan terbuat dari stanless yang elagan. Syifa membeli dengan sisa uang tabungannya yang tidak seberapa.
“Apa?” Syifa tampak terkejut mendengar permintaan suaminya.
“Kenapa? Enggak boleh ya?”
“Bukan. Bukan begitu,” jawab Syifa cepat.
“Lalu?”
“Biar aku pakaikan ya.”
Zikra menyodorkan jam tangan itu. Mengulurkan tangannya seolah dia berkata pakaikanlah.
Syifa tersenyum girang.
Zikra menatap pergelangan tangan kanannya. Jam tangan pemberian Syifa yang sangat istimewa baginya. Senyum semringah mengembang sempurna. Sejak berangkat dari rumah hingga tiba di kantor sepasang manik matanya belum beralih pada pergelangan tangannya.
Bonang dan Rifa’i yang kini menjadi rekan kerja Zikra di kantor heran melihat sikapnya. Kedua pemuda itu saling bertukar pandang seraya melongok dari atas sekat meja kerja masing-masing. Mereka kompak menganggkat bahu tidak mengerti.
Setelah berhari-hari mengalami keterpurukan dan terluka atas perbuatan Syifa. Kini kesedihan itu seakan pudar berganti dengan gairah baru dan penuh keceriaan terpancar jelas di wajah Zikra.
“Kenapa tuh tangan, Zik? Sedari tadi dilihatin terus, sekelan ya?” seloroh Bonang.
Zikra mengdongakkan kepala ke sumber suara. Dia terkejut dengan dua wajah yang saban hari dilihatnya ada di atas kepalanya. Dia berdecak kesal. Langsung menghadap layar komputer di depannya.
“Emang ada yang spesial?”
“Kepo lo pada!” sungut Zikra.
“Buset! Dia bilang kita kepo, ‘I?” Bonang menyeringai geli.
Rifa’i mengangguk setuju.
Zikra tidak menanggapi celotehan kedua sahabatnya. Mengalihkan perhatiannya pada layar komputer yang baru saja diaktifkannya.
“Udah, kerja! Kerja!” serunya menggubris kekepoan teman-temannya. “kalo dilihat bos kena SP baru tahu rasa kalian.”
__ADS_1
“Rese lo, Zik,” sungut Bonang sewot. Duduk di kursinya setelah sebelumnya bertukar pandang pada Rifa’i.
Rifa’i mencebik bibirnya kesal tidak mendapat informasi penting dari Zikra.
Zikra tersenyum licik.
Rasa penasaran Bonang dan Rifa’i tidak langsung padam begitu saja. Keduanya pantang menyerah mendapatkan informasi dari Zikra. Keduanya sepakat akan melanjutkan aksinya pada saat jam makan siang.
Sejak SMA hingga masuk dunia kerja, Bonang adalah satu-satunya teman Zikra yang paling dekat dengannya. Bahkan Bonang sudah hafal dengan adat dan kebiasaan Zikra. Tetapi untuk urusan percintaan Zikra, Bonang tidak banyak tahu.
Ketika masih duduk di bangku SMA Zikra adalah cowok popular. Selain prestasi yang cemerlang, ketampanannya seolah bagaikan medan magnet yang dapat menarik perhatian teman-teman wanitanya. Hingga di bangku kuliah, hal itu masih berlanjut. Pesonanya seolah tidak pernah padam.
Dari sekian banyak gadis yang mendekati Zikra. Tidak seorang pun yang mampu menggoyahkan hati pemuda itu. Namun ketika dia tiba-tiba memutuskan untuk menikah muda dengan Syifa. Gadis yang belum dikenalnya lama. Tembok hatinya seakan mulai goyah. Terutama saat Syifa memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada lelaki lain di muka umum.
“Elo yakin kagak mau bagi-bagi ke kita?” tanya Bonang memastikan seraya meletakkan nampan makan siangnya di atas meja kantin kantor. Duduk di bangku di depan Zikra.
Zikra bergeming dari makan siangnya. Dia tidak mau menanggapi.
Rifa’i memilih duduk di samping kanan Zikra. Mendadak matanya terpukau dengan jam tangan yang melingkar di pergelangan kanan pemuda itu.
“Btw, sekarang jam berapa ya, Zik? Sori, gue mau ada janji nih sama orang,” ujar pemuda berkacamata minus menguji.
“Baru juga pegang sendok udah tanya jam segala,” gerutu Bonang kesal.
“Diam lo, keribo!”
Bonang tampak kesal dengan Rifa’i.
“Jam satu kurang empat puluh lima menit,” sahut Zikra menatap jam tangan barunya.
“Cieee … jam baru nih,” seloroh Rifa’i menggoda. Meraih dan memegangi pergelangan kanan Zikra.
“Apaan sih lo,” Zikra tersipu malu sambil menepis tangan Rifa’i, melanjutkan makannya.
“Oh, gue paham sekarang," ujar Bonang tiba-tiba.
"Apa?"
"Gara-gara jam tangan itu kan yang buat elo kayak orang sedeng seharian ini."
"Apaan sih kalian aneh," kilah Zikra berusaha menutupi kebenaran.
"Jangan bohong deh lo sama gue. Gue udah hafal banget sama sifat lo, secara kita udah kenal dari SMA. Sekarang elo bilang dari siapa itu barang?" desak Bonang menunjuk jam tangan Zikra. "jangan ... jangan ... dari ..."
"Ah, elo ngomong apaan sih, keribo? Jangan mancing-mancing dah," sela Rifa'i.
"Mancing-mancing, elo kira ikan!" sahut Bonang sewot.
"Udah-udah! Kalian berdua apa-apaan sih? Sedari tadi ribut aja kerjaannya. Bukannya makan malah bertengkar. Lagian kalian enggak malu apa ribut terus, malu tahu dilihat banyak orang," tukas Zikra meredam ketibutan.
"Ini semua gara-gara elo, Zik," kata Bonang membela diri.
"Lho, kok malah gue yang salah, kan yang ribut elo sama Fa'i," sanggah Zikra.
"Iya. Benar tuh kata Bonang. Ini semua gara-gara elo yang enggak mau terus terang tentang jam tangan itu," timpal Rifa'i.
"Lho! Oke, oke, gue jawab jam tangan ini hadiah ulang tahun gue dari Syifa. Puas lo berdua?"
"Hah? Syifa?"
"Iya. Asal elo tahu aja, ini adalah hadiah teristimewa yang pernah gue dapat. Dan gue senang banget pakainya." jelas Zikra dengan wajah berseri.
"Yakin lo enggak salah ngomong?" Bonang tampak sangsi.
Zikra menghela nafas.
"Ya udah kalo enggak percaya, gue enggak maksa."
"Yaelah ... keribo ... tadi elo nanya, sekarang udah dijawab malah elo enggak percaya. Hobi banget lo bikin orang darah tinggi."
"Suruh turun apa si darah biar kagak jatoh," sahut Bonang ringan.
Rifa'i gemas ingin mencabut mulut Bonang dengan tangannya. Namun dia hanya meremas angin dalam genggamannya.
__ADS_1
"Permisi ... boleh bergabung?"
Sontak tiga sekawan mendongakkan kepala. Mengalihkan pandangan ke sumber suara. Seorang wanita cantik mengenakan kemeja lengan panjang dan rok panjang di bawah lutut. Senyumnya indah dengan wajah yang sangat cantik.
Zikra langsung membuang muka. Seakan dia tidak ingin melihat wajah wanita itu lagi.
"Boleh, boleh, ayo silahkan duduk," jawab Bonang cepat seraya mendorong Zikra agar pindah tempat duduk.
Dengan terpaksa Zikra pindah duduk di samping Rifa'i.
Wanita muda itu duduk di samping Bonang sedikit canggung. Namun dia berusaha menciptakan suasana senyaman mungkin. Berkenalan berusaha mengakrabi Bonang dan Rifa'i. Namun dia tidak bisa berbasa-basi dengan Zikra yang sedari tadi sudah memasang tampang sedingin gunung es.
*
Syifa bangkit dari tempat duduknya ketika Nadya datang. Obrolan yang lumayan seru antara ia, Kirana, dan Isti terpaksa terhenti.
Ada kekhawatiran yang mengusik batin Syifa. Ia khawatir keberadaannya akan ditolak Nadya seperti tempo hari. Oleh sebab itu, sebelum Nadya buka suara ia harus segera angkat kaki.
"Cipa." tiba-tiba Nadya memanggilnya.
Langkah Syifa terhenti. Ia terkejut mendengar suara yang selama ini dirindukannya. Diputar tubuhnya perlahan.
"Nadya."
Syifa dan Nadya duduk di bangku taman kampus. Cukup lama keduanya terperangkap dalam kebisuan. Tidak ada satu pun diantara mereka yang mau memulai pembicaraan.
"Cip." "Nad." ucap keduanya bersamaan. Kemudian keduanya tertawa.
Akhirnya kedua sahabat itu bisa saling bicara. Memecahkan dinding kebisuan. Canda dan tawa riang kini kembali lagi.
"Pa, sori. karena selama ini gue udah menjauhi elo tanpa alasan," ujar Nadya menyesal.
"Gue ngerti kok, Nad. Elo enggak usah minta maaf. Tapi gue yang harus minta maaf ke elo. Gara-gara gue ... semuanya jadi kacau. Seandainya gue denger kata-kata elo. Pasti semua ini enggak bakalan terjadi." Syifa menundukkan wajahnya. Menyembunyikan kesedihan yang pernah dialaminya.
Nadya menyentuh bahu Syifa. Mengelusnya lembut.
"Elo enggak salah Pa. Tapi gue yang terlalu baper." senyum getir tersungging di bibir tipis Nadya.
Kemudian dia menceritakan tentang Panji yang telah menolak cintanya beberapa hari lalu. Karena hal itulah yang membuat Nadya malu bila bertemu Syifa. Dia pun menyesali sempat menyalahkan sang sahabat atas kegagalannya itu. Namun, setelah mendengar nasihat dari abangnya, barulah dia sadar akan kekeliruannya.
Tidak berbeda jauh dengan Nadya. Syifa pun mengalami hal buruk. Hubungannya dengan Zikra terguncang. Ditambah dengan kehadiran gadis dari masa lalu Zikra. Gadis cantik yang tidak bisa diabaikan keberadaannya. Untuk pertama kalinya Syifa dilanda gelisah.
Ada rasa takut akan kehilangan mendadak muncul dari dalam hatinya. Walaupun ia tahu selama ini Zikra bagaikan bunga yang selalu dikelilingi gadis-gadis cantik. Entah kenapa karena kehadiran gadis itu, Syifa harus mengalami perasaan yang sama saat bersama Angga. Bahkan rasa yang dirasakannya kini lebih besar dari sebelumnya.
Tidak terasa air mata Syifa jatuh menetes di pipinya.
Nadya berusaha menguatkan Syifa. Dia berjanji akan membantu Syifa untuk menangani gadis itu.
Syifa tersenyum ceria. Menggenggam tangan Nadya erat.
*
"Elo kenapa, Zik? Kok sikap lo aneh banget di depan dia?" tegur Rifa'i saat perjalanan menuju area parkir kantor.
Zikra hanya diam. Tidak ingin menjawab pertanyaan Rifa'i.
"Emangnya elo enggak tertarik sama dia? Dia cantik banget, tinggi, pokoknya sempurna lah buat ukuran cewek pada umumnya."
Zikra hanya mendengus.
"Zik, elo dengar apa enggak sih? Perasaan gue udah ngomong jelas banget. Tapi elo cuma diam aja."
"Enggak penting, Rif."
"Maksud lo?"
"Kalo gue bilang enggak penting berarti enggak penting. Enggak perlu dibahas panjang lebar." Zikra memakai helm. Setelah sebelumnya naik di atas sepeda motornya.
"Jadi ..."
"Udah. Gue enggak mau elo bahas cewek itu lagi. Apalagi kalo di depan Bonang," sergahnya menghidupkan mesin sepeda motor. "gue duluan." pungkasnya berlalu pergi.
Rifa'i menggelengkan kepalanya. Aneh melihat temannya itu yang seakan tidak tertarik dengan gadis secantik Ayuniatara. Gadis yang tadi siang makan siang bersama mereka. Sementara Bonang bertindak sebaliknya. Dia gencar melakukan pendekatan hingga meminta nomor telepon.
__ADS_1
Rifa'i menghela nafas panjang. Jari telunjuk kanannya mendorong kacamata yang sedikit melorot di batang hidungnya. Lalu menghidupkan mesin sepeda motornya. Melesat pergi meninggalkan area parkir di dalam basemen.
Berambung ...