
Sebelum suara adzan subuh berkumandang, ayam jantan pun belum berkokok. Syifa tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia telah mengalami mimpi buruk. Mimpi yang selalu datang menghantui disetiap tidurnya. Menyiksa batinnya dan menjebaknya selalu dalam ketakutan sepanjang hari. Buru-buru membuka lebar matanya agar bisa terlepas dari semua yang membuatnya takut setengah mati. Beranjak duduk di atas kasur dengan dipan kayu jati. Peluhnya mengucur si pelipisnya. Wajahnya memucat ketakutan.
Bukan hal yang mudah bagi Syifa melalui hari-hari kelamnya seorang diri. Setelah drama penculikan dan disekap di sebuah bangunan bekas pabrik yang terbengkalai di pinggir kota. Meskipun tidak mengalami kekerasan fisik tetap saja mampu meninggalkan trauma. Bahkan sampai terbawa mimpi. Akibatnya ia sering mimpi buruk, dan terbangun tidak bisa tidur kembali.
Entah ada motif apa di balik penculikan Syifa. Gadis itu merasa tidak punya musuh. Juga merasa sikapnya sudah cukup baik terhadap semua orang. Selama ini ia tidak pernah terlibat pertikaian kepada siapa pun. Apalagi mencari masalah sampai merasa kehadirannya mengancam jiwa seseorang. Sungguh ironi dan sangat tidak masuk akal.
"Kunaon?" tanya wanita paruh baya yang tengah berbaring di samping Syifa dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Wanita berdarah Sunda yang kerap Syifa panggil dengan sebutan Ambu itu mengucek matanya.
"Neng mimpi buruk deui?" tanya ambu sudah terbiasa melihat Syifa terbangun dengan kondisi ketakutan. Terkadang gadis itu terisak karena terlalu takut.
"Ya, ambu. Syifa mimpi itu lagi. Syifa takut banget semua itu akan terulang lagi di masa depan." jawabnya jujur.
Ambu beranjak duduk. Merapatkan tubuhnya pada gadis yang pernah ditolongnya. Ya, wanita itu menemukan Syifa pingsan di semak-semak tidak jauh dari kebun teh tempatnya bekerja setiap pagi. Setelah itu dia memutuskan merawat gadis malang itu yang ternyata tengah hamil muda. Syukurlah rahimnya cukup kuat mempertahankan janin yang tengah bersemayam di dalamnya. Walau pun saat peristiwa pelariannya itu Syifa belum tahu bahwa dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Zikra. Tetapi ia bisa berhati-hati menjaga tubuhnya dari benturan, terutama pada bagian perutnya.
"Sudah jangan dipikirkan. Itu mah cuma mimpi, bunganya tidur. Tidak usah takut lagi, ada ambu di sini." tutur wanita itu menenangka menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Sunda. karena dia tahu Syifa tidak terlalu mengerti bahasa khas daerah Jawa Barat.
Ambu membelai lembut puncak kepala Syifa hingga turun ke ujung rambut dengan sayang. Dia berusaha menenangkan gadis yang sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri. Wanita itu sangat kesepian berada di dalam rumah bilik sederhana seorang diri. Setelah anak perempuan tertuanya menikah lalu dibawa pindah oleh suaminya. Serta anak lelakinya pergi merantau ke Jakarta setelah tamat SMA, Sementara suaminya telah meninggal dunia sepuluh tahun lalu.
__ADS_1
"Hayu atuh, tidur lagi." seru ambu menarikselimut Syifa sambil memiringkan tubuhnya siap membaringkannya di atas kasur.
"Enggak mau ambu, Syifa takut mimpi buruk lagi." sahut Syifa cemas.
"Tapi sekarang masih malam. Paginya masih lama. Kalo si Eneng tidak tidur lagi bakalan bangun kesiangan atuh. Nanti dimarahin sama Bos kalo kita sampai telat datang metik daun teh."
Sejak tinggal di rumah ambu, Syifa ikut bekerja menjadi pemetik teh. Karena memang ia butuh uang untuk bertahan hidup yang kini tidak hanya membiayai diri sendiri. Tetapi ada jiwa lain yang sedang menumpang di dalam rahimnya. Meskipun belum terlihat dan belum dapat menyuntuh wujudnya. Makhluk itu juga membutuhkan asupan gizi yang cukup.
Wajah ketakutan Syifa yang tidak dibuat-buat membuat ambu turut prihatin atas apa yang telah menimpanya. Memang miris sekali saat mendengar cerita gadis itu. Pasti sangat menderita hari yang dilalui dengan rasa takut yang terkadang terlihat berlebihan. Wanita tua itu hanya bisa menenangkan agar ketakutannya tidak mempengaruhi kehamilannya.
"Kalo tidak mau tidur, sok mau ngapain malam-malam begini? Kasihan atuh si jabang bayina... eta kudu dijaga." pertanyaan ambu terasa menyubit hati Syifa.
"Begini saja, lebih baik si Eneng sholat Tahajjud saja atuh. Minta sama Gusti Alloh ketenangan, dihilangkan rasa takut yang berlebihan. Juga minta diselamatkan dari segala marabahaya dan dijauhkan dari orang jahat."
Syifa mengaminkan ucapan Ambu. Setelah menggosok gigi dan berwudhu ia melakukan sholat Tahajjud dengan khusyuk.
*
__ADS_1
Zikra terbangun dari tidurnya setelah mimpi bertemu Syifa. Dia memeluknya sangat erat dengan perasaan bahagia dan haru. Lalu mencium kening lembut dan dalam. Seakan dia sedang membayar rindu yang selama ini telah terhutang. Semua itu terasa sangat nyata. Namun kekecewaan itu datang memupus kebahagiaannya.
Ingin rasanya Zikra tidur lagi agar kembali memimpikan hal serupa seperti tadi. Sayangnya rasa kantuk itu telah sirna dimakan rasa kecewanya. Kemudian dia memutuskan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu mengerjakan sholat malam di sepertiga malam.
Pada waktu yang bersamaan, di tempat berbeda. Selesai sholat Syifa dan Zikra mengangkat kedua tangannya hendak berdoa. Keduanya berurai air mata mengadukan perihal masalah hidupnya kepada Sang Khalik, Pencipta alam semesta. Keluh kesah dan harapan tertumpah dalam setiap doa yang mereka panjatkan.
Ya Allah... Pemilik Zat Yang Sempurna. Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Berikanlah ketabahan dalam menghadapi ujian hidup ini. Berikanlah hamba kekuatan melawan rasa takut ini. Bimbinglah hamba pada petunjuk-Mu untuk menemukan belahan hati hamba... hamba sudah sangat kepadanya. Berikanlah dia kesehatan dan keselaman, jauhkanlah dia dari segala marabahaya. Bantulah hamba... berikan kemudahan untuk hamba... Ya Allah... hamba serahkan, hamba pasrahkan segalanya hanya kepada-Mu, wahai Tuhan Azza wa jalla... Aamiin....
Selesai sholat Zikra memilih berzikir sampai subuh menjelang. Sementara Syifa kembali merebahkan tubuhnya yang di atas kasur. Ia tidak bisa terus terjaga karena tubuhnya yang sekarang sering cepat lelah. Mungkin hal ini karena faktor kehamilannya.
Syifa mengelus perutnya yang belum terlalu buncit lembut. Ia tersenyum membayangkan jika Zikra tahu fakta tentang kehamilannya. Pasti dia sangat bahagia karena dulu dia sangat ingin punya anak meskipun usianya terbilang masih muda. Begitu terobsesinya dia sampai melakukan hubungan intim dengan Syifa hampir setiap hari.
Syifa mulai memejamkan matanya. Perlahan terlelap terbang ke alam mimpi.
Bersambung...
***
__ADS_1
🙋Hai readers... author update lagi nih. 🙏Maaf nih updatenya segini dulu ya... yang penting sekarang udah terjawab tentang kejelasan nasib Syifa kan? Ceritanya masih melow-melow gitu. Tetap tunggu kisah selanjutnya. Semoga masih dapat dinikmati. Jangan lupa vote, like n komennya juga ya... ❤️❤️Luv u all...
Happy reading.... 😁🤗✌️