
Pagi-pagi sekali Syifa sudah bangun. Setelah mandi dan sholat subuh, ia langsung terjun ke dapur membuat menu sarapan pagi. Kemarin malam tiba-tiba diserang insomnia setelah berbicara dengan Zikra via telepon, membuat kualitas tidurnya kurang baik. Seharusnya hal itu membuat Syifa lemas dan sakit kepala. Namun entah mengapa tidak mempengaruhinya, malah terlihat lebih energik dari hari biasanya.
"Kira-kira kejutan apa yang direncanain Zikra ya? Hari ulang tahun gue kan masih bulan depan. Gue jadi penasaran banget." pikirnya mengingat pembicaraannya kemarin malam.
"Wah, kayaknya enak nih," decak Zikra menyadarkan Syifa dari lamunan. Menarik kursi makan lalu duduk. "baunya sedap banget. Kayaknya kamu udah semakin pintar masak."
"Bisa aja kamu. Bikin aku gr aja," Syifa tersipu malu.
"Aku ngomong apa adanya, swear!" mengangkat dua jarinya ke udara.
Syifa menarik kursi makan di samping Zikra. Meraih piring dan mengisinya dengan dua centong nasi putih dan beberap menu lauk ke atasnya. "Kamu enggak akan percaya sebelum mencicipinya," menyodorkannya ke hadapan Zikra.
"Makasih," Zikra langsung memakannya tanpa mempedulikan tatapan serius dan penasaran gadis di sampingnya. "enak." tersenyum semringah.
"Masak sih?" Syifa tidak percaya. Segera mencicipi menu masakan hasil karya angungnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah cemberut, setelah menyeringis merasakan sensasi rasa di lidahnya. Meletakkan sendok makannya dengan kasar. "humph! Apanya yang enak. Rasa nano-nano begini cuma bikin sakit perut aja. Udah, enggak usah dimakan lagi. Mending dibuang aja, atau dikasih kucing mungkin lebih bagus." hardik dirinya sendiri.
"Jangan. Mubazir. Ingat lho, perbuatan mubazir itu nanti dianggap saudaranya setan."
Syifa menyandarkan bahunya pada sandaran kursi. Mendengus berat dengan wajah merengut.
"Udah, enggak usah frustasi gitu dong. Cuma rasa sayur yang keasinan, tempe semur yang anyeb ..."
"Itu bukan tempe semur, tapi tempe saus tiram," kilahnya cepat.
"Ups! Ya ... itu dah, dan ayam manisan ..."
"Ayam asam manis!" ujarnya membenarkan setengah teriak.
"Yah, pokoknya itulah ... enggak akan bikin aku mati kalo sampai aku habiskan semua makanan ini, iya kan?" Zikra berusaha menghibur.
"Tetap aja enggak merubah segalanya kan?" keluhnya merubah posisi duduknya.
"Memang sih rasa makanan enggak bisa berubah tetap gitu-gitu aja. Tapi seenggak-enggaknya bisa merubah mood kamu."
Syifa menatap serius.
"Misalnya ... perasaan kamu jadi lebih senang karena aku makan seperti ini," langsung memasukkan sendok yang berisi nasi dan lauk pauk ke dalam mulutnya. "dan aku akan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja tanpa tersisa."
"Lebay!" gumam Syifa.
"Perlu bukti?" Zikra seakan sedang mengajak Syifa untuk bertaruh. Gadis itu tidak menjawab. Hanya diam seraya menunggu bukti nyata dari ucapan suaminya. Tanpa ragu pemuda itu langsung melahap semua makanan di atas meja. Hingga harus mengendurkan ikat pinggangnya yang terasa sesak.
Senyum puas tersungging di bibir Zikra sambil mengelus perutnya yang membuncit kekenyangan. Syifa menggelengkan kepala dan bertepuk tangan takjub.
"Hebat ... hebat ... aku salut sama kamu." menupuk pelan bahu Zikra.
"Tapi, untuk lain kali kamu jangan membuat aku melakukan ini lagi, ya." pintanya memelas.
"Kenapa? Nyesel nih?" Syifa menguji.
"Bukan, bukan itu maksud aku."
"Terus?"
"Yah ... kamu tega sih buat aku tersiksa kayak gini," Zikra menunjukkan perutnya yang terlihat agak membuncit. Namun Syifa salah faham, mengira suaminya menunjukkan hal yang membuatnya parno. Kontan ia langsung menutup matanya mengalihkan pandangannya menghindari.
"Ih, jorok kamu!"
Zikra terkejut sekaligus bingung melihat reaksi Syifa. "Hah?! Apanya yang jorok?" tanyanya tidak mengerti mengerutkan dahi.
Syifa buru-buru dari tempat duduknya, merapikan meja makan untuk mengalihkan perhatian. "Udah ah, enggak usah dibahas lagi. Aku mau cuci piring dulu," ucapnya membawa semua piring kotor ke tempat pencucian piring.
Zikra hanya mendengus. Tersenyum pasrah.
"Ya ampun ... enggak nyaman banget perut kekenyangan begini," gumamnya seraya mengelus perutnya duduk di kursi kantornya.
"Kenapa lo, Zik? Tumben banget nyeringis-nyeringis kayak gitu, romanannya girang banget?" tegur Bonang muncul dari balik bilik kerjanya, memaksa Zikra mendongakkan kepalanya menoleh ke sumber suara.
"Girang, girang, girang dari Hong Kong!" sungutnya kesal.
"Lah, kalo bukan girang, terus kenapa elo nyengir aja dari tadi?"
"Gue bukan lagi girang, tapi lagi kemelakaran karena sarapan kebanyakan."
"Bujug buset! Hahaha ..." decak Bonang terkekeh geli.
Rifa'i tiba-tiba ikutan nongol dari balik bilik kerjanya setelah merasa terusik mendengar obrolan Zikra dan Bonang.
__ADS_1
"Woy! Ada apaan sih, berisik aja elo-elo pada, emang elo berdua enggak ada kerjaan apa?"
"Ah, elo 'I, sok sibuk lo!" Bonang tidak senang.
"Inget Udin, ini di kantor. Masih pagi ngerumpi mulu kayak emak-emak arisan lo," hardik Rifa'i ketus.
"Udah-udah, enggak pake ribut elo berdua. Bikin gue mules aja," Zikra beranjak berdiri. Bergegas pergi ke toilet kantor, meninggalkan Bonang dan Rifa'i yang masih bersitegang.
*
Syifa menatap tanggal-tanggal yang sudah diberikan tanda silang pada sebuah kalender yang tergantung di dinding dalam kamarnya. Mendadak hatinya sedih melihat sisa tanggal yang belum dicoretnya.
"Tiga hari lagi, tiga hari lagi Ayah dan Bunda datang menjemput gue," bisiknya lirih. "kenapa hati gue sedih? Di mana rasa bahagia kemarin yang gue harapkan hari itu akan datang?" Syifa mendengus resah. "sepertinya gue harus buru-buru resign dari Bahagia Mart. Dan kuliah gue ... enggak perlu masuk lagi kayaknya. Yah, emang begitu kan seharusnya?"
Syifa berkemas diri pergi ke Bahagia Mart, mini market tempatnya bekerja selama hampir dua bulan belakangan ini. Sebelum pergi ia tidak lupa membawa surat pengunduran diri yang sudah disiapkan sejak kemarin.
Dalam waktu dua puluh menit, Syifa sudah sampai di tempat kerjanya. Langsung menghadap Pak Rudi,manager Bahagia Mart, di ruangannya.
"Maafkan saya Pak. Mungkin keputusan saya terlalu terburu-buru. Tapi saya harus melakukannya karena saya dalam waktu dekat ini, segera pindah mengikuti orang tua saya ke luar kota."
"Oke. Saya bisa saja menerima alasan kamu, tapi kamu sudah menandatangani kontrak sebagai trainee selama tiga bulan. Sekarang kamu bekerja belum tiga bulan, rasanya sulit. Kecuali jika kamu membayar apa yang tertera di dalam kontrak."
"Tapi Pak. Mana mungkin saya bisa bayar sesuai yang ada di kontrak? Saya ini orang miskin, bapak tega banget sama saya. Kalo saya punya uang banyak, ngapain saya kerja. Mending saya santai-santai di rumah."
"Syifa!" pekik Pak Rudi tiba-tiba geram. "kamu ini anak bau kencur, tidak perlu mengajari saya. Kalo kamu tidak ingin dituntut perusahaan, kamu harus bekerja sesuai yang tertulis dikontrak."
"Tapi Pak ..."
"Kamu ini gadis tidak tahu diuntung, kalau bukan rekomendasi Mas Panji, kamu tidak akan diterima di sini."
Syifa mengerutkan dahi tertegun sekaligus terkejut melihat ekspresi wajah Pak Rudi. Apalagi menyebut nama Panji dengan sebutan Mas Panji, seolah pemuda itu sangat berpengaruh di perusahaan itu. Mungkin hanya sebagai bentuk penghormatan saja karena Panji adalah keponakan pemilik asli perusahaan itu.
"Ada apa ini?" tiba-tiba Panji meruak masuk ke dalam ruangan manager.
Sontak Syifa dan Pak Rudi menoleh ke sumber suara. Dengan kikuk Pak Rudi beranjak berdiri.
"Pagi-pagi udah bersitegang, terus dari luar saya sempat dengar Pak Manager yang terhormat sebut-sebut nama saya, ada apa ya?" lanjutnya santai.
"Maaf Mas Panji, Syifa baru saja menyerahkan surat pengunduran diri," sahut pria itu sopan.
"Mengundurkan diri?" Panji mengerutkan dahi. "apa itu benar, Syifa?" air mukanya mendadak suram.
Panji terdiam. Ekspresi wajahnya terlihat dingin. "Sebaiknya kita bicara diluar aja. Maaf pak, kami permisi," seru panji sopan.
"Iya silahkan."
Panji menyeret lengan Syifa keluar ruangan. Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan di depan gudang penyimpanan stok barang. "Kenapa elo tiba-tiba mau resign? Apa karena selama ini gue suka gangguin elo dengan pernyataan cinta gue?" tanyanya merasa bersalah.
"Bukan begitu Nji, beberapa hari lagi kedua orang tua gue datang ke sini buat jemput gue. Plis ... tolong gue ya," wajah Syifa tampak memelas.
"Jem-put? Mau ke mana?" tanya Panji ragu.
"Sebenarnya selama ini keluarga gue tinggal di Batam, karena Bokap gue ada pekerjaan di sana. Mereka berjanji akan jemput gue akhir bulan ini supaya kami bisa tinggal bersama di sana."
"Terus, kuliah lo gimana?"
"Yah ... gue akan berhentilah. Gue enggak mungkin kan bolak-balik Bekasi-Batam. Bisa gempor gue. Emangnya jarak Bekasi-Batam kaya jarak Bekasi ke cililitan."
"Iya sih. Tapi kontrak kerja bukan masalah main-main. Elo bisa berhadapan dengan hukum."
"Tapi Nji ... gue mana punya duit? Plis ... gue mohon banget sama elo bantuin gue, ya." Syifa meraih tangan Panji.
"gue udah kanget banget sama mereka. Gue udah cukup lama enggak kumpul sama mereka."
"Jadi, selama ini elo tinggal sendirian di kota ini?"
"Iya. Tapi gue tinggal berdua sama ..." mendadak Syifa menghentikan ucapannya. Ia tidak boleh mengungkap status pernikahannya pada Panji jika masalah yang dihadapinya tidak bertambah panjang.
"Sama siapa? Kok enggak dilanjutin?"
"Ah! Gue tinggal bareng saudara, maksudnya saudara jauh dari Bokap," jelas Syifa terbata.
"Oke. Gue bantuin elo omongin masalah elo ini ke om gue nanti. Tapi elo harus bersabar ya, karena om gue orangnya super sibuk. Sering bolak-balik keluar negeri." akhirnya Panji mau membantu Syifa.
"Makasih ya, Nji. Elo emang teman gue yang paling bae." Syifa melonjak kegirangan seraya masih memegang erat tangan Panji.
Panji tersenyum bahagia. Tapi bukan ikut merasakan kebahagiaan yang Syifa rasakan. Melainkan karena gadis itu telah memegang tangannya erat. Entah Syifa sadari atau tidak, bagi Panji cukup membuatnya terhibur.
__ADS_1
*
Tidak terasa hari beranjak senja. Zikra sudah mengemas semua barang-barangnya. Pihak perusahaan menerima dan menyetujui surat pengunduran dirinya. Suasana sedih sempat mewarnai sore itu. Terutama para pegawai wanitanya. Mereka seakan berat melepas kepergian Zikra. Walaupun belum terlalu lama bergabung di perusahaan itu, tidak sedikit karyawati di sana yang tergila-gila padanya.
Bonang dan Rifa'i tidak kalah sedih dengan mereka semua. Kedua pemuda itu cukup kaget dengan keputusan Zikra yang tiba-tiba mengundurkan diri tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada mereka. Tetapi mereka tidak bisa merubah keputusan Zikra sesuai yang mereka kehendaki.
"Elo berdua jangan pada lebay. Gue cuma pindah kantor doang, enggak pindah dunia." Zikra berusaha menghibur mereka.
Bonang dan Rifa'i bertukar pandang, lalu mendengus berat. Mereka kompak memberi pelukan hangat pada Zikra.
"Oke Bro ... gue ini cowok, gue lebih kuat dari akar pohon toge. Jadi elo enggak usah pikirin kita, terutama gue. Gue enggak bakalan sedih," tiba-tiba Bonang menitikkan air mata sambil mememblekan bibirnya.
"Dasar lo, keribo cengeng!" hardik Rifa'i.
"Siapa bilang gue cengeng? Orang gue kagak kenapa-kenapa," kilahnya membela diri.
"Udah, udah, elo berdua berisik mulu setiap hari," Zikra menepis pelukan mereka. "tapi gue akan selalu merindukan keberisikan dan keributan kalian yang enggak bermutu."
"Sue lo, Zik!" Bonang menepuk pelan bahu Zikra.
"Masalah tempat dan dekorasi yang elo minta, udah kita kerjain. Nanti malam elo bisa gunain sebaik mungkin." ujar Rifa'i.
"Thanks ya guys. Elo berdua emang sahabat gue yang paling baik dan pengertian sama gue." Zikra membentangkan kedua tangannya meberi pelukan.
*
Pukul delapan malam.
Zikra sudah berada di taman. Menunggu kedatangan Syifa. Kedua tangan kanan dan kirinya memegang buket bunga mawar merah dan kotak perhiasan kecil berwarna merah. Di dalamnya ada sebuah cincin yang khusus dipesannya untuk gadis yang telah resmi menjadi istrinya secara agama.
"Kita tinggal dulu ya. Semoga sukse ya." Rifa'i menepuk bahu Zikra sambil beranjak pergi.
"Yoi Bro. Good luck!" Bonang menepuk bahu Zikra yang lainnya juga bergerak pergi.
Pada saat yang bersamaan, Syifa tampak tergesa-gesa menuju taman yang diminta Zikra via telepon tadi. Degup jantungnya berdetak seirama dengan langkah kakinya yang kian cepat. Di dalam hatinya sangat gelisah memikirkan kejutan apa yang akan diterimanya nanti. Cemas takut tidak sesuai dengan ekspektasi. Bahagia kini Zikra sudah menunjukkan tanda-tanda perasaan cinta kepadanya.
Ketika baru tiba Syifa sudah disambut tanda anak panah. Seakan menuntunnya menemukan arah yang akan ditujunya. Suasana taman yang hanya terkena sedikit cahaya lampu jalan, membuat terlihat temaram. Untunglah ada deretan lilin-lilin yang sengaja di letakkan di tanah. Membentuk deretan yang rapi di kanan-kiri membentuk pembatas jalan. Selain cahaya lilin ada juga hamparan kelopak-kelopak bunga beraneka jenis, didominasi warna merah dan pink terhampar di tanah. Memnuat suasana romantis yang sangat kental. Semilir angin membuat aroma kelopak bunga-bunga itu menguar bau khas.
Syifa tidak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya. Sangat tersanjung dengan perlakuan Zikra. Mungkinkah ini adalah kejutan yang dimaksud pemuda itu?
"Romantis banget ..." ucapnya haru. Senyumnya terus saja tersungging. Semakin lama semakin lebar menarik sudut bibirnya.
Akhirnya Syifa tiba di tengah taman. Kira-kira dua meter dari tempatnya berdiri, ia melihat Zikra di tengah kelopak-kelopak bunga yang didekorasi indah berbentuk hati, disertai deretan lilin putih membentuk pola yang sama di sisi luarnya. Pemuda itu tengah berdiri memunggunginya. Seakan sedang mengharapkan kedatangannya.
"Nah, itu dia!" serunya pelan.
Sesekali Zikra menghirup buket bunga mawar merah di tangannya. Tersenyum lebar seraya memejamkan mata untuk meresapi wanginya.
Tanpa menunggu lama Syifa langsung berlari ke arah Zikra. " Zikra." pekiknya penuh semangat.
Tiba-tiba entah dari mana datangnya ada gadis lain yang datang menyerobot sambil memekikkan nama Zikra. Kemudian memeluk erat pinggang Zikra dari arah belakang.
"I love you," pekik Zikra sangat keras.
Kontan Syifa terkesiap. Ia tertegun melihat pemandangan itu. Lidahnya terasa keluh. Dadanya terasa tertusuk sembilu hingga menembus jantung.
"Ya, aku cinta sama kamu. Udah lama aku ingin mengucapkan ini semua sama kamu, tapi baru hari ini aku memberanikan diri untuk mengatakannya secara terang-terangan." Zikra membalikkan tubuh memeluk gadis itu, yang ternyata Ayuniatara.
Syifa terperanjat kaget. Ia tidak kuasa melihat pemandangan itu lagi. Langsung membalikkan badan. Bersembunyi di balik pohon rindang dekat tempatnya berdiri. Hatinya sangat hancur berkeping tak berbentuk lagi.
Kedua tangannya mengepal erat untuk mengendalikan emosinya agar tidak meledak saat itu juga. Namun jika sampai meledak juga, ia tidak punya keberanian untuk menunjukkan amarahnya pada siapa pun.
Kini Syifa hanya bisa mengakui kekalahannya. Air matanya bagai hujan yang turun lebat membasahi pipinya.
"Zikra, kamu tega banget sih sama aku. Apakah ini kejutan yang ingin kamu kasih ke aku?" diam-diam Syifa melihat Zikra dan Ayuniatara yang masih berpelukan dari balik pohon rindang. "kalo cuma sekedar menunjukkan kamu masih cinta sama Mbak Ayu, cukup kamu ngomong aja sama aku secara langsung. Enggak perlu melukai perasaan aku kayak gini. Cuma buat hati aku terprovokasi jadi benci sama kamu pada akhirnya," lanjutnya lirih.
"I love you too ..." sahut Ayuniatara.
Syifa sudah tidak tahan lagi melihat pertunjukan itu. Ia langsung pergi membawa luka hati yang sangat dalam sambil menangis pilu.
Ya Tuhan ... apa salah hamba? Mengapa selalu membuat hamba menjadi orang yang tidak beruntung dalam cinta?
Suara isak tangis Syifa pecah di antara hujan yang mulai turun rintik-rintik. Sesekali terdengar petir dan kilatan yang menyala membelah langit. Tidak peduli dengan tubuhnya yang mulai basah oleh hujan kian lama kian deras, gadis itu terus berjalan di bawah guyuran air hujan.
"Zikra .... brengsek!" pekik Syifa sekuat tenaga. "hiks hiks hiks." terjatuh duduk di atas pinggir aspal jalan raya yang agak senggang. "kalo emang kamu enggak cinta sama aku, tolong jangan sakiti hati aku seperti ini." lanjutnya dengan nada suara yang lebih rendah dan parau. "hiks hiks hiks."
Syifa sudah bisa membayangkan wajah kemenangan Ayuniatara merebut Zikra darinya. Ia hanya akan terlihat menjadi seorang pecundang yang menyedihkan. Sungguh prestasi yang miris yang hanya mendapatkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Bersambung ...