Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Risau


__ADS_3

Pukul tujuh malam.


Zikra tiba di rumah. Hening dan sunyi. Seakan tidak ada tanda-tanda kehiduan di dalamnya. Mungkin Syifa belum pulang kuliah. Pikirnya. Menghela nafas pendek.


Pertanyaan Rifa'i masih terngiang di telinga Zikra. Pertanyaan yang enggan dijawab. Dan jawaban yang sulit diucapkan. Dia tidak menampik kenangan bersama Ayuniatara masih terasa begitu indah untuk dikenang. Sekaligus pahit untuk mengulang masa itu.


Zikra memutar handle pintu kamarnya. Sontak dia terkejut ketika melihat Syifa tiba-tiba ada di dalam kamarnya.


"Kamu? Sedang apa di sini?"


Kontan Syifa memutar tubuhnya. Mendongakkan kepala ke sumber suara. Ia terlihat kikuk.


"Ma-maaf, a-aku cuma mau rapihin baju kamu doang kok enggak lebih," sahutnya gugup. "soalnya baju-baju kamu berantakan banget. Aku khawatir baju-baju yang udah aku setrika jadi lecek semua. Karena bisa ngerepotin aku nantinya. Mumpung aku lagi punya waktu senggang, aku rapihin sekarang," lanjutnya menjelaskan. "tapi aku janji, aku akan cepat menyelesaikannya. Terus langsung keluar."


"Oh, ya udah lanjutin." sahutnya dingin.


Zikra meletakkan tas kerjanya di atas tempat tidur. Membuka kancing baju kemejanya satu per satu. Dia tersenyum kecil melihat keseriusan Syifa merapikan semua pakaiannya yang terlihat kurang beraturan. Lalu membiarkan Syifa menggerutu tanpa menggubrisnya. Jarang-jarang gadis itu menyambangi kamarnya. Sejak tinggal bersama gadis itu hanya satu atau dua kali main ke sini. Itu pun tidak berlangsung lama.


Beberapa hari belakangan ini Zikra tidak pernah memperhatikan kerapihan isi lemarinya. Biasanya dia selalu hidup rapi. Isi lemari hingga selimut di atas tempat tidur tertata rapi. Tetapi semuanya berubah seratus delapan puluh derajat sejak pertengkarannya di malam itu. Pikirannya sering mumet hingga tidak ada selera merapikan semua itu.


"Kamu udah makan malam atau belum?" tanya Syifa bergeming dari tumpukan pakaian Zikra yang dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lemari.


Zikra tidak menjawab. Dia masih hanyut melihat kesibukan gadis yang telah resmi menjadi istrinya. Namun hubungan mereka tidak pantas dibilang suami-istri. Karena setelah menikah mereka hidup layaknya individu bebas yang tidak terikat suatu hubungan apa pun. Baru setelah hidup satu atap keduanya menjelma sebagai sepasang sejoli yang hanya mengikat hubungan persahabatan di dalam hubungan halal.


"Mau aku masakin mie instan? Soalnya stok makanan kita cuma tersisa itu aja. Mungkin besok aku baru belanja di toko Mama Adel. Atau ... kamu mau aku beliin nasi goreng yang ada di ujung jalan sana. Kata Mama Dio rasanya lumayan enak," imbuh Syifa.


Lagi, Zikra tidak menjawab hanya diam membisu.


Syifa mengerutkan dahi heran. Ia sudah berbicara banyak tetapi tidak ada jawaban. Buru-buru menoleh ke arah Zikra. Khawatir ia berbicara hanya seorang diri.


"Kamu kenapa?" tegurnya seraya menepuk pelan bahu Zikra. Duduk di samping pemuda tampan dan mempesona.


Zikra langsung menatap wajah polos Syifa. Menyentuh jemari dan telapak tangannya terasa sedikit kasar. Pasalnya gadis itu sering melakukan pekerjaan rumah sendiri. Tidak melepaskan meskipun Syifa berusaha menepisnya.


"Bolehkan kalo aku pegang tangan kamu seperti ini?" pemuda itu seakan sedang meminta izin.


Syifa tidak bisa menjawab. Tenggorokkannya terasa tercekat. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Tidak terbiasa dalam posisi sedekat ini. Kikuk dan gugup menyerangnya.


"Sejak kita menikah, aku enggak pernah pegang tangan kamu seperti ini. Kamu enggak keberatan kan?"


"Ah, a-aku ... aku ..."


Zikra tersenyum menatap gadis itu salah tingkah di depannya. Tangan kanannya menyentuh pipi Syifa yang bersih, mulus dan berisi.


"Kamu cantik."


Syifa terkejut mendapat pujian dari Zikra. Keringat sebesar biji jagung meluncur dari kening Syifa. Wajahnya bersemu merah tertunduk malu.


"A-aku udah selesai. Iya udah selesai. A-aku mau balik ke kamar."


Syifa beringsut dari tempat duduknya. Bergegas pergi.


Tiba-tiba Zikra menarik tangan Syifa yang masih digenggamnya. Hingga gadis itu jatuh di atas pangkuannya. Serta merta Syifa terperanjat kaget. Sepasang manik mata mereka beradu pandang. Panas-dingin bercampur gugup dan gemetar berkecamuk dalam dirinya.


Untuk pertama kalinya Zikra bersikap agresif dan selembut itu pada Syifa. Setelah sebelumnya dia pernah bersikap kasar. Sorot mata penuh cinta ada dalam tatapannya. Tanpa basa-basi diciumnya kening Syifa lembut.


Syifa terbeliak kaget. Spontan ia mendorong Zikra seraya bangkit dari pangkuannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya berang.


Zikra beranjak berdiri. Terkejut melihat reaksi gadis itu.


"Ki-ki-kita enggak boleh melakukannya!" Syifa berbalik menuju pintu kamar hendak keluar.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena ... enggak boleh. Lagian sebentar lagi aku akan pergi dari sini." memutar hendle pintu.


"Pergi?" Zikra menuntut penjelasan.


"Iya. Sebentar lagi Ayah aku akan datang menjemput. Setelah itu ..." membuka pintu.


Zikra berdiri di belakang Syifa, mendorong pintu dengan tangan kirinya hingga pintu tertutup kembali.


Syifa terlonjak kaget.


"Enggak bisakah kamu tetap di sini?"


"Mana bisa begitu?"


"Bisa." tukas Zikra cepat. Mendekatkan wajahnya ke telinga Syifa. "kita sudah menikah," bisiknya.


Zikra memeluk bahu Syifa. Aroma sampo yang masih melekat di rambut Syifa terhirup bersama tarikan nafasnya. Tangannya menyentuh jari manis Syifa. Memperlihatkan cincin pernikahan yang melingkar dijari manis mereka.


"Lihatlah! Cincin pernikahan kita."


Syifa menelan ludahnya. Diam membisu tidak kuasa untuk angkat bicara. Wajahnya tertunduk dalam.


Zikra membantu memutar tubuh Syifa agar bisa menghadap ke arahnya. Menyentuh dagu gadis empat tahun lebih muda darinya hingga wajahnya terangkat menengadah, seakan hendak mencium bibir ranum di depan hidungnya.


Rona ketakutan terpancar jelas di wajah Syifa. Namun ia tidak bisa menolaknya. Tangannya mencengkram erat ujung bajunya. Tubuhnya gemetar.


Ya Tuhan ... apa yang akan dilakukannya?


Perlahan Zikra melepaskannya. Lalu bergerak menjauhi, berbalik memunggungi Syifa.


"Tapi aku sadar, aku enggak bisa memaksa kamu, bila kamu tetap tidak ingin tinggal bersama aku."


Syifa mendengus pelan.


Tidak ada kata yang bisa meluncur dari bibir Syifa untuk menyanggah ucapan suaminya. Tanpa permisi ia langsung keluar dari kamar Zikra. Masuk ke dalam kamarnya. Lama ia bersandar di balik pintu. Debaran di dalam dadanya masih terasa kuat. Setelah itu duduk di atas tempat tidurnya yang kecil. Dipeluknya kedua lututnya.


"Kamu curang," ujar Syifa ketika baru mengetahui kamar Zikra jauh lebih besar dari kamarnya. "tempat tidur lebih besar juga lebih empuk. Pake AC. Sedangkan kamar aku kecil. Tempat tidur kecil pula. Engap, panas, enggak ada AC." duduk lalu berbaring di atas tempat tidur Zikra sambil menikmati udara sejuk dari pendingin ruangan.


"Kalo kamu mau, tinggal tidur aja kamu di sini," sahut Zikra bergeming dari tugas kantor yang terpaksa dikerjakannya di rumah.


"Beneran?" Syifa terlihat sangat senang.


"Hemm."


"Kita tukeran kamar?"


"Siapa bilang begitu?" mengalihkan pandangannya sejenak.


"Lho, tadi kan kamu bilang kalo aku boleh ..."


"Boleh. Tapi aku enggak bilang kalo kita tukeran kamar."


"Maksudnya?"


"Kita tidur bersama di sini."


Syifa menghela nafas panjang mengingat semua yang pernah terjadi.


*


Syifa duduk menyendiri di kantin kampus. Peristiwa semalam membuatnya berpikir keras mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Zikra. Kendati ia tidak bisa mengabaikan kedekatan Zikra dan Ayu. Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya murung. Apalagi selama ini komentar orang-orang yang pernah melihat Zikra dan Ayu bersama. Sembilan puluh sembilan persen orang mengatakan mereka pasangan serasi.

__ADS_1


Nadya datang mendekati Syifa. Seperti biasa dia yang selalu menjadi penyemangat hidup Syifa. Tidak pernah lelah memberi motifasi. Apalagi setelah mendengar cerita Syifa tentang Zikra kemarin malam. Kian membuatnya yakin bahwa hubungan Syifa dan Zikra memiliki masa depan.


"Siapa tahu Bang Zikra udah punya perasaan sama elo, Pa." imbuh Nadya.


"Mana mungkin?"


"Mungkin aja."


"Mbak Ayu itu cantik banget. Kalo dibandingin sama gue, enggak ada seujung kukunya, Nad."


"Ah, elo selalu aja begitu. Belum apa-apa udah keok."


"Gue bukan keok. Tapi gue tahu diri namanya. Karena gue enggak mau terluka lagi." mendadak kenangannya bersama Angga mampir dalam memori di otaknya.


"Elo kadang-kadang masih suka muna juga. Itu namanya elo cemburu."


"Cemburu? Mana mungkin gue cemburu."


"Terus, apa dong ... Belum bisa move on?"


"Enggak gitu juga, Nad."


"Sekarang gue tanya, elo cinta enggak sama Bang Zikra?"


Syifa tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia pun terdiam membisu.


"Gue yakin elo pasti cinta. Kalo elo sampai enggak jatuh cinta sama dia, berarti elo harus pergi ke dokter spesialis mata."


"Apa hubungannya?"


"Ada lah. Elo harus periksa mata lo katarak atau normal."


"Rese lo!"


Nadya tertawa renyah.


Syifa tersenyum kecil. Namun jauh di lubuk hatinya ada kegelisahan yang terpatri. Ada perasaan yang tidak mampu dijabarkan dengan kata-kata. Hanya bisa dirasakan dalam kebisuan.


*


Zikra terdiam menatap layar komputer. Pikirannya melayang melanglang buana ke dunia sana. Tanpa disadari dia memiliki kegelisahan yang sama denga Syifa. Perasaan takut kehilangan muncul tiba-tiba seperti hantu. Rasa sakit yang tidak ingin diulangi.


Ayuniatara berulang kali mencoba mendekati Zikra. Mengajaknya merajut kembali hubungan yang pernah koyak. Tetapi pemuda itu selalu menanggapinya dingin.


"Aku masih mencintai kamu. Dan terus mencintai kamu, sampai kapan pun aku tetap mencintai kamu," ungkap Ayu.


"Aku bukan lelaki yang tepat buat kamu. Carilah lelaki lain yang lebih baik dari aku," ucap Zikra dingin.


"Kenapa Fatir? Kenapa kamu enggak mau kita bisa kembali seperti dulu lagi?" tanya Ayu lirih.


"Aku lelaki yang sudah menikah, Tara."


"Ya, kamu memang lelaki yang sudah menikan. Tapi, apakah kamu yakin dengan pernikahan kalian?" selidik Ayu. "pernikahan yang tidak didasari cinta tidak akan bahagia. Lagipula untuk apa mempertahankan pernikahan tanpa buku nikah."


"Aku tahu kami berdua tidak saling mencintai. Tapi kami bisa belajar untuk saling mencintai," jawab Zikra mantap.


Hancur hati Ayu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mantan kekasih yang masih teramat dicintainya.


"Buku nikah bisa dicetak. Tidak perlu dirisaukan."


"Tapi Fatir ..."


"Udahlah Tara. Aku enggak mau membahasnya," sela Zikra tidak ingin mendengar ucapan Ayu lagi. "aku enggak mau istriku terluka. Aku pun enggak punya keberanian untuk menyakitinya. Walau bagaimana pun dia tetap istriku yang harus kujaga dan kuhormati hak dan martabatnya."

__ADS_1


Zikra terhenyak dari lamunannya ketika derit suara printer berbunyi. Lembaran demi lembaran kertas keluar dari mulut printer. Dia pun segera merapikannya sesuai urutannya. Setelah itu dimasukkan ke dalam map.


Bersambung ....


__ADS_2