
Langit malam berangsur-angsur pagi. Sang surya pun merangkak dari ufuk timur.
Syifa masih terbaring dan bergumul di dalam selimut. Sepasang mata indahnya tidak dapat bersinar layaknya mentari pagi. Pasalnya terlalu berat untuk membuka melihat indahnya dunia.
Hari ini ia ingin berleyeh-leyeh dulu walau untuk sejenak. Tubuhnya terasa lelah untuk bergerak. Juga ada rasa tidak nyaman yang disertai rasa sakit, sekaligus nyeri di tubuhnya pada bagian tertentu.
Ya ampun, kenapa badan gue tiba-tiba rasanya enggak nyaman, dan pegal-pegal enggak jelas gini, ya? Rasa sakit dan nyeri berbaur menjadi satu. Mirip orang yang abis digebukin satu RT!
Syifa merubah posisi tidurnya. Pelan-pelan memiringkan tubuhnya ke samping sambil tangannya menggerayang mencari guling. Dahinya mengernyit ketika tangannya menyentuh sesuatu yang asing. Tetapi bukan guling yang empuk. Melainkan benda yang panjang, lebar, halus dan hangat. Serta memiliki aroma wangi yang familiar.
Syifa terhenyak dari tidur saat benda yang disentuhnya tiba-tiba bergerak memerangkapnya dalam dekapan. Ujung hidungnya langsung menyentuh yang kemudian disadarinya adalah kulit bagian dada. Rasa nyaman menyusup masuk ke dalam hatinya.
Wajahnya langsung mendongak dan menengadah ke atas. Disambut kecupan hangat mendarat mulus di keningnya.
"Selamat pagi, sayang." ujar Zikra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Syifa tertegun seperti orang yang berada di antara mimpi dan kenyataan. Beberapa kali ia mengedipkan mata dengan cepat, seakan sedang mengumpulkan nyawa yang mungkin masih berhamburan di alam bawah sadarnya.
"P-pagi ..."
Zikra menyeringai lebar melihat tampang linglung Syifa. Gadis itu tampak sangat menggemaskan. Ingin rasanya dia melahapnya saat itu juga,
"Ada apa? kok kamu ngelihat aku sampai segitunya?"
Syifa masih bergeming.
"Aku tahu, aku emang mempesona. Jadi, wajar kalo kamu sampai terpesona dengan ketampanan aku," Zikra mengerlingkan matanya genit. "atau jangan-jangan ... kamu belum puas?" lanjutnya berbisik di telinga Syifa.
Syifa membelalakkan mata dengan ekspresi terkejut. Mendorong tubuh pemuda itu menjauh darinya.
"Puas? Apa?" mengernyit heran.
Zikra sengaja mendekatkan wajahnya seraya membelai wajah Syifa sampai bagian leher jenjangnya. Dia menyeringai puas mendapati banyak tanda merah bertaburan di sekitar leher hingga dada istrinya. Menandakan tanda kepemilikannya pada tubuh gadis yang telah menjelma menjadi seorang wanita seutuhnya.
"Kalo kamu masih belum puas, aku enggak keberatan melayani kamu sekali lagi sekarang." bisiknya membuat bulu kuduk Syifa merinding.
kotan Syifa bergerak menjauh. I aterkejut dengan sikap Zikra yang mendadak mesum. Keterkejutannya bertambah ketika melihat dada lelaki di sebelahnya terekspos tanpa pakaian. Sementara pada bagian pinggang ke bawah tertutu[ rapat oleh selimut.
Tidak kalah mengejutkan adalah dirinya sendiri juga berada dalam selimut yang sama dengan Zikra. Wajahnya merona merah tatkala netranya melongot ke dalam bagian dalam selimut.
Hah! Oh, my God!
Tanpa komando pandangannya menyeisir lantai. Manik matanya melotot melihat baju hingga pakaian dalam miliknya dan Zikra berserakan seperti sampah. Beranjak duduk dengan cepat.
"Santai dong sayang. Eggak usah tegang gitu." Zikra berusaha menenangkan Syifa yang terlihat menegang. Beranjak duduk lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Syifa tanpa rasa malu.
Syifa memutar kepalanya kepalanya kasar.
"Je-je-jadi, semalam kita ..."
"Aku senang akhirnya kita saling mencintai." Zikra meraih tangan kanan Syifa, menciumnya mesra.
"Oh, jadi bukan mimpi?" gumamnya ragu.
"Bukan sayang. Kamu enggak lagi mimpi. Semuanya nyata. Begitu juga cinta aku sama kamu sangatlah nyata. Semoga cinta kamu juga selalu ada dan nyata untuk aku."
Syifa tertunduk malu. Ia tidak bisa menghindar lagi. Hanya bisa membiarkan pemuda yang selalu memproklamirkan diri sebagai suaminya menjamah tubuh polosnya.
*
Hampir sepuluh menit Syifa berdiri mematung di depan meja kompor dapur. Sebenarnya niat hati gadis itu ingin memasak sesuatu untuk sarapan pagi ini. Namun entah mengapa ia mendadak seperti orang linglung. Pikirannya dipenuhi peristiwa semalam yang membuat dirinya merinding sendiri. Bahkan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah masih bertengger di atas kepala tidak dihiraukannya. Sesekali tangannya bergerak menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Sebelumnya tidak pernah sekalipun terlintas dibenaknya, kado ulang tahunnya kali ini berakhir hilangnya mahkota paling berharga. Ada sedikit kekhawatiran yang terbersit. Ia khawatir Ayah dan Bunda akan memarahinya jika mereka tahu putri kesayangannya telah melepaskan segel keperawanannya kepada seorang lelaki yang mereka percayai.
Tiba-tiba Zikra datang langsung membantu mengeringkan rambut Syifa dengan handuk. Sontak ia tersentak kaget, menyadarkan ia dari lamunannya. Menoleh ke belakang.
"Kamu mau ngapain bengong di depan kompor?" tegur Zikra penuh perhatian. "kamu enggak bermaksud mau membakar diri kan?"
"Kenapa?" Syifa menurunkan handuknya di pundak, memutar tubuhnya secara bersamaan. Kini posisi keduanya saling berhadapan.
__ADS_1
"Ya ... barang kali kamu kecewa, sedih dan ... putus asa karena aku udah merenggut kehormatan kamu. Mungkin?"
"Ih, kamu ngomong apaan sih, ngawur deh!" kilah Syifa merubah posisi berdirinya menyembunyikan rasa malunya. "itu kan emang udah sepantasnya dilakuin oleh pasangan suami-istri." buru-buru menutup mulutnya dengan gelisah.
Zikra langsung memeluk Syifa hangat. Wajahnya sangat semringah mendengar jawaban memuaskan dari gadis ini.
"Syukur deh. Aku senang kamu ngomong seperti itu. Awalnya aku sempat khawatir kamu bakalan frustasi dengan yang udah kita lakuin semalam."
"Stop!" tiba-tiba Syifa panik. Ia tampak khawatir Zikra akan melakukan hal yang sama lagi. Sedangkan rasa sakit dan nyeri masih belum hilang dari tubuhnya. Dengan cepat mendorong tubuh kekar suaminya menjauh.
Zikra mendongakkan wajahnya heran.
"Kayanya aku mau masak sekarang, " Syifa tergugup mengalihkan pembicaraan. Ia segera berlari membuka pintu kulkas mengambil sayuran dan bahan makanan lainnya. "iya, aku mau masak. Kamu mau dimasakin apa sekarang?" tanyanya menghilangkan rasa gugupnya.
Zikra berjalan mendekat. Mengambil alih apa yang sedang dipegang Syifa. Mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu menutup pintu kulkas dengan rapat kemudian menepuk-nepuk kedua tangannya. Sementara Syifa tertegun dan bergeming menyaksikan aksi suaminya.
"Lho, kok dimasukin ke dalam kulkas lagi sih? Aku kan mau masak. Kalo kaya gitu gimana aku mau masak?" tanyanya tidak mengerti.
"Pagi ini kamu enggak usah repot-repot masak bikin sarapan buat kita. Karena aku udah memasaknya. Teraaamm!" Zikra memperlihatkan semua makanan yang telah disajikan di meja makan dengan perasaan bangga.
Syifa duduk di kursi makan dengan wajah tertunduk di balik handuk yang masih nangkring di atas kepalanya. Ia merasa malu dan bersalah karena Zikra mengambil alih tugasnya. Walaupun di dalam hatinya sering menantikan masakan buatan suaminya. Tetapi tidak pernah diungkapkannya.
Sejak bangun tidur pagi ini, Syifa sangat menyadari banyak melamun. Ia masih syok dengan perubahan sikap Zikra yang begitu drastis. Serta peristiwa semalam ikut memengaruhi suasana hatinya. Akibatnya ia menjadi seperti orang lingling. Mulai dari mandi pagi yang menghabiskan entah berapa banyak mili liter sampo dan sabun, juga air yang dibiarkan mengalir. Terakhir berdiri di depan kompor seperti patung tanpa tujuan jelas.
Ya Tuhan, apakah semua ini hanya mimpi? Mimpi yang harus berakhir disaat kita bangun.
"Ada apa?" tegur Zikra sambil menyingkirkan handuk yang sedari tadi menutupi sebagian besar menutupi kepala Syifa, menyadarkannya dari lamunan.
Suara mesin hairdryer mengejutkan Syifa ketika terdengar menguing di telinganya.
"Kamu ngapain?"
"Bantu ngeringin rambut kamu. Abis, sedaritadi kamu cuma ngelamun aja sih?" sahut Zikra terus mengarahkan mulut hairdryer pada rambut Syifa yang masih lembab. "kamu lagi mikirin apa?"
"Enggak. Aku enggak lagi mikirin apa-apa kok." kilahnya cepat.
"Beneran?" Zikra tampak ragu. Mematikan mesin pengering rambut setelah rambut istrinya benar-benar kering. Mencabut steker dari stop kontak. Menggulung kabelnya lalu menyimpannya kembali.
Zikra mendengus pelan. Kemudian duduk bersisian dengan gadis itu.
"Ya udah. Ayo, kita langsung sarapan!" serunya mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin mengorek lebih dalam tentang apa yang sedang berkecamuk di dalam hati istrinya. Dengan berusaha menanamkan rasa percaya padanya, pemuda itu yakin semua pada akhirnya akan baik-baik saja.
Syifa langsung mengisi piring Zikra dengan nasi terlebih dahulu. Zikra menatapnya dengan senyuman hangat. Seakan sedang menikmati hidup rumah tangga dalam artian yang sebenarnya. Setelah sebelumnya terasa bagai fatamorgana.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Syifa memulai pembicaraan dengan perasaan ragu. Meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang baru terisi nasi saja.
Zikra melambatkan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah.
"Tentu aja. Tanyain aja, ada apa?"
"Sewaktu peristiwa di resort, kamu pergi dengan Aini begitu aja ninggalin aku. Apa kamu marah sama aku saat itu?"
"Enggak." jawabnya cepat. Memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Sungguh?"
"Kenapa kamu tanya masalah itu?" Zikra balik tanya.
"Kenapa kemarin kamu enggak pulang hampir satu minggu? Aku pun udah berusaha samperin kamu ke rumah orang tua kamu. Tapi kamu enggak ada. Kata satpam rumah orang tua kamu, kalian semua pergi ke luar kota. Selain itu, setiap aku hubungin kamu, hp kamu selalu sibuk. Terkadang enggak aktif." gugat Syifa suara terdengar bergetar. Ada luka yang tersirat dari setiap kalimat yang meluncur bibirnya. "sampai aku pikir ... kita enggak bakalan ketemu kamu lagi. Dan ..." ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Tertunduk terdiam menggigit bibir bawahnya menahan kegetiran di dalam hatinya. Air mata yang mengambang di pelupuk matanya sekuat tenaga ditahannya agar tidak menerobos keluar sesuka hati.
Hati Zikra nelangsa melihat kenyataan yang terpampang jelas di wajah sedih istrinya. Namun dia tidak bisa mengungkapkan hal yang sebenarnya pada Syifa. Khawatir akan menambah beban di hatinya. Meskipun dia tidak punya cara yang tepat untuk menghiburnya. Setidaknya tidak membuatnya menangis hari ini sudah cukup.
"Maaf. Aku salah. Aku yang salah." Zikra menarik bahu Syifa dan memeluknya. "maaf juga untuk Aini. Karena waktu itu dia terlalu panik melihat kondisi aku, sampai tanpa sadar dia memarahi kamu. Dan ... maaf juga, aku enggak bisa membela kamu." mengelus bahu istrinya lembut.
Zikra menceritakan semua kronologi kepergiannya sepulang dari resort bersama Aini. Waktu itu Aini membawanya langsung ke rumah sakit. Setelah itu, membawanya pulang ke rumah orang tuanya untuk istirahat beberapa hari di sana. Sampai Surya langsung mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Tetapi dia tidak menyinggung alasan mengapa dirinya tidak pulang ke rumah dan ponselnya sulit dihubungi. Pasalnya saa itu Zikra dipaksa oleh Mamanya agar tetap tinggal di sana dengan dalih kesehatannya yang masih memburuk. Padahal dia sangat merindukan Syifa, dan ingin segera pulang.
Zikra sangat tidak nyaman mendengar Mamanya memprovokasinya untuk meninggalkan Syifa selama berada di rumah besar itu. Dengan dalih gadis itu tidak akan bisa memberikan keturunan karena tidak bisa menjalankan tugas sebagai istri dalam artian yang sebenarnya. Belum lagi masalah keberadaan kedua orang tua Syifa yang menjadi momok tersendiri menambah geram Mamanya.
__ADS_1
Kemudian Mama berusaha membujuknya untuk kembali menjalin hubungan dengan Ayuniatara. Dengan begitu Zikra dan Ayuniatara dapat menikah, serta dapat menyelamatkan perusahaan Surya yang berada diambang kebangkrutan.
"Kamu enggak usah sedih. Sekarang aku udah pulang. Aku janji, aku enggak akan ninggalin kamu lagi sendirian di sini."
Syifa hanya mengangguk pelan.
*
Hampir seharian penuh agenda kegiatan Zikra diisi pertemuan dan rapat dengan klien. Sejak dipercaya memimpin perusahaan pemuda tampan itu berusaha menstabilkan kondisi keuangan perusahaan. Menggaet dan menjalin kerjasama dengan perusahaan berpengaruh di ibu kota. Walau pun hasilnya tidak semudah membalikkan halaman buku. Dalam hati dia hanya bisa berharap setelah usaha yang dilakukan, ada buah manis yang dapat dikecapnya sebagai bayaran setimpal atas peluh dan jerih payahnya. Pelan tapi pasti, kini krisis yang melanda perusahaan merangkak membaik.
Langit mulai terlihat gelap ketika Porsche Macan Turbo hitam yang dikemudikan sendiri oleh Zikra, berjalan mulus menembus jalan raya menuju perjalanan pulang. Berkali-kali wanita hampir separuh abad yang telah melahirkannya menghubungi via telepon untuk pulang ke rumah besar. Dia pun melarang Zikra kembali menjalin hubungan dengan sang menantu, Syifa. Tanpa sungkan meminta sang putra, Zikra, menceraikan gadis itu.
Cinta Zikra terlalu besar untuk Syifa. Tidak pernah terbersit di benaknya untuk meninggalkan gadis malang itu. Dia pun sudah bertekad akan membina hubungannya dengan Syifa menjadi lebih baik lagi. Memberikan apa yang dia punya hanya untuknya.
Setibanya di rumah, suasana sangat sepi dan sunyi. Seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Zikra langsung masuk ke dalam kamarnya yang tidak berpenghuni. Tatapannya tertuju pada seprai dan bed cover yang membungkus kasurnya. Rupanya sudah diganti dengan yang baru. Setelah sebelumnya ternoda oleh bercak darah keperawanan Syifa bersimbah pada seprainya.
Zikra duduk di pinggir kasur sambil meraba permukaan seprai. Senyumnya mengembang mengingat kemenangannya semalam.
Tangannya menarik dasi yang masih mengikat di kerah bajunya. Lalu melepaskannya. Membuka dua baris kancing hingga sedikit mengekspos dada bidangnya.
"Kemana dia?" gumamnya langsung beranjak pergi.
Zikra sedikit kecewa tidak dapat menemukan Syifa di dapur. Biasanya jam segini gadis itu sedang makan malam atau sekedar makan cemilan yang dibelinya dari warung di ujung jalan. Kemudian dia langsung mendatangi kamar Syifa. Akhirnya dia dapat menemukan istrinya yang ternyata sudah tertidur lelap di atas kasur. Mungkin dia terlalu lelah dan mengantuk setelah melewati malam yang melelahkan itu.
Syifa terbangun saat punggungnya terasa berat. Ia tampak tidak terlalu terkejut ketika melihat tangan telah melingkar di pinggangnya. Kepalanya terangkat sedikit ke atas melongok makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna dari baling punggungnya.
"Zikra, bangun!" seru Syifa parau sambil menepuk lengan Zikra yang hanya dijawab gumaman. "kamu ngapain tidur di sini?"
"Aku ingin tidur bareng kamu, istriku." jawab Zikra bergeming dari punggung Syifa.
"Tapi di sini sempit, tahu? Kenapa kamu enggak tidur di kamar kamu sendiri aja, sih?" keluhnya keki.
"Oke." sahut suaminya ringan.
Syifa mendengus lega. Kembali meletakkan di atas bantal melanjutkan tidurnya. Ia pikir Zikra akan pindah ke kamarnya sendiri. Namun ekspektasinya tidak 100% benar. Karena Zikra mengajaknya juga serta. Tanpa ragu dia membopong istrinya pindah ke kamarnya.
"Lho, lho, Zik. Turunin aku!" seru Syifa panik. Meronta-tonta. "ngapain kamu gendong-gendong aku segala sih? aku kan mau tidur."
"Tadi kamu bilang tempat tidurnya sempit. Jadi, aku bawa kamu pindah ke kamar sebelah, kasurnya lebih besar."
"Tapi kan ..."
"Kamu istri aku," sela Zikra cepat tidak membiarkan Syifa menyelesaikan kalimatnya. "sebagai istri yang baik kamu harus tidur dekat dengan aku, suami kamu."
Syifa menggigit bibir bawahnya tidak bisa melawan ucapan Zikra.
"Mulai malam ini, aku enggak ngizinin kamu tidur jauh dari aku, apalagi sampai terpisah jauh dari aku." ujarnya mantap. "kecuali ... kalo aku lagi tugas keluar kota tanpa menyertakan kamu pergi."
Syifa terdiam tenang dalam gendongan Zikra. Ia hanya menurut patuh saat suaminya membawa lalu meletakkan tubuhnya di atas kasur.
"Tapi, aku udah enggak ulang tahun." ujar Syifa cepat, wajahnya berpaling menutupi rona merah karena malu.
"Kamu pikir tidurnya suami istri di satu ranjang yang sama karena hadiah ulang tahun. Dasar gadis bodoh!" Zikra mengacak-acak rambut istrinya.
Syifa terdiam seribu bahasa. Zikra langsung membaringkan tubuhnya.
"Ngapain masih duduk di situ?" tegur Zikra menyentuh tangan Syifa. Gadis itu hanya menoleh. "kamu enggak usah takut, aku enggak ngapa-ngapain kamu malam ini. Ayo, tidurlah!"
Gadis itu mengangguk patuh. Membaringkan tubuhnya di sisi Zikra setelah sebelumnya memberi jarak dengan guling di antara mereka.
"Ngapain tidur jauh-jauh dariku?" Zikra langsung menyingkirkan guling itu. Menarik Syifa agar lebih dekat dengannya. "nah, begini baru benar." memiringkan tubuhnya sambil mengelus lembut bahu istrinya. Lalu memejamkan mata.
Syifa masih grogi berada dekat dengan Zikra. Walaupun pada kenyataannya ini bukan untuk yang pertama. Desiran itu pun masih ada, membuatnya sulit terlelap dalam pelukan hangat suaminya. Pelan-pelan ia berusaha melepaskan pelukan Zikra. Namun pemuda itu malah menambah kekuatannya hingga sulit baginya lolos. Akhirnya ia menyerah pada kenyataan. Jalannya terasa buntu. Kemudian berusaha membiasakan diri berada di sisinya.
__ADS_1
Bersambung ....