
Syifa dan Nadya menaiki anak tangga yang menghubungkan langsung ke lantai dua menuju kelas mereka berada. Harus ekstra hati-hati. Apalagi pada jam-jam menjelang bel masuk berbunyi. Setiap murid akan menyerbu akses jalan yang hanya satu-satunya. Meskipun tidak saling mendahului.
Sebelum masuk ke dalam kelas, Syifa melihat tiga sahabat karib Angga; Boncu, Awenk, dan Sonik. Tetapi
minus Angga. Mereka sedang duduk di kursi panjang depan kelasnya. Mengobrol santai penuh kekonyolan, sesekali terdengar gelak tawa di antara mereka.
“Kenapa? Kangen mantan?” todong Nadya iseng.
“Ah, apaan sih, lo.” Syifa menyeringai kecil. Lalu masuk ke dalam kelas.
“Enggak papa kalo lo kangen. Lagian yang kangen dia bukan elo doang, mereka semua juga kangen,” Nadya mengayunkan dagu menunjuk Boncu, Awenk, dan Sonik yang masih asyik dengan obrolan mereka.
Syifa mengernyitkan dahi hingga kedua alisnya bertaut hingga nyaris menyatu. Menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadap Nadya yang masih berjalan mengekor di belakangnya.
“Maksud lo?” tanyanya tidak mengerti.
Kontan Nadya terkejut, terpaksa mengerem mendadak. Ketika Syifa tiba-tiba berhenti di depannya, tanpa memberitahu terlebih dahulu.
“Maksud apanya?” tanya dia mengulangi. “ah, elo. Untung enggak nabrak,” lanjutnya seraya memukul pelan bahu Syifa.
“Itu, yang elo bilang barusan.”
“Oh…” Nadya membuka tas ranselnya. Diletakkan di atas meja. Kemudian dia duduk di kursinya, di deret ketiga dari depan.
Syifa mendengus pelan. Mengikuti jejak Nadya, duduk di kursi sebelahnya. Rasa penasaran tiba-tiba berkecamuk memenuhi isi kepalanya.
“Nad, jangan buat gue kepo deh …”
“Cie … cie … segitunya …” seloroh Nadya menggoda Syifa.
“Ah, elo tuh, kebiasaan,” ucapnya gusar.
“Iya deh.”
Gadis itu mulai menceritakan tentang Angga. Pemuda tampan yang sangat digilai Syifa, baru tiga hari lalu dipecat dari sekolah secara tidak terhormat. Betapa tidak, karena perilakunya yang telah mencoreng citra baik sekolah di mata masyarakat.
Bukan karena Angga murid abadi yang tidak naik kelas beberapa kali. Melainkan hubungan cintanya dengan Rima yang berbuah petaka. Rima hamil anak Angga. Sementara Angga pernah kabur dari rumah. Dia tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan gadis yang telah lama dipacarinya.
Akhirnya keluarga Rima melaporkan Angga ke polisi. Hingga kini Angga masih dalam pengejaran polisi.
Tragis! Disaat ujian akhir sekolah berada di ujung penantian, dia harus drop out.
Syifa menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat tercenung.
“Elo pasti shock banget kan?”
Syifa mengangguk pelan. Tiba-tiba ia teringat ketika Angga dan Rima bertengkar di dekat toilet sekolah tempo hari. Kini ia baru mengerti maksud pertengkaran mereka yang sempat didengarnya.
“Entah gue harus bersyukur, atau bersedih mendengar kabar ini. mungkin gue harus bersyukur karena bukan gue yang berada diposisi Rima. Kalo seandainya iya, gue enggak bisa bayangin betapa malu dan terlukanya Ayah dan Bunda. Tapi gue enggak bisa memungkiri, kalo hati ini sedih banget karena melepasnya dengan cara seperti
ini,” bisik batinnya lirih.
Sejak putus dari Angga, perasaan Syifa sering galau. Apalagi bila melihat doi bersama Rima. Hatinya terasa sakit tersayat sembilu. Namun ia masih bisa menghibur diri dengan menatap wajah doi secara sembunyi-sembunyi bila tidak ada Rima di sampingnya.
Tapi untuk kali ini, entah mengapa mendadak hatinya terasa sangat hampa. Rasa sedih karena kehilangan yang tidak bisa dijabarkan. Berbeda sekali dengan perasaannya saat melihat Uwa meninggal dunia. Syifa menghela nafas berat.
“Eh, Pa. Elo belum cerita tentang yang kemarin,” ujar Nadya menyadarkannya dari lamunannya.
“Apa?” tanyanya gelagepan. Syifa baru menyadari bahwa dirinya dan Nadya sudah berada di kantin sekolah.
__ADS_1
“Itu lho, elo pulang kampung ngapain aja? Soalnya tumben banget, elo pulkam mendadak begitu,” Nadya menyesap cappuccino cincaunya.
“Oh,” desahnya dingin. Meraih gelas minumannya.
Wajah Nadya mendongak tidak sabar menunggu cerita dari Syifa.
“Uwa gue meninggal, Nad,” sahut Syifa lirih.
“Inna lillahi … gue turut berduka cita, Pa.”
“Makasih.”
Nadya menusuk baslok dengan garpu. Belum sempat memakannya, tiba-tiba meletakkan garpunya kembali di atas mangkuk. Setelah melihat sebuah notifikasi dari ponsel yang diletakkan di atas meja.
Dahinya mengernyit ketika menatap layar ponselnya. Tatapannya nanar. Lalu berganti menatap Syifa heran. Mulutnya terbuka lebar.
Syifa ikut mengernyit menyadari Nadya sedang menatapnya heran.
"Ada apa, sih?" tanyanya penasaran, langsung merebut ponsel dari tangan Nadya. Sontak mulutnya terbuka lebar, lalu ditutupnya dengan telapak tangan.
Syifa hampir meremukkan ponsel Nadya dengan cengramannya, kalau tidak si empunya tidak langsung mengambilnya kembali.
"Elo kenapa?" tegur Nadya heran. "ini hp gue cuma satu-satunya. Kalo kayak tadi elo pegangnya, enggak mustahil hp gue bisa bernasib sama kayak punya elo," lanjutnya geram.
Syifa terdiam membisu.
"Elo tahu enggak, siapa cewek ini yang katanya murid kelas kita?" selidik Nadya.
"Enggak tahu!" sahutnya cepat.
"Menurut gue ... cewek ini kayaknya mirip ..." Nadya terbeliak kaget saat Syifa mendadak hilang dari hadapannya tanpa permisi. Gadis itu menyisir pandangannya ke seluruh penjuru, berharap bisa menemukan jejak sahabatnya.
Kendati demikian, tidak ada satu orang pun yang mengenali siapa murid yang ada dalam foto tersebut. Kecuali satu orang, Aini.
"Aini, gue mohon elo jaga rahasia ini, ya," pinta Syifa penuh harap sesaat setelah acara pernikahannya berakhir.
Aini yang angkuh tampak tidak mengindahkan ucapan teman sekaligus kakak iparnya. Dia berlagak cuek dengan menyibukkan diri memainkan ponsel.
"Apa untungnya buat gue, kalo gue tutup atau buka mulut?" tanyanya sinis. "toh, keduanya enggak ada bedanya. Sama-sama enggak kasih gue keuntungan apa pun. Yang ada cuma kerugian besar buat gue," lanjutnya ketus.
"Seenggak-enggaknya pihak sekolah jangan sampai tahu. Juga teman-teman yang lain, gue mohon ... plis ..." Syifa mengiba seraya mengatupkan tangan di depan dada.
Aini menyeringai sinis.
Syifa menarik lengan Aini gemas. Tidak peduli gadis itu meronta hendak menepis genggamannya. Ia tetap erat mencengkeramnnya. Tidak pelak meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan adik iparnya.
Di dalam kamar mandi sekolah. Syifa melepaskan genggamannya. Aini mengelus pergelangan tangannya yang memerah dan dirasa sakit.
"Ayo, cepat elo ngaku," seru Syifa geram. "elo kan orang yang udah nyebarin foto pernikahan gue di grup sekolah," gugatya.
"Apa? Jadi elo nuduh gue yang nyebarin foto pernikahan lo?"
"Iya. Karena gue tahu, selain elo enggak ada orang lain yang tahu tentang pernikahan gue."
"Kerajinan banget. Ngapai gue nyebari foto elo? Siapa elo?" kilah Aini sinis. Melipat kedua tangannya di depan dada. "elo pikir elo artis papan atas, sampai saking ngefansnya gue sebarin foto elo dimana. Hahah ... lucu, mimpi kali lo."
Kedua gadis itu saling beradu pandang. Dengan tatapan berbeda dan perasaan yang berbeda pula. Sorot
kegelisahan terpancar jelas dari mata Syifa yang teduh. Sedangkan Aini terlihat dingin, menampilkan rasa kebencian yang mendalam.
__ADS_1
“Sebenarnya gue enggak suka elo jadi calon istri A Zikra, apalagi menjadi istrinya,” Aini mendengus keras. “sayangnya … sekarang kalian udah sah jadi suami istri. Tapi ada yang paling gue benci, yaitu sewaktu Aa gue mengabaikan permintaan gue.”
“Mengabaikan permintaan?” kata Syifa mengulangi.
“Iya. Gue minta supaya Aa gue mau menolak rencana pernikahan kalian. Terus elo tahu apa yang terjadi? Untuk pertama kalinya Papa memarahi gue, dan memberi dukungan pada Aa gue,” Aini mengenang peristiwa itu lirih. “jadi, buat apa gue sebar-sebar foto itu, yang jelas-jelas cuma bikin gue sesak nafas aja.”
"Kalo bukan elo, terus, siapa?"
"Mana gue tahu. Setan kali," sahut Aini asal. "enggak mutu banget sih, lagian gue kan udah bilang enggak untungnya buat gue, nyebarin atau enggak pernikahan elo walau cuma sebentuk foto doang."
Syifa terdiam. Wajahnya tertunduk sedih.
Aini menyeringai sinis. Setelah itu beranjak pergi meninggalakan kakak iparnya sendiri.
"Tunggu!" seru Syifa berhasil menghentikan langkah Aini. "kalo elo benci sama gue, kenapa waktu itu elo menghalangi gue kabur dari pernikahan?" tanyanya tiba-tiba.
Aini terdiam sejenak.
"Karena gue enggak mau Aa gue kecewa. Dan ... bukannya pernikahan itu adalah permintaan terakhir nenek lo yang lagi sekarat kan? Gue enggak bisa bayangin apa yang terjadi, kalo elo benar-benar kabur hari itu."
Syifa terdiam lagi. Tidak bisa berkata apa pun.
*
Bel pulang sekolah berdentang nyaring. Semua murid beranjak meninggalkan kelasnya masing-masing.
Syifa masih terdiam memikirkan orang yang telah menyebar foto pernikahannya di grup sekolah. Satu-satunya orang yang menjadi saksi pernikahannya hanya Aini. Namun, gadis itu tidak mengakuinya. Ia pun resah.
"Gue jadi penasaran, sama cewek yang ada difoto ini," ujar Nadya seraya menatap layar ponselnya.
Syifa tidak menanggapinya. Hanya mendengus pelan. Tidak terasa langkah kakinya telah sampai pintu gerbang sekolah.
"Tapi ... kalo diperhatiin dengan saksama, cewek ini kayak gue kenal. Mirip ..."
Syifa merampas ponsel Nadya gemas. Kemudian menghapus foto itu dari memori ponsel. Setelah itu mengembalikannya kepada pemiliknya dengan kasar.
Nadya tercengang melihat sikap Syifa yang mendadak jadi aneh.
"Elo kenapa sih, Pa? Sedari tadi bahkan sedari jam istirahat di kantin, gue perhatiin elo aneh banget. Kayak orang kesambet aja," tegurnya. " elo kalo punya masalah, ngobrol dong. Jangan aneh kayak kurang sajen."
"Nad, gue jadi penasaran. Sebenarnya cowok yang elo temuin dikencan buta, dia beneran calon gue apa bukan sih?" kata Syifa mengalihkan pembicaraan.
Nadya terkejut. Mendadak dia kebingungan hendak menjawab apa.
"Elo kok diam aja? Ayo jawab!" desak Syifa.
"Ih ... elo kok jadi aneh beneran gini sih? Bikin gue ilfil, tahu."
"Gue enggak peduli mau ilfil atau mau apa. Yang terpenting buat gue sekarang adalah mengetahui identitas dia." Mendadak nada suara Syifa tinggi dan tegas.
Nadya menelan ludahnya sendiri. Dia benar-benar tidak menyangka Syifa akan bertanya seserius itu padanya. Membuat gadis berambut ikal itu merinding.
__ADS_1
Bersambung ....