Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Duka


__ADS_3

Berita seputar kecelakaan Syifa hampir setiap tayangan berita televisi mewartakannya. Kebetulan pagi ini istri majikan Bunda sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv, setelah sebelumnya sarapan pagi bersama suami dan dua orang anaknya di meja makan dekat dapur. Kini suaminya sudah berangkat ke kantor. Sedangkan kedua anaknya berangkat ke sekolah diantar sopir pribadi. Karena pagi ini tidak ada agenda kegiatan diluar dia memutuskan untuk melihat tv mencari berita. Kebetulan berita yang sedang ditontonnya mewartakan tentang kecelakaan lalu lintas.


Bunda yang bertugas bersih-bersih rumah tanpa sengaja mendengar berita itu tanpa beralih dari pekerjaannya. Namun ketika si pembaca berita menyebutkan korban kecelakaan itu seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Bekasi. Perhatian wanita itu mulai teralihkan meski tangannya tetap ada tugasnya, mengelap dan memegang kemoceng untuk membersihkan sudut lemari pajangan. Namun saat pembaca berita itu menyebutkan identitas mahasiswa itu sontak tubuh Bunda menegang. Dia terperanjat sangat kaget tanpa sadar kemoceng yang berada digenggamannya terjatuh ke atas lantai.


Kontan istri majikan Bunda yaitu Nyonya Gunawan menjengit kaget. Wanita yang tengah duduk di sofa itu menoleh ke sumber suara. Dia pun terkejut melihat salah satu asisten rumah tangganya menangis pilu. Buru-buru bangkit dari tempat duduknya menghampiri Bunda dan berusaha menenangkannya.


Setelah mendapat izin pulang lebih awal Bunda langsung mengabarkan berita buruk itu kepada Ayah. Pria itu pun tidak kalah sedih setelah mendengar kematian putri sulungnya secara tragis. Kemudian Bunda mengemasi barang-barangnya, juga barang milik Ayah serta Ade. Mereka akan pulang ke Bekasi menemui Syifa yang terakhir kalinya.


*


Tasya langsung mematikan televisinya dengan remot. Setelah selesai menyaksikan berita kecelakaan yang merenggut jiwa Syifa di ruang pribadi di dalam kantor papanya. Gadis itu tersenyum puas, rencanya untuk menyingkirkan Syifa berhasil dengan sempurna. Dia yakin saat ini Zikra tengah terpuruk dirundung duka atas meninggalnya Syifa. Perempuan yang sangat dicintainya. Gadis biasa-biasa saja namun mampu menghalau semua godaan asmara.


"Bagus. Ini baru putri papa namanya." puji Haryanto Atmaja sambil melirik Ayuniatara dengan tatapan sinis. Dia yang dianggapnya tidak becus merebut hati Zikra.


Ayuniatara hanya diam dengan senyum misteriusnya. Dia mendengus pelan lalu beranjak berdiri.


"Selamat! Rencanamu sukses. Juga papa. Aku turut bahagia." imbuhnya dingin. Setelah menepuk bahu adik perempuannya beberapa kali dia langsung keluar meninggalkan ruangan.


Tasya hanya diam. Pandangan matanya mengikuti gerak kakaknya pergi hingga menghilang di balik pintu.


Di luar ruangan Ayuniatara masih berdiri membelakangi pintu ruangan pribadi Haryanto Atmaja. Sebelum benar-benar beranjak pergi, dia tersenyum miring entah apa makna senyumnya itu.


*

__ADS_1


Zikra pulang ke rumah barunya. Belum siap pulang ke rumah lama yang penuh kenangan bersama sang istri. Dia memilih berdiam diri di dalam kamar sambil memeluk foto Syifa. Air matanya terus saja keluar menangisi kepergian istrinya. Sesekali menghujani foto Syifa dengan kecupan sayang.


"Sayang... aku rindu..." lirih Zikra menatap wajah Syifa yang tengah tersenyum dalam bingkai foto. "aku ingin ketemu kamu... mencium kamu... menikmati aroma tubuhmu. Sayang..."


Sudah tiga hari Zikra tidak bisa makan dan tidur dengan baik. Pekerjaan kantornya pun terbengkalai akibat kesedihan yang mendalam. Surya tidak bisa berbuat apa-apa melihat kondisi putranya itu. Dia hanya bisa kembali ke kantor menggantikan posisi Zikra, yang awalnya memang posisinya sendiri.


Mama turut sedih melihat putranya yang begitu larut dalam kesedihan. Awalnya dia berencana ingin menjodohkan Zikra dengan Tasya. Namun urung dilakukannya.


Aini merupakan adik sekaligus orang terdekat Zikra. Dulu sebelum menikah kedua kakak beradik itu sangat dekat. Bahkan menjadi teman curhat antara satu sama lain. Tetapi untuk kali ini gadis itu tidak bisa menghibur sang kakak. Lantaran Zikra lebih memilih mengisolasi diri di dalam kamar. Hanya waktu-waktu tertentu saja akan kelur.


Meskipun Aini bukan teman baik Syifa dan adik ipar yang baik. Mengetahui kabar meninggalnya Syifa cukup membuatnya sedih. Dan turut prihatin melihat kondisi terakhir tubuh Syifa.


Kesedihan yang Nadya rasakan atas kepergian Syifa tidak kalah nyeseknya dibanding yang dialami Zikra. Apalagi Syifa adalah sahabat yang dianggap seperti saudara sendiri. Sejak SMP mereka sudah berteman. Suka duka, tawa canda, tangis dan bahagia yang pernah mereka lalui melahirkan kenangan manis. Masih segar diingatan kenangannya bersama sang sahabat. Kini yang tersisa hanya rindu. Rindu yang tiada ujungnya.


Ketika acara pemakaman teman-teman kampus Syifa sempat ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Mereka ikut larut dalam kesedihan. Pihak kampus pun ikut turut berduka cita atas kepergian Syifa.


*


Di kontrakan orang tua Syifa.


Bunda mengangkat tas-tas yang berisi pakaiannya, Ayah dan Ade keluar dan diletakkan di atas teras. Ayah yang sudah mampu menegakkan tubuhnya perlahan jalan keluar dengan kaki kirinya sedikit diseretnya. Sementara Ade sudah duduk di teras sambil memainkan pesawat mininya.


"Ngeeeng... wush..." guman bocah itu tanpa beban.

__ADS_1


Setelah memastikan semua barang bawaan tidak ada yang tertinggal Bunda mengunci pintu kontrakannya. Dengan tangannya yang sehat Ayah berusaha membantu Bunda mengangkat tas yang lebih ringan. Sementara Bunda dengan segala upayanya mengangkat sisanya.


Tiba-tiba sebuah mobil alphard hitam berhenti di depan kontrakan yang disewa orang tua Syifa. Dua orang berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam turun dari kursi penumpang. Mereka langsung menghampiri Ayah dan Bunda. Menggiring mereka masuk ke dalam mobil tersebut. Tanpa perlawanan mereka langsung ikut. Si bocah Ade tampak anteng bahkan sangat menikmati bisa menumpang mobi mewah. Sementara Ayah dan Bunda tampak ketar-ketir, dan ketakutan kala moncong senjata api tertodong di balik punggung mereka.


Ya Allah... ujian apalagi ini? Belum sempat hamba menemui putri hamba yang sudah tidak bernyawa. Kini kami juga berada diambang kematian hendak menyusul. Batin Bunda lirih.


Ya Allah... selamatkan hamba yang tidak pedaksa ini. Selamatkan juga istri dan putra hamba. Batin Ayah tidak kalah lirih.


Mobil terus melaju entah kemana. Tidak ada satu orang pun yang berpakaian serba hitam itu buka suara. Mereka semua hanya bungkam.


*


Zikra terpaksa mengangkat teleponnya setelah mengetahui orang yang menghubunginya adalah orang kepercayaannya. Tanpa basa-basi dia langsung mengangkatnaya. Sedetik kemudian dia terlonjak kaget. Orang itu mengabarkan kedua orang tua Syifa yang juga bapak dan ibu mertuanya serta Ade, sudah tidak ada di tempat. Menurut penuturan para tetangga Ayah dan Bunda sudah pergi meninggalkan rumah kontarakan mereka lima menit sebelum kedatangan orang kepercayaan Zikra. Selain itu ada orang berpakaian serba hitam datang menjemput mereka, dan membawanya dengan mobil hitam.


"Segera lacak keberadaan mereka. Usahakan tidak ada seorang pun yang cedera." titah Zikra mengakhiri sambungan teleponnya.


Zikra terduduk lemas di pinggir ranjang. Dia benar-benar kalut atas apa yang sudah menimpa dirinya.


"Sayang... maafkan aku..." lirih zikra bergumam di dalam hati.


Bersambung...


***

__ADS_1


🙋 Hai readers... cerita hari ini 😭😭😭 sedih ya... author sampai sedih 🥺🥺😭 membuat cerita ini hampir menitikkan air mata😭😭. Semoga cerita ini masih enak dibaca walau rada mewek😭😭. Seperti biasa jangan lupa kasih vote, like dan komen yang positif biar author semangat update. ❤️❤️ Luv u all...


Happy readeng... 😁🤗✌️


__ADS_2