Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Aku Sedih


__ADS_3

Syifa datang ke kantor Zikra diantar Mang Ucup. Tepat di depan pintu lobi mobil yang dikendarai Mang Ucup berhenti. Syifa pun turun setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada pria berkumis tipis itu.


Tidak ada penyambutan yang ramah dari para pegawai yang tidak lain bawahan suaminya. Pasalanya mereka tidak tahu bahwa bos yang mereka hormati sudah menikah. Sudah dapat dipastikan mereka pun tidak tahu siapa istri bosnya. Padahal orang tersebut ada di depan mata mereka sendiri.


Syifa sempat bingung bagaimana cara menemui Zikra di dalam gedung bertingkat 20 lantai itu. Sialnya ia lupa membawa ponselnya. Jadi, ia harus bertanya di bagian resepsionis.


"Permisi, Mbak." ujar Syifa canggung.


"Iya, dek. Ada yang bisa dibantu?" sahut seorang resepsionis ramah.


Wanita itu memperhatikan Syifa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia berpikir Syifa adalah gadis SMA yang ingin mengajukan proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL), seperti yang sering dilakukan oleh anak SMA seusianya dari berbagai sekolah menengah atas menjelang ujian kelulusan. Apalagi saat itu Syifa hanya memakai kaos putih dengan gambar print di bagian depan kaosnya, dipadukan sweater coklat susu tanpa dikacing. Celana jeans belel. Sepatu kets putih, dan rambut hanya dikuncir kuda. Sesekali gadis itu memainkan tali tas selempangnya yang menyilang di depan dadanya.


Syifa mengernyit dipanggil dengan sebutan adek oleh wanita bernama Saraswati. Nama yang diketahui Syifa dari papan nama yang menempel di dada sebelah kanan wanita itu.


"E..h, saya mau ketemu Zikra. Eh, maksudnya pak Zikra, Muhammad Zikra Al fatir." buru-buru Syifa meralat ucapannya agar lebih sopan. "iya, pak Muhammad Zikra Al Fatir."


Wanita itu tampak terkejut mendengar Syifa memanggil atasannya hanya dengan menyebut nama panggilannya saja. Selama ini tidak ada yang berani memanggil bos besarnya dengan panggilan seperti itu.


"Sudah buat janji?"


Syifa tampak gelagapan hendak memjawab apa. Apa mungkin mereka akan percaya jika ia langsung menjawab Zikra yang menyuruhnya datang? Kalau tidak, alasan apa yang tepat untuknya agar mudah menemui suaminya sendiri?


"Saya disuruh datang sama Pak Zikra sendiri, Mbak." jawaban Syifa berhasil mengundang tawa dua orang wanita yang duduk di bangku resepsionis, termasuk Saraswati itu. Juga seorang wanita cantik yang baru saja datang dengan tujuan yang sama dengan Syifa. "karena saya is ...tri-nya"


Wanita itu tampak elegan dengan mini dress ketat warna salem hingga membentuk tubuhnya yang ramping. Kakinya tampak jenjang dengan high heels warna senanda. Rambutnya tergerai panjang bergelombang dengan warna dark brown. Kulitnya begitu bersih, mulus dan wajah full make up membuatnya tampak mirip artis di sinetron.


"Ya ampun dek. Kalo mimpi jangan terlalu tinggi." seloroh Saraswati dengan nada mengejek. "mana mungkin adek kecil ini istrinya, bos kami itu sangat tampan, mana mungkin mau sama adek yang belum lulus SMA." terkekeh geli.


Wajah Syifa merah menahan malu. Ia tidak pernah mengira kejujurannya akan berbuah penghinaan yang menyakitkan seperti ini. Ia speechless.


"Mbak, saya mau menemui Pak Zikra, karena saya adalah tu-na-ngannya." sela wanita cantik itu sengaja menohok hati Syifa.


Syifa terdiam, tertunduk malu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Silakan masuk, gunakan lift sebelah kanan." sahut Saraswati ramah sambil menunjuk lift khusus untuk para bos dan tamu VIP.


Wanita itu pun langsung bergerak masuk dengan seringai dingin penuh kemenangan. Sementara Syifa harus menulis keterangan di daftar tamu dengan perasaan hancur. Setelah itu pergi menggunakan lift yang digunakan para karyawan biasa.


Setibanya di lantai yang seharusnya kantor Zikra berada, Syifa menuju ruangan yang tadi dikatakan resepsionis. Ternyata bukan ruangan kantor Zikra yang ia tuju, melainkan ruangan asisten Zikra bernama Derry.


"Permisi ..." Syifa langsung tertegun melihat sosok pria berkaca mata minus duduk di balik meja kerjanya.


Derry menatap balik Syifa dengan perasaan bingung karena tidak meminta siapa pun datang ke dalam kantornya.


"Ya, ada perlu apa?" tanyanya tanpa basa-basi.


Syifa sudah tidak bisa menahan sedihnya telah dipermainkan resepsionis samber gledek itu.


"Maaf, Pak. Saya mau ke ruangannya Zikra. Eh, maksud saya ... ruangan Pak Zikra." suara Syifa bergetar menahan tangis. "s-saya enggak tahu kalo ini bukan ruangnya. Jadi saya minta maaf kalo saya salah masuk." memutar tubuhnya hendak beranjak keluar.


"Tunggu!" langkah Syifa terhenti. Derry beranjak dari tempat duduknya. "kamu siapa?"


"S-s-saya Syifa. Saya disuruh datang menemui Pak Zikra di kantornya." jawabnya menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh di pipinya. Oleh sebab itu, ia tidak membalikkan tubuhnya menghadap Derry agar tidak melihat air matanya.


"Nyo-nyonya." Syifa terperanjat kaget Derry mengetahui identitasnya. Kemudian pria itu mengantarnya ke ruangan Zikra.


"Zik!" Syifa masuk ke dalam ruangan Zikra setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Dengan senangnya dia membuka pintu, berpikir Zikra akan menyambut kedatangannya setelah menerima penghinaan dari petugas resepsionis tadi.


Namun, kenyataan dan harapan tidak selamanya seiring sejalan. Rasa terkejut, kecewa, marah, cemburu dan terhina bercampur menjadi satu ketika sepasang manik matanya menyaksikan kemesraan Zikra bersama seorang wanita yang tadi ditemuinya di meja resepsionis.


Zikra duduk di kursi kerjanya, sementara wanita cantik itu duduk di atas pangkuannya terlihat sangat intim. Sontak mereka terkejut mengalihkan pandangan ke sumber suara.


"Syi-fa?" mata Zikra tebeliak terkejut melihat kedatangan istrinya yang begitu tiba-tiba.


Wanita itu menatap Syifa sinis.


"Maaf, saya datang di waktu yang salah." dengan hati hancur dan suara bergetar Syifa berusaha tenang, tanpa menunggu tanggapan dari Zikra, ia beranjak keluar sambil menutup pintu kembali. Air matanya langsung tumpah membasahi pipinya.

__ADS_1


Sekretaris wanita Zikra yang duduk di depan ruangannya hanya menatap gadis itu heran. Belum sempat bertanya Syifa langsung berlari pergi menuju lift sambil menyeka air matanya dengan tangan, tanpa menghiraukan tatapan heran para karyan yang duduk di meja kerja masing-masing.


Dasar Zikra brengsek! Mentang-mentang udah sukses dia selingkuh di belakang gue. Dasar cowok hidung belang! Cowok enggak setia!


"Siapa gadis itu Zikra? Kenapa dia tidak sopan sekali, memanggilmu hanya menyebut nama saja?" tanya wanita itu penasaran.


Bukan menjawab pertanyaan wanita itu, Zikra malah bersikap dingini dan mengusirnya dari pangkuannya. Namun wanita itu bergeming di dalam ruangan Zikra lalu duduk di sofa. Dia langsung menyuruh Derry mengejar Syifa dan membawanya kembali ke ruangannya.


Syifa pasti sudah salah paham lihat aku dan Luna tadi. Pikir Zikra gelisah.


Dengan cepat Derry melaksanakan perintah bosnya. Tidak butuh waktu lama pria yang menjadi tangan kanan Zikra menemukan gadis itu yang tengah menangis tersedu-sedu di dalam lift. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Tetapi, untuk hal-hal yang berhubungan dengan bos besarnya, bukan hanya ikut campur malah harus turun tangan mengurus segalanya agar bosnya puas.


"Bilang sama pak Zikra, saya pulang. Saya akan datang berkunjung lagi jika waktunya tepat." ujar Syifa lirih menolak ajakan Derry.


"Maaf Nyonya, Bos meminta anda datang ke ruangannya saat ini juga." sanggah Derry bersikeras meminta Syifa datang. Dia pun berhasil menarik Syifa keluar dari dalam lift.


"Saya enggak mau mengganggu kesenangan mereka. Saya ... saya ..." belum sempat Syifa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Zikra datang langsung memeluknya erat.


Tanpa komando Derry langsung undur diri melihat situasi canggung seperti itu.


Syifa menangis dalam pelukan Zikra. Tangannya mengepal erat lalu terangkat memukul punggung Zikra kesal.


"Dasar cowok mata keranjang! Suami enggak setia! Katanya mau punya anak dari aku. Tapi selingkuh di belakang aku." hardik Syifa diliputi emosi yang meledak-ledak.


"Maaf! Maaf!" Zikra lirih tetap memeluk Syifa erat tanpa sedikit pun melonggarkan pelukannya. Seketika menghentikan tangan Syifa yang sedari tadi sibuk melampiaskan kemarahannya dengan memukuli punggung suaminya." aku enggak pernah selingkuhi kamu. Karena aku hanya mencintai kamu."


Syifa terdiam membisu. Zikra melonggarkan pelukannya. Menyeka air mata istrinya dengan kedua ibu jarinya. Setelah itu mengecup keningnya sayang.


"Percayalah, cintaku hanya untuk kamu." Zikra menatap serius sepasang netra Syifa yang hitam pekat.


"Bohong."  Syifa membuang mukanya. Air matanya masih menetes di pipinya.


Zikra tersenyum getir. Mengerti apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini.

__ADS_1


"Baik. Ikut aku!" serunya sambil menggandeng tangan Syifa kembali ke ruangannya.


Bersambung ...


__ADS_2