Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Mengertilah Sayang ...


__ADS_3

Musim penghujan telah tiba menyebabkan curah hujan lebih intens dari biasanya. Cuaca sering berubah-ubah tidak menentu. Kadang cerah, kadang mendung, bahkan bisa tiba-tiba turun hujan dengan cepat. Maka tidak aneh bila langit sore ini yang awalnya cerah kini mendadak terlihat mendung seperti akan turun hujan.


Syifa terhenyak dari lamunannya setelah mendengar nada notifikasi panggilan masuk yang lumayan panjang. Meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Melihat nama Nadya tertera di layar tanpa ragu ia langsung menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo, Pa. Gimana kabar lo, udah sehat? Sori gue belum sempat jenguk elo di rumah sakit," ujar Nadya dari seberang canggung.


"Elo nggak usah ngomong begitu, seharusnya gue yang bilang sori ke elo, karena gue udah nyusahin elo sekeluarga."


"Ah ... elo sopan banget kayak sama siapa aja. Lagian kita kan udah kayak saudara sendiri, ngapain juga elo pake bilang sori segala sama gue sekeluarga."


"Hmm," Syifa tersenyum getir. "makasih ya Nad, elo selalu ada buat gue. Jadi, gue enggak terlalu sedih disaat gue jauh dari keluarga gue seperti ini," suaranya terdengar lirih.


"Ya ampun Cipa, elo kenapa ngomong begitu sih? Udah deh jangan melow sok sedih kayak drama Korea," Nadya berusaha menghibur.


Syifa tertawa kecil. "Elo paling jago kalo soal bikin gue ketawa."


"Cih! Elo pikir gue pelawak bisa bikin elo ketawa?" Nadya berdecih.


"Whatever lah! Yang jelas elo adalah sahabat gue yang paling berharga. Makasih elo udah jadi sahabat gue selama ini. Tapi sori, sampai detik ini gue belum jadi sahabat elo yang baik, gue masih sering nyusahin elo, gue belum bisa balas semua kebaikan elo," Syifa mendadak menangis pilu.


"Elo ngomong apaan sih, pake bilang sori segala sama gue, juga belum balas kebaikan gue," terdengar suara di seberang bergetar lirih. "omongan elo kayak orang mau pamitan pergi jauh, tahu gak sih?"


"Iya. Gue emang sebenarnya mau pamitan sama elo ..."


"Serius lo, Pa!" Nadya terkejut. "elo mau kemana?"


Syifa terdiam sejenak mengatur nafas agar tetap tenang. "Gue kan udah cerita sama elo sebelumnya, kalo setelah tiga bulan gue bakalan dijemput sama orang tua gue. Elo tahu enggak, gue senang banget akhirnya hari yang gue tunggu tiba." ucapan dan perbuatan memang tidak selalu kompak. Di saat mulut mengatakan bahagia, air mata malah menunjukkan hal sebaliknya.


Suara isak tangis Nadya terdengar jelas di ujung telepon. Air mata Syifa mengalir deras.


"Emangnya orang tua lo udah ngasih kabar bakalan jemput elo besok?" tanya Nadya parau.


"Belum." Syifa menggelengkan kepala. "sampai detik ini gue masih belum tahu kabar terbaru mereka. Gue pun belum bisa melacak keberadaan mereka." menyeka air mata yang telah membasahi pipinya dengan tangan. "tapi gue yakin, besok mereka akan datang jemput gue." lanjutnya sangat optimis.


"Elo yakain bakalan mau pergi besok?" Nadya memastikan.


"Tentu aja. Bokap-nyokap gue enggak bakalan bohongin gue."


"Bang Zikra udah tahu kalo elo bakalan pergi besok?"


Syifa tertegun. "Belum," jawabnya pelan.


"Kenapa sih Pa, elo harus pergi? Padahal elo udah punya Bang Zikra yang bakalan melindungi elo, memberi elo kehidupan layak, dan ..."


"Zikra akan bahagia bila tanpa gue. Karena gue rasa orang bisa bahagia bila hidup dengan orang yang dicintai. Dan gue sadar orang itu bukan gue." tiba-tiba melintas kenangan ketika di taman itu di benak Syifa.


"Tapi Cipa, orang yang dicinta Bang Zikra itu ..."


"Bukan gue, Nad," tangis Syifa pecah. "elo jangan sok menghibur gue. Gue udah enggak bisa membohongi diri gue sendiri setelah kejadian malam itu. Gue ... gue udah enggak punya harapan lagi buat ngelanjutin hubungan ini, Nad," tuturnya frustasi.


"Cipa ..." Nadya ikut menagis di seberang sana.


Syifa langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Ia menangis pilu tidak kuasa menahan beban derita di hatinya. Setelah itu meletakkan ponselnya di atas meja belajar.


Tiba-tiba tanpa sengaja Syifa menjatuhkan dus kosmetik yang pernah dibelikan oleh Zikra ke lantai. Mengungkit kenangannya pada pagi itu, saat Nadya menawarkan produk kosmetik untuknya. Dengan inisiatif sendiri Zikra membelinya seakan peduli terhadapnya. Ia berjongkok mengambil dus yang masih disegel itu, memeluknya erat dan berurai air mata.


"Zik, aku pernah berharap kita bisa hidup bersama dalam cinta. Tapi, setelah malam itu aku putuskan kita berpisah untuk menemukan cinta masing-masing," katanya membatin. Meletakkan kembali dus itu di tempat semula. Berjalan gontai menuju tempat tidurnya. Duduk di pinggir kasur sambil menyeka sisa air mata di pipinya.


*


Zikra merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya hendak bergegas pulang. Tidak lama berselang nada dering panggilan ponselnya berbunyi. Saat melihat nama Tara tertera di layar ponselnya, sesungguhnya dia tidak ingin berbicara lagi dengan gadis itu setelah malam itu. Tetapi pesan singkat yang dikirimkan Tara membuat Zikra berubah pikiran. Balik menghubunginya setelah sebelumnya mengabaikan panggilannya.


Entah mengapa Zikra begitu tertarik dengan informasi yang diberikan Ayuniatara, hingga tampak tergesa-gesa meninggalkan kantor. Melesat pergi membelah jalan raya dengan mobil Porsche Macan turbo hitam pemberian Surya beberapa hari yang lalu. Dia sangat terkejut ketika informasi yang didapat menuntunnya ke sebuah mini market.


"Jika kamu ingin tahu, masuklah ke dalam," begitu kata Ayuniatara sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Zikra tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin diberitahukan Ayuniatara padanya. Dia pun tidak tertarik untuk mengetahuinya. Tetapi setelah mendengar hal itu berkaitan dengan Syifa tiba-tiba dia menjadi sangat penasaran. Pemuda itu memang sudah lama penasaran dengan kegiatan gadis yang dinikahinya sejak setengah tahun lalu di luar rumah. Namun tidak ada niatan untuk menyelidikinya.


Zikra turun dari jok mobil mewahnya lalu menutup pintu mobilnya. Berdiri tegak merapikan dasi dan jasnya sebentar. Kemudian bergerak masuk ke dalam mini market itu.


"Apa sebenarnya yang ada di dalam sini?" ujarnya bingung ragu-ragu mengambil keranjang belanjaan. Menoleh kanan dan kiri. Menyambangi rak demi rak tanpa entah apa yang akan diambilnya. Pasalnya Syifa sudah membeli semua kebutuhan sehari-hari awal bulan lalu.


Sesekali Zikra menyisir setiap sudut mini market yang masih sepi pelanggan. Namun tidak satu petunjuk pun berkaitan dengan informasi yang baru saja didapatnya.


"Sori ya, gue seharusnya enggak minta elo datang buat gantiin si Rina dan Syasa," ujar Panji tidak enak hati, berjalan beriringan dengan Syifa menuju meja kasir. "mereka tiba-tiba kompakan enggak masuk, enggak ngasih kabar pula sama gue."


"Enggak papa kok, Nji ... elo enggak perlu sungkan gitu sama gue. Lagian elo kan udah baik sama gue, anggap aja gue lagi balas budi sama elo, karena udah nolongin gue waktu malam turun hujan itu," jawab Syifa mengenang peristiwa malam itu.


"Elo jangan bilang balas budi dong," protes Panji canggung. "seolah-olah gue kayak pahlawan banget buat elo."


"Anggap aja begitu, elo pahlawan gue, pahlawan hampir kemaleman," sahut Syifa asal.

__ADS_1


"Ah! Masak pahlawan hampir kemaleman? Mana ada begitu? Ada juga pahlawan kesiangan."


"Elo kan nolongnya waktu malam-malam Panji ... bukan siang-siang."


"Oh iya ya," Panji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gimana sih lo, Udin!" guman Syifa.


Panji terkekeh.


Zikra terkesiap tiba-tiba mendengar suara Syifa sedang berbicara dengan orang lain. Suaranya samar tetapi sangat jelas. Dia mengangkat wajahnya mencari sumber suara.


"Ya udah, karena elo masih belum fit, elo nunggu di meja kasir aja ya. Biar urusan menyusun barang di rak jadi tanggung jawab gue."


"Oke."


Panji langsung memisahkan diri menuju box kontainer yang memuat berbagai macam merk dan jenis produk, lalu menyusunnya sesuai kelompok dan jenisnya dengan cermat.


Ingin hati memeluk gunung namun apa daya tangan tak sampai. Mungkin itulah peribaha yang tepat untuk menggambarkan kondisi Syifa. Dalam hati ia tidak ingin terlihat seperti orang sakit yang lemah di tempat kerjanya. Walau pada kenyataannya penampilan fisiknya terlihat jelas masih lemah dan wajahnya pucat.


Brakk! Terdengar suara keranjang belanjaan jatuh ketika tubuh Syifa mendadak terasa oleng. Gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang yang muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Serta merta orang itu meraih lengan gadis itu dan memeluk pinggangnya agar tidak terjatuh.


"Syifa?" suara itu terdengar sangat familiar.


Sontak Syifa mendongakkan kepalanya, melihat ke sumber suara. Matanya terbelalak kaget. "Z-Zik-Zikra!"


Zikra mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya bertaut. Pelan-pelan membantu Syifa berdiri.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu pakai seragam pegawai mini market?" cecar Zikra tidak sabaran.


Syifa terdiam, tidak berani menjawab.


"Jangan bilang kamu jadi karyawan mini market ini, ayo jawab!" desak pemuda yang berstatus sebagai suaminya itu.


Panji yang sedang sibuk menyusun produk di rak, mendadak terusik mendengar suara lelaki dengan nada suara agak meninggi. Suara itu terdengar sangat jelas, dan terasa tidak terlalu jauh dari tempatnya berada.


"A-aku ... i-iya," Syifa tergagap.


Zikra geram tanpa sadar meremas semua jari tangannya dengan kuat.  Syifa ketakutan melihat reaksi marah suaminya.


"Apakah uang yang selama ini aku berikan ke kamu masih kurang, sampai kamu mencari pekerjaan di luar rumah seperti ini?"


"Bu-bukan seperti itu, a-aku ... aku ..."


"Ada apa ini Syifa?" Panji sangat khawatir.


Panji terbeliak kaget melihat pemuda itu. Seorang lelaki yang pernah dijumpainya di kampus tempo hari. Dia adalah tunangan Syifa. Kendati demikian Panji tidak suka melihat perlakuan kasarnya terhadap Syifa.


Zikra sangat tidak suka melihat istrinya disentuh oleh lelaki selain dirinya. Dengan cepat dia menarik lengan Syifa, lalu menyeretnya keluar. "Ayo kita pulang!"


"Tunggu!" Panji menarik lengan Syifa yang lainnya. Dia menahan kepergiannya.


Langkah kaki Syifa terpaksa terhenti sejenak. Lalu terseret oleh hentakkan tangan Panji. Sontak langkah kaki Zikra pun terhenti. Menoleh ke belakang seraya balik menghentakkan tangannya agar Syifa tidak lepas dari genggamannya.  Memicingkan mata dengan sorot dingin dan geram. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan kotormu dari Syifa!" titahnya.


"Sori, Syifa adalah karyawati disini, jadi dia enggak boleh pergi dari sini," kilah Panji cepat. "lagi pula siapa mas ini menyeret karyawati saya begitu saja? Apalagi dengan penampilan mas yang necis sepertinya bukan orang sembarangan, untuk apa berurusan dengan karyawati kecil?"


Zikra menarik Syifa dalam satu hentakan, langsung merangkul bahu gadis itu dengan jarak yang sangat dekat.


Panji tertegun Syifa lepas dari genggaman tangannya. "Sebenarnya ada hubungan mas dengan Syifa?" selidiknya.


Zikra menyeringai sinis. "Sepertinya kamu belum tahu siapa aku sebenarnya,"


Syifa mendongakkan wajahnya, menggelengkan kepalanya sambil menatap Zikra penuh harap agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Pasalnya jika Panji tahu, ia akan terlibat masalah berhubungan dengan kontrak kerja yang telah ditandatanganinya. Tentu saja ia tidak siap dan tidak akan pernah bisa siap.


"Syifa adalah istriku." tukas Zikra tanpa basa-basi. "sebagai seorang orang istri yang baik harus mematuhi perintah suaminya. Dan sebagai suaminya, aku melarang istriku bekerja di luar rumah."


Panji tercengang sekaligus langsung patah hati mendengar penjelasan Zikra. Tetapi dia tidak ingin mempercayainya. Tertawa dingin.


"Maaf mas, ini bukan lelucon. Jadi, jangan coba berusaha mengatakan omong kosong di sini. Karena karyawati saya masih single, belum menikah sama sekali." sergah Panji.


"Zik, plis ... jangan ngomong apa pun lagi," pinta Syifa lirih.


"Kenapa? Kamu malu punya suami aku?" tanya Zikra dengan suara berat.


"Aku ..."


"Syifa, apa benar yang diomongin mas ini barusan?"


"Nji, soal itu ..."


"Syifa, kenapa kamu enggak langsung jelasin sama dia? Kenapa kamu enggak ingin dia tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya?" tanya Zikra penasaran. "atau apakah karena sekarang kamu udah jatuh cinta sama dia, jadi kamu mau menutupinya?"

__ADS_1


"Enggak! Aku enggak pernah berpikir seperti apa yang kamu tuduhkan Zikra," sanggah Syifa sungguh-sungguh. "aku dan Panji hanya teman biasa."


Panji sangat terpukul mendengar jawaban Syifa. Meskipun gadis itu tidak pernah memberinya harapan, tetapi semua begitu menyakitkan.


"Oya? Apakah aku akan percaya semudah itu?"


"Tapi, Zik ... aku serius."


"Cukup!" Panji menginterupsi. "jika benar kalian berdua udah menikah tunjukkan bukti pernikahan kalian." wajah cowok itu tampak pias.


"Oke." Zikra mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Membuka fitur video. Setelah memberikan pada Panji.


Tanpa ragu Panji menonton video yang diputar pada ponsel Zikra. Matanya terbelalak melihat video pernikahan Zikra dan Syifa. Lagi, hatinya terluka hingga ketingkat frustasi. Mengepalkan tangannya diam-diam. Namun tetap berusaha tenang.


Syifa frustasi karena Zikra memiliki video pernikahan mereka berdua. Selama ini ia mengira ada yang mengabadikannya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana suasana pernikahannya kala itu berselimut duka. Uwa meninggal setelah acara ijab kabul selesai.


"Nji soal ini ..."


"Cukup Syifa, elo enggak usah kasih gue penjelasan lagi. Karena semuanya udah jelas buat gue," tutur Panji dingin. "karena elo udah menyalahi kontrak kerja, maka elo harus menghadapi konsekuensinya." berbalik badan. Setelah memastikan mereka pergi, dia melirik kepergian mereka dari balik dinding kaca mini market.


Syifa masih ingin memberi penjelasan kepada Panji. Namun Zikra tidak memberinya kesempatan. Ia hanya bisa manut saat diseret masuk ke dalam mobil mewahnya.


Mengapa? Mengapa harus terjadi seperti ini?


Syifa melirik Zikra yang duduk di kursi kemudi. Ekspresi wajahnya terlihat tegang terkesan penuh kemarahan. Ia tidak berani bersuara untuk sekedar mencairkan suasana dalam kondisi seperti itu. Hingga tercipta suasana hening dan menegangkan.


"Apakah Zikra bakalan marah sama gue? Terus melempar gue jauh dari rumahnya? Ya ampun ... semoga aja enggak. Tapi, kalo iya gimana kabar hidup gue nanti?" bisiknya dalam hati.


Syifa mendengus pelan. Zikra masih fokus pada jalan raya yang terlihat sedikit padat.


Langit sore sudah terlihat gelap. Tidak ada bintang yang bertaburan di langit malam. Bulan pun ikutan bersembunyi dibalik awan kelam.


Tidak terasa mereka tiba di rumah.


Zikra membukakan pintu mobil untuk Syifa. Lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah. Rupanya Zikra masih marah. Syifa tidak berani membantah.


"Kenapa kamu bekerja? Apakah uang yang aku kasih setiap bulan enggak cukup?" tanya Zikra berang. "jika kurang, kenapa kamu enggak ngomong terus terang sama aku?"


"Maaf Zik, aku ... enggak merasa kurang atas apa yang udah kamu kasih ke aku," jawabnya jujur.


"Kalo memang cukup, ngapain kamu masih kerja?"


"Itu ... karena aku enggak ingin menjadi beban kamu. Aku ingin mandiri. Aku enggak boleh selalu bergantung sama kamu selamanya. Karena aku merasa diriku adalah tanggung jawab aku sendiri," Syifa menghindari tatapan dingin Zikra yang membuatnya agak ngeri.


"Apa? Kamu mau mandiri dan enggak mau bergantung sama aku?" Zikra berjalan mendekati Syifa. Sontak gadis itu berjalan mundur ketakutan. Semakin lama pemuda itu semakin dekat hingga menyudutkannya ke dinding.


Desiran halus di dua rongga dada Syifa mendadak bergejolak. Panas dingin mulai terasa menjalar di sekujur tubuhnya. Kini mereka berada dalam posisi yang sangat dekat, hingga dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.


"Iya. Apalagi besok Ayah dan Bunda datang jemput aku. Setelah itu aku akan tinggal kembali bersama keluargaku. Makanya aku putuskan untuk bekerja agar aku." Syifa tergagap.


Zikra tertegun mendengar jawaban Syifa. Hatinya terasa sakit.


"Kenapa kamu selalu ingin pergi meninggalkan aku? Apakah aku enggak ada artinya buat kamu? Lalu pernikahan kita hanya lelucon aja buat kamu? Hah?!"


"Zikra, dari awal pernikahan kita adalah hanya pembayar nazar Uwa aku. Jadi, kamu enggak usah mikir terlalu banyak masalah pernikahan ini."


"Jadi, selama ini kamu berpikir pernikahan kita hanya pembayar nazar semata?" Zikra frustasi. Dia terdiam sejenak. Melintas kenangan di malam pernyataan cintanya di taman. "ohhh, sekarang aku tahu, itu sebabnya kamu enggak datang malam itu ke taman. Padahal aku udah meminta kamu datang berkali-kali."


"Udah deh Zikra, kamu enggak usah lebay gitu. Buat aku datang atau enggak, toh enggak ada efeknya buat aku."


"Apa kamu bilang enggak ada efeknya buat kamu?"


"Iya. Karena aku tahu, aku hanya akan jadi penonton kemesraan kalian berdua."


Zikra mengerutkan dahi. "Jadi, malam ini kamu datang?"


"Iya. Aku datang dan melihat kemesraan ..." suaranya bergetar menahan tangis. Matanya mulai basah dipenuhi air mata. Namun ia menutupinya dengan memalingkan wajahnya, diam-diam menyeka air mata yang terlanjur turun dari pelupuk mata.


"Tunggu!" Zikra menginterupsi. Mencerna ucapan Syifa dengan teliti. "Kalo kamu datang mengapa aku enggak lihat kamu? Padahal aku udah nungguin kamu semalaman suntuk."


"Udah deh Zik, enggak usah diperjelas lagi. Aku enggak tahan kalo kamu terus-terusan membahas tentang malam itu." Syifa mendorong jauh tubuh Zikra.


"Tapi Fa, kamu harus dengar penjelasan aku dulu."


"Enggak perlu, aku udah tahu kamu mau bilang apa. Dan aku ingin kita bercerai sebelum aku pergi meninggalkan rumah ini." Syifa beranjak masuk ke dalam kamarnya. Berdiri di balik pintu cukup lama.


"Syifa, plis dengerin aku dulu. Dan aku juga minta kamu menjelaskan tentang kehadiran kamu di sana malam itu." Zikra mengetuk pintu kamar Syifa cukup keras. "seharusnya kamu tahu, apa yang semua aku katakan malam itu tertuju hanya untuk kamu. " suaranya terdengar berat dan bergetar.


Syifa merosot ke bawah, berjongkok sambil menangis pilu.


"Syifa, tolong buka pintunya!" titah Zikra sambil mengetuk pintu kembali. Namun gadis itu tidak bergeming.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2