Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Pacar Untuk Nadya


__ADS_3

Syifa kembali masuk kuliah setelah libur mandiri selama dua hari. Bukan karena sakit atau sedang menjalani


karantina. Melainkan ulah nakal sang suami yang membuatnya lelah melakukan olah raga malam. Sayangnya ia tidak bisa menolak apa yang sudah dititahkan suaminya. Meskipun sudah membuatnya mengibarkan bendera putih. Tetap saja tidak menyurutkan hasrat dan nafsu kelelakian Zikra untuk melakukan penyerangan sampai titik puncak klimaksnya tercapai. Untungnya semalam Zikra tidak minta jatah. Jadi saat bangun tidur pagi tadi, ia tidak merasa lelah dan sakit pinggang.


Wajah cerianya terpancar jelas ketika Nadya datang menghampirinya di tempat favorit mereka di kampus. Dimana lagi bila bukan di taman belakang kampus. Pelukan hangat langsung didapatkannya sebagai ungkapan rasa rindu sang sahabat yang seakan sudah berabad lamanya tidak bertemu. Lebay! Memang seperti itu Nadya bertingkah. Terkadang Syifa pun melakukan hal yang sama tanpa disadarinya. Mungkin memang sudah panggilan jiwa mereka yang sering terkesan norak.


"Kemana aja lo dua hari gak masuk tanpa kabar?" tegur Nadya setelah melepaskan pelukannya dengan logat khas Betawinya.


Syifa hanya nyengir gaje.


"Gue pikir elo drop out. Gue sampai sedih tahu." sungut gadis berambut panjang lurus. Namun sekarang rambutnya sedang dikepang kuda.


"Kejauhan lo mikirnya." sahut Syifa singkat.


"Abis, elo enggak ada kabar sih? Gue telepon gak dijawab. Gue chat enggak dibalas. Terus, yang bikin gue parno ... gue datang ke rumah lo, tapi rumah lo dikunci gak ada siapa-siapa. Gue tanya sama tetangga rumah lo, mereka semua enggak ada yang tahu."


Syifa terkekeh geli.


"Jangan tawa aja lo! Enggak ada yang lucu. Cepat jawab gue!" desak Nadya geram. "kemana aja elo pergi?"


"Iya, iya. Gue emang udah dua hari ini lagi gak di rumah lama..."


"Rumah lama?" sela Nadya memotong penjelasan Syifa tidak sabaran.


Syifa mengangguk pelan.


"Maksudnya?" Nadya meminta penjelasan.


Kemudian Syifa menceritakan tentang Zikra yang telah memberi rumah baru yang besar kepada Nadya. Ia juga


menceritakan tentang kegiatannya selama tidak pergi ke kampus.

__ADS_1


"Pantesan aja, elo gak bisa hubungin selama dua hari ini. Ternyata begindang?" Nadya mendengus pelan.


"gue jadi iri sama elo. Umur masih muda sama kaya gue, tapi elo udah punya pasangan yang tajir melintir."


"Sabar..., nanti juga elo bakalan dapat jodoh, Nad. Tuhan kan menciptakan segala yang ada dimuka bumi ini berpasangan." Syifa mencoba menenangkan hati Nadya yang tampak gusar. Pasalnya sampai detik ini gadis itu masih betah menjomblo.


Nadya tersenyum kecil.


Tidak ada yang salah dengan bentuk fisik maupun wajah Nadya. Gadis itu bisa tergolong cantik dengan kulit kuning langsat. Perilakunya pun baik. Hanya faktor keberuntungan dan takdir saja yang belum mengizinkannya memiliki pasangan.


Nadya memang selalu kurang beruntung dalam masalah asmara. Sejak SMP hingga duduk di bangku kuliah, dia hanya tiga kali mengalami masa pacaran yang semuanya berakhir tidak terlalu lama. Dia memang tipe gadis yang jujur, setia, dan suka nyablak. Keinginan sederhananya adalah ingin memiliki pacar romantis dan perhatian. Walaupun ketiga cowok yang pernah dipacarinya terbilang perhatian, namun jauh dari kesan romantis. Tetapi pokok masalahnya bukan hanya tidak romantis yang menjadi titik berat kandas semua hubungannya pada mantan pacarnya terdahulu. Melainkan dirinya yang tidak dicintai sepenuh hati hingga membuatnya nekat mengakhiri kisah cintanya. Karena Nadya yang menembak mereka duluan.


Keceriaan dan sikap humoris Nadya memang mampu membuatnya menyembunyikan masalah hatinya. Makanya saat patah hati karena Zikra sudah resmi menjadi suami Syifa. Padahal dia sudah lama mengincar cowok tampan itu. Sampai cintanya ditolak oleh Panji tidak terlalu membuatnya frustasi. Kini, dia sudah terlalu lama menjomblo membuatnya tidak tahan mencari seorang pacar. Namun sampai detik ini belum ada satu orang cowok pun yang mau menembaknya menjadi pacar. Sedangkan cintanya terhadap Rifa'i, merupakan sahabat Abangnya sendiri -- Bonang -- sepertinya akan mengulangi sejarah yang sama dengan kisahnya terdahulu. Oleh sebab itu, dia mundur secara teratur menjauhinya agar hatinya tidak amburadul seperti dulu lagi.


Sejurus dengan itu, tiba-tiba Nadya mengungkapkan jika dirinya baru saja dekat dengan seorang cowok.


"Namanya Daniel." imbuh Nadya menyebut nama cowok itu sambil mengingat wajahnya.


Nadya mengangguk penuh semangat. Segaris senyum tertarik di sudut bibirnya ketika menceritakan sosok Daniel yang tampan, tinggi dan macho. Walau pun warna kulitnya tidak bersih. Dia tetap menawan dan manis dengan kulit sawo matangnya.


Syifa ikut merasakan bahagia yang dirasakan sang sahabat. Ia hanya berharap Nadya akan mendapatkan seorang pacar yang benar-benar menyintainya dengan tulus.


"Dia kuliah dimana?" selidik Syifa ingin tahu.


Nadya tersenyum miris.


"Dia bukan mahasiswa. Dia cuma seorang montir yang bekerja di bengkel kecil." sahutnya lirih.


"Oh." gumam Syifa mengangguk pelan. "elo sama dia udah jadian?"


"Ya... elo... Gue kan baru kenalan sama dia. Masa langsung jadian, enggak masuk akal banget sih?"

__ADS_1


"Iya kali... elo kan jago kalo urusan cowok."


"Preeettt! Jago ayam jago?!"


"Lho, kenapa?"


"Kalo gue emang benaran jago, mana mungkin gue jomblo."


Syifa dan Nadya terkekeh kompak.


Setelesai ngobrol dan curhat ala-ala cewek versi Nadya dan Syifa di taman kampus. Keduanya kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Selama perjalanan menuju kelas masing-masing kedua sahabat itu tampak masih cekikikkan disela obrolan mereka.


"Hai!" sapa Panji saat berpapasan di koridor kampus.


Sontak kedua gadis cantik itu terdiam serentak. Suasana mendadak dingin dan kaku. Gelak tawa yang sedari tadi meluncur dari mulut Syifa dan Nadya mendadak musnah. Entah mengapa mereka bertiga menjadi menegang.


"Hai juga." sahut Nadya setelah beberapa detik terperangkap dalam keheningan.


Syifa hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Ia masih tidak nyaman bertemu dengan cowok itu. Setelah apa yang telah terjadi terakhir kali dengannya.


Panji tersenyum ramah. Melihat ke arah dua g adis di depannya bergantian.


"Kalian mau ke kelas ya?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan oleh Nadya. " bisa kita jalan barenga?"


Tidak banyak bicara Nadya langsung menyetujuinya. Lalu mereka bertiga berjalan bersamaan dengan Nadya berjalan diposisi paling tengah. Sementara Syifa dan Panji berada di kanan dan kiri Nadya.


Bersambung ....


***


Happy reading!

__ADS_1


🙏🙏 maaf baru bisa update segini aja. Harap maklum kerjaan di dunia real cukup menyita waktu. Plis! Jangan bosan baca karya aku ya. Jangan lupa kasih vote, like, n komen sebagai jejak kalian udah mampir di sini. Juga untuk menaikkan level aku yang cuma segitu-segitu aja gak naik-naik 🤭🤭🤭. Thanks selalu setia membaca karya aku. ❤️ Luv u all!


__ADS_2