Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Cinta Kita


__ADS_3

Aini mengemudikan mobil Zikra melesat pergi menuju rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi kakaknya. Setelah ditangani dokter dan diperbolehkan pulang, gadis berkulit cerah itu langsung membawanya pulang ke rumah orang tuanya.


Hampir satu minggu sejak peristiwa di resort itu Zikra belum pulang ke rumah. Selama itu pula Syifa berinisiatif menginap di rumah Nadya takut terkurung sepi sendiri di rumah. Namun berlama-lama di rumah orang lain ternyata tidak senyaman rumah sendiri. Oleh sebab itu, malam ini ia memaksakan diri tinggal di rumah. Meskipun takut tidak mengurungkan niatnya untuk bertahan dalam kesendirian berteman sunyi.


"Elo ini bodoh apa idiot sih, Cipa? Masak suami lo digandeng cewek lain, elo diam aja sok ikhlas gitu?" semprot Nadya terdengar sarkas setelah mendengar ceritanya sepulang dari resort. Gadis itu sangat geram dengan sikap bodoh sahabatnya. Kedua tangannya mencengkeram udara. "kayaknya otak lo udah gesrek, sampai **** lo berkarat."


"Elo jangan ngomong gitu dong, Nad. Seolah-olah gue enggak berguna sama sekali." rajuk Syifa.


"Abis elonya ... ah!" Nadya tampak frustasi. "gue jadi heran sama elo. Sebenarnya elo cinta enggak sih sama Bang Zikra?"


"Gue masih ragu, Nad." sahut Syifa pelan.


"Cipa ... mau sampai kapan mau ragu terus sama perasaan lo? Emangnya elo mau nunggu sampai Bang Zikra bosan sama sikap lo, terus, dia berpaling dari elo, gandeng cewek lain, gitu?"


Syifa terdiam tertunduk membisu.


"Ampun deh! Gue benar-benar enggak ngerti sama elo. Padahal kemarin elo pernah bilang, kalo Bang Zikra udah nyatain cintanya sama elo. Terus, kalian juga pernah tidur di satu kasur yang sama. Jadi, mau ragu gimana lagi?" Nadya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri gemas. "atau ...jangan-jangan elo bukan ragu sama cintanya Bang Zikra. Tapi hati lo udah kena racun si Angga tengik. Jadi elo masih ngarepin dia, playboy kelas teri itu kan?" dia beralibi. "ingat ya, mantan terindah lo itu udah nikah sama si Rima, dan sekarang mereka udah punya bayi."


"Ah! Elo ngomong apaan sih, Nad? Gue udah enggak pernah ingat dia lagi." Syifa berusaha menutupi perasaannya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya terdalam, ia turut bahagia sang mantan bisa merangkai hidupnya menjadi lebih bahagia. Ada kelegaan menyelinap masuk ke dalam rongga sanubarinya. "mana ada gue kepikiran tentang dia?"


Nadya menghela nafas pendek. "Kalo elo udah enggak ingat dia lagi, buktiin dong!"


"Buktiin? Gimana caranya?" tanya Syifa polos.


"Ampun ... deh Cipa ...ough!" Nadya menggenggam udara geram. "ya elo harus ungkapin perasaan lo sama Bang Zikra secara langsung. Masa gitu aja elo enggak becus?"


Rasa rindunya pada Zikra terasa menjalar di sekujur tubuhnya sampai menyiksa batinnya. Syifa hanya menangis sambil menatap foto suaminya. Berharap pemuda itu pulang dan memeluknya hangat. Di saat itu, ia akan meminta maaf atas kebodohannya selama ini.


Syifa pun tidak hanya berpangku tangan menunggu kepulangan suaminya. Ia sudah berusaha mencarinya dengan mendatangi rumah Surya. Sayangnya, penjaga rumah tidak mengizinkannya masuk menemui Bapak dan Ibu mertuanya. Mereka beralasan semua anggota keluarga sedang pergi keluar kota. Hingga tidak banyak informasi yang di dapat tentang Zikra dari penjaga itu. Selain suaminya menginap beberapa hari di rumah besar.


Bukan hanya itu. Sudah ratusan kali gadis yang kini bertambah kurus itu, menghubungi via telepon. Tetapi selalu sibuk. Bahkan chat-chat yang dikirimnya tidak satu pun terbalas.


Zikra, apakah kamu semarah itu sama aku? Atau mungkin kamu udah benar-benar lupain aku? Ayah ... Bunda ... kenapa kalian juga belum kasih kabar? Mengapa kalian semua begitu tega tinggalin aku sendiri di sini? Datanglah kalian semua ke sini!


Malam telah larut. Namun Syifa belum mengantuk tetap terjaga. Meskipun tubuhnya telah terbaring di atas kasur. Matanya terasa nyalang tidak bisa terpejam. Ada banyak masalah yang datang silih berganti mengusik pikirannya. Pertama masalah kuliahnya yang terpaksa ditinggalkan karena ingin tinggal bersama Ayah dan Bunda di Batam. Belum lagi masalah pengunduran dirinya di tempat kerjanya, tetapi diam-diam Zikra sudah membereskannya melalui pengacaranya. Terakhir, yang paling membuat otak dan pikirannya masih berputar-putar memikirkan Zikra.


"Zikra, kamu pernah gak sih kangen aku selama kamu pergi?" tanya batinnya lirih. "aku disini kangen kamu. Aku ingin ketemu kamu. Aku ingin lihat wajah kamu. Suara kamu. Pokoknya semua tentang kamu aku kangen. Aku ingin peluk kamu."


"Nak Syifa, tolong pikirkan baik-baik bila berhubungan dengan rumah tangga. Karena di dalamnya tidak hanya ada satu kepala. Tetapi ada dua kepala yang memiliki persepsi yang berbeda," tutur Mama Dio memberi nasihat kemarin sore mendadak terngiang di telinganya. "pernikahan adalah masalah yang gampang. Yang susah adalah menjalankan biduk rumah tangga agar tetap langgeng sampai akhir hayat."


Syifa mendengarkan dengan khidmat.


"Pernikahan atas dasar cinta, atau perjodohan yang diatur oleh orang tua kita, itu semua adalah sebab musabab untuk Allah menyatukan dua insan ciptaan-Nya. Apakah menjamin orang yang menikah karena cinta, bahkan sudah mereka berpacaran sampai bertahun-tahun lamanya akan bahagia? Tapi enggak sedikit rumah tangga mereka berakhir pada perceraian. Namun banyak orang yang menikah berawal dari ta'aruf, atau dijodohkan seperti Nak Syifa ini, pernikahan mereka langgeng sampai beranak cucu."


Hati Syifa sangat sejuk mendengar ucapan wanita berhijab itu. Sudah lama ia merindukan sosok Bundanya yang selalu memberinya nasihat. Matanya perlahan basah terharu.


"Nak Syifa, kalau boleh Mama sarankan, jangan sekali-kali berniat untuk berpisah dari suami. Apalagi meminta diceraikan. Ingat lho, image seorang janda itu enggak pernah dipandang bagus di mata masyarakat kita. Selama ini janda selalu dicap jelek." Mama Dio membelai rambut Syifa yang hitam pekat. "sebagus dan buruk pasangan kita adalah anugerah dari Allah. Jalani semuanya dengan tulus dan ikhlas lillaahi ta'ala."


Tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Lalu memeluk wanita itu haru.


"Makasih, Ma. Mama udah baik banget sama Syifa. Syifa pasti akan selalu mengingat nasihat Mama dengan baik."


Hari ini adalah hari ulang tahun Syifa. Biasanya Bunda selalu membuatkan kue ulang tahun untuknya. Ayah bertugas mendekor ruang tamu sebagai pesta kejutan pada tengah malam, tepat jam 12 malam bersama Ade, Ayah dan Bunda mengetuk pintu kamarnya. Ayah menutup kedua mata Syifa dengan tangannya sendiri. Menuntunnya menuju ruangan pesta, dan meniup lilin setelah sebelumnya membaca doa terlebih dahulu. Walau pun hanya pesta kecil-kecilan, namun berarti besar pada hidupnya.


Sekarang, semua itu tinggal kenangan. Tidak ada lagi pesta kejun dan kue buatan Bunda. Tetapi Syifa masih bisa membelinya di toko bakery terdekat. Dan merayakan hari ulang tahunnya sendiri. Syukurlah, Nadya sempat mengucapkan selamat ulang tahun, dan memberikan hadiah kecil padanya sebelum pulang.


Rasa sedih serta bercucuran air mata sangat dirasakan, setelah membaca doa dan tiup lilin. Betapa terasa sakitnya ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Tidak ada yang dapat dilakukan. Hanya bisa berharap dalam doa kepada yang Maha Kuasa, agar mereka yang disayanginya cepat kembali bersamanya.


Syifa beranjak duduk di atas tempat tidurnya. Malam ini adalah kali pertamanya ia tidur sendiri di rumah. Tanpa Zikra. Tanpa pelukannya yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan. Selalu membuatnya gemetar sekaligus merinding bulu romanya. Ia mendengus pendek sambil mengusap wajahnya yang polos. Menyibak selimutnya, turun dari kasur.


Syifa memutuskan pergi ke dapur, mengambil sebotol air minum dingin dari dalam kulkas. Menuangnya ke dalam gelas. Setelah menandaskan setengah gelas air dingin, gadis itu kembali ke kamar. Namun tidak kembali ke kamarnya sendiri. Melainkan menyambangi kamar suaminya, Zikra.


Ketika baru membuka pintu, rasa rindunya tumpah. Matanya ingin sekali melihat sosok Zikra dengan sikapnya yang belakangan terasa sangat. Di bibir pintu Syifa mematung menatap tempat tidur suaminya yang kosong. Seprai dan bed cover putih favoritnya masih tertata rapi. Kemudian Syifa melangkah masuk sambil menutup pintu.


Syifa duduk di pinggir kasur Zikra. Dibelainya lembut permukaan seprei, lalu membaringkan tubuhnya dengan meletakkan kepalanya di bantal. Ada sisa aroma wangi tubuh Zikra yang tertinggal di bantal terasa menusuk masuk ke dalam indera penciumannya.


Ia tampak sangat meresapi dan menikmati aroma itu sambil memejamkan mata. Bayangan Zikra terasa nyata di dekatnya. Mengingatkannya saat pertama kali ia tidur bersama pemuda itu di kamar ini. Ketika itu Zikra menempati sisi kasur yang saat ini ditidurinya. Tapi saat membuka mata hatinya kecewa tidak mendapati sosok yang dirindukan. Tanpa terasa Syifa langsung terhanyut terbuai di alam mimpi.


Syifa yang sedang terlelap tanpa sadar meraih guling, lalu mendekapnya erat dalam pelukannya. Entah ia sadar atau tidak, tiba-tiba ia merasakan berubah menjadi benda yang asing. Refleks tangannya bergerak-gerak merasai benda di sisinya mengeluarkan energi hangat dan nyaman saat dipeluknya. Aroma tubuh Zikra menguar pekat masuk ke dalam indera penciumannya.


Matanya masih terpejam, alisnya mengerut. Gerakan tangannya lambat namun intens. Akhirnya Syifa terbangun. Perlahan-lahan membuka matanya. Mendadak ia terperanjat kaget ketika melihat sosok yang sedari tadi dipeluknya.


Hakh! Zikra!


Sontak Syifa bergerak menjauh. Matanya terbeliak kaget ketika Zikra terbangun, terusik oleh pergerakannya yang mendadak. Degup jantungnya berdesir hebat melihat wajah baru bangun tidur pemuda itu, ternyata sangat tampan. Wajahnya memucat takut Zikra marah atas kelancangannya.


"Ma-maaf, aku udah lancang dan ngotorin tempat tidur kamu." ia terlonjak duduk.


Syifa langsung beranjak bangun sebelum Zikra benar-benar marah dan mengusirnya keluar. Namun diluar dugaan, belum sempat kakinya turun dari kasur, tiba-tiba Zikra menarik lengannya. Kontan tubuhnya berbalik, menabrak dan jatuh di atas dada pemuda itu.


Sejenak keduanya terdiam membeku. Degup jantung Syifa berdegup sangat kencang, membuatnya sangat gugup. Sementara Zikra tampak bahagia menikmati kebersamaannya dengan jarak yang sangat dekat.


"Jangan! Jangan pergi! Tetaplah di sini!" pinta Zikra penuh harap sambil membelai lembut kepala Syifa. Setelah itu mencium keningnya.


Syifa beranjak duduk cepat sambil menepis pelukan Zikra. Mengingatkannya kembali potongan-potongan kenangan saat bagaimana dirinya ditinggalkan ketika liburan di resort beberapa hari lalu, seperti slide yang muncul secara bergantian di pelupuk matanya.


"Aku enggak pernah pergi meninggalkan siapa pun. Tetapi akulah orang yang selalu ditinggalkan." sahutnya lirih sambil menundukkan wajahnya dalam. Tangannya mencengkeram pahanya sendiri.


Zikra beranjak duduk. Tertegun mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Syifa. Menorehkan rasa bersalah dan sesal telah meninggalkan Syifa ketika liburan di resort itu.


"Maaf." melingkarkan tangan di leher Syifa. "aku udah ninggalin kamu waktu itu."


Syifa terkejut dengan gerakan Zikra. Membisu sambil menyentuh tangan suaminya yang masih melingkar di lehernya. Rona wajahnya bersemu merah. Desiran itu masih bergelora di dadanya.


"Aku punya sesuatu yang khusus disiapkan buat kamu." ujarnya tiba-tiba.


Syifa mendongakkan kepalanya. Mengikuti gerakan Zikra saat tangannya digandeng hangat. Beranjak keluar.


"Maaf ya, mata kamu harus ditutup dulu," ucapnya meminta izin ketika baru keluar dari kamar. Tanpa menunggu jawaban dari Syifa, dia langsung menutup matanya dengan tangannya sendiri. Setelah itu menuntunnya ke ruang tamu.


'HBD CiNTAKU, SYIFA'. Begitulah tulisan yang tertera di dinding dengan balon-balon berwarna emas. Di atas lantai beralaskan karpet telah tersusun rapi tumpukan kado yang didominasi kertas dan pita merah muda.


Kado-kado itu?


Perasaan haru dan bahagia membuncah di hati Syifa secara bersamaan. Lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Zikra. Air matanya langsung merebak. Entah kapan dia menyiapkan semua itu. Padahal sebelum tidur Syifa tidak melihat apa pun di sana.


"Selamat ulang tahun, sayang." Zikra mengecup kening Syifa. Lalu mengusap air mata istrinya yang terus saja terjun bebas dari pelupuk matanya dengan ibu jari.

__ADS_1


"Kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Syifa heran.


Zikra tersenyum. "Tadi, sewaktu kamu masih tidur." menuntun tangan Syifa mengikuti langkahnya, duduk di atas karpet. Menyalakan lilin di atas kue tart berbentuk lingkaran. Kemudian mengangkat dan mendekatnya di depan wajah Syifa. "sebelum tiup lilin, kamu make a wish dulu."


Syifa menutup matanya sambil mengatupkan tangan berdoa dalam hati. Setelah itu meniup lilin. Lalu melakukan ritual potong kue.


"Kadonya kok banyak banget?" matanya berbinar.


"Iya. Ini adalah kado yang udah aku siapkan sejak sepuluh tahun lalu."


"Apa?"


"Benar." Zikra menganggukkan kepala.


Dia menceritakan tentang kisahnya dulu, setahun setelah perjodohan mereka, Surya selalu mengingatkannya hari ulang tahun Syifa, dan mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli kado. Surya pernah berpesan agar selalu mengingatnya dan membelikan kado. Sejak saat itu, Zikra terbiasa melakukannya. Namun, karena keluarga mereka sempat hilang kontak. Maka, kado-kado itu hanya berakhir di dalam lemari.


"Pantas aja kado-kado ini terasa familiar banget." gumamnya mengingat saat membuka salah satu pintu lemari Zikra di rumah besar. Ia sangat terharu menatap semua kado itu. Tiba-tiba ada hal yang menarik perhatiannya. "ada tulisannya. 'selamat ulang tahun Syifa yang ke- 9 tahun'. Dan yang ini ke- 11 tahun, kok beda-beda ya?"


"Iya. Aku memang sengaja menulis seperti itu untuk memperingati hari ulang tahunmu setiap tahun." jawab Zikra cepat.


Syifa tersenyum bahagia tidak menyangka selama ini ternyata Zikra selalu mengingat hari ulang tahunnya. Padahal setelah acara perjodohan sepuluh tahun lalu kedua keluarga itu kehilangan kontak. Pasalnya Zikra sekeluarga pindah ke Surabaya. Surya mengembangkan kerajaan bisnis keluarganya. Sementara keluarga Syifa pindah ke kota Bekasi.


"Tapi ... aku ... maaf, aku enggak pernah tahu kapan hari ulang tahun kamu, apalagi nyiapin kado." Syifa tampak tidak enak hati.


"Ya udah gak papa. Ayo, buka kadonya!" seru Zikra seraya mengelus kepala Syifa.


Satu demi satu Syifa membuka semua kado itu. Namun ia tidak sanggup untuk membukanya sendiri. Oleh karena itu, Zikra membatunya dengan senang hati.


"Makasih ya, Zik. Kamu ternyata ingat hari ulang tahunku. Dan mau repot-repot memberikan semua hadiah ini buat aku. Sedangkan waktu kamu ulang tahun aku cuma kasih kamu satu hadiah, itu pun harganya murah."


"Sstt! Bagi aku banyak hadiah sebesar apa pun, bagi aku enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehadiran kamu di hidup aku." Zikra tersenyum ceria.


Hati Syifa menghangat.


Ya ampun ... ini gombal enggak sih?


"Jadi, aku cewek keberapa yang kamu gombalin dengan kata-kata seperti itu?" Syifa menguji kejujuran suaminya.


"Dasar gadis bodoh!" Zikra menyubit hidung Syifa gemas, hingga ia meringis kesakitan. "mana ada aku gombalin cewek lain selain istri aku sendiri."


"Mana ada maling ngaku. Kalo maling ngaku, penjara bakalan penuh semua."


"Kalo kamu enggak percaya, tanya aja Bonang. Dia yang paling tahu aku. Karena sejak aku pindah sekolah di SMA yang sama, aku dan dia kuliah dan bekerja di kantor serta ruangan yang sama."


Syifa hanya mendengus kencang sambil mencebikkan bibirnya, seolah tidak percaya dengan ucapan Zikra. Namun dalam hati terselip rasa bahagia atas kesetiaan suaminya yang ternyata tidak pernah tergoyahkan.


"Emang sih waktu di SMA sampai kuliah banyak cewek yang ngejar-ngejar aku. Bahkan sampai antri jadi pacar aku." jelasnya bangga dan sangat narsis.


Sebenarnya apa yang diucapkan Zikra adalah masuk akal. Tidak ada yang menyangsikan ketampanannya. Syifa pun sangat mengakui itu. Ia pun pernah menjadi korban bully dari fans beratnya Zikra saat di tempat KKN. Selain itu yang lebih real ialah kehadiran Ayuniatara yang selalu ingin merebut posisi nyonya Zikra darinya.


"Terus berapa cewek yang berhasil terjerat?" selanya menunjukkan ekspresi kecemburuannya.


Zikra dapat melihat dengan jelas rona wajah Syifa yang mulai bete sendiri. Dia hanya tersenyum kecil.


"Enggak ada. Enggak ada seorang pun yang buat aku tertarik. Selain gadis bodoh dan polos. Yang memiliki tingkat kepercayaan dirinya di bawah rata-rata. Makanya dia selalu minder untuk mengekspresikan perasaannya yang sebenarnya."


"Enggak ada siapa lagi. Karena cuma ada satu dimuka bumi ini."


"Masa si? Siapa?"


"Kamu." Zikra menyentuh ujung hidung Syifa dengan jari telunjukkanya.


Mendadak wajahnya bersemu merah. Mengulum senyumnya malu.Terpendar kebahagiaan dari sorot mata Syifa yang bulat.


"Aku memang pernah jatuh cinta pada seorang gadis, aku pun menjadikannya pacar pertamaku."


Sesaat rona kebahagiaan Syifa menyurut menjadi kecewa.


"Tapi aku enggak pernah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Dia adalah cinta pertama aku." lanjutnya seraya menatap lekat manik mata istrinya yang hitam pekat. Dia menangkap raut kecemasan terpancar di mata Syifa. Namun ia tetap berusaha tenang dan menjadi pendengar yang baik. "aku pertama kali berjumpa pertama kali dengannya saat dia masih bocah ingusan. Ketiga dan sampai beberapa kali aku melihatnya lagi, dia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik berseragam SMA. Tapi sayang dia masih enggak ngenalin aku."


"Lho, kok langsung yang ketiga aja. Yang kedua gimana pertemuan kalian?" Syifa masih belum bisa menebak siapa gadis yang Zikra maksud.


"Oh..." Zikra tersenyum lagi. "pertemuan kedua aku dengannya cukup tragis."


"Kenapa?"


"Karena baru pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama berpisah. Sehingga dia sudah salah mengejar orang."


"Maksudnya?" Syifa mulai menyadari gadis yang sedang dibicarakan Zikra.


"Kamu!" Zikra mengenang awal perjumpaannya saat kencan buta di kafe. "kamu yang salah mengenali orang. Namun pada akhirnya kita berkencan malam itu."


Air mata Syifa merebak mengingat peristiwa itu.Tangisnya hampir pecah, tapi tidak bisa menahan senyum bahagianya.


"Kamu cinta pertama aku. Kamu yang udah buat aku seberani ini. Menikah diusia sangat muda." Zikra menyentuh tangan Syifa, mengelus punggung tangannya hangat. "tapi kamu juga pernah buat aku patah hati. Hatiku sakit setiap kali kamu bilang ingin pergi nginggalin aku, dan meminta aku menceraikan kamu."


Syifa terdiam.


"Udah, kamu enggak usah banyak berpikir. Lupakan sakit hati aku, dengan berjanji kamu enggak minta perpisahan lagi. Karena aku ingin kita bisa selalu bersama hingga menua bersama."


Syifa menganggukkan kepala mantap.


"Oya, aku masih ada hadiah untuk kamu."


"Hah, Hadiah lagi?"


"Iya. Tapi, hadiahnya masih ada di kamar." Zikra langsung menggenggam tangan Syifa dan menariknya agar segera bergerak mengikutinya masuk ke dalam kamarnya. Pemuda tampan itu memberikan sebuah kotak berukuran besar kepada Syifa. "Terimalah!"


"Ngapain sih kamu kasih aku hadiah lagi? Tadi kan kamu udah kasih aku hadiah banyak banget, sampai aku kualahan buka satu per satu." ungkapnya heran menatap kotak berpita merah itu.


"Kado yang tadi sebenarnya bukan kado inti yang mau aku kasih ke kamu. Aku cuma mau nunjukkin aja kalo selama ini aku udah nyiapin kado setiap tahunnya buat kamu. Tapi kado ini aku siapin untuk kamu di tahun ini. Aku berharap kamu suka."


"Apa sih isinya?" tanya Syifa polos dengan mendekatkan telinganya seraya menggoyangkan kotak di tangannya.


"Kamu enggak bakalan tahu isinya cuma dengan menggoyangkan kotaknya."


"Oke. Kalo gitu aku buka ya." gadis itu tampak tidak sabar membuka hadiah ulang tahun dari suaminya.

__ADS_1


"Tunggu dulu," sergahnya cepat.


"Kenapa?" Syifa menghentikan kegiatannya, menoleh cepat ke arah Zikra penuh tanya.


"Sebaiknya, kamu buka di dalam kamar mandi aja ya, biar sekalian kamu langsung pakai." cetus Zikra yang akhirnya disetujui oleh Syifa.


"Ya ampun baju model apa ini? Kenapa bahannya sangat trasparan gini ya?" gumam Syifa, mengerutkan dahi setelah memakai baju tidur dari hadiah yang diberikan Zikra.


Pukul tiga dini hari.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang, kamu enggak tidur kan di dalam?" Zikra terpaksa mengetuk pintu kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi tanpa suara.


"Iya. Eh, enggak kok," sahut Syifa dari dalam setengah berteriak. "aduh! Gimana nih?" gumamnya cemas.


"Terus kenapa kamu lama banget di sana? Ayo, keluar!"


Tidak lama berselang Syifa keluar. Detak jantungnya berdebar kencang, saat melihat Zikra berdiri di depan pintu kamar mandi, seakan sedang menyambut kedatangannya. Tetapi sorot mata suaminya terkesan aneh sambil mengernyitkan alis, melihat dirinya keluar mengenakan bathrobes.


Tangan Syifa gemetar dan gugup memegang ujung kerah bathrobes putih milik Zikra. Ia menatap wajah pemuda itu sekilah, lalu menurunkan pandangannya ke lantai sambil melangkah maju.


"Lho, kok pakai itu sih? Perasaan aku enggak kasih kamu hadiah seperti itu?"


Wajar bila Zikra heran sendiri, karena yang diberikan adalah satu set baju tidur seksi dan transparan.


"Eh, anu ..." Syifa menelan salivanya dengan susah payah. Masih memegang ujung kerah bathrobe erat. Ia sangat gugup menunjukkan baju pemberian Zikra yang sudah dipakainya. "a-aku udah pakai. Tapi ... aku malu." menundukkan wajahnya dalam.


"Biarkan aku melihatnya." Zikra bergerak maju. Penasaran ingin melihatnya secara langsung.


"Je-je-jangan! Sebaiknya jangan!" Sementara Syifa bergerak mundur untuk menghindar. Sampai kaki bagian belang Syifa menabrak kaki tempat tidur Zikra, lalu terjatuh duduk di atas kasur. Wajahnya mendongak dengan eksresi takut.


"Aku suami kamu. Aku berhak melihatnya. Lagi pula aku udah ngungkapin perasaan cinta aku sama kamu. Jadi, enggak ada alasan lagi kamu melarang aku." Zikra tampak sedikit memaksa. Dia sudah tidak mampu menahan gelora di dadanya.


"Tapi, aku belum," pekiknya setengah berteriak. "aku belum ... ungkapin perasaan aku," lanjutnya terdengar seperti gumaman.


Zikra mengernyit. Kemudian duduk di samping Syifa, dengan netra tanpa lekang menatap paras cantiknya.


"Hoahwm!" Syifa sengaja menguap mengalihkan pembicaraan. "eh, udah jam berapa ini? Ya ampun, udah jam tiga lewat. Pantas aja aku ngantuk banget. Kalo gitu aku balik ke kamarku dulu ya. Takut besok bangun kesiangan." ia beranjak berdiri, pergi melarikan diri.


Tetapi belum sempat kakinya melangkah Zikra sudah menangkap lengannya. Menarik dan berbalik masuk ke dalam peluknya.


"Jangan menghindar lagi."


"Tapi, aku udah ngantuk."


"Katakanlah, kalo kamu juga punya perasaan yang sama padaku."


Syifa tertunduk malu menyembunyikan rona merah di wajahnya. Tangan kanan Zikra menyentuh dagu gadis itu, mengangkatnya hingga wajahnya menengadah. Terlihat jelas netra hitam pekat milik Syifa.


"Aku udah enggak bisa menunggu lagi. Aku pun hampir enggak bisa mengendalikan hasratku untuk menyentuhmu lagi." suara Zikra terdengar lembut.


Syifa ingin segera melepaskan diri dari pelukan Zikra. Namun tenaganya tidak cukup kuat bisa lolos darinya. Ia meneguk salivanya susah payah.


"Tunggu apalagi? Ayo, katakan sekarang. Di sini kita hanya berdua. Enggak ada seorang pun yang mengganggu kita."


Syifa berhasil menepis pelukan Zikra. Memutar tubuhnya memunggungi suaminya. "Aku malu." akhirnya meluncur kalimat pendek itu. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Seakan otak dan mulutnya tidak bisa menjadi tim yang solid.


"Di dalam cinta enggak ada malu. Karena cinta bisa memberikan kekuatan." Zikra membantu Syifa memutar tubuhnya, hingga mereka berdiri saling berhadapan. "katakanlah yang sejujurnya, kamu cinta aku."


Syifa terdiam sejenak. Mengumpulkan semua keberaniannya, mengalahkan rasa malu dan takut untuk mengungkapkan perasaannya.


"A-aku ci-cin...ta k-kamu." sulit sekali gadis itu menggerakkan lidahnya yang mendadak terasa membeku.


"Katakanlah yang jelas." Zikra meraih tali pengikat bathrobes yang sedang Syifa kenakan. Membukanya perlahan.


Syifa menghela nafas panjang, dan mengaturnya dengan benar.


"Aku cinta kamu." ucapan itu meluncur mulus dari bibir Syifa, bersamaan dengan jatuhnya bathrobes dari tubuhnya ke lantai. Sontak Syifa langsung menutupi bagian depan tubuhnya dengan tangan menyilang.


"Izinkan aku melihatnya, kamu yang seutuhnya. Sebagai seorang lelaki yang udah sah menjadi suami kamu." Zikra menepis tangan Syifa. Gadis itu pun terlihat pasrah. Tertunduk malu.


"Jangan malu lagi. Kita sudah suami istri. Tidak ada malu di antara kita. Kamu adalah milikku, dan aku adalah milikmu." ucap Zikra lembut. Lalu menarik dagu Syifa hingga wajahnya menengadah ke atas. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir ranum Syifa. Awalnya ia hendak menolak, tetapi Zikra memeluk pinggang kecilnya erat. Sampai tidak bisa berkutik.


Zikra menggendong Syifa, membaringkannya lembut di atas kasur. Buru-buru Syifa meraih bed cover berada tidak jauh dari pembaringannya. Menutupi tubuhnya yang tertutup namun terekspos.


"Enggak usah kamu tutupi, karena malam ini aku buat kamu enggak bisa lolos dari genggamanku." Zikra menyeringai membuat bulu kuduk Syifa merinding.


Zikra mulai membuka bajunya. Kemudian bergerak mendekati, memposisikan tubuhnya di atas Syifa. Sorot mata Zikra yang penuh hasrat, membuat gadis itu takut dan rasanya ingin kabur. Tetapi rasa cintanya pada pemuda itu melarangnya. Hingga ia hanya bergeming berada di bawahnya. Menerima dengan ikhlas setiap sentuhan yang diberikan suaminya.


*


Semua pakaian yang awalnya melekat di tubuh Syifa dan Zikra, kini sudah berpindah tempat berceceran di atas lantai. Keduanya bergumul di dalam selimut disertai suara desahan lembut dan erangan kesakitan sekan bersahutan. Tangan nakal pemuda itu bergerilya bebas, menikmati setiap inci tubuh istrinya yang masih perawan.


Inikah yang disebut surga dunia?


"Stop!" pekik Syifa lirih tidak kuasa menahan sakit. Air mata menetes di pelupuk matanya. "kita udahan aja ya."


"Sayang, kita udah separuh jalan. Kita enggak bisa berhenti begitu aja. Lagian aku udah enggak bisa menhannya lagi," ujar Zikra memberi pengertian. "kata orang memang begini prosesnya. Awalnya emang sakit. Tapi aku janji setelah satu hentakan yang aku buat, kamu bisa menikmatinya. Dan aku janji, aku akan lembut setelahnya."


"Tapi .."


"Sayang, Plis ... mengerti ya."


Syifa hanya mengangguk patuh.


Zikra langsung melakukan apa yang sudah diucapkannya kepada Syifa. Dalam satu hentakkan mampu merobek selaput dara istrinya. Kini Syifa telah menjelma menjadi seorang wanita. Setelah itu melakukan gerakan maju mundur dengan teratur disertai desahan kenikmatannya. Dia sangat mendominasi bergerak bebas di atas tubuh gadis yang hanya bisa pasrah mengikuti irama.


Syifa menangis merakan sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seakan terbelah menjadi dua ketika inti tubuhnya dimasukkan oleh Zikra.


Zikra menggenggam erat jemari Syifa berada di atas kepalanya. Kemudia membekap mulut Syifa dengan bibirnya. Ketika gadis itu merintih sedang kesakitan untuk menenangkannya.


"Jangan menangis sayang," bisiknya lembut sambil mengusap air mata Syifa. "nikmatilah, rasakan cinta kita kini udah menyatu." dia membenamkan bibirnya di kening, pipi, lalu turun ke pangkal leher Syifa, membuat tanda kepemilikan.


Syifa berdesis kesakitan. Sepanjang malam Zikra memasukinya tanpa henti.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2