Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Satu Atap


__ADS_3

Air mata Syifa jatuh berderai bagai air hujan yang turun dari langit. Semua pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan oleh Ayah, Bunda, dan Ade telah terkemas rapi di dalam koper.


Gadis itu menatap nanar satu per satu anggota keluarga kecilnya. Sebentar lagi ia akan kehilangan kehangatan bersama mereka. Hanya kenangan yang tertinggal bersamanya. Mata yang selalu berlinang kini seakan mengering. Ia tidak yakin serpihan hati yang hancur melepas kepergian mereka besok.


Ya Allah, jika perpisahan ini adalah yang terbaik untuk hamba. Jadikan hati hamba setegar batu karang di tengah laut.


Detik demi detik berdetak pasti. Cepat atau lambat akan tiba waktu yang dinanti. Tidak ada pilihan, atau tawar menawar lagi. Syifa berusaha untuk menerima keputusan Ayah.


"Ayah janji, setelah tiga bulan Ayah, Bunda dan Ade akan datang menjemput kami. Kemudian kita semua akan hidup seperti dulu lagi," ucap Ayah setelah makan malam.


"Beneran?"


"Tentu pasti. Makanya kamu harus baik-baik tinggal bersama Nak Zikra. Tetap belajar yang rajin. Karena Ayah sudah meminta bantuan Nak Zikra mencarikan kampus yang bagus buat kamu. Biar nanti Ayah transfer biaya kuliah kamu tiap bulannya," tuturnya meyakinkan. Senyum pria itu tersungging lebar. Namun menyimpan sejuta kegetiran.


Mata Syifa berbinar mendengar ucapan Ayah. Bagaikan hembusan angin yang bertiup di tengah cuaca terik.


Bunda tersenyum getir. Mengelus punggung putrinya. Kemudian memeluknya hangat.


Malam ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka sebagai satu keluarga yang utuh. Seandainya waktu dapat diputar ulang, lalu memilih momen mana yang diinginkan pasti perpisahan ini tidak akan pernah terjadi. Dan semua manusia penghuni muka bumi ini tidak akan mengalami kesedihan seperti yang dirasakan Syifa saat ini.


Semua koper telah masuk ke dalam bagasi mobil Zikra. Termasuk koper milik Syifa. Karena setelah mengantar Ayah, Bunda dan Ade ke bandara, gadis itu akan tinggal dalam satu atap bersamanya.


Zikra duduk di kursi kemudi. Ayah duduk di samping Zikra. Sedangkan Syifa, Bunda dan Ade berada di kursi belakang.


Mobil pun melesat pergi menuju tempat tujuan. Syifa memegang erat jemari Bunda dan Ade seakan tidak mau melepaskannya.


"Teteh, kenapa sih pake gandengan segala, emangnya kita mau nyebrang ya?" seloroh Ade mengundang gelak tawa semua penumpang mobil sedan hitam itu.


Syifa mengecup kening Ade beberapa kali. Hingga adik lelakinya kesal seraya menghapus bekas kecupannya berulang-ulang.


Air mata Syifa kembali tumpah mengiringi kepergian kedua orang tuanya dan adik semata wayangnya.


"Teteh kok enggak ikut?" tanya Ade polos. Sesaat sebelum mereka berpisah.


"Untuk sementara Teteh enggak ikut dulu, De. Nanti kita kembali lagi untuk menjemput Teteh disini," sahut Bunda memberi pengertian.


Zikra memeluk bahu Syifa. Membiarkan bajunya basah oleh air mata istrinya yang turun begitu deras.


Hari hampir gelap saat mobil yang dikemudikan Zikra tiba di rumahnya. Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Syifa. Membawakan kopernya masuk ke dalam.


Syifa turun dari jok mobil. Matanya langsung menatap bangunan lantai satu yang tidak terlalu besar di hadapannya. Sepertinya rumah itu belum lama ditempati Zikra.

__ADS_1


Barang furnitur yang belum komplit. Barang yang pertama kali dilihat di dalam rumah adalah meja makan di dekat dapur. Sementara di ruang tamu hanya ada karpet yang membentang menutup hampir sebagian besar ubin keramik.


"Apakah hanya kita berdua yang tinggal di rumah ini?" tanya Syifa datar.


"Iya."


Syifa terkejut. Mengalihkan pandangannya pada dua pintu kamar yang saling bersebelahan.


"Tapi kamu jangan khawatir. Walaupun kita tinggal dalam satu atap, kita tidak akan tidur dalam satu kamar yang sama. Aku akan tidur di kamar ini," sanggah Zikra. Menunjuk satu kamar yang terletak paling depan. "kamu tidur di kamar yang satunya lagi." menunjuk kamar lainnya.


Zikra membuatkan makan malam untuk dirinya dan Syifa. Meskipun bukan makanan spesial, tetapi cukup nikmat mengisi perut yang kosong.


Sejak tiba di rumah Zikra, Syifa mengurung diri di kamar. Ia terdiam dalam kesunyian. Menyandarkan pinggungnya di kepala tempat tidur. Tatapannya lurus ke depan dan kosong. Air matanya kini telah mengering disapu angin.


Semua makanan yang telah dimasak Zikra telah tersaji di atas meja. Dia pun sudah mandi dan mengganti pakaian. Tinggal menunggu Syifa keluar dari kamarnya. Hingga jam delapan malam Syifa masih belum juga keluar dari kamarnya.


"Syifa ..." suara Zikra memanggil dari balik pintu kamar Syifa, setelah sebelumnya diawali suara ketukan pintu.


Syifa tidak bergeming. Masih  dalam kebungkamannya. Menyendiri di dalam kegelapan.


"Syifa, Syifa ... kamu ada di dalam kan? Kita makan malam yuk. Hampir seharian ini kamu belum makan. Ayo, cepat keluar. Kita makan bersama," serunya. "oke. Aku tunggu di meja makan ya," lanjutnya setelah tidak ada jawaban dari dalam.


"Syifa, kalo kamu lapar dan ingin makan, kamu ke dapur aja. Nasi ada di dalam magic com, semua lauknya ada di dalam lemari dapur," katanya lagi setelah selesai makan malam berdiri di depan pintu kamar gadis itu.


Syifa terbangun dari tidurnya setelah wajahnya terkena sinar matahari yang muncul dari balik tirai jendela. Tangan kanannya menghalangi dari kesilauan. Suara kokok ayam tetangga terdengar bersahutan. Ia beranjak bangun dari tempat tidurnya. Mengangkat kedua tangannya ke udara seraya menggeliatkan tubuhnya. Setelah itu keluar dari kamarnya.


Tidak ada seorang pun yang dapat ditemuinya di dalam rumah. Ia langsung menuju dapur. Mengambil minum. Ada secarik kertas ditempel di depan pintu kulkas. Syifa pun mengambil dan membacanya.


Syifa,


Saat kamu terbangun dari tidur. Aku sudah berangkat kerja. Jika kamu ingin sarapan. Ada nasi goreng di atas meja makan. Atau kalo mau makan roti, juga ada di atas meja. Selainya bisa kamu ambil di dalam kulkas. Aku mungkin pulang agak malam. Kamu bisa memasak makanan sendiri. Semua bahan-bahannya bisa kamu ambil di dalam kulkas. Atau mungkin, kamu ingin membuat makanan yang lebih praktis, aku sudah menyiapkan mie instan di dalam lemari dapur.


Zikra.


Syifa duduk di kursi makan. Meletakkan air minumnya di atas meja. Lalu membuka tudung saji yang ada di atas meja. Ia melihat semua makanan yang telah disebutkan Zikra dalam memonya. Mendengus pelan seraya melihat semua yang ada.


Apakah semua ini anugerah atau malah musibah. Semuanya seakan saru dan membingungkan. Bagaikan warna abu-abu yang berada di antara hitam dan putih.


Syifa mencuci piring setelah selesai sarapan. Selepas itu ia melihat tumpukan baju kotor di dalam bak dekat mesin cuci. Kemudian mencucinya menggunakan mesin.


"Anak gadis harus bisa mengurus rumah. Karena kalo enggak bisa, gimana bisa mengurus suami," ujar Bunda acap kali Syifa enggan membantunya. "ayo, cepat cuci semua piring kotor, jangan lupa memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci."

__ADS_1


Semua yang pernah diajarkan Bunda kini ia praktekkan. Hari ini adalah hari pertama hidup tanpa Bunda. Ia harus bisa melakukan apa yang telah diajarkannya. Menyapu lantai, tidak lupa mengepelnya. Setelah rampung, ia pun bergerak masuk ke dalam kamar mandi.


Suara ketukan pintu mengusik ketenangannya. Ia langsung membuka serta melihat siapa yang datang.


Seorang ibu bertubuh gemuk memakai daster telah berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan membawa sekotak kue bolu ditemani oleh seorang gadis cantik yang usianya lebih tua dua atau tiga tahun dari Syifa.


Mereka terkejut saat orang yang membukakan pintu bukan Zikra. Senyumnya yang telah disetting semanis mungkin mendadak raib. Terlebih melihat penampilan Syifa yang baru habis mandi, dengan handuk kecil masih nangkring di atas kepala untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Cukup membuat mereka mengernyitkan dahi seraya menelan ludah. Lalu saling berpandangan dengan tatapan heran.


"Kamu siapa?" tanya ibu itu.


"Iya. Mana Mas gan? Kok kamu bisa ada di rumah Mas gan?" timpal gadis di sebelahnya.


"Hah?! Mas gan? Maaf, di sini enggak ada orang yang namanya Mas gan, Mbak, tapi Mas Zikra," sahut Syifa polos. "lagian Tante sama mbak ini siapa sih?"


"Kamu pasti orang baru di rumah ini, ya?" selidik ibu itu penasaran.


"Iya. Baru kemarin," jawab Syifa singkat.


"Oh. Pantesan."


"Kamu pasti pembantu barunya mas gan, ya?" tanya gadis itu sinis.


"Maaf ya, saya bukan pembantu."


Kedua orang itu tampak sangat shock.


"Tapi, bisa dikatakan saya tuan rumah ini."


"Hahh!!" mulut kedua wanita itu terbuka lebar.


"Maaf, kalo enggak ada lagi yang disampaikan, sebaiknya Tante dan mbak bisa kembali, karena saya mau istirahat," tukas Syifa.


"OMG!"


Setelah menitipkan kotak kue, kedua wanita itu akhirnya pergi. Mereka tampak kesal dengan sikap Syifa, yang menurut mereka tidak sopan.


Syifa masuk ke dalam. Meletakkan kotak kue itu di dalam kulkas.


Semua tugas rumah sudah selesai dikerjakan. Syifa masuk ke dalam kamarnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2