
Syifa telah selesai berganti pakaian. Aneh rasanya memakai pakaian yang bukan milik sendiri. Apalagi bila
pakaian itu milik orang yang berbeda jenis kelamin. Padahal Zikra bisa saja meminjamkan baju milik Aini. Walaupun masih punya orang lain, setidaknya ada rasa nyaman memakai baju perempuan. Namun ia jadi teringat hubungannya dengan Aini sewaktu SMA tidaklah bagus. Entah ada kecemburuan apa yang terjadi pada Aini
terhadapnya, yang jelas gadis itu selalu merasa ingin lebih dari Syifa dari segala aspek.
Kemana dia? bisiknya di dalam hati ketika baru keluar dari kamar mandi tidak melihat Zikra di dalam kamar.
Kamar yang luas, dua kali lebih luas dari kamar yang ditempati Zikra di rumah mereka. Dilengkapi berbagai fasilitas
kamar yang serba mewah. Namun mengapa Zikra tidak memilih tetap tinggal di sini? Apalagi rumah mewah dan megah dengan asisten rumah tangga yang siap melayani apa saja dan kapan saja. Dia malah mau tinggal di rumah sederhana bersama Syifa yang tidak pandai memasak.
Syifa berdiri di balkon depan kamar Zikra. Dari situ ia dapat melihat pemandagan malam di lingkungan sekitar. Lampu jalan maupun lampu rumah tetangga bersinar terang. Langit tampak cerah ditaburi bintang yang berkelap-kelip. Hembusan angin malam menerpa lembut wajahnya.
Ada seberkas kerinduan menyapa kalbu Syifa. Kerinduannya kepada Ayah, Bunda, dan Ade. Hingga kini rindu itu belum terobati.
"Ayah, Bunda, Ade ... dimana kalian? Bagaimana kabar kalian semua? Apakah baik-baik semua? Disini Teteh merindukan kalian semua. Cepatlah kembali. Jemput Teteh segera agar kita bisa berkumpul kemari." air mata Syifa jatuh menetes di pipinya.
Syifa terbeliak kaget tiba-tiba Zikra memeluknya dari belakang. Entah sejak kapan pemuda itu sering melakukan hal yang sama tanpa permisi. Tetapi Syifa tidak marah dengan sikap tidak sopannya. Walaupun ia tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Seketika tubuhnya terasa membeku dalam dekapan Zikra.
"Kamu enggak usah sedih karena ada aku di sini. Aku akan selalu menjaga kamu dan berusaha membuat kamu senyaman mungkin." ucapan Zikra benar-benar membuat Syifa tenang.
"Emm ... siapa yang sedih? Aku juga enggak minta dijagain. Emangnya aku anak bayi," Syifa menepis pelukan Zikra. Lalu memutar tubuhnya. Degup jantungnya berdetak hebat. Wajahnya bersemu merah. Mendadak ia diserang rasa gerogi yang sangat, karena wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Zikra dengan jarak begitu dekat sampai dapat merasakan hembusan nafasnya.
Syifa tertegun melihat pesona Zikra yang begitu menawan. Tidak aneh bila sampai sekarang Ayuniatara masih mengejarnya. Nadya pun pernah mengaku terang-terangan jatuh cinta padanya.
"Iya. Kamu memang bukan bayi. Tapi anak ingusan yang sok tegar." Zikra mencubit hidung Syifa lembut. Menyedarkannya dari lamunan.
"Ih ... apa-apan sih kamu, pake cubit-cubit hidungku segala, sakit tahu." rajuknya tidak suka.
Zikra tersenyum bahagia melihat polah Syifa yang terlihat manja. Jarang-jarang dia bisa menggoda gadis itu sampai pipinya bersemu merah seperti sekarang. Perlahan namun pasti dia mampu menepis dinding diantara mereka.
Syifa mengusap-usap hidungnya. Lagi, Zikra membuatnya terbeliak kaget. Tiba-tiba pemuda itu memeluk pinggang Syifa erat. Degup jantungnya kian tidak karuan. Kontan kedua tangannya mendorong tubuh kekar Zikra agar menjauh dari darinya. Tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Cowok ganteng berkulit bersih itu terus menggodanya sampai tidak berdaya lepas dari pelukannya.
"A-apa yang kamu lakuin ke aku?" tanyanya gugup.
"Peluk kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu istri aku. Bolehkan?"
"Eng-engak boleh!" Syifa berusaha melepaskan diri. Tetapi Zikra menambah lebih erat hingga Syifa sulit bernafas.
"Enggak ada yang larang kali ... kita kan udah nikah. 100% dijamin halal." sahut Zikra menggoda.
"Zik ..." suara Syifa terdengar sedang merengek.
"Hmm."
"Lepas!"
Zikra tersenyum kemudian melepaskannya. Setelah itu meraih tangan Syifa mengajaknya masuk ke dalam. "Sebaiknya kita masuk ke dalam. Di sini udaranya dingin aku khawatir kamu bisa masuk angin." Gadis itu pun langsung turut masuk tanpa membantah.
Syifa tertegun melihat Zikra berbaring di atas kasur mengenakan piyama yang sama persis dengannya.
Jadi, Zikra sengaja menyuruh gue pakai baju ini supaya bisa couple-an sama dia? Tapi ... masak sih begitu?
"Kenapa kamu masih diam aja di situ? Ayo sini!" menepuk ruang kosong di atas tempat tidurnya.
Syifa menelan salivanya. Gadis itu tampak sangat gugup. "Kamu tidur di situ juga?" tanyanya seperti orang bodoh.
"Iya."
Ya ampun Syifa ... elo bodoh banget sih? Ya iyalah dia tidur di situ. Ini kan kamarnya. Masak sih gue tidur satu ranjang sama Zikra? Sebaiknya gue tidur di sofa aja deh biar lebih aman. pikirnya.
"Syifa." seru Zikra lembut.
"Ya." sahutnya setengah terkejut.
Zikra menepuk kasurnya lagu seakan meminta Syifa segera menempatinya. "Ayo sini!"
"Makasih, Zik. Biar aku tidur sofa aja. Aku enggak enak ini kan kamar kamu."
Zikra beranjak duduk. "Gadis aneh!" tersenyum miring. "dulu, sewaktu aku kuliyah hampir semua teman cewek kampusku berebutan supaya bisa dekat-dekatan sama aku. Tapi sekarang ada satu cewek yang udah jelas statusnya malah kepingin jauh-jauh dari aku." menggelengkan kepala. "apa mungkin dua udah terbalik jadi kayak gini ya?"
__ADS_1
Syifa merasa sedikit tersindir dengan ucapan Zikra. Ia menggigit bibir bawahnya seraya memilin ujung bajunya pelan-pelan. gadis itu seakan tidak berani berujar ataupun bertindak. Hanya mematung di depan tempat tidur. Degup jantungnya berdetak kian tidak menentu.
Sepertinya gadis itu tidak peka dengan ucapannya. Akhirnya Zikra berinisiatif menarik tangan Syifa agar bisa tidur di ranjangnya.
Gadis itu tidak memiliki persiapan tanpa sadar terjatuh di kasur sampai menindih tubuh Zikra. Sepasang mata keduanya bertemu, saling beradu pandang dan tidak berkedip. Sontak suasana terasa hening tanpa ada yang bersuara yang meluncur dari mulut mereka. Hanya suara detak jantung mereka memekik di dalam dua rongga dada masing-masing.
Sedetik kemudian. Syifa tersadar dengan posisi tubuhnya yang terasa tidak normal. Buru-buru ia beranjak bangkit duduk di pinggir kasur. Rona wajahnya merah padam menahan malu. Sementara Zikra tampak kecewa pada gadisnya yang telah beranjak menjauhinya.
"Sori-sori. A-aku enggak sengaja." Syifa terlihat sangat canggung.
Zikra bangkit duduk. Menarik segaris senyum di sudut bibirnya. "Enggak papa. Aku yang seharusnya minta maaf udah menarik tangan kamu. Lagian kamu sih keras kepala. Aku suruh tidur di sini malah pilih mau tidur di sofa."
"Itu ... itu ... kita enggak biasa tidur di satu kasur yang sama kan?" Syifa tidak bisa menutupi kegugupannya. "lagian kita emang udah biasa tidur di kamar yang berbeda. Jadi menurut aku lebih baik kamu aja tidur di sini, biar aku yang tidur di sofa. Beres kan?" tersenyum lebar menutupi kegerogiannya. Beranjak berdiri. Namun belum sempat berdiri ZIkra langsung menahannya hingga Syifa terduduk kembali.
"Plis! Aku mohon khusus malam ini, aku minta agar kamu tetap di sini, di sisi aku." tatapan Zikra terlihat lembut dan teduh.
"Tap-tapi ..."
"Percayalah aku enggak bakalan ngapa-ngapain kamu, tanpa seizin kamu aku janji aku enggak akan menyentuh kamu. Asalkan kamu mau tetap di sini bersama aku."
Melihat ekspresi wajah Zikra yang bersungguh-sungguh mampu meluluhkan hati Syifa. Ia mau menuruti inginan suaminya, tetap berada di sisinya. Namun ia masih memberikan ruang kosong di antara mereka sebagai jarak pemisah.
Malam ini adalah kali pertama Syifa dan Zikra bersama berada dalam ruangan yang sama. Berbagi udara dengan jarak yang cukup dekat. Sebisa mungkin Syifa mengendalikan debaran di dada nyaris membuncah. Panas dingin mulai terasa pada tubuhnya. Walaupun pernikahan mereka hampir menginjak usia tiga bulan. Tetapi tidak pernah mengalami peristiwa seperti ini sebelumnya.
Syifa menyandarkan punggungnya pada kelapa tempat tidur. Sementara Zikra membaringkan tubuhnya berbantalkan tangan.
"Kamu enggak nyaman ya tidur bareng aku?" Zikra memulai pembicaraan setelah terjadi keheningan beberapa saat yang lalu.
"Eeeh. Bukan begitu. Aku cuma aneh aja tiba-tiba kita bisa barengan begini. Padahal kalo di rumah kita punya kamar masing-masing, dan enggak pernah berada dalam satu kamar diwaktu yang lumayan lama." Syifa menundukkan wajahnya.
"Iya. Kamu benar." Zikra tersenyum kecil. "bagaimana kalo kita udah pulang ke rumah besok, kita tidur bareng seperti ini?" cetusnya konyol.
"Apa kamu bilang barusan?" Syifa terkejut.
Zikra terkekeh geli. "Kamu ini aneh, udah lama tinggal bareng sama aku masih aja kaku. Aku cuma bercanda." padahal di dalam hatinya mengharapkan yang sebaliknya.
"Kirain kamu lagi mikir yang ngeres-ngeres." gumam Syifa.
"Kamu yang marah, berarti kamu yang ngeres pikirannya." Zikra memejamkan matanya yang lelah.
"Ini adalah pertama kali gue melihat wajah Zikra dalam keadaan tidur. Entah kenapa semakin gue tatap semakin ingin terus-terusan melihatnya sampai enggak mau berpaling. Wajahnya emang udah dari dulu ganteng. Ternyata kalo dia lagi tidur begini, dia jadi ganteng maksimal. Hehehe" katanya membatin. Buru-buru Syifa menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlena dengan ketampanan Zikra. "ih, bodoh, bodoh, bodoh." hardiknya dalam hati sambil memukul pipinya sendiri. "ada apa sama gue? Kenapa gue jadi aneh begini? Enggak mungkin dong gue jatuh cinta sama dia. Gue enggak boleh jatuh cinta sama dia, supaya pas Ayah datang jemput gue enggak sedih berpisah sama dia."
"Akuin aja kalo kamu jatuh cinta sama aku. Enggak usah menyakiti diri sendiri begitu, pake acara pukul pipi sendiri segala. Emangnya enggak sakit dipukul kayak gitu?" Zikra membuka matanya langsung menatap Syifa hangat.
"Ih, gr banget sih kamu. Orang aku enggak ngomong kayak gitu. Kepedean itu namanya. PDOD! PERCAYA DIRI OVER DOSIS!"
"Kamu jangan muna ya. Pake bilang aku PDOD segala. Aku tahu kalo kamu sebenarnya suka kan sama aku. Buktinya tadi kamu lihatin aku terus sewaktu lagi tidur. Udah ngaku aja."
"Ogah!"
Kok dia tahu sih? Jangan-jangan sewaktu tidur tadi dia ngintip. OMG! Malu banget deh rasanya.
"Iya kamu emang suka sama aku sampai kamu kesengsem kan?" ledek Zikra melihat rona wajah Syifa bersemu merah karena malu.
"Iiiih! Kamu rese deh, aku enggak bilang begitu."
"Masak sih? Aku enggak percaya kalo aku rese. Aku ngomong berdasarkan fakta." Zikra melirik gadis itu menjadi salah tingkah membuatnya kian gemas mengodanya. Beranjak duduk. "sekarang kamu udah sadarkan kalo aku ganteng. Dan sekarang kamu merasa bersyukur karena tidak jadi kabur di hari pernikahan kita."
Syifa terkejut Zikra sudah tahu peristiwa itu. Padahal selain Aini tidak ada siapa pun lagi yang mengetahui akan hal
itu. Ia pun sudah langsung bisa menebak siapa orang yang sudah membocorkan masalah itu kepada Zikra. Menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Zikra menyandarkan bahunya di kepala tempat tidur. Diam-diam dia tersenyum melihat polah istrinya yang speechless seperti itu.
"Gimana hubungan kamu sama cowok yang bernama Panji itu? Apakah dia masih maksa kamu buat ungkapin perasaan ke dia?" selidiknya. Teringat ketika Syifa mengucapkan kata 'I love you' kepada Panji di depan orang banyak.
"Udah enggak. Cuma kadang-kadang dia suka godain aku doang."
"Godain kamu apa?"
"Dia bilang aku lagi jomblo, jadi suka ngeceng-ngecengin gitu." Syifa tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya seratus persen. Ia hanya berbicara secara garis besar saja agar tidak menyulut kemarahan Zikra seperti waktu itu. Terakhir Zikra memergoki Syifa mendapat telepon dari Panji. Ketika itu Syifa dapat melihat kemarahan Zikra di matanya.
"Terus kamu bilang apa ke dia?"
"Ya ... aku bilang udah punya pacar."
__ADS_1
"Hanya pacar?" Zikra tampak kecewa.
"Sori. Aku belum berani mengakui pernikahan kita di depan teman-teman kampusku. Karena aku takut diolok-olok mereka sama seperti aku di SMA. Walaupun waktu itu kita belum menikah, tapi mereka benar-benar bikin aku enggak nyaman."
"Oh baiklah. Tapi kamu enggak berencana cari cowok lain buat menggantikan aku kan?"
"Enggaklah! Kamu pikir aku cewek apaan?" sahutnya nyolot.
Zikra terkekeh kecil. Seakan dia terhibur dengan jawaban jujur istrinya. Dengan kata lain gadis itu masih setia padanya.
"Kok kamu malah ngetawain aku sih?"
"Aku bukan lagi ngetawain kamu. Tapi aku senang karena kamu masih setia sama aku." pandangannya bertemu dengan pandangan Syifa.
"Ngomong-ngomong kamar kamu gede banget ya? Lebih gede dari kamar aku yang dulu. Juga lebih gede dari kamar kamu yang di rumah kita."
"Iya. Apakah kamu suka tidur di sini?"
"Enggak juga sih."
"Kenapa?"
"Aku lebih suka tidur di kamar sendiri."
Zikra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku juga sama."
"Berarti ... kamu lebih suka tidur di sini dong. Secara kamar ini bukan cuma gede juga luas," Syifa memutar bola matanya. "semuanya serba lengkap pokoknya nyaman deh."
"Nyaman itu enggak selalu dilihat dari besar kecilnya tempat." Zikra merubah posisi duduknya. Memutar kepalanya seraya menatap wajah Syifa. "Tapi dirasakan dengan hati. Dan, ada orang yang bisa menemani disegala kondisi."
Mendadak degup jantung Syifa berdetak sangat keras setelah sebelumnya sedikit agak tenang. Menghindari pandangan mata Zikra yang seakan terasa menusuk hingga mampu menembus jantungnya.
"Aaaa." Syifa menepuk-nepuk mulutnya yang sedang berpura-pura menguap untuk menghindari obrolan yang lebih menjurus lagi. "kayaknya aku udah mengantuk. Aku tidur duluan ya." ujarnya mengalihkan pembicaraan, membaringkan tubuhnya sambil menarik selimut sampai ke dada. Lalu merubah posisi tidurnya memunggungi Zikra.
Melihat Syifa sudah membaringkan tubuhnya, Zikra pun tidak bisa menahan diri ikut membaringkan tubuhnya juga. Ada hasrat ingin menyentuh gadis itu bergejolak di hatinya. Namun urung dilakukan mengingat janji yang telah diucapkan.
"Aku matikan lampunya ya?" Zikra meminta izin pada Syifa.
"Jangan-jangan!" sergahnya cepat seraya menyondongkan tubuhnya ke belakang sambil menoleh. "aku enggak bisa tidur dalam keadaan gelap. Karena aku takut gelap." merubah ke posisi semula.
"Oh, Oke." Zikra langsung menyetujuinya walaupun sebenarnya dirinya tidak bisa tidur dalam keadaan terang.
Syifa memejamkan mata yang terasa kantuk. Tetapi tidak bisa tidur. Dadanya masih berdesir halus mengusik masih terasa mengusik. Rasa panas dingin masih terasa menyelimutinya.
Ayo Syifa cepat tidur, supaya besok enggak bangun kesiangan! seru hatinya.
Zikra tampak gelisah membolak-balikan badan mencari posisi ternyaman.
Kayaknya gue emang gak bisa tidur di sini. Mendingan gue pindah aja ke sofa. Siapa tahu bisa langsung tidur di sana. pikirnya. Lalu merubah posisi tidurnya menghadap Zikra.
Tanpa diduga secara bersamaan Syifa dan Zikra merubah posisi tidurnya hingga mereka saling berhadapan. Keduanya terbeliak kaget. Jantung Syifa berdebar kencang. Memutar bola matanya.
"Kayaknya lebih baik aku tidur di sofa aja." Syifa langsung beranjak duduk seraya membuka selimut. Tetapi belum sempat benar-benar duduk Zikra menarik lengannya, hingga terjatuh dan masuk ke dalam pelukan Zikra. Sontak gadis itu mengkerut membeku dalam kehangatan tubuh suaminya.
Zikra memeluknya erat seraya membelai lembut rambut istrinya. "Plis. Jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di sini temani aku." pintanya lirih. "aku janji enggak ngapa-ngapain kamu. Asalkan kamu enggak pergi, tetap di sini temani aku."
Syifa menggigit bibirnya lalu menganggukkan kepalanya cepat.
"Gadis pintar." perlahan-lahan Zikra melepaskan pelukannya sambil tetap memegang kepala Syifa.
Lidah Syifa keluh tidak bisa berkata apa-apa.
Tiba-tiba Zikra mengecup kening Syifa lembut. Membuat gadis itu spot jantung. "Tidurlah yang nyenyak. Selamat malam." setelah itu pemuda itu membalikkan tubuhnya memunggungi Syifa. Dia tersenyum puas.
Syifa yang masih terkejut pelan-pelan membalikkan tubuhnya memunggungi Zikra. Memejamkan matanya dengan kencang.
Ya ampun ... ternyata begini rasanya tidur bareng dia. Tubuh gue tiba-tiba kaku begini. Detak jantung gue enggak bisa tenang. Terus berdebar seperti gelombang air laut yang sedang pasang surut.
Syifa mendengus pelan. Tangannya menggenggam erat ujung selimut yang telah menutupi separuh tubuhnya.
Bersambung ......
__ADS_1