
Zikra tampak kelimpungan saat tidak menemukan Syifa di kampusnya. Di rumah barunya pun tidak ada. Teleponnya pun sedang tidak aktif.
"Sayang... kamu dimana sih? Kenapa kamu jadi mendadak hilang begini?" tanyanya lirih pada dirinya sendiri sambil mengemudikan mobilnya. Pandangannya lurus ke depan sambil terus mencari dengan menoleh setiap sisi jalan, berharap istrinya ada di antaranya.
Tiba-tiba Zikra teringat ucapan Syifa yang mengatakan, "Aku lebih suka rumah yang lama." Tanpa pikir panjang dia langsung memutar balik arah menuju rumah lamanya.
Setibanya di depan rumah, Zikra langsung turun dari mobilnya setelah sebelumnya mematikan mesin yang masih menyala. Berhambur masuk ke dalam rumah yang pintunya ternyata tidak dikunci. Melewati ruang tamu, membuka pintu kamarnya tapi hanya berdiri diambang pintu. Dia tidak menemukan sosok yang sedang dicarinya. Sebelum masuk ke dalam kamar Syifa, dia menyempatkan melongok ke arah dapur dan tidak ditemui ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Barulah saat membuka pintu kamar Syifa, dia menemukan apa yang sedang dicarinya. Gadis itu tengan duduk di atas tempat tidurnya sambil merengkuh kedua lututnya di dalam pelukkannya sendiri. Sementara wajahnya dibenamkan di atas lengannya yang sedang memeluk lututnya. Ia memakai piayama tidurnya dengan stelan baju lengan pendek dan celana panjang sebatas mata kaki. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai terurai menjuntai di samping kanan dan kiri tubuhnya.
Pelan-pelan Zikra masuk mendekatinya dengan perasaan lega sambil melepaskan jas hitamnya, dan dasi yang melingkar di lehernya. Diletakkannya di sandaran kursi belajar di dalam kamar Syifa. Lalu menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku. Karena orang yang sangat dicintainya berada dalam kondisi aman. Jujur saja selama beberapa hari ini dia sering dilanda rasa cemas dan khawatir tanpa alasan. Perasaan yang entah datang dari mana asalnya. Dia hanya merasa bahwa istrinya sedang diintai oleh bahaya.
Zikra duduk di pinggir tempat tidur menghadap Syifa. Mengulurkan tangan kanannya, lalu membelai rambut istrinya sayang. Syifa terkesiap saat ada seseorang menyentuh rambutnya lembut. Sontak ia menganggkat wajahnya. Matanya basah seperti habis menangis.
"Sayang... ternyata kamu ada di sini. Aku tadi cariin kamu ke kampus tapi kamunya enggak ada. Aku juga cari kamu ke rumah baru kita. Kamu juga enggak ada. Kamu dari mana aja?" tutur Zikra lembut dengan nada bicara penuh kekhawatiran.
Zikra sempat terkejut melihat mata istrinya basah. Belum sempat bertanya tiba-tiba Syifa langsung memeluk tubuhnya erat membuatnya terkejut dan tertegun. Dia pun membalas pelukan itu lebih erat. Walau terkejut dengan sikap Syifa yang mendadak agresif, namun dia tidak memungkiri hal itu membuatnya sangat bahagia. Akhirnya gadis itu tidak bersikap malu-malu kucing lagi.
Tetapi ketika terdengar sayup-sayup suara isakan Zikra terkejut sekaligus penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada diri orang yang sangat dikasininya. Kemudian buru-buru mendorong pelan tubuh Syifa. Ditatapnya dengan seksama.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanyanya cemas. Syifa hanya menundukkan wajahnya dalam diam. Sesekali masih terdengar suara isaknya. "ayo, katakan sama aku apa yang terjadi, hehm?"
Zikra menyeka pipi Syifa yang basah dengan kedua ibu jari tangannya. Membelai puncak kepalanya, menangkupkan wajah istrinya agar saling bepandangan. Zikra mengecup kening Syifa lembut, lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukannya.
"Bicaralah, sayang..."
__ADS_1
"Aku enggak mau rumah Ayah dijual." sahut Syifa lirih.
"Apa?" Zikra sangat terkejut. "kamu serius?"
Syifa hanya mengangguk lemah.
"Ya udah, kamu serahkan semua ini sama aku. Aku janji akan mengurus semuanya dengan baik." tukas Zikra meyakinkan setelah mendengar semua apa yang telah diceritakan Syifa.
Syifa tersenyum kecil.
"Makasih, ya." ujar Syifa sungkan.
"Apa? Makasih?"
"Iya. Karena kamu udah berbaik hati mau bantuin aku buat mengurus rumah Ayah."
"Enggak ada yang lain?"
"Maksudnya?" Syifa mendadak tergugu.
"Hei," seru Zikra genit sambil mencolek dagu istrinya. "kamu pikir segala yang ada di dunia ini gratis?" lanjutnya dengan sorot mata yang sulit dibaca oleh Syifa.
Syifa mengernyit heran. Dalam hati membenarkan pernyataan suaminya. Namun ia tidak suka dan kecewa mendengar ucapan Zikra yang seolah bersikap perhitungan dengannya. Padahal ia adalah istrinya. Sebagai suami yang baik sudah sewajarnya Zikra melakukan apa yang diinginkannya.
"Jadi, kamu minta imbalan sama aku?" selidik Syifa bete.
__ADS_1
"Iya dong." sahut Zikra ringan.
"Humph! Berapa yang harus aku bayar?" tanyanya seakan menantang cowok ganteng dan tajir di hadapannya. Padahal dalam hati ia berkata, "ya ampun... duit dari mana gue bisa bayar kalo seandainya Zikra serius minta bayaran? Makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan segala ***** bengek ditanggung sama dia." wajah cantik Syifa tampak pias hanya memikirkan hal itu.
Zikra tersenyum lebar melihat wajah istrinya yang tampak bodoh karena memikirkan hal yang sebenarnya tidak sama apa yang dipikirnkannya.
"Kamu pasti lagi mikir aneh-aneh, ya?" goda Zikra sambil mencubit sayang hidung Syifa.
"I-iiih. Sakit Zikra ..." pekik Syifa manja menepis tangan suaminya. Tapi malah ditangkap dan digenggam erat oleh Zikra.
"Sayang, aku minta sama kamu jangan pernah berpikir apalagi menilai untuk membayar semua kebaikan aku, perhatian aku, dan segala pemberian aku dengan materi," tutur Zikra dengan suara berat. Sepasang netra mata coklatnya menatap lekat netra gadis di depannya. Dengan lembut dia mencium punggung tangan Syifa. "karena aku enggak akan pernah memintanya. Aku hanya meminta kamu untuk selalu setia berada di sisiku. Baik aku senang maupun susah. Aku selalu berharap kamu akan tetap ada sampai nyawa berpisah dengan raganya." lanjutnya lirih.
Syifa tertegun mendengar semua ucapan jujur sang suami. Ia pun tidak ingin pergi jauh dari lelaki itu. Spontan Syifa menyentuh bibir Zikra dengan bibirnya sekilas. Ia menganggap hal itu sebagai ucapan terima kasih yang tulus terhadapnya.
Zikra membelalakkan mata terkejut. Dengan cepat dia menahan belakang kepala Syifa langsung membalas ciuman tadi lebih dalam. Tangan yang lainnya diposisikan di pinggang gadis itu agar tidak pergi ke mana-mana.
Syifa yang merasa mendapat serangan mendadak terkejut. Tubuhnya terasa membeku diiringi suara degup jantungnya yang berdetak kencang.
"Balaslah ciumanku, sayang..." pinta Zikra setelah melepaskan ciumannya sesaat. Kemudian dia menciumnya kembali.
Setelah beberapa saat Syifa terdiam, akhirnya ia membalasnya hingga ciuman keduanya saling berpagutan.
Bersambung ....
***
__ADS_1
Happy reading!
🙏 Plis! 🙏 Plis! Jangan sampai bosen baca novel ini, apalagi sampai kelupaan kasih vote, like n komen ya. Supaya author tambah 💪 semangat update. Mohon dimaklum kalo author sering telat update. Karena author sambil curi-curi 👀⏳ waktu disela-sela jam istrihat kerja, atau terkadang sering ketiduran 🤫😪😴 ketika begadang 🤭🤭🤭. Thanks buat para readers yang selalu setia menunggu updatean dan membacanya. ❤️❤️Luv u all!