
Suasana rumah mendadak terasa hening. Sejak peristiwa malam itu Syifa dan Zikra tidak lagi saling bicara. Hilang semua keakraban dan kehangatan yang pernah mewarnai rumah tangga mereka. Meskipun Syifa dan Zikra duduk bersama dalam satu meja. Keduanya seakan seperti orang asing.
Rasa bersalah yang sangat besar terus saja merutuk diri Zikra sendiri. Apalagi melihat Syifa yang begitu dingin terhadapnya. Melenyapkan semua semangat dan gairah hidupnya.
Bonang dan Rifa'i terkejut dengan perubahan yang terjadi pada diri sahabatnya itu. Tidak pernah dia seperti itu sebelumnya. Frustasi dan lebih banyak diam. Kendati Zikra tipe lelaki yang tidak banyak bicara, dan sangat cool. Tetapi saat ini, dia telah menjelma menjadi orang yang sangat berbeda.
"Zikra ... Zikra ... elo kenapa sih? Punya istri bukannya tambah semangat, ini malah jadi kendor," keluh Bonang saat makan di kafe sepulang kerja.
"Iya. Elo seharusnya senang udah punya istri di usia semuda ini. Bisa ngapa-ngapain tanpa takut dosa," timpal Rifa'i.
Wajah Zikra terlihat dingin. Hanya diam mendengar Bonang dan Rifa'i mengoceh semaunya.
"Eh, Zik. Jangan-jangan istri elo lagi datang bulan, ya. Jadinya elo uring-uringan," celoteh Bonang terkekeh geli. "ayo, ngaku ..."
"Elo ngomong apaan sih, keribo? Sembarangan aja kalo ngomong," sergah Rifa'i agar Zikra tidak tersinggung.
Zikra menatap Bonang dingin. Lalu melihat gelas jus yang masih tersisa tinggal setengah di depannya.
"Bonang enggak salah, Rif," ujarnya tiba-tiba. "tapi, enggak benar juga."
"Maksud lo?" Rifa'i mengernyitkan alis. Tatapan matanya seolah sedang menunggu jawaban Zikra.
"Pernikahan kita terjadi karena perjodohan yang udah diatur sejak kecil. Tidak ada rasa saling ingin memiliki dan dimiliki. Jujur aku akui menikah tanpa cinta itu enggak gampang," ungkapnya lirih. "toleransi dan saling mengerti belum tentu cukup membangun kebahagiaan."
"Jadi, elo belum ehe-ehe dong, sama dia? seloroh Bonang terkekeh geli.
"Ngomong sembarangan aja elo, Keribo!" Rifa'i memukul kepala Bonang.
"Adaw!" pekik Bonang mengusap kepalanya. "sableng lo, 'i! Main ngeplak kepala gue aja."
Zikra terdiam sejenak. Tidak menggubris tingkah polah dua sahabat yang selalu tidak akur.
"Iya."
Bonang dan Rifa'i terperangah.
"Itu karena elo enggak bisa, atau enggak cinta sama dia?" selidik Bonang seraya mengangkat satu tangannya, untuk menghindari serangan Rifa'i yang sering datang tiba-tiba, lalu memukul tubuhnya.
Zikra terdiam lagi. Tidak ada jawaban yang meluncur dari bibirnya. Ucapan jujur untuk membenarkan atau menyangkal pertanyaan Bonang barusan. Dia langsung meneguk jusnya yang tersisa hingga habis.
Pada saat yang bersamaan di tempat yang sama pula. Syifa, Nadya, Isti, Salsa, Kirana, Panji dan seorang teman Panji, Anto. Mereka semua sedang merayakan ulang tahun Panji. Tidak ada pesta besar, atau surprise party. Pemuda itu hanya mentraktir makan semua teman-temannya.
Setelah selesai makan. Isti berinisiatif membuat permainan untuk menghibur Panji yang sedang berulang tahun.
__ADS_1
"Guys, kita main truth or dare, yuk," cetusnya seraya mengangkat sendok makan. "pakai sendok ini."
"Caranya?" tanya Salsa penasaran.
"Caranya sendok ini diletakkan di atas meja. Siapa yang mendapat giliran, dia yang memutar sendok ini. Nah, jika kepala sendok ini mengarah ke salah satu diantara kita. Maka orang tersebut yang menerima tantangannya. Berkata jujur, atau memilih tantangan," tuturnya sambil memperagakannya.
Akhirnya mereka semua setuju. Satu per satu mendapatkan giliran untuk memutar sendok itu. Sesuai peraturan bagi yang ditunjuk oleh benda itu memilih truth ayu dare.
Tibalah giliran Panji. Dia memutar sendok. Kemudian sendok tersebut berhenti tepat mengarah Syifa.
"Ayo, Syifa. Kamu mau pilih truth atau dare?" Kirana tampak semangat.
Agak lama Syifa memilih antara truth atau malah dare. Bukan tanpa alasan. Jika memilih truth khawatir Nadya akan mengompori Panji, mendesaknya menceritakan rahasianya.
"Ya udah. Gue pilih dare aja," sahutnya.
"Yakin elo pilih dare?" tanya Panji memastikan. "enggak nyesel?"
Syifa tiba-tiba merasa tegang mendengar pertanyaan Panji. Semua teman-temannya mencoba memberi nasihat. Sebagian ada yang memintanya tetap pada pilihan semula. Sedangkan sisanya meminta untuk mengubah pilihan agar tidak menyusahkan diri sendiri. Muncul keraguan mengusik keyakinannya. Nyaris menggoyahkan pilihannya.
"Iya," jawabannya mantap. "gue tetep pilih dare."
"Oke. Karena elo pilih dare, sekarang gue tantang elo ucapin I Love You ..."
"Apa?" Syifa terkejut seraya mengerutkan keningnya.
Nadya terkesiap. Dia berharap Syifa menolak tantangan itu.
Syifa tidak ingin mengecewakan Nadya. Ia tahu gadis itu sangat menyukai Panji. Berharap suatu saat pemuda itu mau menembaknya, dan menjadikannya sebagai pacar.
"Gue enggak mau melakukannya," ujarnya menolak tantangan itu.
"Kalo elo enggak mau, berarti elo harus membayar tagihan semua makanan yang kita udah makan. Apa elo sanggup?"
Hah?! Mana gue punya duit?
"Pokoknya gue enggak mau," tukasnya.
"Elo jangan curang dong, Syifa. Kita semua udah melakukan sesuai peraturan permainan, masa tantangan begitu aja elo enggak mau melakukannya," kata Anto geram. "mau enak sendiri aja. Kalo elo enggak mau melakukannya, terus ngapain elo ikutan?"
Ucapan Anto memancing opini teman-temannya yang lain. Salsa, Isti, dan Kirana membujuk Syifa menerima tantangan yang pertama, karena tantangan kedua terlalu berat resikonya. Sementara Nadya memilih diam dengan wajah masamnya. Membuat Syifa jadi tidak enak hati.
Diam-diam Panji dan Anto saling tos dengan senyum puas, sebagai ungkapan rasa kemenangan mereka.
__ADS_1
"Oke, oke, gue mau melakukannya. Tapi ... gue sama Panji ..."
"Tenang aja, ini cuma bagian dari permainan. Jadi enggak usah di bawa sampai ke hati," sahut Panji cepat.
"I Love You," ujar Syifa cepat. "udah. Gue udah melakukannya."
"Enggak bisa. Elo belum melakukannya dengan benar," kilah Panji.
"Tapi, gue kan ..."
"Tadi kan gue udah bilang, elo harus melakukannya di muka umum," jelasnya.
Syifa terdiam.
Panji yang licik mampu membujuk gadis lugu itu melakukan apa yang dikehendakinya.
Dengan segala keberaniannya Syifa berdiri. Lututnya terasa lemas dan bergetar. Rasa gugupnya tidak lagi bisa disembunyikan. Hingga tampak dengan jelas wajahnya pucat pasi.
Nadya berkali-kali menggelengkan kepalanya agar tidak melakukannya. Namun tidak bisa membuat sang sahabat berkompromi dengan keadaan.
Tiba-tiba Panji berdiri di tengah pengunjung kafe yang sedang ramai. Kemudian mem-present seperti layaknya pembawa acara televisi terkenal. Setelah itu, mempersilahkan Syifa melakukan tantangannya.
Sontak semua pengunjung langsung mengalihkan pandangannya pada satu titik. Yaitu Syifa.
Zikra terbeliak kaget melihat Syifa berdiri di sana. Bonang langsung mengenali gadis itu. Rifa'i memicingkan mata dengan kacamata minusnya untuk memastikan, bahwa apa yang dilihatnya tidak keliru.
"Ngapain si Syifa di situ?" tanya Bonang penasaran.
Tidak ada satu pun diantara Zikra dan Rifa'i yang bisa menjawabnya. Mereka hanya mengangkat kedua bahunya masing-masing.
Debaran jantung Syifa berdetak sangat kencang dan cepat. Seakan siap melompat ke luar tubuhnya. Rasa malu, grogi, takut, dan rasa yang lainnya bercampur aduk tidak karuan memenuhi dadanya.
"I-love-you, Panji," pekik Syifa dengan suara lantang. Tersenyum telah berhasil menaklukkan tantangan.
Sebagian besar pengunjung bersorak dan bertepuk tangan meriah. Di tengah keramaian mendadak Nadya pergi meninggalkan kafe. Gadis itu terus berlari tanpa menghiraukan panggilannya.
Tiba-tiba Syifa terperanjat kaget, setelah selang satu menit dari kepergian Nadya. Zikra bangkit berdiri dari tempat duduknya. Tatapan matanya dingin ke arahnya. Tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir tipisnya. Lalu beranjak pergi meninggalkan kafe dengan menelan amarahnya. Bonang dan Rifa'i pun ikut pergi setelahnya.
Syifa tertegun melihat pemuda itu berlalu dari hadapannya. Rona wajahnya terlihat sangat sedih dan kecewa. Mungkin malah lebih dari itu.
Gadis itu sangat sedih telah diacuhkan Zikra. Meskipun sudah beberapa hari belakangan ini mereka tidak lagi saling bicara, tetapi melihat sikap dinginnya membuat Syifa tersiksa. Air matanya pun jatuh tanpa permisi, meluncur bebas dan menganak sungai di pipinya.
"Syifa," ujar Kirana menyadarkan dara manis itu dari lamunannya. Mendekati dan menyentuh punggungnya. "kamu enggak papa?"
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu Syifa bergerak keluar mengejar mereka. Meninggalkan teman-temannya yang lain dalam kebingungan.
Bersambung ....