Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Serpihan Hati Yang Luka


__ADS_3

Ayuniatara meletakkan dengan kasar gelas bir yang telah tandas diteguknya ke atas meja bartender. Itu adalah


gelasnya yang kedua yang sudah membuatnya setengah mabuk. Penolakkan yang didapatnya dari Zikra ibarat menelan pil pahit yang masuk ke dalam tenggorokkannya. Rasa kecewa, frustasi dan sedih tidak bisa terlakkan berkecamuk di dalam hatinya.


Hingar bingar suara musik yang dipandu oleh seorang DJ, dan riuh rendah para pengunjung bar tidak ayal membuat gadis itu tenggelam dalam lautan kesedihan.


"Sial! Kenapa bisa jadi begini?" ujarnya lirih seraya mengelus kepalanya sendiri. Memori otaknya kembali memutar peristiwa ketika di taman. Dadanya terasa sesak sulit menerima kenyataan yang sedang di hadapinya. "ini semua karena cewek ingusan itu. Tunggu saja nanti, kamua akan kubuat menyesal mengenal cinta." lanjutnya sinis dengan tatapan mata pembunuh.


*


Syifa tertidur pulas setelah sebelumnya menangis sepanjang malam. Ia sangat meratapi nasib cintanya yang


hanya bertepuk sebelah tangan. Walaupun bukan untuk yang pertama kali merasakan dicampakkan oleh seorang cowok. Rasa sakit yang dideritanya kali ini terasa lebih menyakitkan dibandingkan ketika diputuskan cinta oleh Angga semasa di SMA dulu.


Mengapa? Mengapa aku harus terluka lagi? Enggak bisakah aku memiliki nasib yang lebih beruntung? Tuhan ... apakah aku enggak pantas untuk dicintai oleh sesorang? Hingga aku harus jatuh kembali ke lubang yang sama.


Tidak seharusnya derita cinta ini mendera Syifa kembali. Sebagai manusia biasa apalah dayanya, tidak bisa


menentukkan kebahagiaan sendiri. Karena Tuhan sudah mengatur segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini. Kini tugasnya adalah mencari obat penawar patah hati. Entah kemana ia harus mencari obat? Sayangnya, obat yang dicarinya tidak dijual di toko obat mana pun. Mungkin hanya waktu yang dapat menyembuhkannya.


Lewat tengah malam. Tiba-tiba tubuh Syifa panas hingga menggigil kedinginan, sepertinya ia terserang demam akibat kehujanan kemarin malam. Di tengah ketidak sadarannya Syifa terus saja meracau memanggil, “Bunda … Bunda…”


Nadya segera terbangun mendengar Syifa yang terus saja mengigau. Dia terperanjat kaget ketika mencoba membangunkannya, suhu tubuh sahabatnya sangat panas, sepertinya sedang demam.


“Ya ampun panas banget. Aduh! Apa yang harus gue lakuin ini?” tanyanya pada diri sendiri keblingsatan.


Tanpa pikir panjang Nadya membangunkan kedua orang tuanya untuk mencari bala bantuan. Tidak lupa menggedor pintu kamar Bonang. Walaupun dia tahu akibat mengganggu tidur Abangnya itu akan ada resiko yang harus ditanggungnya. Untuk saat ini yang terpenting adalah membantu Syifa yang sedang sakit.


"Setan kecil! Ngapain elo bangun gue jam segini?" Bonang membuka pintu sambil menguap lebar dengan mata yang tidak terbuka sempurna. Kedua tangannya sibuk melakukan aktifitas di bawah alam sadarnya, menggaruk kepala dan tangan yang lainnya menggaruk perutnya. "masih malam, gue ngantuk. Sana-sana lo pergi!" menutup kamarnya kembali. Namun belum sempat pintunya tertutup, sekuat tenaga Nadya menahannya agar tetap terbuka.


"Abang! Tunggu dulu, woy!" sergahnya cepat memekik keras.


"Apa-apaan sih lo?"


"Tunggu dulu! Dengerin gue!"


"Ah! Enggak penting!" sahutnya acuh tak acuh seraya menggerakkan tangannya menutup pintu.


"Dasar keribo jelek!" umpat Nadya.


"Eh! Apa elo kata?" Bonang mengurungkan niatnya. Matanya mendelik kejam. "gue ini imut dan menggemaskan. Awas! Kalo elo menghina gue lagi, gue sambelin mulut lo sampai sariawan."


Nadya hanya mendengus acuh. Bukan hal aneh bila Bonang dan Nadya tidak akur. Adik dan kakak yang sering bertengkar walau hanya masalah sepele. Keduanya selalu berseteru tanpa memandang tempat dan waktu. Terkadang Bonang yang berusia lima tahun lebih tua dari Nadya, terlihat lebih kekanak-kanakan dibanding adik perempuannya.


"Dasar narsis!" gumamnya sambil memutar bola matanya.


"Nadya ... cepatan ambil air buat kompres!" pekik Lina lantang dari dalam kamar Nadya.


Nadya terkesiap dan spontan menjawab, " Iya ..." bergerak pergi ke dapur. Tetapi belum sempat bergerak Bonang langsung menarik lengannya, menghentikkan langkahnya.


"Heh, anak curut! Ngapain Emak minta air kompres? Emangnya siapa yang sakit? Terus, kok bisa ada di kamar lo?" berondong cowok keribo itu masih belum melepaskan lengan adiknya.


"Kuya keribo! Sembarangan panggil adik sendiri anak curut. Kalo gue anak curut berarti elo abangnya curut dong!"


"Kok bisa?" Bonang mengerutkan dahi.


"Kan elo abang gue," lanjut Nadya nyolot.


"Dasar bocah tengil! Bukannya jawab pertanyaan gue, malah bales ngatain gue." sungut Bonang geram.


"Nadya ... ngapain jadi ribut sama abang? Ayo cepatan ambil air kompresnya!"


"Iya ..." jawabnya cepat. Nadya langsung menepis genggaman tangan Bonang dengan kasar agar dapat bergerak pergi ke dapur. "lepas! Gue mau ke dapur."


Bonang mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Kemudian bergerak pergi ke kamar Nadya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di sana. Dia sangat terkejut melihat Syifa terbaring lemah di atas tempat tidur adiknya.


"Lho? Mak, ini si Syifa ngapain tidur di sini?" tanya Bonang heran. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Pemuda itu hanya berpikir, seharusnya Syifa bersama Zikra sekarang. Acara penembakkan seharusnya berjalan dengan lancar setelah susah payah menyiapkan tempat dan dekorasi super romantis bersama Rifa'i kemarin.


"Minggir! Minggir!" seru Nadya menyenggol samping tubuh Bonang, menyadarkan pemuda itu dari lamanuannya.

__ADS_1


Lina langsung meraih baskom air yang dibawa Nadya. Mencelupkan handuk kecil ke dalam air, memerasnya setelah itu diletakkan di atas dahi Syifa.


Syifa yang masih belum sadar masih mengigau memanggil Bunda.


"Nadya, cepat telepon Emak-Bapaknya sekarang!" titah Lina khawatir. "supaya orang tuanya cepat datang ke sini, biar ini bocah dibawa berobat ke rumah sakit."


Nadya tertegun. Gadis itu sepertinya lupa menceritakan tentang keberadaan kedua orang tua Syifa pada Lina.


"Enggak bisa Ma," sahutnya ragu.


"Enggak bisa kenapa? Emang orang tuanya udah enggak peduli lagi sama anaknya?" tanya Lina penasaran.


Nadya hanya diam.


"Bunda ... Bunda ... Bunda ..." ujar Syifa pelan dan lirih.


Lina mengusap keningnya mendengar Syifa yang terus saja memanggil Bundanya. Jiwa keibuannya meronta. Namun dalam kondisi seperti ini, yang paling tepat adalah memanggil orang tua Syifa.


"Ya udah, elo sambungin aja teleponnya, nanti biar Mama yang ngomong," cetus Lina.


"Tetap enggak bisa ..."


"Kenapa enggak bisa?" nada suara Lina mulai meninggi. "emangnya si Fauzi udah enggak sayang lagi sama anak perawannya lagi?"


Nadya mengangkat pandangannya, lalu melihat Lina, Bonang, dan Marzuki, pria yang kerap dipanggilnya dengan sebutan Babe atau Baba, secara bergantian. Raut wajahnya terlihat sedikit bingung dan ragu.


"Udah, cepatan! Mau nungguin apa lagi?" desak Marzuki. Menguap lebar. "Baba masih ngantuk."


"Curut! Bukannya cepatan, ngapain elo jadi bengong?" tegur Bonang.


"Sembarangan elo panggil adek sendiri curut," Marzuki mentoyor kepala Bonang gemas. "kalo adek lo curut, terus elo apa? Tikus nying-nying?"


Bonang menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Sukurin lo! Emang enak!" bisik Nadya tersenyum puas.


"Nadya ..." Lina mendelik geram.


"Kalo di sini si Syifa enggak tinggal bareng orang tuanya, terus dia tinggal bareng siapa? Saudaranya?" sela Marzuki.


"Sama ... suaminya," jawab Nadya cemas.


"Apa?" Lina dan Marzuki kompak sangat terkejut.


Nadya terdiam. Begitu pun Bonang. Keduanya hanya berdiri mematung menatap wajah terkejut kedua orang tuanya.


Marzuki dan Lina tidak pernah berpikir di zaman yang sudah serba modern, dan manusia sudah berpikir praktis sesuai perkembangan zaman. Masih ada orang tua yang memaksakan kehendak dengan menikahkan anak di bawah umur. Demi sebuah janji orang Fauzi mengorbankan anak gadisnya menjelma menjadi Siti Nurbaya millenial.


"Humph! Ternyata masih ada orang kolot zaman sekarang." Marzuki bergerak keluar meninggalkan kamar Nadya.


"Panggil suaminya sekarang!" titah Lina.


"Abang aja yang hubungin dia," Nadya melempar tanggung jawab. Dia tidak enak berbicara langsung dengan Zikra, setelah sebelumnya telah membohonginya atas permintaan Syifa.


"Enak aja! Kenapa jadi gue? Kenapa enggak elo aja? Kan dia teman elo," kilah Bonang tidak mau ikut campur.


"Iya, tapi suaminya kan teman elo Bang," sahut Nadya tidak mau kalah.


"Kalian berdua, kalo enggak ribut sehari pada gatal-gatal kali ya mulutnya?" Lina tampak geram dengan tingkah polah kedua anaknya yang tidak mau saling mengalah. "jangan sampai Emak marah nih, kalo Emak udah marah ..." wanita itu sengaja menggantung kalimatnya untuk menakuti mereka.


"Iya iya iya ..." Bonang dan Nadya langsung sibuk mencari ponselnya masing-masing.


Di dalam mimpi. Syifa terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak salah lagi, kini gadis itu sudah berada di dalam kamarnya, rumah kedua orang tuanya. Itu artinya kehidupannya akan kembali seperti semula. Semua kebersamaannya dengan Zikra akan menjadi kenangan. Senyum bahagianya mengembang sempurna.


Tidak lama berselang Bunda masuk ke dalam kamarnya. Syifa langsung beranjak duduk dan memeluk wanita itu.


"Bunda ... akhirnya kita bisa bersama lagi."


"Iya sayang."

__ADS_1


"Bunda, jangan tinggalin Syifa lagi ya." pintanya lirih. "Syifa mau bersama Bunda untuk selamanya."


"Memangnya ada apa kamu dan Zikra?" tanya Bunda seraya mendorong pelan tubuh putrinya.


Tiba-tiba Syifa menangis pilu. "Bunda ... bawa Syifa pergi. Syifa enggak mau tinggal sama Zikra lagi. Dia enggak mencintai Syifa."


Bunda memeluk Syifa erat sambil membelai kepala Syifa lembut.


Zikra duduk di samping Syifa yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Setelah mendapat kabar kondisi Syifa yang mengkhawatirkan dia langsung bertolak ke rumah Bonang dengan panik. Setelah itu membawa istrinya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih intensif.


Zikra yang tanpa sadar ikut tertidur di samping Syifa, tiba-tiba terbangun ketika tangan Syifa bergerak meraih tangannya.


"Bunda ... dia enggak mencintai aku ..." racau Syifa lirih dalam tidurnya.


Zikra yang terkejut hanya tertegun sambil membalas genggaman tangan Syifa.


Syifa terkejut dan menangis pilu ketika Bunda berubah menjadi bayangan lalu menghilang dari pandangan matanya. "Bunda ... Bunda ... jangan pergi, jangan tinggalin Syifa lagi ... Bunda ..." mendadak gadis itu terbangun dari mimpinya. Matanya terbuka lebar melihat pada plafon rumah sakit.


"Kamu udah bangun?" tanya Zikra memastikan.


Kontan Syifa menoleh ke sumber suara. Matanya terlihat sayu dan basah. Mungkin saat bermimpi tadi ia benar-benar menangis.


Zikra menyentuh kening Syifa lembut.


"Demamnya udah reda," ujarnya tersenyum lega. "syukurlah!"


"Kenapa ada dia di sini?" tanya Syifa membatin mengerutkan dahi. "mana Nadya? Seharusnya gue ada di rumah Nadya. Tapi kok ... gue bisa ada di sini?' ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Ada apa?"


"Di mana ini?' Syifa balik tanya.


"Di rumah sakit." jawabnya tenang.


"Rumah sakit?"


"Semalam kamu demam sampai menggigil kedinginan."


Ya ampun, sampai separah itukah gue semalam?


"Kamu menginap di rumah Nadya, mengapa enggak kasih kabar aku dulu?" gugatnya dengan nada yang teratur dan tenang. "aku sangat khawatir karena kamu semalaman enggak pulang. Hp kamu pun susah aku hubungi. Aku takut terjadi sesuatu pada kamu. Kalo sampai Bonang enggak menghubungiku tepat waktu, mungkin aku akan pergi ke kantor polisi buat cari kamu." lanjutnya cemas.


Syifa tergugah mendengar pernyataan Zikra yang telah begitu mengkhawatirkannya. Namun ketika mengingat peristiwa kemarin malam membuatnya menjadi apatis. Ia menarik tangannya dari genggaman Zikra, memalingkan pandangannya.


"Makasih udah mengkhawatirin aku. Dan maaf juga udah nyusahin kamu. Lain kali aku enggak akan mengulangi lagi," tuturnya dingin. "karena sebentar lagi aku akan pergi." lanjutnya di dalam hati.


"Kamu enggak usah sungkan begitu, kamu adalah tanggungjawab aku." Zikra berusaha mencairkan suasana. Meskipun jauh di lubuk hatinya menyimpan kekecewaan yang mendalam terhadap Syifa. Tetapi melihat kondisi gadis itu seperti ini untuk sementara dia bisa melupakannya.


*


Setelah diizinkan pulang oleh dokter, Syifa hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Zikra pun tidak berusaha mengusik ketenangan gadis itu. Seakan keduanya sedang saling menghindari secara halus. Pasalnya tanpa mereka ketahui satu sama lain, sepasang suami istri itu telah merasakan perasaan yang sama. Rasa cinta dan kecewa yang membelenggu hati mereka seolah sedang menyiksa keduanya.


Syifa duduk di depan jendela sambil menatap langit sore yang cerah. Awan putih yang berarak mengikuti hembusan angin. Tidak ada kegiatan yang dilakukannya hari ini. Kuliah sudah dipastikan tidak akan dilanjutkan lagi. Sementara kontrak kerjanya masih berlanjut satu bulan ke depan. Tetapi ia tidak bisa melanjutkan kontrak kerjanya sampai batas yang ditentukan. Karena besok adalah hari yang sudah ditunggunya tiba.


Rasa ragu akan kedatangan Ayah dan Bunda memang sering datang mengusik pikirannya. Soalnya hingga detik ini Ayah maupun Bunda belum memberikan kabar tentang kedatangan mereka untuk menjemputnya. Namun ia tetap yakin besok kedua orang tuanya akan datang menjemputnya pergi.


Di dalam kondisinya yang masih lemah, Syifa pelan-pelan mengemas pakaiannya ke dalam koper. Sedangkan Zikra masih sibuk dengan urusan di kantor Surya. Pelan-pelan dia mempelajari masalah bisnis di dalam perusahaan Surya. Sangat melelahkan dan menjemukan. Apalagi tidak ada Bonang dan Rifa'i yang selalu mencairkan suasana hatinya.


Zikra menghela napas panjang setelah selesai merampungkan berkas untuk presentasi pada rapat besok. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil merentangkan tangan ke udara.


"Besok tunjukkanlah kemampuamu pada rapat dewan direksi. Jika para anggota dewan puas dengan presentasimu, Papa akan memberikan jabatan CEO padamu," ujar Surya sebelum pergi meninggalkan ruangan Zikra siang tadi.


"Tenang aja, Pa. aku berjanji akan membuat Papa bangga. Denga kerja keras aku akan buktikan pada dunia tentang kehebatanku." Zikra mengepalkan tangannya erat di atas meja kerjanya penuh tekad.


*


Bonang dan Rifa'i berusaha melakukan pekerjaan masing-masing dengan profesional. Meskipun merasa sangat kehilangan Zikra mereka bersikap senormal mungkin agar tidak mengganggu pekerjaan.


Ayuniatara masih berkutat dengan presentasinya di ruang rapat bersama kliennya. Gadis itu nyaris tidak menunjukkan raut wajah dukanya karena penolakkan Zikra kemarin malam. Tidak pernah dia mengalami perasaan sesakit itu karena ditolak oleh seorang lelaki. Biasanya dialah yang selalu membuat para lelaki patah hati padanya. Mungkinkah ini karma untuknya? Walau bagaimana pun, sebelum apa yang diinginkan berhasil digenggamnya, dia tidak akan menyerah begitu saja.

__ADS_1


Lihat aja kamu nanti Fatir, kamu akan menjadi milikku!


Bersambung ....


__ADS_2