
Syifa mengedarkan pandangan pada semua orang yang ada di hadapannya dengan tatapan rindu. Seakan sedang mengabsen satu demi satu. Surya berdiri dipaling tengah berdampingan dengan istrinya. Nadya dan Aini berdiri bersisian di sebelah kanan Mamanya Zikra. Sedangkan Bonang dan Rifa'i berdiri di sebelah kiri Surya. Dan yang berdiri paling ujung adalah Mama Dio bersama si bocah menggemaskan Dio di sisinya. Tidak ada Ayah maupun Bunda, juga Ade terlihat dalam pandangannya. Ia sangat merindukan mereka. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Syifa, Ayah, Bunda dan Ade ada tidak jauh darinya. Mereka hanya terpisah oleh ruangan. Karena kini mereka sedang berada di kamar tamu di lantai satu dekat dengan tangga. Dan memang sengaja disembunyikan untuk sementara waktu. Mereka akan keluar sebentar lagi setelah mendapat aba-aba dari Zikra.
Sejenak mereka semua tertegun saat saling beradu pandang dengan Syifa. Mematung bersama dalam kebisusan.
Segaris senyum melengkung di sudut bibir Syifa. Matanya basah melihat mereka semua. Bulir-bulir bening meluncur bebas dari pelupuk matanya tanpa permisi. Tangis haru dan pelukan hangat mewarnai ruang tengah rumah Zikra. Nadya adalah orang yang pertama berhambur memeluk Syifa duluan.
"Cipa, kenapa nih sama perut lo? Kok jadi gendut gini kaya orang cacingan." tegur Nadya ceplas-ceplos setelah memeluk sang sahabat.
Semua orang yang hadir sontak tertawa yang terdengar membahana.
"Sembarang lo, bilang gue kaya oorang cacingan." Syifa mentoyor kepala Nadya hingga mengaduh.
"Abis, elo aneh. Pergi kempes, pulang gendut. Kalo gue bilang elo hamil rasanya... rada mustahil..." Nadya tampak ragu menyatakan opininya dengan mengaburkan suaranya diakhir ucapannya. Dia khawatir ucapannya akan merubah suasana saat ini.
Zikra memeluk bahu Syifa dengan satu tangan. Sementara tangannya yang bebas dimasukkan ke dalam saku celana bahannya.
"Syifa... memang sedang hamil kok, Nad." sela Zikra santai. Tidak lupa senyum manis yang menjadi ciri khasnya tersungging di sudut bibirnya.
Syifa mengalihkan pandangannya kepada Zikra yang juga sedang menatapnya. Keduanya tersenyum bahagia.
Kontan mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangkal atau pun mengiyakan. Hanya merasa aneh bin ajaib. Mereka pun mempertanyakan kronologi menyoal kehamilan Syifa.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu selamat. Dan terima kasih sudah memberikan kami cucu." ujar Surya sambil mengelus puncak kepala anak menantunya.
"Iya, Pa." Syifa mendongakkan wajahnya menatap bapak mertuanya dengan senyum bahagia.
Syifa tampak gugup saat menghampiri ibu mertuanya. Ada sedikit rasa khawatir menghantuinya. Ia tahu ibu mertuanya adalah satu-satunya orang yang paling frontal tidak menyetujui pernikahannya dengan Zikra. Tidak heran jika wanita itu sering menjodohkan Zikra dengan gadis lain yang dianggapnya lebih baik dari Syifa.
"Mam... mama..." ucap Syifa ragu.
Tiba-tiba wanita itu memeluk Syifa erat. Sudah pasti Syifa terkejut melihat reaksi ibu mertuanya yang tidak biasa. gadis itu hanya diam membeku dalam pelukan wanita yang telah melahirkan Zikra.
"Sayang... akhirnya kamu selamat. Mama pikir kamu benar-benar mati dalam kecelakaan itu." ujar wanita itu lirih sambil menitikkan air mata. Lalu menepis pelukannya seraya memegang kedua bahu Syifa. "ini benar-benar kamu kan?" tanyanya memastikan.
Syifa menganggukkan kepalanya pelan.
"Oh, Tuhan... terima kasih... karena Engkau telah melindungi menantuku dari marabahaya..." lanjutnya kembali memeluk Syifa yang hanya diam mematung tanpa bicara.
Syifa menatap Zikra dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
"Ma, udah deh gak usah lebay gitu. Kasihan Syifa dipeluk seperti itu. Kasihan juga anak Zikra yang ada dalam perut Syifa nanti kejepit." keluh Zikra seakan mengerti isi hati Syifa.
"Iya, iya, maaf..." sahut Mama dengan berat hati. " maafin oma ya, cucuku... kalo kamu terjepit oma." wanita itu mengelus sayang perut Syifa.
Syifa beralih pada Aini yang sudah merentangkan kedua tangannya siap memeluk kakak iparnya. Ia bahagia akhirnya Aini bisa bersikap baik lagi padanya. Setelah peristiwa di resort yang menyisakan luka dalam di hati Aini.
"Selamat datang kembali, kakak iparku... dan calon keponakanku..."
__ADS_1
"Makasih onty Aini..." sahut Syifa.
"Kakak Syifa..." Dio berhambur menabrak perut Syifa. Sontak mengejutkan orang-orang yang melihat pemandangan itu.
"Dio..." Mama Dio buru-buru menarik lengan bocah itu. Wajahnya terlihat pucat ketakutan atas ulah putra bungsunya itu. "Dio enggak boleh seperti itu..."
"Tapi, tapi, Dio kangen kakak Syifa, Ma..." sahut bocah itu memelas.
"Di perut kakak Syifa ada dede bayinya. Dio enggak boleh meluk seperti tadi lagi." kata Mama Dio menjelaskan dengan nada bicara syarat akan emosi.
Syifa menarik Dio ke dalam pelukannya sambil menekuk lututnya di lantai. Pasalnya ia akan mengalami kesulitan bila memposisikan tubuhnya dengan berjongkok. Dengan sayang ia mengelus punggung bocah itu.
"Enggak papa kok, Ma..." sanggahnya membela Dio. "Dio kangen sama kakak Syifa ya?" bocah itu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Syifa. Setelah itu ia memeluk Mama Dio dengan perasaan haru seperti memeluk ibu kandungnya sendiri.
Seandainya... ada Ayah dan Bunda... batin Syifa menangis. Ia hanya berharap kedua orang tua dan adiknya dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun entah dimana mereka sekarang.
Kini tiba giliran Bonang dan Rifa'i. Kedua pemuda itu sudah siap dengan posisi kuda-kudanya hendak memeluk Syifa. Namun belum sempat mereka menyentuh Zikra sudah berhambur duluan menggantikan istrinya.
"Woi! Ngapain lo meluk gue? Gue kan mau meluk Syifa." protes Bonang yang diaminkan Rifa'i.
"Elo berdua mau coba-coba peluk istri gue... jangan harap elo-elo masih bisa gunain tangan buat makan. Karena sehelai aja elo nyentuh istri gue... gue jamin kedua tangan kalian bakalan copot dari engselnya." ancam Zikra dingin.
" Busyet dah!" decak Bonang menepis pelukan Zikra. "sadis lo!"
"He-em." Rifa'i mengangguk setuju.
Zikra menatap tajam dan dingin Bonang dan Rifa'i secara bergantian membuat kedua sahabatnya merinding. Ini adalah kali pertama Zikra bertingkah posesif terhadap Syifa.
"Enggak papa kok, sayang..." sahut Zikra cepat. Memeluk bahu Syifa menjauhkannya dari jangkauan dua cowok jomblo akut.
Diam-diam di belakang Zikra, Bonang dan Rifa'i merutuki sikap sahabatnya yang terlihat kaku dan angkuh. Lantaran tidak diperbolehkan menyentuh Syifa walau pun hanya sekedar bersalaman saja.
"Kamu yakin?"
"Tentu dong..."
Zikra mengarahkan Syifa duduk di sofa yang diikuti oleh yang lainnya. Di depannya ada meja persegi yang telah dipenuhi oleh beraneka macam makanan. Sementara minumannya berada terpisah di meja lain. Di saat yang lain tanpa ragu menyantap semua hidangan yang ada. Syifa enggan menyentuh apa pun. Hingga Zikra memaksanya dengan menyuapinya baru ia mau makan. Itu pun hanya sedikit yang masuk ke dalam perutnya.
"Ayolah sayang... makan. Kasihan anak kita kelaparan nanti." bujuknya sambil memegang sendok yang telah terisi potongan kecil brownis.
"Enggak... aku masih kenyang." sahut Syifa menolak sambil memalingkan wajahnya menjauh dan menepis dengan tangan kanannya.
"Oke." Zikra meletakkan sendok yang berada digenggamannya ke atas piring. Lalu piring itu di taruh di atas meja.
"Maaf..." ujar Syifa menyesal saat menyadari raut wajah Zikra yang tampak kecewa atas perbuatannya.
Zikra tersenyum kecil, membelai rambut Syifa.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku mau ambil sesuatu buat kamu." Zikra bangkit berdiri.
"Apa?" Syifa mendongakkan wajahnya seraya memegang tangan Zikra, menahan kepergiannya dan meminta penjelasan.
"Tunggu aja di sini. Sebentar lagi kamu akan tahu." jawabnya kemudian berlalu pergi.
Nadya bangun dari tempat duduknya. Setelah itu duduk di sisi Syifa sambil membawa piring makanannya. Kemudian keduanya berbincang-bincang membahas beberapa hal seputar mereka berdua. Gelak tawa sesekali lolos dari bibir keduanya saat membahas hal-hal yang lucu.
Tiba-tiba Syifa beranjak berdiri ketika melihat ketiga sosok keluar bersama Zikra dan berdiri di antara mereka. Air mata pun tumpah begitu saja menyambut kedangan mereka.
"Teteh..." Ade berlari menghambur ke dalam pelukan Syifa.
"Ade..." pekik Syifa beranjak memeluk sang adik yang selama ini dirindukannya. Ia langsung menghujani Ade dengan ciuman di pipi kiri dan kanan bocah itu.
"Ade kangen Teteh..."
"Iya, Teteh juga sama kaaangeeeen... sama Ade, Ayah dan Bunda." sahut Syifa lirih. Suaranya terdengar bergetar dan parau disela tangisnya.
Bunda menyentuh bahu Syifa lembut. Syifa langsung megalihkan pandangannya. Netranya bertemu dengan netra orang yang selama ini sangat diharapkan kehadirannya. Mengisi setiap mimpi-mimpinya dalam tidurnya.
"Bunda..." Syifa mewek tidak bisa membendung rasa harunya bertemu dengan ibu kandungnya.
"Alhamdulillah... Teteh selamat. Sebelumnya Bunda berpikir kalo Teteh sudah meninggal dalam kecelakaan waktu itu." ujar Bunda penuh syukur dengan air mata yang jatuh berderai.
Semua orang yang hadir ikut terharu melihat pertemuan seorang anak dengan keluarga yang selama ini pergi meninggalkannya. Mereka terpisah hampir satu tahun lamanya tanpa kabar. Ini adalah sebuah anugerah yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa, karena masih diberi kesempatan diberi umur panjang dan kesempatan bertemu kembali.
Syifa menatap sedih kondisi Ayah yang tidak lagi sehat seperti dulu. Tubuhnya terllihat kurus dengan kumis dan jenggot yang sudah memanjang di bagian atas dan bawah bibirnya. Ia menatap sedih kondisi pria yang sangat dirindukannya. Pria yang paling dihormati dan disayanginya.
"Ayah..." Syifa memeluk erat pria itu. Isak tangisnya tidak lagi bisa dibendungnya.
"Maafkan Ayah, nak..." suara pria itu bergetar. Matanya merah penuh air mata melihat putri sulungnya yang selama ini berada jauh dari pandangan matanya. "Ayah sudah meninggalkan kamu selama ini."
"Enggak, Ayah enggak salah..." kilah Syifa cepat sambil menggelengkan kepalanya. "Syifa... kangen Ayah..."
Fauzi mengelus punggung Syifa sayang.
Akhirnya pertemuan mereka hari itu dipenuhi air mata haru dan bahagia. Mereka semua berharap pertemuan kali ini tidak akan membuat mereka terpisah kembali.
Tamat.
***
🙋 Hai readers yang budiman... cerita cinta Syifa ❤️ Zikra sampai di sini ya...
Novel Bukan Kisah Siti Nurbaya ini rencananya author enggak buat sekuelnya. Kalau pun ada lanjutannya paling bentuknya ekstra episode aja.
Jangan lupa kasih vote like n komen ya. Author sangat merasa dihargai saat tanda 👍 hadir diakhir setiap episode cerita yang ditulis author 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa baca karya author yang lain judulnya Kesengsem Cinta Kembar