
Malam telah larut tetapi Syifa masih terjaga. Meskipun sudah berulang-ulang membaca doa tidur, tidak jua kunjung terbuai dalam alam mimpi. Entah mengapa ia mendadak tidak bisa tidur. Matanya nyalang menatap plafon kamar. Boneka beruang besar pemberian Zikra terasa hangat dalam dekapannya. Ia mendengus resah.
Tangan kanannya menyentuh dadanya sendiri, merasakan debaran yang dirasanya sedikit janggal. Namun ia tidak bisa menterjemahkan setiap denyutan yang menjalar di nadinya. Syifa mengubah posisi tidurnya. Tanpa sadar tangannya telah berpindah tempat. Kali ini menyentuh bibir. Seketika ia langsung teringat saat Zikra mengecup bibirnya. Mendadak degup jantungnya memompa lebih cepat. Menimbulkan desiran yang sama seperti saat itu. Ia tersenyum kecil. Menutup wajahnya yang memerah malu dengan selimut.
OMG! Gimana mungkin itu bisa terjadi? Pikirannya. Lalu angannya menerawang jauh ke dunia sana.
Setelah selesai berciuman Syifa masih sangat shock, menyentuh bibirnya yang basah karena ulah pemuda itu. Kemudian memalingkan wajahnya melihat pemandangan di luar jendela bianglala. Zikra pun tampak sangat gerogi. Rasa keterkejutannya yang terasa diluar nalar membutnya speechless. Dia mengalihkan pandangannya pada arah berlawanan.
Tanpa komando keduanya kompak menggeser tubuh masing-masing. Hingga terpisah satu jengkal jarak yang memisahkan. Mereka mendengus sangat pelan, sampai tidak ada satu pun di antara keduanya yang dapat mendengar suara hembusan nafas masing-masing.
Zikra maupun Syifa berusaha mengendalikan gejolak yang tengah berkecamuk di dalam dadanya.
Bagaikan sepasang medan magnet yang memiliki dua kutub berbeda. Apabila didekatkan maka dua kutub tersebut akan saling tarik-menarik. Mungkin itulah perumpamaan yang tepat untuk sepasang muda-mudi itu. Tempat duduk boleh berjauhan, pandangan tidak lagi saling menatap, namun bukan berarti hati mereka ikutan berpaling menjauh.
Diam-diam ujung jari Zikra bertemu dengan jemari Syifa. Dia menyentuh lalu menggenggamnya erat. Gadis itu pun seakan tidak menolak tangannya di sentuh maupun digenggam. Desiran halus dari dua rongga dada sontak mengusik ketenangan mereka.
Syifa menggigit bibir bawahnya seraya meremas erat boneka beruang dalam pelukannya. Zikra meremas ujung tempat yang sedang didudukinya.
"Maaf, aku udah bertindak enggak sopan," imbuh Zikra dengan suara pelan dan berat.
Syifa terkesiap kontan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang duduk di sampingnya. Tiba-tiba rasa kecewa mengusik sanubarinya. Perlahan ia menepis genggaman tangannya.
"Oh."
"Aku ..." Zikra menatap Syifa lekat.
"Kamu mau minta aku buat ngelupain kejadian barusan?" tanya Syifa hati-hati, mencoba menerka sendiri. Hatinya sangat sedih. "baik. Aku ..."
"Bukan. Bukan itu maksud aku," kilahnya cepat.
"Enggak papa kok. Toh, di antara kita berdua emang enggak ada perasaan apa-apa, kan?" sanggah Syifa menghibur. Lebih tepatnya menghibur diri sendiri. Karena jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa terluka. "jadi, kamu enggak usah khawatir," seulas senyum lebar menyungging di sudut bibirnya. Tetapi terasa lirih di dadanya.
Zikra terlihat kecewa dengan pernyataan yang baru saja diucapkan Syifa. Dia tidak pernah mengira dara manis berpipi tembam akan berpikir seperti itu. Padahal dia sangat berharap gadis itu dapat merasakan perasaannya melalui ciuman dari bibirnya.
Pada saat yang bersamaan. Zikra mengalami hal serupa. Tidak bisa tidur hanya mebolak-balikkan badan di atas kasur dengan resah. Berharap mendapatkan posisi tidur yang nyaman. Tapi tetap saja hasilnya nihil.
Zikra mengenang momen manis bersama Syifa di taman hiburan siang tadi. Sesekali dia tersenyum ketika teringat momen indah bersama Syifa. Tiba-tiba wajahnya tampak bersemu merah mengingat bibirnya berhasil mendarat di bibir gadis itu untuk pertama kalinya. Dadanya berdenyut kencang kala itu. Dan masih dirasakannya hingga saat ini. Dia beranjak duduk.
Mungkin sudah waktunya ... ya, akhirnya ...
Syifa beranjak dari kamarnya. Mungkin meminum segelas susu hangat bisa membantunya segera lelap. Ketika baru membuka pintu mendadak ia terperanjat kaget. Tiba-tiba Zikra sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ka-kamu?" Syifa tampak gugup. Mendadak melintas diingatannya ketika sepulang dari taman hiburan. Zikra mencium lembut keningnya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Zikra hanya menyeringai kecil.
"Nga-ngapain di sini?" tanyanya curiga.
Dengan santai Zikra mengajak Syifa duduk di meja makan dekat dapur. Dua gelas susu hangat telah tersaji di atas meja. Keheningan malam nyaris membisukan keduanya. Hanya suara dentingan sendok teh yang terbuat dari bahan stainless, mampu memecah keheningan saat mengenai dinding gelas kaca saat mengaduk susu hangat.
Cukup lama mereka terperangkap dalam kebisuan. Tanpa suara maupun kata yang meluncur dari bibir keduanya. Akhirnya Zikra berdehem sekali untuk membuang kekakuan yang membelenggu.
"Aku ..."
Syifa mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk menatap gelas susu yang tersisa hampir setengahnya. Diam menanti dengan sabar setiap kata yang akan meluncur dari bibir lawan bicaranya.
"Aku ingin kita hubungan kita enggak sebatas teman." imbuhnya.
Hah?!
"Maksud aku ... enggak mau hubungan kita cuma begini-begini aja."
"Maksud dari 'hubungan kita cuma begini-begini aja' itu apa, ya? Sori, aku enggak paham," sahut Syifa mengerutkan dahi.
Zikra tampak agak kikuk.
"Maksud aku, hubungan kita bisa lebih dari sekedar hubungan pertemanan, atau pasangan kekasih yang udah kita coba tadi siang."
"Oh." Syifa mendengus pelan. Menundukkan kepalanya.
"Aku pikir, kita enggak selamanya bisa seperti ini. Karena setiap hati manusia akan selalu berubah seiring berjalannya waktu."
Syifa mendongakkan wajahnya. Menatap sepasang manik mata yang sedang balik menatapnya.
"A-aku ..."
"Kamu enggak perlu menjawab sekarang. Aku kasih waktu kamu untuk berpikir," sela Zikra cepat.
"Tapi, aku enggak bisa selamanya ada bersama kamu," akhirnya meluncur kalimat itu dari bibirnya.
Zikra mengernyitkan dahi seraya menatap Syifa bingung.
__ADS_1
"Sori, kamu ngomong apa barusan?"
"Satu minggu lagi, Ayah akan datang menjemput aku. Itu artinya aku akan ikut Ayah pulang," jawabnya lirih. Matanya basah. "jadi, aku mungkin enggak bisa ..."
"Aku kan udah berulang kali katakan, aku enggak akan mengizinkan kamu pergi," tukas Zikra.
"Tapi ..."
"Aku memang enggak mengizinkan kamu pergi dari aku. Tapi aku akan tetap mengizinkan kamu bertemu dengan Ayah maupun keluarga kamu. Bila perlu aku akan mengantarkan kamu bertemu mereka. Asalkan kamu enggak pergi meninggalkan aku," tutur pemuda itu sangat serius seraya menggenggam erat jemari Syifa.
Syifa tertegun dengan kesungguhan Zikra. Seakan menyirnakan keraguan yang selama ini mengisi hatinya. Ia tersenyum.
Zikra semringah.
*
Nadya dan Syifa duduk di kursi taman kampus sambil menunggu jam masuk kelas mata kuliah pertama.
"What?" teriak Nadya setelah mendengar cerita dari Syifa.
"Ssttt!" desis Syifa seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Kontan Nadya menutup mulutnya. Kedua matanya langsung melirik kanan dan kirinya.
"Jadi, elo abis jalan sama dia kemarin. Terus, pake status pasangan kekasih, pake baju couple-an juga," katanya setengah berbisik. Dia menyeringai bahagia. "akhirnya ..."
Syifa mengangguk pelan.
"Terus-terus selain itu elo berdua ngapain aja?" tanyanya antusias.
"Naik wahana, makan, main game, ya ... gitu deh," sahut Syifa sekenanya.
"Masak sih cuma begitu doang?" tanyanya lagi sangsi. "ya ... seenggaknya ada kegiatan lain. Kayak ..." gadis itu sengaja menggantung ucapannya.
"Apa?" tanya Syifa cepat sambil memelototkan kedua bola matanya yang bulat.
Nadya menyeringai kecil.
"Pikiran lo pasti ngeres," ujar Syifa sinis.
"Bukan ngeres, Non. Tapi gue cuma berpikir sesuai realita aja, realita orang pacaran," kilah Nadya.
"Elo jangan ngeremehin gitu dong," protes Nadya. "gue akuin emang status gue masih jomblo. Tapi soal wawasan, gue pecinta sejati."
Syifa terkekeh geli.
"Yakin elo enggak diapa-apain sama Bang Zikra?" selidik Nadya penasaran seraya menyenggol tubuh Syifa disertai kedipan sebelah matanya menggoda sang sahabat.
Mendadak Syifa terdiam. Tidak mau buka suara. Wajahnya bersemu merah. Tersenyum malu.
"Jangan sok rahasia-rahasiaan deh sama gue. Gue tahu kok tentang elo. Bukan cuma luarnya doang, tapi sampai ke jeroan elo pun gue tahu."
"Gaya-gayaan banget lo. Dikira gue sapi kali, punya jeroan."
Nadya menatap Syifa tanpa berkedip. Seakan sedang memaksanya untuk menceritakan setiap detil kencan kemarin. Alih-alih ingin menghindari, Syifa malah terpancing. Akhirnya ia mengungkapkan semuanya. Hingga sukses membuat Nadya terkaget-kaget.
"Ja-jadi ..."
"Ssstt ..."
"First kiss elo ..." bisik Nadya semringah.
Syifa mengangguk cepat. Tersenyum malu.
"Akhirnya ... lama-lama kalian berdua bisa ee ah."
"Tapi gue masih ragu, Nad. Gue belum bisa sepenuhnya percaya sama dia." tiba-tiba rona wajah Syifa berubah murung.
"Lho, kenapa? Kan udah jelas. Mau apalagi?"
"Masih ada Mbak Ayu yang selalu buat gue was-was. Dan gue takut Zikra bakalan berubah. Seperti yang dilakuin Angga dulu," jawab Syifa resah. "karena setiap kali Mbak Ayu muncul di antara gue dan Zikra. Gue ngerasa kembali ke masa itu."
Nadya menghela nafas panjang.
"Elo enggak usah khawatir. Ada gue yang akan selalu ada buat bantuin elo, buat basmi pelakor kaya si Mbak Ayu semeleketek itu," ujarnya menenangkan.
Syifa tersenyum lebar.
"Makasih, Nad. Elo emang sahabat sejati gue." ia memeluk Nadya.
"Udah deh, jangan lebay gitu."
__ADS_1
"Bodoh amat! Yang penting persahabatan kita enggak lebay." sahutnya cuek tanpa melepas pelukannya.
Nadya terkekeh geli sambil mengelus lembut lengan Syifa.
"Maaf gue belum bisa membalas kebaikan elo," ujarnya menyesal. "Terakhir, gue malah bikin elo sedih. Sehingga hubungan persahabatan kita sempat merenggang."
"Udah. Yang lalu biarlah berlalu," sela Nadya seraya menepis pelukan Syifa. "Toh, sekarang kita bisa seperti dulu lagi, iya kan?"
Syifa mengangguk cepat.
"Lagian gue udah tahu siapa si Panji sebenarnya. Jadi, gue ngerasa beruntung, enggak patah hati seperti yang pernah elo alami." kata Nadya lirih.
Syifa dan Nadya berpelukan kembali sambil tersenyum bahagia.
*
Rona wajah Zikra tampak sangat bahagia. Senyum semringah tidak henti menghias bibirnya. Semua tumpukan berkas di atas meja kerjanya diselesaikan dengan baik. Mungkin karena efek kencan kemarin membuatnya begitu semangat.
Bonang dan Rifa'i pun ikut bahagia. Misi cinta tahap pertama mereka akhirnya sukses. Kemudian mereka menyarankan Zikra untuk menjalankan misi cinta berikutnya, yaitu menyatakan cinta pada Syifa. Meskipun kemarin Zikra sudah melakukannya.
"Elo tenang aja. Soal properti, konsep, tempat dan ***** bengeknya itu urusan si Fa'i," ujar Bonang semangat menunjuk Rifa'i.
"Lah, kok jadi gue? Kan elo yang ngomong, Keribo." Rifa'i nongol dari bilik tempat kerjanya.
"Itu karena gue tahu elo tipe orang yang cerdas soal begituan," sahut Bonang ringan.
"Terus elo ngapain?"
"Gue cukup jadi mandor aja. Ngawasin elo sambil duduk manis, iya gak Zik?" Bonang meminta dukungan Zikra.
Zikra yang sedari tadi hanya menjadi pendengar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Sompret lo!" hardik Rifa'i sewot.
Bonang hanya tersenyum tidak mengindahkan kekesalan Rifa'i.
"Ya udah, kerja-kerja!" seru Zikra mengalihkan pembicaraan. Dia langsung kembali menghadap meja kerjanya.
Bonang dan Rifa'i pun mengikuti.
Diam-diam Ayuniatara mendengarkan pembicaraan mereka dari sudut ruangan. Tanpa sadar tangannya meremas kertas fotokopi laporan dari mesin fotokopi. Gadis itu terbakar cemburu. Dia masih belum bisa melupakan Zikra. Cinta telah membuatnya terobsesi untuk merebut hati Zikra kembali. Tidak peduli rasa sakit yang akan dideritanya nanti. Pasalnya sang Arjuna telah mencintai gadis lain.
Zikra, Bonang, dan Rifa'i sepakat untuk membahas misi cinta berikutnya sepulang kerja nanti. Kemudian mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Syifa merapikan rak makanan ringan. Memeriksa tanggal expired. Menambahkan makanan yang sejenis pada rak yang telah kosong.
Panji mengurusi rak minuman ringan tidak jauh dari tempat Syifa berdiri. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, pemuda itu langsung mendekatinya.
"Kemarin elo kemana? Gue telepon elo kok enggak diangkat, malah direjek." keluhnya kecewa.
Syifa ingat ketika itu Zikra merebut ponselnya. Lalu merejeknya setelah melihat nama Panji muncul di layar ponselnya. Entah karena terbakar api cemburu, Zikra terlihat tidak senang kala itu.
"Lho, ditanya bukannya jawab, kok malah jadi bengong?" tegur Panji menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Sori-sori, kemarin gue sibuk banget. Jadi ... gue matiin aja. Karena kalo gue angkat, elo pasti ngoceh melulu. So pasti bakalan menyita banyak waktu gue," jelasnya terpaksa berbohong.
"Yakin elo lagi sibuk? Bukan lagi jalan sama cowok lain?" nada bicara Panji terkesan sedang cemburu. " padahal gue udah nyiapin tiket nonton buat kita berdua."
"Kalo pun gue jalan sama cowok, toh enggak ada urusan sama elo, iya kan?" katanya membela diri.
"Pasti adalah ..."
"Elo bukan bokap gue, jadi gue minta elo jangan sok kepo-kepoin gue enggak jelas gitu," tukasnya langsung beranjak ke rak lain.
"Tapi gue peduli sama elo, Syifa. karena gue ..."
Syifa menghela nafas pendek. Memutar kepala seraya membalikkan tubuhnya menghadap Panji. Dalam hati ia sudah tidak tahan dengan sikap Panji yang berusaha mendekatinya. Bahkan dia sudah sering menyatakan cinta padanya. Namun tidak pernah digubrisnya.
"Enggak perlu. Udah ada orang yang peduli sama gue. Bahkan dia mau mengorbankan jiwa dan raganya demi gue." ucapnya dingin.
"Syifa ..."
"Udah cukup, Nji. Di sini gue mau kerja. Bukan mau dengerin perasaan elo. Dan gue akan selalu berharap kita bisa berteman baik, tanpa embel-embel macam-macam. Gue rasa elo mengerti itu," pungkasnya.
Panji terdiam menatap gadis itu berlalu dari hadapannya. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya ditolak oleh gadis sederhana seperti Syifa. Bahkan ucapan adik kelasnya itu berhasil membuatnya mati kutu. Biasanya setiap gadis yang pernah kenal dengannya akan tergila-gila. Dia pun mampu memutuskan cinta mereka semudah membalikkan telapak tangan. Setelah itu dia akan mendapatkan gadis lain tanpa butuh waktu lama.
Tetapi setelah mengenal Syifa, Panji cenderung lebih kalem. Seakan pandangannya hanya tertuju pada gadis itu. Meskipun pada awalnya hanya iseng mendekati Syifa. Dia berpikir akan mudah menaklukkan hati Syifa sama seperti gadis-gadis lain.
Kenyataan terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kini Panji hanya bisa gigit jari setelah menyadari tidak ada celah untuknya agar bisa masuk ke dalam hati Syifa. Gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Bersambung ....
__ADS_1