Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Jangan Takut...


__ADS_3

Akhirnya, Zikra menemukan sesosok orang yang selama ini dirindukannya. Ya, orang itu adalah Syifa yang tidak lain adalah istrinya. Ia tengah berjalan persis di belakang para wanita pemetik teh yang suaranya masih terdengar cekikikkan itu. Entah apa yang sedang ditertawakan Zikra tidak tertarik untuk menguliknya.


Dari kejauhan Zikra dapat melihat Syifa berjalan bersisian dengan seorang wanita paruh baya yang entah siapa. Dia tentu tidak mengenal wanita tua itu. Raut wajah istrinya terlihat berseri disela oborolannya dengan wanita itu. Keduanya terlihat sangat akrab. Zikra tersenyum girang melihat pemandangan itu. Dadanya berdesir lembut membuatnya sedikit gugup. Sungguh perasaan yang sulit diungkapkan hanya sekedar kata-kata. Perasaan ini mengingatkannya seperti saat proses akad nikahnya dulu di depan penghulu. Tentu saja waktu menikah dengan gadis bernama Nuzulusyifa Fauziah alias Syifa.


Matanya berbinar cerah meluapkan rasa bahagianya yang nyaris lenyap dalam hidupnya. Pemandangan itu seakan lelahnya saat mencari keberadaan belahan hatinya yang hilang bak di telan bumi selama ini, terbayar lunas dengan melihatnya masih bernyawa dan tampak baik-baik saja. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri jika seandainya fakta yang didapatkan sebaliknya. Bisa jadi dia akan depresi atau frustasi bahkan bisa saja gila.


Dalam hati Zikra ingin sekali dapat segera merengkuh tubuh yang memiliki aroma pemikat serta candu baginya. Lalu membenamkannya ke dalam pelukkannya.


"Syifa... sayangku..." suara teriakan itu memekik lolos begitu saja dari bibirnya. Menggemakan nama orang yang sangat dicintainya. "Syifa..."


Pelan tapi pasti Zikra melangkahkan kaki memotong jarang di antara mereka. Sorot matanya sendu menatap wajah yang berada sejurus dengannya.


Sontak semua pasang mata yang mendengarnya tertuju ke arah sumber suara. Tidak terkecuali si empunya nama yaitu Syifa. Memaksanya menghentikan aktifitasnya lalu mengalihkan perhatiannya pada ketiga sosok orang berjas berjas hitam yang berada di depan sana. Salah satunya tengah jalan berusaha mendekatinya.


Para wanita pemetik teh itu sempat terbengong-bengong saat nama Syifa yang diteriaki Zikra. Kontan mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah Syifa. Mereka langsung bertanya pada Syifa dengan orang itu. Bahkan ada yang menggodanya karena hebat dikenal oleh orang ganteng. Sementara gadis itu sangat terkejut mendengar suara orang itu. Suara yang menurutnya sama persis dengan suara suaminya. Namun melihat pakaian orang yang sedang berjalan mendekatinya langsung mengingatkannya pada orang-orang di malam penculikkannya. Mereka sudah membekap mulut Syifa dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius, dalam hitungan detik ia jatuh tidak sadarkan diri.


Semakin lama Zikra berhasil memperpendek jaraknya dengan Syifa. Kini jarak di antara keduanya tersisa tiga meter lagi. Senyumnya pun semakin mengembang karena sebentar lagi dia akan dapat memeluk istrinya. Sedangkan Syifa masih membeku di tempatnya bersama para wanita pemetik teh. Para ibu-ibu itu tampak antusias menyaksikan Zikra yang terus berjalan memperpendek jaraknya. Seakan mereka rela menjadi penonton dari drama pertemuan sepasang insan yang baru saja bertemu.


Entah mengapa tubuh Syifa tiba-tiba terasa membeku dan menegang. Berbeda dengan Zikra yang sedang melenggang bahagia karena pertemuan ini. Gadis itu justru takut menghadapinya. Bayangan saat dirinya diculik seakan menari-nari di dalam ingatannya. Nada-nada kalimat ancaman terus saja terngiang ditelinganya membuatnya bergidik ketakutan.

__ADS_1


Pupil mata Syifa melebar karena ketakutan melihat Zikra yang sebentar lagi akan mendekatinya. Nafasnya terasa berat dan pendek membuat ia tersengal sulit bernafas. Tenggorokannya mendadak mengering sehingga susah payah ia menelan salivanya. Tatapannya pun bersirobok pada pemuda itu. Menciptakan gelombang aneh di dalam rongga dadanya. Pandangannya berkabut teringat orang-orang yang telah menjemputnya paksa dan berakhir dirinya berada di dalam ruangan yang temaram. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari pori-pori keningnya. Air mata pun tumpah tidak terkendali. Ia benar-benar sangat ketakutan. Ingin sekali berteriak namun lidahnya sangat keluh. Kepalanya menggeleng memberi isyarat agar jangan mendekat.


Zikra terkejut melihat ekspresi wajah takut yang ditunjukkan Syifa. Alisnya mengerut herat mendapati reaksi yang ditunjukkan istrinya tidak sesuai ekspektasinya.


"Sayang... ini aku..." ujar Zikra berharap Syifa segera berhambur ke dalam pelukannya.


Para wanita pemetik teh yang sedari tadi berada di dekat Syifa, tanpa komando langsung bergeser menjauh. Bahkan ada yang memutuskan untuk segera beranjak pergi.


Brakkk! Syifa melempar keranjang yang sedari tadi nangkring di punggungnya ke arah Zikra. Dengan sigap Zikra menangkap benda yang selalu digunakan sebagai wadah menyimpan pucuk daun teh yang masih muda setelah dipetik.


"Pergi! Jangan mendekat!" usir Syifa dengan suara bergetar ketakutan. "a-aku... enggak kenal kalian. Pergi! Pergi! Jangan sakiti aku! Jangan culik aku!" dengan susah payah ia menggerakkan kaki berjalan mundur ke belakang sambil melempar apa saja barang yang ada di tangannya.


Tinggal satu meter lagi Zikra dapat meraih tubuh Syifa. Namun Syifa tetap berusaha menjauh. Kemudian memutar tubuhnya berlari sekencang mungkin tanpa mengindahkan kandungannya yang mulai membesar.


"Tolong... tolong..." teriak Syifa kembali ke perkebunan teh yang sudah sejak tadi ditinggalkannya.


Zikra ingin segera mengejar Syifa. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang tadi mengobrol dengan Syifa menghentikan langkahnya.


"Saha anjeun (kamu ini siapa)?" telisiknya dengan memancarkan semburat penasaran dan amarah. "naha anjeun kadieu (kenapa kamu kemari)?"

__ADS_1


Belum sempat Zikra menjawab kalimat pertanyaan yang tidak dimengertinya. Derry dan seorang anak buah yang ikut serta dengannya datang mendekat. Pria bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang itu langsung menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh wanita itu dengan bahasa Sunda.


Dengan ditemani Derry, Zikra mengejar Syifa. Dia sangat khawatir dengan kondisi Syifa. Apalagi dalam kondisi mengandung seperti itu. Dia takut akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkannya.


Syifa berlari sambil meminta tolong seperti orang gila. Ia benar-benar sangat takut peristiwa itu kembali terulang. Setelah susah payah bersembunyi agar tidak ditemukan. Tetapi kenyataannya keberadaannya masih bisa dilacak oleh mereka.


Tiba-tiba Syifa meringis saat perutnya terasa sakit dan keram. Langkahnya pun terhenti sambil memegangi perutnya. Sesekali dielusnya lembut agar janin di dalam kandungannya lebih tenang. Matanya mulai kunang-kunang melihat sekelilingnya. Hanya dalam waktu per sekian detik ia ambruk tidak sadarkan diri. Untunglah Zikra datang tepat waktu hingga Syifa tidak sampai jatuh ke tanah.


"Sayang... ada apa sama kamu? Kenapa kamu lari setelah melihat aku? Ini aku, suami kamu. Aku sengaja datang ke mari untuk menjemput kamu pulang..." ucap Zikra lirih seraya memeluk Syifa dalam peluknya. Dia sangat sedih melihat orang yang sangat dicintainya dalam kodisi seperti ini.


Derry berdiri di belakang Zikra. Dia ikut bersedih melihat pemandangan seperti itu.


Bersambung...


***


🙋 Hai readers semua yang Budiman. Maaf author baru update lagi karena author harus benar-benar dapat inspirasi yang klop untuk menyelesaikan cerita cinta Syifa ❤️ Zikra. Rencananya cerita ini author ingin selesaikan dalam waktu dekat. Jadi, tetap stay tune ya. Jangan lupa kasih vote, like n komen ya 🤗 karena semua itu sangat berharga untuk author.


Terima kasih 🙏 bagi para readers yang selalu setia membaca dan memberikan jempol manisnya. ❤️❤️ Luv u all... 🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading... 🤗✌️✌️


__ADS_2