Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Fitnah


__ADS_3

Hari sudah gelap saat Zikra tiba di rumah. Setelah meletakkan sepeda motornya di ruang tamu, karena tidak memiliki garasi. Lalu mengunci pintu, dia beranjak ke kamarnya.


Rumah yang ditempati sejak lima bulan lalu, sengaja dibeli Papanya untuk Zikra. Hadiah ulang tahunnya setahun lalu. Bagi orang tua Zikra yang notabene seorang pengusaha sukses, uang tidak berharga apa-apa demi kebahagiaan putra sulungnya. Hanya sekedar membeli rumah ukuran minimalis yang sekarang sudah menjadi miliknya. Jika Zikra meminta dibuatkan rumah mewah, papanya pun akan mengabulkannya.


Terbiasa hidup sendiri dalam kesunyian bukanlah hal aneh baginya. Walau terkadang dia pun mengalami kejenuhan, tidak ada teman yang bisa diajaknya bertukar pikiran. Di saat seperti itu dia akan pulang ke rumah orangtuanya. Atau dia akan mengundang Bonang dan Rifa'i untuk menginap.


Zikra merasa heran melihat tudung saji yang terlungkup di atas meja makan. Biasanya jika seperti itu, ada makanan di dalamnya. Tetapi untuk hari ini dia belum membuat masakan apa pun. Kemudian membuka tudung saji itu untuk memastikan. Ternyata benar. Sudah ada beberapa menu masakan yang siap untuk disantap.


Zikra terkejut ketika mendengar derit suara pintu ditutup. Tiba-tiba dia merasa curiga, ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. Kontan dia menoleh ke sumber suara. Melihat Syifa keluar dari kamarnya. Langsung tersadar, bahwa mulai saat ini dia tidak tinggal sendiri lagi. Namun ada gadis itu yang akan memberi warna baru pada hidupnya. Dengusan pelan berhembus dari mulutnya.


"Kamu udah pulang?" tegur Syifa sedikit kikuk.


"Iya," sahut Zikra terlihat kaku.


Sepasang muda-mudi yang untuk pertama kalinya hidup di satu atap yang sama, membuat keduanya merasa sedikit aneh dan grogi. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Agak lama mereka mematung hanya saling terdiam.


"Tadi gue maksudnya aku masak makan malam," imbuh Syifa terbata mencairkan kebekuan diantara mereka. Berjalan mendekati Zikra. "tapi, enggak tahu enak apa enggak. Soalnya aku enggak bisa masak."


"Oh, i-iya," Zikra terlihat gugup. Menarik kursi lalu duduk. "makasih. Duduklah, ayo kita makan malam bersama," serunya.


Syifa menganggukkan kepala. Menarik kursi di seberangnya dan duduk. Tanpa diminta gadis itu melayani pemuda yang telah resmi menjadi suaminya, dengan menyendokkan nasi.


Zikra tersenyum. Akhirnya dia tidak sendiri lagi. Ada Syifa yang akan mengisi kekosongan hatinya.


"Gimana rasanya?" tanya Syifa penasaran seraya memperhatikan Zikra makan.


Zikra tidak menjawab. Masih mengunyah dan merasai masakan buatan Syifa.


Syifa menelan ludah, rona kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


"Pasti enggak enak, ya?" tanyanya lagi bergumam mengernyitkan dahi.


Zikra meneguk air, seakan tenggorokannya sulit menelan makanan yang dimasak Syifa.


"Kamu kok jadi tegang begitu?" tegur Zikra dengan senyum menawan.


"Sori, aku akui memang enggak bisa masak. Ya udah enggak usah dimakan aja kalo enggak enak. Muntahin aja, nanti kamu bisa keracunan lho," katanya tidak enak hati.


Zikra tergelak melihat ketegangan di wajah istrinya.


"Enggak mungkin keracunan. Kamu enggak usah tegang gitu dong. Enak kok masakan kamu, cuma ..."


"Cuma apa?" Syifa terlihat tidak sabar menunggu jawaban Zikra.


"Cuma ada yang kurang garam, tapi ada juga yang kelebihan menaruh garamnya," sahut Zikra terkekeh.


"Masakanku jadi nano-nano dong rasanya. Anyeb-anyeb asin."


"Enggak papa, tetap enak kok." Zikra memakannya kembali.


Mereka tersenyum bersama.


Setelah selesai makan malam Zikra membantu Syifa mencuci piring sambil mengobrolkan semua kegiatan seharian tadi.


"Oya, tadi pagi ada dua orang perempuan datang ke sini," ujar Syifa.


"Siapa?"


Syifa mengangkat kedua bahunya. Seakan berkata tidak tahu.

__ADS_1


"Terus, mereka ngapain datang ke sini?"


"Katanya sih, dia mau mencari mas gan, tapi aku bilang, disini enggak ada orang yang namanya mas gan."


Zikra terkekeh kecil.


"Pasti Rani dan ibunya, iya kan?" tanya Zikra mencoba menebaknya.


"Mungkin. Soalnya waktu aku tanya mereka siapa, eh, malah balik tanya siapa aku. Pake bilang aku pembantu segala lagi," ungkap Syifa sebal mengingat kejadian itu. "udah aja aku bilang, aku penghuni rumah ini."


"Terus, kamu bilang kamu istriku," sambung Zikra cepat.


Kontan rona wajah Syifa memerah. Degup jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia pun menjadi salah tingkah. Buru-buru ia mengambil kue pemberian wanita tadi dari kulkas untuk menutupi rasa groginya.


"Mana mungkin aku ngomong seperti itu. Ya ... enggaklah," kilahnya.


"Kenapa?"


Syifa benar-benar dibuat berdebar dengan sorot mata Zikra yang penuh arti.


"Ya ... enggak papa," jawabnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meletakkan kotak kue di atas meja. "lagian mana mungkin mereka percaya aku ini isrtimu, belum apa-apa aja udah dibilang pembantu," gumamnya.


"Apa ini?"


"Kue."


"Iya, aku tahu ini kue. Aku enggak ngomong kalo ini granat," ujar Zikra rada sewot.


Syifa terperangah mendengar ucapan suaminya. Ternyata dibalik sikap santainya ada juga sisi yang membuatnya terkejut.


"Tadi kan kamu tanya ini apa? Ya, aku jawab ini kue," Syifa tersulut emosi. "kamu gimana sih, makanya kalo nanya yang konsisten dong."


"Masak bodoh. Aku mau ke kamar aja deh. Malas aku berdebat sama kamu."


Zikra meraih lengan Syifa. Hingga gadis itu urung meninggalkannya sendiri.


"Maaf," ucapnya menyesal.


Syifa menoleh menatap lengannya yang telah digenggam erat oleh Zikra. Dia terkejut dan tertegun.


"Maaf, aku enggak bermaksud kurang ajar sama kamu." Zikra melepaskan genggamannya.


Syifa hanya menarik segaris senyum di bibirnya seraya memegang lengan yang sempat disentuh Zikra. Rupanya desiran itu muncul lagi.


Zikra menarik kursi untuk Syifa, memintanya duduk hendak mengajaknya menikmati kue dari tetangganya. Dia menarik kursi lain untuknya duduk pula. Tanpa ragu Syifa menerima ajakan Zikra. Keduanya menikmati kue itu bersama sambil membangun keakraban antara satu sama lain dengan mengobrol.


"Maaf, untuk saat ini aku belum bisa menerima statusku sebagai seorang istri," ujar Syifa lirih.


"Enggak papa. Aku bisa mengerti kok. Aku pun berpikir sama kayak kamu," sahut pemuda itu tersenyum ramah. "walaupun kita belum bisa menjalin hubungan suami-istri, tapi kita bisa berteman, kan?"


Syifa tersenyum getir.


"Lagian, hubungan kita enggak akan berlangsung lama. Kedua orang tuaku akan datang tiga bulan lagi. Dan saat itulah semua hubungan kita harus berakhir. Kita akan kembali ke kehidupan masing-masing, iya kan?"


Zikra meletakkan sisa kue yang belum dimakan di piring. Senyumnya terlihat getir.


"Iya. Kamu benar."


Malam semakin larut. Mereka lewati bersama di dalam kamar masing-masing. Syifa langsung terlelap terbuai mimpi. Tetapi tidak dengan Zikra yang masih terjaga di atas tempat tidurnya. Melipat kedua lengannya di belakang kepala yang dijadikan bantal untuk tidur. Matanya nyalang menatap plafon kamarnya. Setelah mendengar ungkapan Syifa yang akan meninggalkannya. Rasa gelisah disertai sedih tiba-tiba datang mendera hatinya. Bayangan sewaktu kecil yang pernah dilewatinya bersama Syifa, menari-nari bagaikan slide infokus berputar bergantian.

__ADS_1


Ada apa ini? Mengapa aku jadi ingat masa-masa itu?


Zikra mendengus resah.


*


Hampir satu Minggu Syifa tinggal dan menjadi penghuni di rumah Zikra. Layaknya seorang wanita yang telah menikah, gadis itu mengurus rumah dengan baik. ia pun berusaha mengurus segalanya yang membuat Zikra nyaman. Kecuali urusan yang berhubungan dengan kamar tidur. Karena keduanya tidur di kamar yang berbeda.


Setiap hari Zikra berangkat kerja dari pagi dan pulang hampir malam. Tidak banyak yang tahu jika pemuda tampan dan cerdas itu adalah seorang anak dari pengusaha sukses ternama. Dan layak dijadikan putra mahkota. Bila dia mau bekerja di perusahaan Papanya. Maka tidak perlu banyak mengeluarkan energi agar dapat menduduki salah satu jabatan berpengaruh. Tetapi dia tidak memanfaatkan kesempatan itu. Dia lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain meninggalkan nama besar orang tuanya. Bersusah payah mencari pekerjaan kesana-kemari. Hingga akhirnya ada satu perusahaan yang mau memperkerjakannya.


Entah hanya perasaan Syifa saja atau memang benar. Tiba-tiba saja dirinya merasa ada yang mengawasi. Pandangan sinis dari para tetangga pun ia rasakan. Mungkinkah Syifa punya dosa atau masalah kepada mereka. Sehingga mereka bersikap seperti itu.


Suatu sore di hari Sabtu. Syifa baru saja selesai mandi dan berpakaian lengkap. Mendadak terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras disertai suara teriakkan dan suara gaduh lainnya.


"Ayo keluar!"


"Cepat keluar!"


Gadis itu mendengus kesal telah terusik ketenangannya. Dalam hati ia ingin sekali mencaci maki orang tersebut agar tidak mengulanginya lagi. Pintu pun dibuka. Alangkah terkejutnya ia melihat begitu banyak warga yang terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak datang seakan ingin menyerbunya.


"Ini dia orangnya!" seru salah seorang pria berkumis tipis yang berdiri paling depan.


"Iya dia orangnya." sahut yang lain.


"Udah seret aja." cetus yang lainnya lagi seraya mengacungkang golok.


Syifa terperanjat kaget. Ia mundur satu langkah ke belakang. Meneguk ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Matanya nanar melihat begitu banyak orang dengan suara gaduh. Sorot mata mereka tajam, seakan sedang mengancam dan siap menerkam, membuat sekujur tubuh gadis muda itu menggigil ketakutan. Kontan ia berteriak.


"Zik ... Zikra ..."


Zikra yang masih berada di dalam kamar mandi. Baru saja menanggalkan bajunya hanya memakai celana kolor, buru-buru keluar melihat apa yang sedang terjadi di depan.


Sontak semua orang histeris melihat penampilan Zikra yang bertelanjang dada. Pemuda itu pun ikut histeris.  Menutupi badannya dengan kedua tangannya.


Mereka semua menuduh Syifa dan Zikra telah melakukan perbuatan mesum tanpa ikatan tali pernikahan. Zikra dan Syifa tidak tinggal diam. Keduanya ingin menjelaskan. Namun mereka tidak memberikan kesempatan untuk memberi penjelasan. Mereka semua nekad ingin mengarak sepasang muda-mudi itu keliling komplek.


Atas aduan seorang warga tentang keramaian yang terjadi Pak Rt mendatangi rumah Zikra. Pria paruh baya itu langsung bertindak sebagai hakim untuk menengahi keributan yang terjadi.


Di dalam ruang tamu yang tidak terlalu besar. Pak RT, Zikra dan Syifa, serta beberapa orang warga duduk bersama. Sementara yang lainnya duduk di teras rumah.


Pak RT meminta laporan dari masing-masing pihak terkait. Terutama dari pihak warga yang telah menyatroni rumah Zikra. Dari kesaksian warga barulah diketahui, bahwa ibu Astuti, wanita yang pernah datang ke rumah Zikra tempo hari bersama putrinya, telah memberikan informasi kepada warga. Dia mengatakan, Zikra tinggal bersama seorang gadis tanpa ikatan pernikahan.


Informasi yang berkembang menjadi fitnah. Walau pada kenyataannya benar Syifa tinggal serumah dengan Zikra. Tetapi keduanya tidak kumpul kebo seperti gosip yang beredar.


Syifa menangis dalam pelukan Zikra. Ia sangat ketakutan.


Akhirnya Pak RT memberi penjelasan kepada semua warga yang hadir. Zikra dan Syifa memang tinggal bersama. Keduanya telah resmi menikah secara agama.


Wajah semua warga tampak merah padam menahan malu. Mereka langsung meminta maaf kepada Syifa dan Zikra telah menggrebek rumah mereka karena termakan informasi yang belum jelas kebenarannya.


Ketegangan berakhir damai dengan saling maaf-memaafkan.


"Dek Syifa, maafin Tante ya," ujar ibu Astuti tertunduk malu. "Tante enggak bermaksud ingin menyebarkan berita hoax. Kalo seandainya Dek Syifa ngomong terus terang waktu itu, pasti Tante enggak salah faham kayak gini, kan?" lanjutnya membela diri. Memeluk tubuh Syifa yang kurus.


Dasar Tante ini, apa maksudnya ngomong begitu. Mau cuci tangan aja.


Syifa tersenyum kecut.


Zikra menghela nafas lega.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2