Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Obrolan Malam (Part 2)


__ADS_3

"Mengapa kamu menolak Tasya yang jelas-jelas bisa menolong kita?" gugat Mama saat Zikra datang menjenguk Surya di rumah sakit.


"Karena aku sudah menikah, Ma. Aku enggak mau menodai bahtera rumah tangga aku dengan kehadiran orang ketiga." sahut Zikra mantap.


"Kamu bodoh, Zikra!" umpat Mama geram dengan sikap keras kepala putra sulungnya. Dia sangat murka dengan jalan pikiran putranya itu. "pelet apa yang sudah gadis ingusan itu berikan padamu sampai bisa kamu tunduk dan bertekuk lutut seperti ini?"


Zikra sangat terkejut mendengar tuduhan tak berdasar dari orang yang sangat disayangi dan dihormatinya. Tidak seharusnya wanita yang telah melahirkannya bersikap tidak baik terhadap istri dari putranya sendiri.


"Ma, tolong jangan menjelekkan Syifa seperti itu. Bagaimana pun dia istriku, menantu Mama." pinta Zikra lirih.


"Hng! Menantu?" Mama tersenyum miring sinis. "Mama enggak pernah mau menganggap gadis ingusan itu sebagai menantu keluarga Surya Atmaja." raut wajahnya menampilkan semburat kebencian kepada Syifa.


"Lebih baik kamu menikah saja dengan Tasya. karena hanya Tasya yang lebih pantas menjadi istrimu dari pada gadis ingusan itu. Dengan menikahinya, maka perusahaan kita akan keluar dari krisis. Selain itu, kamu akan mewarisi Wardhana Grup. Karena Tasya adalah satu-satunya pewaris tunggal dari Wardhana Grup."


"Ma..."


"Sebaiknya kamu tinggalkan saja gadis itu. Dia tidak bisa memberikan keuntungan apa-apa untuk keluarga kita, juga perusahaan kita." tukas Mama tidak membiarkan Zikra untuk berbicara untuk membela Syifa. Zikra terdiam dengan raut wajah sedih.


"Jangankan untuk membantu keuangan perusahaan kita yang sedang krisis, memberikan keturunan bagi keluarga Surya Atmaja saja dia tidak bisa." tambahnya ketus. Selama ini wanita itu hanya tahu Zikra dan Syifa tidak pernah berhubungan badan karena berada di kamar yang terpisah.


Zikra menyeringai kecil.


"Mungkin untuk menolong perusahaan kita dari krisis Syifa enggak akan bisa. Tetapi... untuk persoalan keturunan, Mama tunggu saja..." ucapnya penuh percaya diri.


"Apa maksudmu?" Mama mendelik tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Mama doakan aja agar aku dan Syifa segera mendapatkan keturunan."


"Itu tidak mungkin!"


*

__ADS_1


Zikra menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu jadi bengong?" tegir Syifa menghenyakkan Zikra dari lamunannya.


Zikra menoleh ke arah Syifa yang sedang berbaring menyamping menghadap ke arahnya. Dia tersenyum melihat raut wajah lelah gadis itu sambil membelai puncak kepalanya. Membenamkan satu kecupan yang dalam di sana. Kecupan sayang dan terima kasih telah mengizinkan menyimpan benihnya di dalam rahim Syifa. Walau pun sampai detik ini dia belum mengetahui perkembangan yang terjadi di dalam sana.


"Kondisi Papa saat ini sudah menunjukkan tanda-tanda yang cukup baik." jawab Zikra pelan sambil memiringkan tubuh hingga saling berhadapan dengan Syifa. Tangan yang tadi digunakan menjadi bantal di kepalanya, kini sudah berindah posisi menjadi di atas pipi mulus istrinya bersih. Mengelus sayang.


"Baguslah. Tapi... aku belum sempat jenguk Papa. Apa Papa bakalan marah sama aku?" tanya Syifa khawatir.


"Kamu tenang aja. Aku udah bilang ke Papa kalo kamu masih sibuk kuliah. Dan, Papa sangat memahaminya."


"Tapi enggak gitu juga, Zik... " sanggah Syifa. "walau bagaimana pun aku harus jenguk Papa di rumah sakit."


"Oke. Nanti kita ke rumah sakit bersama-sama jenguk Papa." sahut Zikra menenangkan.


Syifa tersenyum kecil. Sepasang netranya bersitatap dengan netra milik Zikra seakan saling mengunci antara satu sama lain. Tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya yang ranum. Ia hanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan Zikra pada pipinya. Ia merasa sayang disayang. Juga membuatnya melayang. Dalam hati ia berharap hanya dia untuk selamanya dan takkan tergantikan.


Ekspresi wajah gadis itu tampak berubah-ubah. Antara senang, sedih dan haru secara bergantian.


"Terus... bagaimana keaadan mereka semua?" tanyanya tidak sabaran sambil terlonjak duduk dengan tangan memegang erat ujung selimut agar tidak melorot. Hilang rasa lelahnya setelah pertempuran panas bersama Zikra.


Zikra terdiam sejenak. Ikut beranjak duduk. Memperhatikan raut gelisah yang terserat di wajah Syifa. Dia tidak ingin salah berbicara dalam hal ini. Dia tidak ingin membuatnya kecewa apalagi sampai menangis.


"Zik... kenapa dia aja? Ayo ngomong dong."


"Ah, iya." sahutnya sedikit terkejut saat Syifa mendadak menepuk bahunya pelan.


"Zik... kamu kenapa? Lagi enggak sakit kan?"


"Enggak kok Yank. Aku masih fit kok. Kalo kamu minta nambah, aku masih kuat buat satu atau dua ronde." Zikra mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"I-ih... mulai deh, penyakit mesumnya kumat lagi." keluh Syifa geregetan.


"Ya ampun, Yank. Kamu tega banget bilang aku punya penyakit mesum."


"Maaf...." Syifa tampak menyesal mengucapkan kalimat itu. Wajahnya tertunduk merasa bersalah.


Zikra merangkum wajah Syifa dengan menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi gadis itu. Memaksa Syifa untuk membalas tatapan mata Zikra. Lalu mengecup kening Syifa lembut. Setelah itu memeluknya erat. Dengan perlahan dia mengatakan hasil penyelidikannya kepada Syifa.


"Jadi, udah sejak lama Ayah, Bunda dan Ade udah enggak tinggal di Batam lagi?" telisik Syifa menampakkan ekspresi keterkejutan sambil menepis pelukan Zikra. "terus... kalo mereka udah enggak lagi di sana, seharusnya pulang ke sini kan? Tapi... mengapa sampai sekarang mereka enggak ada kabar?"


"Itulah yang masih aku selidiki. Kamu tenang aja, aku udah menyewa beberapa detektif handal untuk melacak keberadaan mereka. Jika udah ketemu, kita akan menjemput mereka sama-sama. Gimana... kamu setuju kan?" bujuk Zikra untuk menghibur istrinya tercinta. Syifa mengangguk setuju.


"Makasih ya, Zik. Karena kamu mau repot-repot bantu aku mencari keberadaan keluarga aku..."


"Sshhtt!" potong Zikra sambil menempelkan jari telunjuk kanannya pada bibir Syifa. "sekarang sebutannya bukan lagi keluarga aku, atau keluarga kamu. Tapi keluarga kita." lanjutnya disambut dengan anggukan Syifa dan pelukan haru.


Air mata Syifa jatuh membasahi punggung Zikra.


Zikra mengelus punggung Syifa lembut.


Tidak ada kata yang tepat untuk menyatakan betapa berharganya bantuan Zikra selama ini, selain ucapan terima kasih. Ia pun tidak bisa membalas kebaikan lelaki itu dengan setimpal. Hanya pengabdian sebagai seorang istri yang baik yang dapat dilakukannya. Walau pun tidak akan membayar lunas atas kebahagiaan yang dirasakannya selama mendampingi Zikra. Dalam hati ia bertekad akan selalu memberikan cinta dan kasih sayangnya teruntuk Zikra seorang.


Malam semakin larut. Setelah pembicaraan dirasa sudah selesai, Syifa dan Zikra memutuskan untuk tidur. Keduanya tidur sambil saling berpelukan.


Bersambung...


***


πŸ™‹ Hai, readers! πŸ™ Maaf ya, kalo update-nya telat. Soalnnya author sempat kehilangan mood menulis πŸ€— dan hampir kehilangan jejak inspirasi πŸ€” untuk mencari benang merah cerita. ✌️ Maklum efek susah membagi waktu antara pekerjaan di dunia nyata dan dunia maya πŸ˜‡πŸ˜‡. Alhamdulillah, akhirnya episode ini rampung jugaπŸ˜‚πŸ˜‰. πŸ™βœŒοΈ Mohon ditunggu aja episode selanjutnya ya ✌️. πŸ™ Maaf banget kalo masih telat update. πŸ€—πŸ€—Jangan lupa kasih vote, like n komen ya. kalo bisa kasih tip juga ya 🀭🀭🀭( 😁😁 jadi ngelunjak ya? πŸ€ͺπŸ€ͺ). πŸ™βœŒοΈπŸ€—Jangan bosan baca karya aku.❀️❀️ Luv u all!


Happy reading... ✌️😁😁

__ADS_1


__ADS_2