Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Daftar Misi Cinta


__ADS_3

Pagi ini, Zikra terlihat tidak seceria hari kemarin. Rona wajahnya tampak muram tertutup awan mendung. Entah


apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Hanya dia yang tahu. Sepertinya dia tidak ingin membaginya kepada siapa pun. Termasuk Bonang dan Rifa'i. Tetapi suasana hati yang memburuk tidak bisa ditutupinya. Terpaksa mencurahkan segala kegundahannya pada sahabat-sahabat terbaiknya.


Di kantin kantor saat jam makan siang. Bonang membawa nampan makan siangnya. Kemudian di letakkan di atas meja kantin bersamaan dengan Zikra dan Rifa’i.


Zikra menceritakan perihal rumah tangganya bersama Bonang dan Rifa'i. Dia pun menceritakan tentang Ayu yang kembali hadir dalam hidupnya. Seakan ingin memisahkannya dari Syifa.


Kontan Bonang dan Rifa'i terkejut dengan semua yang diucapkan Zikra. Terlebih Bonang yang terlanjur jatuh hati pada gadis itu. Dia tidak mengira cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Pemuda berambut keriting keribo itu tampak sedih.


"Yah, patah hati lagi deh gue," decak Bonang putus asa.


"Sabar, Nang. Masih banyak ikan di laut," ujar Rifa'i menenangkan.


Bonang mendengus resah.


Rifa'i nampak tidak terkejut. Diam-diam dia sudah memperhatikan gerak-gerik Ayu yang pelan tapi pasti mencari celah hubungan antara Zikra dan Syifa. Dia pun dapat menerkanya dengan mudah tujuan Ayu mendekati mereka.


"Elo enggak bisa diam aja, cuma jaga gawang doang enggak ada gunanya." imbuhnya.


Zikra hanya diam. Berpikir keras demi keharmonisan rumah tangganya.


Bonang menyisir rambut keritingnya dengan jari.


"Terus, apa rencana Lo kedepannya, Zik?" selidik Bonang.


“Elo harus memilih Zik,” cetus Rifa’i memberi masukan pada Zikra yang sedang galau.


“Elo juga harus bersikap tegas. Jangan pliya-pliye,” sambung Bonang.


Zikra hanya terdiam menikmati menu makan siangnya sedikit demi sedikit.


“Cewek itu butuh kepastian,” imbuh Rifa’i. “jangan digantungin kayak jemuran basah.”


“Gue rasa udah kasih dia kepastian dengan menikahi dia,” sahut Zikra mantap.


“Tapi elo udah ungkapin perasaan elo ke dia belum?” selidik Rifa’i serius.


“Maksudnya?”


“Zik, cewek itu rumit. Terkadang kita sebagai cowok udah kasih dia perhatian lebih, tapi dia bilang cowok PHP. Terus, kita bilang I love you, dia bilang gombal. Bahkan kita udah jadian, tetap aja dia masih meragukan kita sebagai cowoknya. Maka dari itu gue kasih tahu sama elo. Jangan mentang-mentang elo udah nikahin dia, terus elo merasa udah aman. Kenyataan enggak semudah kita membalikkan telapak tangan,” tutur Rifai’i menjelaskan.


Zikra mengunyah makanan di dalam mulutnya perlahan. Mencerna semua ucapan Rifa’i pelan-pelan agar tidak keliru.


"Gue rasa elo harus bersikap lebih agresif lagi deh." cetus Bonang.


"Agresif?" Zikra mengulangi tidak mengerti.


"Iya. Wajar dong kalo elo sebagai seorang lelaki sekaligus seorang suami agresif dikit. Misalnya elo yang nyosor duluan."


"Ah, elo Nang. Bahasa lo enggak bisa lebih jelas lagi? Nyosor? Udah kayak bebek aja," seloroh Rifa'i.


"Ini gaya gue. Terserah kalo elo. Yang jelas elo ngerti kan, Zik?"


Zikra hanya diam.


"Oya. Elo udah ngelakuin itu belum?" bisik Bonang seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Zikra.


"Apaan sih lo?" wajah Zikra tampak memerah.


"Nah, ketahuan ternyata elo masih belum ngelakuinnya kan?" tebakan Bonang sangat tepat. "ya ampun Zik, jangan lama-lama elo anggurin si Syifa. Kasihan dia. Walau bagaimanapun dia butuh kehangatan elo. Selain itu elo juga bisa dosa. Ingat, kewajiban seorang suami bukan cuma kasih nafkah lahir doang. Tapi nafkah batin juga perlu."


Zikra terdiam tidak bisa menyanggak ucapan Bonang. Rona wajahnya bertambah merah karena menahan malu.


*


Pada saat yang bersamaan Syifa dan Nadya duduk di kantin kampus menunggu jam masuk mata kuliah berikutnya. Di tengah asyiknya obrolan entah mengapa mendadak Syifa teringat peristiwa Zikra mencuim keningnya. Refleks tangan kanannya menyentuh keningnya pelan.


“Kenapa jidat lo, Pa? Kok nyentuhnya gitu banget?” tegur Nadya.


“Ah, enggak papa kok, Nad,” kilah Syifa sedikit gugup. Tersenyum malu.


“Kalo enggak papa, kenapa cara menyentuh keningnya pake penghayatan banget. Jadi curiga gue.”


“Apaan sih lo, Nad? Jangan mengada-ada deh, pake bilang curiga segala. Emangnya gue penjahat yang harus dicurigai.”

__ADS_1


“Aaahhh ... gue tahu nih ... jangan-jangan elo udah …” Nadya sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Bola matanya membulat. Tangan kanannya memberi kode dengan menggerakkan dari mulut ke dahi berulang-ulang secara bergantian.


Wajah Syifa merona merah, tersipu malu.


“Tuh kan, apa kata gue. Bang Zikra sebenarnya udah naksir sama elo. Tapi elo-nya aja yang enggak pd-an.”


“Apa mungkin begitu? Gue kan enggak punya pesona seperti mbak Ayu.”


“Elo enggak boleh menyerah begitu aja, Pa. Elo harus yakin, juga pd. Biar pun tampang elo biasa-biasa aja, elo kudu percaya sama perasaan lo sendiri.”


Syifa terdiam sejenak. Mengingat apa saja yang telah dilewatinya bersama Zikra. Tiba-tiba ia senyum-senyum sendiri.


"Nah lho! Lagi mikirin apa?"


"Jangan rese deh, Nad. Gue enggak mikir yang macam-macam, gue cuma ..."


"Cuma apa?" goda Nadya. "cuma inget waktu Bang Zikra cium bibir elo?"


"Ih, sembarangan lo, Nad," kontan Syifa menampar pelan punggung Nadya. Hingga mengaduh kesakitan. "gue sama dia enggak sejauh itu."


"What?!"


Syifa menutup mulut Nadya dengan tangannya sendiri agar suara pekikkannya tidak mengganggu orang lain.


"Jadi, selama ini elo belum ngapa-ngapain sama Bang Zikra?" Nadya menekan volume nada suaranya menjadi lebih pelan. "wah, elo masih waras apa enggak sih, Pa?"


"Maksud lo, gue gila gitu?" kali ini suara Syifa meninggi.


"Bukan begitu, Pa. Cuma gue heran aja. Di saat banyak cewek yang ngantri pingin dekat sama Bang Zikra, elo satu-satunya cewek yang paling beruntung. Tanpa banyak tenaga maupun korban perasaan, elo bisa jadi istrinya. Sekarang elo mau sia-siain begitu aja."


Syifa terdiam membisu.


"Pa, jujur deh sama gue. Sebenarnya elo suka enggak sih sama Bang Zikra?"


Syifa tampak gugup.


"Yakin elo enggak jatuh cinta sama dia?"


"Gue ... gue ..."


Kontan Syifa menoleh ke sumber suara. Diikuti oleh Nadya melihat ke arah yang sama.


"Mbak Ayu."


Gadis itu Ayuniatara, menyeringai ramah.


Syifa mengenalkan Ayuniatara kepada Nadya. Mereka saling berjabat tangan menyebutkan nama masing-masing. Mereka langsung terlihat akrab.


Tetapi tidak dengan Syifa. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran gadis itu. Meskipun demikian ia berusaha tidak memperlihatkannya.


Selang beberapa menit. Ayu meminta Syifa untuk berbicara secara pribadi. Tanpa diminta Nadya langsung berpamitan masuk kelas. Dia seakan mengerti apa yang hendak dibicarakan antara Syifa dan Ayu tidak melibatkan dirinya.


Setelah Nadya pergi. Tanpa basa-basi Ayu meminta agar segera meninggalkan Zikra. Pemuda yang kerap dipanggilnya Fatir. Tanpa malu gadis itu ingin mengulang kisah cintanya bersama Zikra.


"Maaf mbak, kami udah nikah. Jadi mbak enggak bisa meminta seenaknya agar aku meninggalkan Zikra." tukas Syifa.


"Kalian enggak saling mencintai, mana mungkin kalian bisa bahagia? Toh, kalian hanya nikah siri. Jadi gampang dong mengurus perceraian kalian."


Syifa tersentak kaget. Meskipun ia tahu pernikahannya dengan Zikra tanpa dilandasi cinta. Tetapi ia tidak ingin berpisah dengan cara seperti yang diinginkan Ayu. Apalagi setelah beberapa bulan tinggal bersama, kini ada perasaan yang tumbuh mengisi relung hatinya. Tentu saja ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau, jika kamu mau meninggalkan Fatir untukku," ucapannya sebagai penawaran yang menggiurkan. "pikirkan baik-baik. Kalo kamu udah siap tolong segera temui aku."


Gadis itu berlalu pergi meninggalkan Syifa dalam kesedihan. Kisah cinta yang pernah diukirnya bersama Zikra, membuatnya yakin dapat merebut sang Arjuna dari pelukan Syifa.


Syifa hanya mampu menelan rasa sedihnya. Ia tidak bisa membantah setiap kalimat yang meluncur dari bibir ranum Ayu.


"Kami saling mencintai. Tolong biarkan kami bahagia. Tinggalkanlah Fatir, carilah cowok lain yang kamu sukai. Aku doakan kamu bahagia bersamanya," begitu ucap Ayu mengiba siang tadi masih terngiang di telinga Syifa.


"Salah! Label harga itu untuk mie instan!" seru Panji.


Syifa tersadarkan dari lamunannya. Kontan ia menoleh ke sumber suara. Tergugup menerima label harga makanan ringan dari Panji. Rekan kerjanya di salah satu mini market. Pemuda itu pula yang menawarkan pekerjaan tersebut kepadanya. Ketika Syifa sedang butuh pekerjaan karena Ayahnya tidak lagi mentranfer uang bulanan. Akhirnya ia memutuskan bekerja paruh waktu di mini market miliki Paman Panji yang kebetulan sedang membutuhkan karyawan baru.


Hampir satu bulan lebih Syifa kuliah sambil bekerja. Terkadang ia terpaksa membolos kuliah bila berbenturan dengan jam kerjanya. Selama itu pula ia tidak memberi tahu kegiatannya diluar kampus. Karena ia tahu Zikra tidak akan mengizinkannya bekerja mencari uang. Tidak terbayangkan bila Zikra mengetahui rekan kerjanya adalah Panji. Pemuda yang sempat membuat Zikra patah hati.


"Sori, gue enggak teliti," sahutnya canggung. Menundukkan wajah melihat label harga yang baru diterimanya dengan menyocokkan dengan makanan ringan yang tertera.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Panji seraya menatap Syifa tajam.


Syifa hanya diam. Tetap konsentrasi dengan pekerjaannya.


"Elo lagi mikirin gue, ya?" celoteh Panji bergeming dari sisi Syifa.


Gadis itu menoleh geram sekilas. Menggelengkan kepala, mendengus sebal tidak ingin menanggapi.


"Makanya terima gue, pasti kejadiannya enggak begini." katanya sedikit memaksa. Sudah berulang kali Panji mengutarakan perasaannya kepada gadis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak awal bertemu, hanya ditanggapi dingin olehnya.


"Apaan sih Ji? Jangan bikin ribut deh. Gue lagi konsen nih, ogah bercanda," kilah Syifa, beranjak pergi ke rak berikutnya.


"Gimana kalo malam minggu besok kita nonton di bioskop. Kebetulan ada film baru yang lagi tayang," cetus Panji sambil mengekor di belakang Syifa.


Syifa mendadak mendongakkan kepalanya menatap kesal pemuda keras kepala itu. Sudah berkali-kali ditolaknya namun tidak jua pantang menyerah. Seandainya ia mendapatkan pekerjaan baru semudah memabalikkan telapak tangan. Pasti ia sudah angkat kaki dari sini. Agar terbebas dari rayuan maut buaya darat seperti Panji. Ia pun khawatir tembok pertahanan hatinya akan runtuh bila setiap hari diketuk berulang kali.


Dasar playboy cap tutup botol! decak Syifa dalam hati.


"Enggak mau."


"Kenapa sih elo nolak melulu, setiap kali gue ajak jalan?"


"Gue udah punya pacar. Dari pada malam mingguan sama cowok kayak elo, mending sama pacar gue," sahut Syifa ketus.


Syifa terpaksa menutupi status pernikahannya demi mendapatkan pekerjaan. Pasalnya syarat utama menjadi karyawan di tempat itu adalah berstatus single. Ia tidak bisa membayangkan jika status pernikahannya diketahui oleh pihak managemen. Karena pada saat itu sudah pasti mereka akan langsung memecatnya. Dan sudah dipastikan ia akan menjadi pengangguran. Kuliahnya pun akan terhambat atau malah bisa berhenti total.


"Ya udah putusin aja pacar lo. Abis itu elo jadian sama gue."


"Ngomong sama ember sana!" sungut Syifa seraya menyerahkan sisa label yang ada di tangannya ke dada Panji kasar. Beranjak pergi dari hadapan pemuda tengil itu.


Panji menundukkan kepala seraya memegangi tabel itu. Lalu menoleh ke arah Syifa. Namun gadis itu sudah hilang di balik rak bumbu dapur.


"Kemana tuh cewek perginya. Cepat banget hilangnya?" gumamnya.


*


Zikra tiba di rumah. Langsung memasukkan sepeda motornya ke dalam ruang tamu. Dia membuka pintu kamar Syifa, ingin memastikan keberadaan gadis itu. Mungkin dia masih belum selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Pikirnya mengingat chat dari Syifa yang dikirim sore tadi. Setelah itu Zikra masuk ke dalam kamarnya yang terletak di sebelah kamar Syifa.


Setelah selesai mandi dan ganti pakaian Zikra duduk di atas kasurnya. Tiba-tiba dia tersenyum mengingat rencana yang disusunnya bersama Rifa'i dan Bonang. Rencana untuk menyatukannya dengan Syifa sebagai suami-istri. Namun Bonang lebih suka menyebutnya 'Misi Cinta'. Kemudian dia mengeluarkan sehelai kertas yang dilipat kecil dari saku tas kerjanya. Membuka lipatannya hingga terbuka sempurna. Ada sejumlah daftar misi cinta telah tertulis rapi.


Misi cinta pertama mengajak Syifa kencan di tempat romantis.


Misi cinta kedua mengutarakan perasaan kepada Syifa dengan bunga.


Misi cinta ketiga ... masih berbentuk tanda tanya besar. Karena menunggu hasil Misi cinta pertama dan kedua.


Zikra melipatnya kembali kertas itu ke bentuk semula. Meletakkan di atas meja kerjanya. Diliriknya jam tangan hadiah pemberian Syifa, masih melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam setengah sepuluh malam," gumamnya risau. "masih lama enggak ya, dia pulangnya?"


Zikra beranjak berdiri. Menyambar jaket baseball yang tergantung di balik pintu seraya bergerak keluar. Tidak lupa kunci sepeda motornya yang diambil dari atas meja. Menghidupkan mesin sepeda motor, setelah sebelumnya dikeluarkan dari dari dalam rumahnya. Memakai helm. Sedetik kemudian menarik gas sepeda motornya, melesat pergi membelah jalan raya yang sedikit mulai lengang.


Rasa khawatir yang begitu besar pada Syifa membuatnya lupa akan rasa lelahnya setelah seharian bekerja di kantor. Tidak pernah dia merasakan sekhawatir ini sebelumnya. Meskipun pernah merasakan rasa cinta yang sangat pada gadis lain. Namun hanya Syifa yang mampu membuatnya didera rasa gelisah. Entah apa sebabnya dia begitu. Dia hanya tahu, ingin membuat gadis itu bahagia selama ada bersamanya.


Zikra menghentikan laju sepeda motornya tepat di depan Syifa. Gadis itu tampak terlonjak kaget. Tanpa mematikan mesin motornya, pemuda itu turun. Serta merta memeluk tubuh gadis itu erat.


Sejenak Syifa membeku mendapat pelukan hangat. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Zikra bersikap aneh seperti itu.


"Zik, kamu enggak papa?" tegur Syifa seraya menepuk punggung Zikra.


"Jangan tinggalkan aku!"


Hah?! Syifa speechless.


"Kamu mau pergi kemana?" Syifa menatap bingung. Berdiri di depan pintu.


Zikra terhenyak dari lamunannya. Tersadar ternyata dia belum pergi kemana pun. Kedua tangannya masih memegangi tali helm yang sedang dipakainya.


"Hah?! Aku ... aku ..."


"Bisa kamu geser sedikit? Aku mau masuk," ucap Syifa dingin. Lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Zikra hanya diam seraya menatap kepergian Syifa hingga menghilang di balik pintu kamarnya. Dia menghela nafas panjang. Dilepaskannya helm dari kepalanya. Diletakkan kembali ke atas kaca spion motornya.


Sial! Ternyata aku halu? Memalukan!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2