
Pagi ini Zikra mengizinkan Syifa kembali kuliah. Setelah dua hari kemarin membuat istrinya meliburkan diri dari kampusnya. Sejak mengenal surga dunia (versi Zikra sendiri) pada malam penyatuannya dengan Syifa untuk pertama kali. Entah mengapa dia sangat kecanduan dengan aroma tubuh gadis itu. Walaupun inti sesungguhnya bukan cuma itu saja. Zikra selalu ingin mengulangi kenikmatan yang luar biasa itu. Untungnya hubungannya dengan Syifa sudah halal. Jadi, dia bisa kapan pun bisa melampiaskan hasrat kelelakiannya tanpa rasa was-was atau pun takut dosa.
Mungkin Zikra harus berterima kasih pada Surya dan Fauzi yang telah menikahkannya dengan Syifa. Meskipun saat itu proses pernikahannya tidak berjalan sewajarnya pernikahan pada umumnya. Karena pernikahn itu terjadi atas permintaan Uwanya Syifa yang sedang sekarat. Sudah pasti baik Zikra maupun Syifa melakukannya dengan sangat terpaksa. Tidak kebahagiaan apalagi keikhlasan dihati keduanya. Termasuk Bundanya Syifa atau pun Mamanya Zikra. Parahnya, setelah proses ijab qobul selesai Uwa menghembuskan nafas terakhir dan menghadap Sang Kholik. Sontak semua yang hadir terkejut dan berduka.
Tapi ada yang membuat Zikra lebih berduka. Yaitu permintaan cerai Syifa yang begitu tiba-tiba. Dia sangat mengerti dengan keputusan Syifa pada saat itu. Pada hari kelulusannya dengan mata sembab ia mengajukan permintaan itu agar tetap bersama keluarganya dan ikut pindah ke Batam. Zikra sangat memaklumi keputusan gadis itu yang terkesan tergesa-gesa. Apalagi belum ada cinta yang mengikat hatinya kepada Zikra. Syifa sangat mudah mengucapkan hal itu tanpa memikirkan perasaan Zikra saat itu.
Zikra tidak menolak atau menerimanya, hanya diam sambil berpikir dan menimbangnya. Namun kebimbangannya diputuskan oleh Fauzi. Pria berkumis tipis itu menitipkan Syifa kepadanya. Dan memintanya menjaga harta berharganya sebagai orang yang telah diberi kepercayaan penuh. Lantaran Zikra sudah resmi menjadi suami Syifa berdasarkan hukum agama. Serta tetap mengizinkan Syifa untuk melanjutkan studinya di salah satu perguruaan tinggi swasta.
Sekuat tenaga dan mental Zikra berusaha menjadi suami yang baik tanpa memaksakan kehendaknya. Walau pun beberapa kali dia harus berusaha menahan gejolak jiwa yang meronta dari dalam dirinya acap kali berdekatan dengan Syifa. Apalagi kedua temannya yang selalu memprovokasinya untuk melakukan hubungan badan layaknya hubungan suami-istri pada umumnya. Membuatnya sering dilanda resah karena dia tidak ingin menyentuh istrinya yang masih labil akibat rasa sedih telah ditinggal keluarganya pergi keluar pulau Jawa.
Alhasil, kesabaran memang selalu berbuah manis untuk sesuatu yang suatu kenikmatan hakiki. Bukan hanya mendapatkan kenikmatan lahir bati, juga mendapat kepuasan hati karena pada akhirnya Syifa membalas cinta Zikra. Hingga penyatuan mereka benar-benar bermandikan cinta yang besar dan bayak.
Dering suara ponsel yang berada di atas meja kerja Zikra, memecah keheningan ruangan kerjanya yang besar. Sejenak ia menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi sibuk memeriksa beberapa dokumen tertumpuk agak rapi di hadapannya.
Ditatapnya nama yang tertera di layar. Rupanya Rifa'i yang menghubunginya. Sudah lumayan lama dia tidak berjumpa dengan sahabatnya itu. Sejak mengundurkan di perusahaan lama nyaris tidak ada komunikasi di antara mereka. Mendadak dia pun merindukan temannya yang lain. Yaitu Bonang, alias si keribo. Ingin sekali dia mendengar celoteh dan selorohnya yang selalu membuatnya dongkol tapi menghibur.
Tanpa menunggu lama Zikra menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Halo." Zikra memulai percakapan sambil meletakkan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.
"Halo, apa kabar Pak Bos?" tanya dari seberang sana.
Zikra tersenyum bahagia.
Setelah beberapa menit mereka berbicara via telepon. Mereka memutuskan bertemu pada saat jam makan siang di restoran favorit mereka.
Zikra tersenyum lebar menyambut kedatangan Rifa'i yang juga berbarenagan dengan Bonang. Kebetulan Zikra datang lebih dulu dari pada mereka berdua. Dan memesan beberapa menu makanan dan minuman favorit untuk mereka bertiga. Dia berdiri mengepalkan tangan kanannya sambil mengadunya dengan kepalan tangan kanan Rifa'i dan Bonang secara bergantian, sebagai salam persahabatan ala mereka. Kemudian Zikra duduk ditempatnya semula. Sedangkan Bonang dan Rifa'i duduk di kursi yang bersisian dengan meja berbentuk persegi memisahkan mereka dengan Zikra.
__ADS_1
"Bro, lama enggak ketemu gue perhatiin... elo makin seger aja kaya ikan baru ditangkep dari laut. Hahah." tegur Bonang sambil terkekeh.
"Ah, elo bisa aja." Zikra tersenyum malu.
"Parah lo, keribo! Masa orang ganteng begini disamain sama ikan laut?" keluh Rifa'i. "amis, tahu!"
"Ya ilah... elo sensian banget sih, 'I? Kaya cewek lagi datang bulan aja lo." balas Bonang. "itu kan cuma istilah doang."
"Udah, udah, kalian berdua tuh masih aja seperti ini. Ribuuut... melulu." keluh Zikra.
"Elo kaya enggak tahu si keribo aja, Zik. Dia kan emang begitu." sahut Rifa'i memojokkan Bonang.
"Elo juga begitu 'I." balas Bonang tidak mau kalah.
"Tapi itu yang bikin aku kangen sama kalian berdua." Zikra tersenyum.
"Btw. Gimana hubungan lo sama Syifa udah ada perkembangan?" tanya Rifa'i ingin tahu. Mengingat setelah acara kejutan di taman komunikasi mereka sempat terputus karena kesibukan masing-masing.
Begitu pula dengan Bonang yang juga tidak banyak tahu tentang perkembangan hubungan Zikra dan Syifa. Walau pun malam itu Syifa sempat datang dan menginap di rumahnya. Dia tidak banyak bertanya sampai tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
"Baik. Baik banget malah." jawab Zikra penuh semangat.
"Apa? Baik banget?" Rifa'i mengerutkan dahi meragukan ucapan Zikra. "maksudnya?"
"Ya .... baik." tandas Zikra.
Bonang tampak berpikir keras.
__ADS_1
"Wah! Jangan... jangan... elo udah..." Bonang tampak tidak yakin dengan pemikirannya.
Zikra hanya tersenyum lebar seakan mengerti yang Bonang maksud.
"Ah, seriusan?"
Zikra mengangguk. Bonang langsung tertawa girang sambil menepuk bahu Zikra keras.
"Hebat... hebat... akhirnya elo sukses juga. Gimana gampang gak bobol buat pertama kali?" Bonang sangat antusias.
"Ya... lumayan. Butuh tenaga ekstra." sahut Zikra polos.
Rifa'i mengernyit tidak mengerti apa yang sedang dibahas Zikra dan Bonang.
"Elo berdua lagi pada ngomongin apaan sih? Kok gue jadi bolot sendiri?" protes cowok berkacamata minus itu sambil merapikan kacamatanya yang sempat melorot.
Zikra dan Bonang tertawa melihat Rifa'i yang keder sendiri. Dia pun geram sendiri sambil menggosok tengkuknya yang tidak gatal dengan tangan kanannya.
Obrolan mereka terhenti sejenak ketika pelayan meletakkan makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Setelah itu mereka berlanjut dengan obrolan seputar pekerjaan di kantor masing-masing. Bonang dan Rifa'i pun mengabarkan tentang perusahaan tempat mereka bekerja sekarang sudah berganti kepemimpinan. Kini yang menjadi pemimpin perusahaan adalah Ayuniatara.
Zikra hanya diam sambil mengangguk pelan. Lalu menawarkan mereka untuk bergabung di perusahaan yang dipimpinnya saat ini. Tentu saja hal itu disambut hangat oleh mereka berdua.
Selesai makan siang Zikra, Rifa'i dan Bonang kembali ke perusahaan masing-masing.
***
Happy reading!
__ADS_1
🙏 Plis! 🙏 Plis! Jangan lupa kasih vote, like, n komen supaya bisa menaikkan level karya aku. Jangan bosen selalu mampir dan baca karya aku, juga karya aku yang lainnya dengan judul "Kesengsem Cinta Kembar" yang masih sepi vote, like n komen 🤭🤭🤭. Thanks buat yang selalu setia menunggu updatean karya aku dan membacanya. ❤️ Luv u all!