Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Aku Ingin Punya Anak


__ADS_3

Syifa berdiri mematung di dalam kamar mandi yang baru saja dimasukinya. Ia terperangah melihat kamar mandi mewah ala orang kaya yang terpapar nyata di depan matanya. Ia pun terlihat kecewa dan merutuk Zikra lantaran kamar mandi ini lebih luas dari kamar tidur yang dimilikinya di rumah lama Zikra maupun rumah kedua orang tuanya dulu.


Sebelum menanggalkan pakaiannya, Syifa bergerak maju mendekati bathtub. Sukses membuatnya berdecak kagum karena ukurannya yang besar. Sempat berpikir jika berendam di dalamnya ia akan mirip seperti bayi yang sedang mandi.


“Hng! Kalo mandi ada beginian, bisa-bisa gue bukan mandi malah jadi kepulesan di dalam sini.” Pikirnya sambil menyeringai dan mengelus pelan bathtub kosong itu. Kemudian ada hal membuatnya salut kepada Zikra. Ternyata dia telah menyiapkan perlengkapan mandi seperti sabun mandi, shampo bahkan pasta gigi sama dengan yang selalu Syifa beli setiap bulannya.


"Heh! Ternyata dia perhatian juga." gumamnya menyeringai girang menikmati aroma sabun mandi cair favoritnya di depan westafel.


Setelesai mandi Syifa langsung menuju ruang ganti yang juga berada satu ruangan dengan kamar tidurnya yamg dipisahkan oleh sekat tanpa pintu. Lagi, ia terkagum dengan segala apa yang ada di sana. Lemari besar dipenuhi berbagai macam perlengkapan. Mulai dari baju, celana, sepatu, bahkan pakaian dalam pun komplit sampai kacamata wanita (ehem! Bra) tentunya untuk Syifa ya.


Syifa kini mulai tersadar bahwa Zikra bukanlah orang biasa. Dengan apa yang dimilikinya kini membuat Syifa yakin jika suaminya adalah orang kaya.


Mungkinkah secepat itu Zikra mendapatkan kekayaan ini? Lalu dari mana datangnya semua hartanya ini? Masa sih dia ngepet (pelihara **** ngepet) atau ... ternak tuyul? Ih, na'udzubillah min dzalik deh. Gak mungkin Zikra seperti itu. Dia orangnya sholeh, pasti jauh sama yang begituan. Pikiran liar Syifa mendadak menggodanya. Namun langsung disangkalnya.


Syifa langsung keluar dari ruang ganti setelah kelar berpakaian rapi. Di sana ada Zikra tengah duduk tenang di pinggir kasur. Pemuda itu tampak sangat tampan dan sholeh dengan balutan baju koko putih dan kain sarung motif garis. Senyum hangat menyambut kedatangannya. Membuatnya kian terpesona dengan ketampanan suaminya yang tidak terelakkan.


Syifa pun langsung membalas senyuman Zikra dengan tersipu malu.


"Ayo!" seru Zikra tiba-tiba.


Hah!? Kok to the point banget sih? Tapi... mau ngapain ya?


"Kita sholat berjamaah." lanjut Zikra membuat Syifa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu tadi sempat gagal faham.


"Makanya kalo ngomong yang jelas dong, jangan dipenggal begitu." rutuk Syifa di dalam hati.


"Sebelum tidur, sebaiknya kita sholat dulu. Karena sedari pulang tadi kita belum sholat isya kan?" jelas Zikra yang langsung diiyakan oleh Syifa.


Zikra mengajak Syifa ke luar kamar. Kemudian berjalan menuju satu ruangan yang sengaja disiapkan untuk mushola pribadi. Ruangan itu terletak di sebelah kanan pojok dari kamar utama. Ruangan yang sengaja didesign lebih terbuka tanpa daun pintu agar memudahkan siapa saja yang ingin melakukan ibadah tanpa khawatir urusan kunci mengunci. Dindingnya didominasi oleh warna putih tulang dan hijau muda memberi kesan kesejukan. Dibagian lantai diberi karpet berbulu tebal supaya setiap orang yang beribadah di sana merasa lebih nyaman. Beberapa Al Qur'an tersusun rapi di rak yang terletak di suduk bersama beberapa buku agama. Dan sebuah lemari kaca untuk menyumpan mukena, sarung dan sajadah.


Di dalam hati Syifa sangat mengagumi Zikra sebagai pribadi yang cerdas. Pemuda itu tidak hanya mengedapakan kenyamanan rumah sebagai tempat tinggal. Dia juga mengatur tempat ibadah di dalam kediamannya, meskipun hanya sebuah ruangan dari sekian banyak ruangan yang ada di rumah itu. Selain itu dia juga mengatur sedikit ruangan untuk berwudhu di pojok luar mushola.


Syifa dan Zikra kembali ke kamar setelah selesai menunaikan sholat isya berjamaah, dan diakhiri dengan doa.


Zikra masuk ke dalam ruang ganti, menukar baju yang telah digunakan untuk sholat tadi dengan kaos putih polos dan celana pendek santai. Kemudian naik ke atas tempat tidur. Sontak Syifa terkejut. Ia sedari tadi duduk di pinggir tempat tidur tengah menunggunya berharap bisa segera kembali pulang ke rumah lama mereka.


"Lho, kamu kok malah naik ke tempat tidur sih? Pakai baju begitu lagi, emangnya enggak mau buru-buru pulang?" Syifa mengangkat satu alisnya tampak gusar.


Zikra hanya mesem-mesem tidak jelas.

__ADS_1


"Udah malam nih Zik. Aku kepingin cepat-cepat istirahat." Syifa menutup mulutnya yang sedang menguap.


Zikra menarik lengan Syifa iseng sampai terjatuh dalam pelukkannya.


"Eeh, kamu ..." Syifa langsung meronta namun tenaganya kalah kuat dengan kegagahan Zikra. Terpaksa ia hanya pasrah. Bahkan saat Zikra tiba-tiba memposisikan tubuhnya berada di bawah kungkungan Zikra.


Deg! Degup jantung Syifa berdetak kencang. Meskipun bukan yang pertama dirinya dalam posisi seperti ini. Namun rasa gugup dan debaran itu masih terasa seperti yang pertama.


"Ih, kamu apa-apaan sih?" rajuk Syifa manja pura-pura marah sambil memukul pelan dada Zikra.


Zikra tersenyum licik. Lalu mengecup kening Syifa lembut.


"Malam ini kita tidur di sini." ujar Zikra membelai wajah istrinya yang terlihat sangat imut di matanya. Ada pesona tersendiri yang terpancar dari wajah gadis itu. Membuatnya tidak jenuh untuk selalu dekat bersamanya. Dan memberikan rasa rindu jika berada jauh dari dirinya.


"Kenapa?" Syifa meminta penjelasan.


"Kenapa?" Zikra sengaja mengulangi pertanyaan Syifa seraya membelai surai Syifa lembut. "karena rumah ini juga rumah kita. Apakah kamu suka dengan rumah ini?"


"Hmm ... suka. Tapi ... aku lebih suka rumah yang lama." Syifa tampak ragu.


Dalam hati ia tidak menampik segala kemewahan dan kenyamanan yang ada di rumah ini. Tetapi rasa kekeluargaan dan kekompakan antar warga di lingkungan rumah yang lama membuatnya tidak kehilangan kasih sayang keluarga yang selama ini menghilang. Mama Dio yang selalu memperlakukannya seperti putri kandungnya membuat Syifa tidak kehilangan sosok bunda. Dan Dio sebagai pengobat rindunya kepada Ade. Jika pindah ke lingkungan rumah baru ia khawatir semuanya akan hilang dari pelukannya.


"Lebih suka rumah lama?" Sejenak Zikra terdiam. "tapi rumah ini lebih bagus dan lebih besar. Aku jamin kamu akan lebih nyaman tinggal di sini."


"Mungkin aku udah terlanjur nyaman kali." sahut Syifa asal-asalan.


"Dasar gadis bodoh!" Zikra mencubit hidung Syifa sayang. "jangan terlalu cepat berasumsi. Kamu baru merasakan tinggal di rumah ini malam ini. Siapa tahu kamu akan merasa lebih nyaman di sini setelah cukup lama tinggal."


Syifa tersenyum malu.


"Zik." panggil Syifa lembut yang kemudian dijawab dengan gumaman oleh Zikra. "bisa gak ... kamu agak jauh sedikit? Menurut aku, kita terlalu dekat." Syifa mengalihkan pembicaraan, sukses mengusik mood baik Zikra.


"Humph! Pasti canggungnya kumat lagi." rutuk Zikra merubah posisinya sedikit menjauh. "jadi, kamu mau usir aku nih?" tanyanya sinis.


"Ma-af." Syifa berusaha meminta pengampunan.


Zikra beranjak duduk. Menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.


"Sayang, aku ingin punya anak." ujar Zikra tiba-tiba. Syifa terkesiap terlonjak duduk.

__ADS_1


"Hah?! Ingin punya anak? Kenapa tiba-tiba ingin punya anak." tanya Syifa heran dan merasa tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Iya." jawab Zikra mantap.


"Kenapa tiba-tiba ingin punya anak?"


"Kamu keberatan?"


"Bukan begitu." buru-buru Syifa mengkofirmasi. "a-aku kan masih kuliah. Umurku pun belum 20 tahun. Jadi, aku ingin fokus ke kuliah dan ingin punya karier setelah lulus kuliah.


"Aku tidak pernah melarang kamu melanjutkan pendidikkan kamu sampai setinggi langit. Aku akan membiayainya. Aku pun tidak membatasi gerak kamu. Pintu perusahaanku pun terbuka menerima kamu jika kamu ingin berkarier." tutur Zikra menatap Syifa serius. "tapi kamu istri aku, kamu punya tugas melahirkan anak-anak aku."


Syifa speechless.


"Aku pikir menikah muda tidak buruk. Punya anak di usia muda juga baik. Supaya pada saat mereka besar, usia kita tidak terlalu tua. Kita pun bisa menjadi orang tua sekaligus sahabat mereka ketika itu." Zikra mendekatkan wajahnya pada Syifa. Kontan Syifa menghindar. Tapi Zikra berhasil menarik belakang kepala Syifa, langsung mendaratkan ciuman hangatnya di bibir istrinya yang ranum.


Sejak malam pertama waktu itu. Zikra merasa ada candu yang mempengaruhi syaraf-syaraf di dalam otaknya acap kali mencium aroma tubuh Syifa. Bagai seorang pecandu yang selalu menginginkan zat adiktif memberikan efek menenangakan. Begitulah yang selalu dirasakan Zikra. Tidak ada obat penawar yang ampuh selain menjamah Syifa.


"Jangan menghindar! Kita pernah melakukannya. Maka kita akan selalu melakukannya sampai kapan pun." ucap Zikra pelan di depan wajah Syifa. Tatapan matanya menggelap.


Syifa menelan salivanya dengan susah payah. Gadis itu pun tidak bisa berkutik saat Zikra melancarkan serangannya. Tangan Zikra bergentayangan menyusuri setiap inci tubuh Syifa. Ciuman dan kecupan pun tidak lekang dari kening, pipi, bibir sampai bagian-bagian sensitif si mpunya tubuh. Entah pasrah atau menikmati keduanya nyaris sama. Tak pelak desahan meluncur dari bibir keduanya.


Pertempuran malam ini Zikra buat selembut mungkin agar tidak menyakiti Syifa. Gadis itu pun dapat merasakan tidak sesakit seperti awal pertarungan. Semuanya berjalan bergitu lancar dan mulus. Syifa pun tertidur karena kelelahan.


Zikra menyelimuti tubuh Syifa yang sepolos bayi baru lahir hingga leher. Mencium kening Syifa lembut.


"Makasih sayang. I love you." bisiknya lembut. Syifa yang sudah terlelap hanya diam.


Tidak lama berselang ponsel Zikra berdering. Dia pun langsung mengambil ponselnya di atas nakas. Menjawab panggilannya.


"Halo." Zikra beranjak dari tempat tidur hanya dengan mengenakan celana pendek. Berjalan menuju jendela melewati pakaiannya dan Syifa yang berceceran di atas lantai sambil mendengarkan orang yang berada di seberang sana.


"Oke. Terus lacak keberadaan mereka sampai dapat." titahnya dingin. Setelah itu menutup sambungan teleponnya.


Zikra baru saja mendapatkan informasi keberadaan kedua orang tua Syifa di Batam. Namun orang suruhannya kehilangan jejak, karena ada seorang pengusaha kaya bernama Gunawan yang kemungkinan menyembunyikan keberadaan mereka.


Zikra menggenggam ponselnya erat seakan ingin meremukkannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2