
"Ini tidak mungkin...!!!!
Gaby frustasi tubuhnya gemetar saat melihat benda yang ada di tangannya saat ini.
" Tuhan,, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mungkin mengatakan ini padanya, ia tidak akan menetima ini, ucap Gabu dengan air mata yang sudah memabasahi wajah cantiknya itu"
Gaby bingung harus berbuat apa sekarang, di depan matanya terlihat jelas, bahwa Kevin sudah memiliki kekasih, dan wanita itu lebih berharga dari pada Gaby, aku hanya istri yang di anggap sebagai budak nafsunya, kalau aku mengatakan aku hamil, apakah mungkin ia akan menerima anak yang di kanding dari wanita yang di bencinya.
"Lebih baik aku merahasiakan ini, dan tidak ada yang boleh tahu, aku tak ingin anak yang tak berdosa ini jadi korban, walau ia tidak memintaku menggugurkannya, siapa tahu setelah aku melahirkannya ia akan mengambil anak ini dariku, dan Kevin pasti membuangku setelah itu, hanya akulah yang tersakiti, dan menangisi nasib dan anakku, ucapnya sendiri, dengan pikiran kalut Gaby menerka-nerka hal yang membuat dia merasa semakin takut dengan keadaannya saat ini.
"Mulai hari ini aku harus bersikap biasa, aku harus menuruti apa pun yang ia katakan, agar aku bisa memohon padanya untuk mrmbebaskan aku dari sini, dan aku bisa hidup tentram dengan anakku kelak, batin Gaby yang menyusun rencana dalam otaknya.
Sementara Kevin dan Clara menyantap sarapan pagi di meja makan, Kevin sengaja tidak menyuruh pelayan memanggil Gaby, karena mereka ingin segera pergi ke kantor secepatnya.
Namun tanpa mereka sadari Gaby turun, dan mendapati mereka sarapan dengan canda dan tawa ringan, saat melihat Gaby, mereka tiba-tiba diam dan tak ada yang bicara.
Kevin sempat melirik Gaby sebentar, namun detik berikutnya ia merasa aneh, kenapa Gaby tidak menunjukkan wajah sedih saat melihat ia bersama Clara, karena biasanya ia akan terlihat murung dengan tatapan sendu, tapi kali ini, ia melihat Gaby tersenyum manis, seolah tak masalah baginya melihat kebersamaan Clara dan Kevin.
"Maaf tuan,, apakah saya boleh keluar mansion hari ini, Gaby meminta izin"
Kevin yang di tanya pun menatap Gaby penuh selidik, dan untuk apa ia izin keluar, dan selama ini ia tak pernah minta ingin keluar, apa dia ingi kabur dariku..? begitulah pikiran Kevin.
Namun Clara member kode pada Kevin agar memberi izin untuk Gaby, Kevin pun mengerutkan keningnya, karena Clara mendukung Gaby yang ingin keluar dari mansion.
Akhirnya Kevin mengizinkan Gaby keluar dari mansion, dengan syarat di kawal para penjaga, dan tidak boleh menemui siapa pun di luar sana, dan Gaby pun menuruti perintah Kevin.
Setelahnya,, Clara dan Kevin pun pergi, tak lama Gaby juga pergi ke tempat tujuannya.
Saat di mobil dalam perjalanan, Kevin kesal pada Clara yang memaksanya memberi izin pada Gaby tadi.
"Cla,, kamu itu bagai mana sih, kenapa tadi kamu malah mendukung Gaby.??
" Vin,,, setidaknya biarkan dia menghirup udara bebas, kamu itu terlalu kejam Vin, hampir 3 bulan kau mengurungnya, dan ini pertama kali dia keluar sebelum kau mengurungnya, ujar Clara kesal pada Kevin.
"Kalau dia kabur, trus siapa yang tanggung jawab.?? kamu Cla.? sahut Kevin yang kesal dan gelisa karena takut Gaby malah kabur dan mebinggalkanya"
"Dia tidak akan kabur, percaya padaku, aku bisa lihat dia gadis yang bertanggung jawab, ujar Clara meyakinkan Kevin.
" Tapi tetap saja Cla, dia bisa bertemu seseorang dan meminta batuan agar bisa membebaskannya dariku.! ujar Kevin yang semakin tak tenang.
"Kamu iti ya Vin, belum juga tua tapi sudah pikun, kan tadi kamu sudah kasih syarat, dia tidak boleh bertemu siapa pun, dan lagian ada pengawalmu yang menjaganya, percaya deh pasti dia akan kembali ke mansion, ucap Clara dengan nafas kasar, jengkel dengan Kevin yang terlalu berlebihan menurutnya.
Akhirnya Kevin pun pasrah, namun pikiran dan hatinya tak tenang, namun ia akan tahu nanti kemana Gaby pergi, karena ia sudah menyuruh orangnya mengikuti kemana Gaby pergi.
Saat sudah tiba di kantor, Kevin jadi tak fokus bekerja, pikirannya selalu tertuju pada Gaby.
" Kenapa mereka tak juga memberi kabar padaku, ke mana Gaby pergi, apa terjadi sesuatu.??
Kevin yang semakin panik pun tak sabar menunggu laporan dari orang suruhannya, akhirnya ia memanggil Edo.
"Edo..! teriaknya
Edo yang di panggil sekeras itu pun kaget, ada apa dengan bosnya itu, tidak seperti biasanya, pikirnya, namun secepat mungkin masuk ke ruangan Kevin.
__ADS_1
" Ada yang bisa saya bantu bos, ucap Edo sopan"
"Cari lokasi dimana Gaby saat ini, dan temukan dia, segera bawa ke mansion, ucapnya dengan wajah panik.
" Baik bos, sahut Edo paham, dan tidak banyak bicara, ia langsung pergi menjalankan perintah sang bos"
Sekitaran 15 menit berlalu, Edo pun menghubungi sang bos, dan memberitahu kemana Nonanya pergi dan Gaby sudah kembali ke mansion dengan pengawal yang sudah di tugaskan tadi.
Kevin yang sudah menerima lapaoran pun merasa lega, karena Gaby tidak kabur, namun ada yang menganjal di pikirannya saat Edo mengatakan Gaby pergi ke rumah sakit.
"Untuk apa dia ke rumah sakit?? bertanya dalam hati, karena merasa aneh.
"Sepertinya dia baik-baik saja, dan tadi juga dia tidak terlihat sakit, lalu untuk apa dia ke sana, pikiran Kevin pun semakin kacau karena merasa aneh Gaby pergi Ke rumah sakit.
Lalu ia memanggil Edo lagi, memastikan apa tujuan Gaby ke rumah sakit.
"Urusan apa Gaby ke rumah sakit.?? tanya kevin pada Edo.
" Sesuai informasi yang saya terima dari para pengawal Nona, mengatakan kalau Nona hanya periksa, tapi periksa apa mereka tak tahu, namun pengawal sempat melihat Nona masuk ke ruangan doktet kandungan bos, ujar Edo menjelaskan.
"Doktet kandungan.?? Untuk apa dia ke dokter kandungan?? masih bertanya, dan sama sekali tak paham, karena Kevin tak pernah tahu jurusan bagian kesehatan dan rumah sakit, karena ia juga jarang datang ke rumah sakit karena dia punya Dokter pribado yang bisa siaga kapan pun ia mau.
" Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu, dan cari tahi apa tujuan Gaby menemui dokter kandungan itu, ujarnya dan Edo pun berlalu ke luar dari ruangan si bos.
Sementara Gaby yang sudah berada di kamarnya pun menangis pilu, saat dokter kandungan mengatakan benar adanya ia mengandung saat ini, dan usia kandungannya sudah tiga minggu.
"Maag sayang, mama tidak tahu kamu ada di rahim mama, kamu jangan takut sayang mama akan menjagamu dan memperjuangkanmu, ucapnya seraya mengelus perut ratanya"
Saat Kevin mulai fokus pada pekerjaannya, Edo pun masuk tergesa-gesa, karena ingin segera menyampaikan informasi yang ia ketahui dari rumah sakit.
" Ada apa denganmu.?? Kenapa kau seperti di kejar hantu saja, ujar Kevin melihat Edo yang ngosngosan.
"Saya mendapatkan informasi penting tuan, tentang Nona le rumah sakit itu, sahut Edo dengan nafas yang masih tak beraturan.
" Apa yang kau dapat, katakan.!!!! sudah tak sabaran.
"Nona,,memeriksa kandungan tuan, sahut Edo yang sudah mulai tenang.
" Maksudmu bagai mana?? tanya Kevin karena masih belum paham.
"Nona hamil tuan.!!
Duaaarrrrrr
Kevin pun tertegun dengan ucapan Edo, bingung tak tahu ingin senang atau marah, ia tak memungkiri janin yang di kandung Gaby, dan ia yakin iti adalah benihnya, karena sebelum ia membawa Clara ke mansionya, ia selalu melakukan hal bejat itu pada Gaby, namun siapa sangka benih yang selalu di tanamnya di rahim Gaby tumbuh, sementara Kevin belum yakin kalau Gaby bisa menerima dan memaafkannya,dan ia pun bingung dengan keadaan saat ini.
Kevin yang memikirkan hal itu pun menagis, dadanya sesak, ia sangat bahagia karena kabar Gaby hamil darah dangingnya, apa yang akan ia lakukan sekarang, apakah ia harus mengakhiri sandiwara ini.? mengakui perasaannya dan cintanya pada Gaby, frustasi juga pusing itulah yang dirasakan Kevin belum lagi rasa penyesalan yang selalu membeban di pundaknya.
Tak ingin berlama-lama, Kevin pun langsung berdiri dan pergi meninggalkan kantornya, pulang ke mansionya, sudah tidak tahan dengan keadaan ini, meski ia akan berlutut dan memohon pada Gaby, namun ia sudah membulatkan tekadnya untuk berterus terang.
Saat tiba di mansion Kevin berlari menuju kamar Gaby, dia begitu tergesa-gesa, ingin sekali memeluk wanita yang ia rindukan dan ia cintai itu.
Braaakkkk
__ADS_1
Kevin membuka kamar Gaby kasar karena terlalu bersemangat ingin melihat wanita yang membuat ia gila dalam beberapa minggu itu.
Gaby yang mendengar suara pintu kamar seperti di dobrak terkejut apa lagi saat ia melihat Kevin yang masuk semakin membuat ia takut, karena pikiran-pikiran buruk membuat ia memundurkan langkahnya.
Namun tidak dengan Kevin, ia sudah tidak perduli lagi, ia berjalan cepat dan langsung memeluk Gaby yang hampir terjungkal ke belakang karena langkah mundur.
Deg
Jantung Gaby berdebar tak menentu, mendapat serangan mendadak begini dengan Kevin memeluknya erat, bingung karena Kevin langsung memeluknya, namun setelahnya ia merasakan air mata menetes di bahunya, menandakan Kevin menangis dengan tubuh bergetar, dan membuat Gaby semakin bingung, Gaby ingin bicara dan bertanya namun tidak jadi saat mendengar Kevin bersuara.
"Maaf,, maafkan semua kesalahan dan perbutanku, ucapnya masih mendekap erat tubuh Gaby.
Gaby yang mendengar kata maaf dari Kevin pun menagis,dan masih diam.
Kevin pun merenggankan pelukannya, lalu berlutut di hadapan Gaby.
" Aku tahu, tidak akan mudah bagimu mengampuniku, dan aku mohon meski sulit untukmu beri aku kesempatan dan maafkan semua kesalahanku yang telah membuatmu menderita dan menghancurkan masa depanmu, ucap Kevin menunduk dengan tangis memohon.
Gaby masih bingung karena Kevin tiba-tiba datang dan minta maaf, sebenarnya apa yang terjadi pikirnya masih belum bisa mencerna.
"Tuan, saya tidak paham apa maksud anda, ujar Gaby yang masih tetap berdiri.
"Dan dengan peryataan maaf ini saya masih tidak mengerti, kenapa anda minta maaf"
"Anda tidak punya salah pada saya, jadi tak perlu mengatakan itu, yang salah bukankah aku dan kedua orang tuaku?ujar Gaby lagi
Deg
Seperti di lempar dari kejauhan, Kevin merasa sakit dan sesak di dadanya, ucpan itu seolah senjata makan tuan, Kevin pun diam tanpa bisa mengatakan apa pun lagi.
"Dan saya minta anda jangan begini, berdirilah tuan, karena itu tidak pantas, ucap Gaby dengan air mata yang meleleh, membasahi wajahnya.
" Aku tak akan berdiri sebelum kau memaafkanku, aku memang tak pantas mendapat maaf itu setidaknya beri aku kesempatan demi janin yang kamu kandung, darah dagingku, ucap Kevin yang makin merasa bersalah.
Deg
Gaby tersentak mendengar ucapan Gaby, ia pun gemetar dan mundur perlahan, ia takut hanya berpura-pura dan akan mengambil anaknya setelah lahir.
"A,,aku tidak paham, dan janin yang anda katakan sama sekali saya tidak mengerti, ujar Gaby bersikap seolah dia tak mengandung.
" Aku sudah tahu semuanya, dan jangan menyembunyikan dariku"
Tangis Gaby pun pecah, ia tak tahu lagi harus berkata apa, Kevin sudah mengetahui kehamilannya.
"Tuan saya mohon, jangan ambil anak ini, aku akan menurut padamu, dan aku tidak akan menuntut hakku, dan aku juga tidak masalah anda dengan Nona Clara, tapi saya mohon jangan ambil anak ini, ucap Gaby yang kini berbalik memohon pada Kevin.
Seperti di iris silet hati Kevin ngilu melihat Gaby menangis memohon padanya, dan saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya tentang Clara, Gaby sudah ambruk tak sadarkan diri.
Gaby....!!!
Kevin pun menepuk pipi Gaby mencoba menyadarkan, namun tak ada respon dari Gaby, Kevin pun panik mengankat Gaby ke ranjang, berteriak memanggil pelayan dan segera menghubungi dokter.
Bersambung
__ADS_1