BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
20. Pulang Ke Rumah Kita.


__ADS_3

Dua hari dalam pemulihan Gaby sudah terlihat sangat baik dan sehat, dan Gaby pun saat ini berkemas untuk meninggalkan rumah sakit.


Gaby berharap Kevin tidak datang ke rumah sakit, agar ia bisa pergi tanpa sepengetahuan siapa pun.


Namun sepertinya Gaby harus pasrah dengan kenyataan, belum juga ia selesai berkemas Kevin dan Edo sudah tiba di rumah sakit, karena dokter Damien menghubungi Kevin mengatakan Gaby istrinya sudah boleh pulang dari rumah sakit.


Kevin dan Edo pun masuk ke dalam ruang VIP, dimana Gaby di rawat, saat mereka masuk, mereka melihat Gaby berkemas dan hampir selesai.


Gaby yang melihat kedatangan Kevin dan Edo pun sempat kaget, tapi ia langsung bersikap biasa, agar Kevin dan Edo tidak curiga dengannya.


"Sudah selesai berkemas?? Kevin bertanya dan menatap tas yang sudah rapi di atas ranjang Gaby.


Gaby tak menjawab pertanyaan Kevin, sejenak ia menatap Kevin lalu mengalihkan tatapannya pada Edo, dan ia pun bicara pada Edo.


" Edo, apa saya bisa minta tolong??


"Tentu Nona, sahut Edo cepat.


"Tolong antarkan saya ke alamat ini, ucap Gaby memberikan selembar kertas yang tertulis kan alamat yang akan di tuju Gaby.


" Tidak.!! kau tidak akan di antar kemana pun, kita pulang ke rumah kita, ucap Kevin membuat Gaby menatap tajam pada Kevin.


"Apa maksudmu?? tanya Gaby yang tak tahan lagi, ia terpaksa menjawab ucapan Kevin.


" Kau tidak akan pergi kemana pun, dan kita akan pulang ke mansion, ucap Kevin mengulangi perkataannya tadi.


"Aku tak punya hak untuk tinggal di sana.!! ucap Gaby lirih, dan mengalihkan tatapannya ke arah lain, hatinya sakit saat mengatakan hal itu.


" Tapi darah daging ku punya hak tinggal di sana.!! ucap Kevin lantang, ia tahu ucapannya akan menyakiti perasaan Gaby, tapi itu ia lakukan agar Gaby tidak pergi dari sisinya, dan ia akan memperbaiki hubungan mereka yang sudah berantakan dan di ujung tanduk itu.


"Kau benar, aku melupakan sesuatu, dan tentu kau tidak ingin darah daging mu terlantar bukan?? baiklah sampai anak ini lahir aku akan tinggal di mansion, ucap Gaby menatap sinis pada Kevin.

__ADS_1


" Bawa semua barang-barangnya, ucap Kevin pada Edo.


"Baik tuan, sahutnya cepat karena suasana di ruangan itu semakin genting.


" Silahkan Nona, ucap Edo pada Gaby dan mereka pun berjalan keluar dari ruang VIP itu, meninggalkan rumah sakit dan kembali ke mansion.


Di dalam mobil, Gaby sama sekali tak bicara apa pun, dia hanya menatap ke luar jendela, dan perasaannya sangat sakit, mengapa takdir masih tidak berpihak padanya, batin Gaby.


"Mumpung masih di luar, apa kau memerlukan sesuatu? ucap Kevin pada Gaby yang diam saja dari tadi.


" Tidak.!! sahut Gaby cepat, tapi tak menoleh sedikit pun pada Kevin.


"Maksudku apa kau tidak sedang menginginkan sesuatu?? makanan atau kebutuhan wanita, ucap Kevin lagi.


" Tidak.!! sahut Gaby lagi.


Mendengar Gaby menjawab ucapannya, Kevin sudah merasa senang, walau pun jawaban itu ketus, bagi kevin itu sudah cukup, setidaknya Gaby masih mau bicara padanya.


"Silahkan Nona, ucap Edo membukakan pintu mobil, dan Gaby hanya mengangguk dan turun dari mobil.


Kevin tak menunggu Edo membukakan pintu untuknya, ia pun langsung turun, dan mendekati Gaby dan Edo.


" Bawakan semua barang-barang itu, dan katakan pada pelayan agar mengatur menu makanan khusus ibu hamil, ucap Kevin membuat Gaby menatap jenggah pada Kevin.


"Ayo masuk, ucap Kevin mengandeng tangan Gaby, membawa Gaby masuk ke dalam, Gaby hanya bisa menurut, dan menatap tangannya yang di gandeng Kevin dengan lembut.


Kevin pun membawa Gaby ke kamar mereka, saat melihat kamar itu bukanlah kamarnya, Gaby menghentikan langkahnya, membuat Kevin menoleh pada Gaby.


"Kenapa berhenti di situ, ayo masuk, ucap Kevin, dan menarik lembut tangan Gaby, namun Gaby masih bertahan di posisinya berdiri.


" Ini bukan kamar ku, dan aku tidak mau tidur di kamar yang bukan kamar ku, ucap Gaby, membuat Kevin, menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Mulai hari ini kau akan tidur di kamar ini, dan ini adalah kamar kita, ucap Kevin terang-terangan.


" Tidak.!!


"Kenapa?? aku tahu kau tidak ingin tidur sekamar denganku, atau pun satu ranjang, dan kau tak usah khawatir karena aku akan tidur di sofa, ucap Kevin menunjuk sofa yang ada di kamar itu.


Gaby tak menjawab lagi, dan ia pun tak punya pilihan lagi, menurut saja apa yang sudah di perintahkan Kevin, dan ia semakin tak habis pikir, kenapa setelah ia menandatangani surat perceraian mereka, Kevin malah bersikap seperti mereka masih suami istri yang sah.


"Tapi menurutku tidak pantas yang sudah bercerai tinggal serumah apa lagi satu kamar seperti ini, ucap Gaby agar Kevin paham.


" Kau benar, tapi kita belum bercerai sama sekali, karena surat perceraian itu hanya kau saja yang menandatangani surat itu, ucap Kevin membuat Gaby menatap heran pada Kevin.


"Kau sengaja melakukan itu??


" Tentu tidak, karena pada saat kau menandatangani surat itu, aku datang dan ingin mencegah kepergian mu, namun saat aku tiba dan memelukmu dengan tiba-tiba, kau langsung tidak sadarkan diri, ucap Kevin membuat Gaby mengingat kejadian yang membuatnya berujung ke ruang sakit.


Gaby hanya diam, mencerna semua perkataan Kevin, dan tentunya Gaby masih terikat dengan pernikahan mereka, tapi Gaby sudah tak berharap banyak, baginya cukup untuk menunggu sampai anaknya lahir, dan ia akan pergi selamanya dari kehidupan Kevin, tapi apakah ia akan sanggup meninggalkan darah dagingnya nanti, dan Gaby harus mempersiapkan hatinya untuk itu.


"Baiklah, sampai anak ini lahir, aku akan tinggal di sini, dan setelah itu aku tidak akan menganggu kehidupanmu lagi, ucap Gaby membuat Kevin merasakan sesak di dadanya, menatap lemah pada Gaby.


" Istirahatlah, nanti biar pelayan yang membawa makanan untuk mu, dan kalau butuh sesuatu katakan pada ku, atau pelayan, ucap Kevin mengalihkan pembahasan yang membuatnya sesak dan sakit.


Gaby menatap mata Kevin sekilas, sebelum Kevin pergi meninggalkan kamar mereka, Gaby tahu Kevin sengaja tidak membahas ucapannya tadi, dan bagi Gaby, ia tetap pada pendiriannya, dan ia harus bisa dan rela dengan kenyataan nantinya.


Kevin pun masuk ke ruang kerjanya, di sana ia duduk termenung, memikirkan nasib hubungannya dengan Gaby istrinya, apa lagi yang harus ia perbuat untuk mempertahankan Gaby dan anaknya agar tidak pergi dari sisinya, dan sepertinya Gaby tetap dalam keputusannya, melihat kesungguhan yang di ucapkan Gaby, membuat Kevin semakin tak yakin bisa membuat Gaby untuk tetap bertahan di sisinya.


Bersambung.


Jangan lupa Jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2