
Belum waktunya pulang kerja, Dinda pergi tanpa tujuan, melihat Edo yang pergi dengan Nita, keluar makan siang.
Dinda mengendarai mobilnya tanpa tahu ke mana tujuannya, saat ini ia hanya ingin melepaskan sesak di dadanya yang membuat nya sulit bernafas, hatinya bagai di remas, melihat kedekatan Nita dan Edo, apa lagi Edo yang begitu dingin padanya saat bicara tentang mereka, membuat Dinda merasa tak berarti apa-apa bagi Edo.
Dinda yang lelah dengan pikiran dan tangisnya selama mengendarai mobilnya, berhenti di suatu tempat, sebuah taman yang cukup nyaman untuk menangkan hatinya, yang sedang berkabut itu.
Dinda pun turun, dari mobilnya, melihat ada bangku taman yang terbuat dari batu, Dinda pun duduk di sana.
Saat duduk Dinda meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, memejamkan matanya dan menarik nafasnya panjang, namun saat ingin menghembuskan dengan lega, telinga Dinda seperti berdengung ucapan Edo bagai bergema di telinga nya, membuat Dinda kembali meneteskan air matanya.
Sementara Edo dan Nita sudah kembali dari makan siang nya, saat masuk ke ruangannya Edo tak melihat Dinda di dalam, mengira Dinda masih berada di kantin kantor makan siang, jadi Edo tidak begitu mengkhawatirkan Dinda.
Sudah berlalu hampir satu jam, tapi Dinda belum juga kembali, Edo merasa cemas, karena Dinda belum juga kembali ke ruangannya.
Edo pun keluar mencari Dinda di kantin, mengira Dinda sengaja sedikit terlambat, mungkin karena ucapannya tadi, namun saat tiba di kantin kantor, Edo tak melihat siapa pun di sana, kecuali ibu kantin dan para pekerja lainnya.
Edo pun masuk ke dalam kantin, ingin menanyakan pada ibu kantin atau yang lainnya tentang keberadaan Dinda.
"Eh, pak Edo, kenapa telat pak, bapak sibuk ya, hingga melewatkan makan siang, ujar ibu kantin, mengira Edo ke kantin mau makan siang. "
"Nggak buk, saya ke sini mau bertanya, apa Dinda tadi makan siang di kantin??
" Ibu Dinda?? sepertinya ibu Dinda nggak masuk kantin deh pak.! "
"Apa ibu yakin, Dinda nggak makan siang??
" Nggak pak, karena biasanya kalau buk Dinda makan di kantin, pasti udah pesan makanan khusus, dan saya nggak ada buat makanan khusus hari ini pak.! "
"Oh, baiklah buk, mungkin Dinda makan di luar tadi.! "
__ADS_1
"Iya pak, mungkin saja.! "
Edo pun keluar dari kantin, bermaksud menanyakan pada salah satu karyawan, siapa tahu ada yang melihat Dinda.
"Kamu tadi ada lihat Dinda?? tanya Edo pada seorang karyawan wanita.
"Lihat pak, tapi saya tidak tahu pasti mau ke mana, saya lihat ibu Dinda keluar tadi.! "
"Oh, terima kasih, lanjutkan kerjamu.!" ujar Edo pergi begitu saja, dan kembali ke ruangannya, dan melihat Dinda belum juga kembali.
Edo pun semakin khawatir, jadi menyesal telah mengabaikan dan bersikap dingin pada Dinda, lalu Edo pun menghubungi salah satu pengawalnya, untuk melacak keberadaan Dinda.
"Halo bos.!!
" Cari tahu di mana keberadaan Dinda sekarang.! kalau sudah kau temukan hubungi saya.!
Dinda yang masih bertahan di taman itu, duduk termenung, dan tak berniat pergi dari sana, menenangkan dirinya, pikirannya masih tertuju pada Edo dan Nita. Menebak-nebak dalam hati, apakah Edo serius pada Nita, dan Edo sebenarnya tidak punya perasaan apa pun padanya, lalu kenapa Edo mengungkapkan perasaanya malam itu??
Edo pun menerima informasi dari pengawal yang di suruh nya melacak keberadaan Dinda. Terkejut saat mendengar Dinda berada cukup jauh dari lokasi kota, dan Edo berpikir apa tujuan Dinda dan untuk apa Dinda ke sana.
Karena penasaran dan khawatir Edo pun pergi ke lokasi yang di berikan pengawalnya itu.
Sepanjang jalan Edo mencemaskan keberadaan Dinda, berharap ia segera sampai di sana, dan ingin tahu apa yang di lakukan first Dinda di tempat itu. Edo pun mengingat ucapannya yang sudah menyakiti Dinda saat di kantor, mengingat air mata Dinda yang menangis saat bicara padanya tadi, Edo sadar Dinda memang merasakan cemburu karena dekat dengan Nita, tapi Edo tak habis pikir kalau Dinda memang punya perasaan yang sama dengannya, kenapa saat Edo mengungkapkan perasaanya, Dinda menolak dan tidak berkata jujur.
Setengah jam lebih Edo mengendarai mobilnya menuju lokasi tempat Dinda berada, saat Edo melihat mobil Dinda yang terparkir dekat dengan sebuah taman, Edo pun memberhentikan mobilnya sedikit jauh dari mobil Dinda, agar Dinda tidak melihat dan menyadari keberadaannya.
Edo pun turun dari mobilnya, berjalan ke arah taman, mencari keberadaan Dinda. Edo masih belum melihat Dinda, masih mencari dan dengan hati-hati Edo, memindai tempat itu, dan saat ia mau melanjutkan langkahnya, namun belum sempat melangkah, Edo melihat Dinda yang duduk di kursi taman itu.
Hatinya mencolos, saat memperhatikan Dinda yang menangis dalam diam, apa lagi Dinda yang berkali-kali menghapus air matanya, membuat Edo tak tahan melihatnya.
__ADS_1
Menyesal sudah pasti Edo rasakan, tangannya terkepal, tak kuat melihat Dinda yang bersedih di depan matanya, itulah salah satu kelemahan Edo, bila seseorang yang begitu berharga baginya, tidak akan mampu melihat kesedihan orang itu, apa lagi saat ini yang ia lihat adalah Dinda, wanita yang sudah lama bersemayam di hatinya, dan yang paling membuat Edo sesak dan sakit, kesedihan yang di rasakan Dinda saat ini karena ulahnya, yang berusaha membuat Dinda mengakui perasaanya.
Dinda yang lelah menangis, menarik nafasnya panjang, dan membuang kasar sesak yang begitu berat di dadanya itu, merasa cukup meluapkan tangisnya, dan sedikit lebih tenang, Dinda pun ingin pergi dari taman itu.
Namun sebelum pergi, Dinda memeriksa ponselnya, berharap Edo menghubunginya, dan mencarinya, saat ponselnya menyala, Dinda melihat log panggilan masuk, tak ada satu pun Panggilan yang tertera di ponselnya, membuat Dinda semakin sesak dan yakin, kalau Edo benar-benar tidak perduli padanya.
"Bodoh.!! apa yang kau harapkan Dinda, mengapa kau begitu berharap dia mencari mu, atau menghubungi mu?? itu tidak akan mungkin.!! dan kau bukan siapa-siapa baginya.!! ujar Dinda bicara sendiri, dan mengumpat dirinya bodoh, karena berharap Edo akan mengkhawatirkan nya.
Edo yang tak jauh dari tempat Dinda berada, mendengar apa yang Dinda katakan barusan, semakin membuat dadanya sesak, mendengar Dinda mengatakan bahwa baginya Dinda bukan siapa-siapa.
Dinda pun memasukkan ponselnya ke dalam tas sandangnya, baginya tak lagi perlu berharap, tapi berpikir apalah dia akan sanggup, setiap hari melihat Edo dan Nita begitu dekat dan sangat akrab, dan semoga saja dia bisa melewati itu semua, dengan menutup telinga dan matanya rapat-rapat, meski begitu sakit.
Dinda pun beranjak dari taman itu, berjalan gontai dan tak bersemangat, langkah kakinya bisa menunjukkan suasana hatinya masih berkabut, walau tidak setebal waktu ia melihat Edo dan Nita bersama.
Edo membiarkan Dinda sampai pergi lebih dulu, melihat dari tempat ia bersembunyi di balik bunga taman yang lumayan besar, bisa menutupi keberadaanya.
Dinda yang memang tidak fokus pada sekitar, pergi begitu saja, padahal jelas-jelas Dinda melewati mobil Edo yang berjarak 300 meter dari letak mobilnya.
Pikirannya masih berat, tapi Dinda sudah terlihat lebih tenang, dan Dinda memutuskan untuk pulang ke mansion saja, dan ingin melepaskan segala kepenatan dan kesedihannya, dengan berendam dengan air hangat di kamar mandinya.
Edo pun mulai melajukan mobilnya, mengikuti Dinda dengan sedikit berjarak, agar Dinda tidak curiga kalau Edo sedang mengikutinya.
Edo masih terbayang saat Dinda menangis di taman tadi, ingin sekali Edo memeluknya saat itu dan minta maaf pada Dinda, tapi Edo masih bisa menahan dirinya, karena Dinda belum jujur dengan perasaannya. Tapi Edo cukup puas dan lega, karena Dinda menunjukkan tanda-tanda cemburu, dengan begitu Edo sudah sangat yakin kalau Dinda memang mencintainya juga, seperti Edo mencintai Dinda.
Meski sakit melihat Dinda menangis pilu, Edo tidak lagi meragukan perasaan Dinda padanya, dan semoga saja setelah ini, mereka bisa saling terbuka dan jujur akan perasaan mereka masing-masing, dan tak ada lagi keraguan menempatkan di hati mereka hanya terukir satu nama, dan Edo akan membawa Dinda sampai ke pelaminan, menjadikan Dinda wanita satu-satunya, dan menjadi istri serta ibu dari anak-anaknya kelak, hingga maut memisahkan mereka.
Bersambung.
Salam Author 🙏🙏🙏
__ADS_1