BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
59. Di Tolak.


__ADS_3

Dinda melihat jalanan yang mereka lewati tidak menuju kantor, sementara hari sudah hampir gelap, Dinda berpikir Edo melamun menyetir, mengira lupa jalan ke kantor.


"Pak, apa kita tidak salah jalan??


" Tidak, kita mampir ke apartment ku sebentar, ada sesuatu yang ingin aku ambil, lalu aku mengantarmu pulang, masalah mobil mu, aku akan menyuruh orang mengantar nya nanti.!


Dinda pun tak bertanya lagi, dan percaya dengan Edo yang mengambil sesuatu di apartment nya, dan tidak punya kecurigaan lain, dan suasana pun kembali hening.


Tak lama mereka pun sampai di depan apartment Edo, Dinda yang merasa Edo hanya sebentar berniat menunggu di mobil saja, tapi mendengar Edo menyuruh nya turun, Dinda pun akhirnya turun juga.


"Ayo masuk, kita minum sebentar, lalu pulang, setidaknya kita makan dulu, karena tadi nggak sempat makan, dan aku sangat lapar, dan sudah memesan makanan.


" Dinda pun menurut saja, mengikuti langkah Edo, dia tidak punya pikiran buruk pada Edo, karena Dinda tahu Edo orang seperti apa, dan sangat menghormati kakaknya Kevin.


Selama berjalan Edo menyempatkan mengirim pesan pada Kevin, agar tidak khawatir dengan Dinda yang belum pulang.


"Tuan Dinda ada bersama saya, saya mengajaknya makan, saya akan mengantar Dinda setelah kami selesai makan.! pesan Edo pada Kevin.


Kevin yang membaca pesan itu pun langsung jahil, otak mesumnya langsung traveling ke mana-mana.


" Makan apa makkann.?? jangan bilang kau mau makan yang mentah.??


Edo yang membaca balasan pesan itu pun, geram karena tuan mudanya malah meledeknya, dan berpikiran mesum.


"Kalau nona muda baca chat anda, bagai mana ya reaksi nona muda?? Edo sengaja mengancam Kevin agar berhenti berpikir mesum dan menjahili nya.


" Kau.!! coba saja kalau kau berani mengirim itu pada istriku, aku tidak akan mengampuni mu.!! balasan Kevin.


"Makanya berhentilah tuan, berpikir mesum, kalau tidak ingin nona tahu.! balasan Edo.


" Ok, sialan kamu.!!! balasan Kevin, menutup ponselnya kesal, bisa-bisanya Edo mengancam ku begitu.!!


Edo dan Dinda pun masuk ke apartment, Dinda langsung menuju sofa dan duduk di sana, sementara Edo ke kamarnya menganti bajunya agar lebih santai.


Pesanan makanan pun tiba, Dinda yang melihat Edo belum keluar dari kamarnya, membuka pintu apartment itu, dan menerima pesanan itu.


Dinda pun menyiapkan makanan itu, di atas meja makan, dan saat hampir selesai Edo keluar dari kamarnya.


"Sudah datang makanan ya??

__ADS_1


" Sudah pak.! sahut Dinda.


"Ini nggak di kantor dan bukan jam kerja, jangan panggil aku seperti itu.!


" Oh iya k kkak, sahut Dinda canggung.


"Ya sudah ayo makan.! ajak Edo dan Dinda pun mengangguk.


Mereka makan dengan lahap, karena sempat bertengkar, Edo sampai lupa mampir untuk mengisi perut mereka, hingga mereka kelaparan.


Setelah selesai makan, Dinda pun merapikan sisa makannya, sementara Edo duduk di sofa sambil melihat-lihat email di ponselnya.


Dinda yang sudah membersihkan alat makan mereka tadi, ikut duduk di sofa bersama Edo.


"Sudah selesai??


" Sudah, pak, eh kak.!


Edo pun meletakkan ponselnya di atas meja sofa itu, menatap Dinda dalam, dan Edo sudah bertekad bulat untuk mengungkapkan perasaannya pada Dinda.


Dinda yang di tatap pun jadi salah tingkah, merasa tak nyaman dengan tatapan Edo padanya, dan membuang pandangannya ke arah lain.


" Iya kak, aku nggak papa kok, mungkin kakak terlalu lelah, jadi gampang marah, dan aku sudah memaafkan kakak.


"Dinda.! jujur kakak marah karena cemburu, dan kakak menyukai mu, itulah kenapa kakak bersikap seperti itu, apa kamu mau menerima kakak sebagai kekasih mu, dan kamu jadi kekasih kakak??


Deg


Jantung Dinda pun berdebar keras, tak tahu mau menjawab apa, karena Edo tiba-tiba mengungkapkan perasaannya pada Dinda.


"Apa kamu ragu, kakak tidak serius mengatakan ini??


Dinda tak menjawab, hanya menggeleng dan masih bingung dengan situasi saat ini.


"Apa kakak nggak pantas untuk kamu, karena kakak hanya seorang suruhan tuan muda??


Dinda pun masih hanya menggeleng, pikirannya buntu, lidahnya juga keluh, tak bisa mengatakan apa pun, karena terlalu tiba-tiba.


"Terus, kenapa kamu diam?? apa kamu nggak bisa jawab sekarang?? kalau iya, kakak akan tunggu sampai kamu siap, ujar Edo yang tak ingin memaksa Dinda.

__ADS_1


" Kakak tahu mungkin ini terlalu tiba-tiba buat mu, tapi kakak nggak akan bisa menahan perasaan kakak, apa lagi sampai kamu dekat dengan pria lain, dan kakak bisa lepas kendali karena melihat mu begitu dekat dan akrab dengan pria lain, apa lagi dengan si Baron itu.!!


"Maaf kak, Dinda bukan tidak menghargai perasaan kakak, tapi Dinda masih belum punya pikiran ke situ, dan masih banyak wanita yang lebih pantas untuk kakak.!


Deg


Dada Edo pun terasa sesak, mendengar penuturan Dinda, membuat Edo tertunduk malu dan diam, karena Dinda tidak menerima pernyataan perasaannya.


"Maaf, kakak terlalu percaya diri, lupakan, anggap kakak tidak mengatakan apa pun, ayo kakak akan mengantarmu pulang.! ujar Edo yang merasakan hatinya sakit.


Edo pun beranjak dari duduk nya, mengambil kunci mobilnya dan mengajak Dinda keluar dari apartment nya, dan mengantar Dinda pulang.


Dinda yang melihat Edo hanya diam, merasa bersalah karena telah mematahkan hati Edo, bukannya Dinda tidak menyukai Edo, menurutnya masih terlalu tiba-tiba dan cepat, Dinda masih ingin mengenal sifat Edo lebih jauh lagi, karena ini bukanlah hanya karena perasaan samata tapi masalah hati juga, Dinda nggak mau, di kemudian hari ada hal yang mereka sesali, karena tidak saling memahami dan saling pengertian satu sama lain, dan berujung sakit hati.


"Kak, apa kakak marah??


" Tidak, itu hak kamu menolak dan menerima, dan kakak nggak punya alasan untuk marah.!


"Aku minta maaf kak.!


" Nggak ada yang harus di maafkan, kakak yang terlalu percaya diri, dan maaf kakak sudah membuat kamu jadi kepikiran.!!


"Kak, maksud Dinda bukan begitu, aku hanya masih harus lebih mengenal kakak, bukan karena aku tidak menyukai kakak.!!


" Sudahlah, kakak nggak papa kok, jangan di pikiran.!


Dinda pun tak bisa berkata apa-apa lagi, percuma dia bicara sekarang, karena Edo dalam suasana hati yang tidak baik, dan lebih baik Dinda bicara saat keadaan lebih tenang.


"Kita sudah sampai, selamat malam.!


" Selamat malam kak, terima kasih.


"Hm.!


Dinda pun turun dari mobil, tapi dadanya sesak karena Edo tidak melihat nya sedikit pun, dan Edo pergi begitu saja, tanpa mampir atau mengantar nya sampai ke dalam mansion, Dinda pun berjalan gontai masuk ke dalam mansion.


Bersambung


Salam Author 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2