
Kevin, Gaby dan Dinda menikmati sarapan pagi mereka.
Dinda yang sudah rapi menandakan pagi ini akan berangkat bekerja, Kevin senang karena Dinda menyukai pekerjaannya, mengira semangat kerja Dinda karena bersama Edo.
Dinda sama sekali tak menceritakan apa pun pada Kevin, soal aturan kerja yang di buat Edo, baginya itu tak masalah, dan memang harus seperti itu.
"Kamu semalam kenapa pulang nggak di antar Edo??
" Kak Edo masih ada kerjaan semalam, dan lagian ya kak, aku agak risih kalau aku pergi dan pulang sama kak Edo, soalnya nggak enak sama yang lainnya, dan aku juga nggak mau di anggap karyawan yang istimewa karena perusahaan itu milik kakak.!
"Tapi kan karyawan memang tahu kamu siapanya kakak, apa masalah nya??
" Nggak ada sih, meski mereka tahu aku siapa, tapi tetap nggak nyaman kak, jadi kakak nggak usah berlebihan gitu ya, aku senang kok dengan cara yang seperti ini.!
"Baiklah, kalau itu menurut mu baik, kakak nggak melarang, asalkan kamu bisa jaga diri, kakak nggak mau kamu kenapa-napa.!
" Iya kak.! Dinda paham.!
"Apa kamu kerja satu ruangan sama Edo ya Din?? tanya Gaby basa-basi.
" Iya kak, dan nanti Dinda sudah punya meja kerja sendiri, karena kak Edo sudah menyuruh orang kemarin mempersiapkan itu, dan aku nggak numpang di meja kak Edo lagi.!
"Apa kerjaan itu terlalu berat buat kamu Din??
" Nggak kok kak, aku malah senang, karena kerjaan itu sesuai dengan kemampuanku.!
"Semoga sukses ya Din.!
" Makasih kak, kalau begitu aku berangkat dulu ya.!
"Lho, nggak bareng sama kak Kevin aja??
" Nggak kak, aku pake mobil ku sendiri, aku nggak mau ngerepotin kak Kevin.!
"Repot sih nggak Din, tapi kakak menghargai hak kamu.! ujar Kevin yang tak ingin memaksa Dinda dan membiarkan Dinda melakukan sesuai dengan keinginannya.
" Makasih kak, aku berangkat ya.! pamit Dinda pada Kevin dan Gaby.
Dinda pun berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri, Dinda terlihat ceria dan segar, semangat kerjanya meningkat dari yang kemarin, dan Dinda begitu menikmati kesibukannya sekarang.
Tak lama Dinda pun sampai di kantor, dia pun bertegur sapa pada karyawan yang berpapasan dengannya, tak ingin para karyawan yang lain membuat batas dengannya, karena mereka sama sebagai karyawan, hanya saja Dinda sedikit lebih tinggi posisinya dari mereka.
Dinda pun menuju ruangannya dengan Edo, saat masuk ternyata Edo sudah lebih dulu tiba di kantor, dan Dinda pun melakukan hal yang semestinya, memberi salam dan hormat, karena Edo adalah atasannya.
"Selamat pagi pak Edo.! datar dan biasa saja.
" Selamat pagi.!
__ADS_1
"Duduklah di sana, itu meja kamu, dan aku sudah meletakkan dokumen penting di meja kamu, periksalah dulu, dan setelah selesai kita akan kelapangan nanti, pukul 10 tepat.!
" Baik, terima kasih pak.!
Edo hanya mengangguk, menyadari sikap Dinda yang agak berubah, dingin dan datar, bahkan tersenyum pun tidak.
"Ada apa dengan Dinda?? penasaran sendiri, baru sehari bekerja, Dinda sudah sangat datar, padahal kemarin masih baik-baik saja.?? bingung Edo dan merasa aneh.
Sementara Kevin yang baru saja tiba di kantor, hal pertama yang ia lakukan mengintip Edo dan Dinda di ruangannya, mengira apakah Edo sedang merayu Dinda dengan rayuan pulau kelapa, nyiur dan melambai-lambai,, membayangkan angin menerpa kedua insan yang lagi PDKT.
Dari celah pintu ruangan Edo, Kevin pun mengintip, betapa kesalnya ia saat melihat keadaan di dalam tak sesuai dengan harapannya, padahal Kevin sudah membayangkan hal yang indah tadi, dan berharap itu nyata, dan Kevin ingin merekamnya, sebagai alatnya untuk menjahili Edo, tapi hanya hayalannya saja yang terlalu berlebihan, karena asik mengintip Kevin sampai lupa siapa dia di kantor itu, seorang CEO yang penuh wibawa dan ketegasan, dan tak menyadari beberapa karyawan melihat aneh padanya karena telah melakukan hal konyol yang tidak pernah karyawan lainnya lihat dalam sejarah mereka mengenal CEO nya itu, tapi pagi ini mereka sudah di suguhkan pemandangan yang masih perdana di tayangkan di layar terbuka,, dan para karyawan tersenyum lucu, melihat kelakuan CEO mereka itu, dan Kevin pun sangat malu, ketika menyadari, sudah menjadi tontonan gratis dan perdana oleh karyawan nya itu.
Kevin yang kepalang malu pun, pergi sambil berjalan dia pura-pura berdehem agar para karyawan tidak menilainya aneh, masuk keep ruangannya, dan di dalam Kevin menghapus dadanya lega, karena sudah terhindar dari tatapan aneh dari para karyawannya.
"Apa sudah selesai.?? Edo sengaja bertanya, padahal ia tahu, Dinda baru saja memulai memeriksa dokumen itu.
" Belum pak, apa bapak butuh sesuatu.?? tanya Dinda, mengira Edo perlu sesuatu.
"Tidak.! aku hanya bertanya.!
Dahi Dinda mengerut, melihat Edo sekilas, merasa aneh dengan jawaban Edo, tapi Dinda tak perduli, melanjutkan pekerjaannya lagi.
Kevin yang kesal di ruangannya, menghubungi Edo dan menyuruh datang ke ruangannya.
" Ya halo tuan muda, ada yang tuan muda butuh kan.??
Edo mengira tuan mudanya kenapa-napa, langsung beranjak cepat, dan mematikan ponselnya.
" Tuan mud... aa.!!
Teriakan Edo bagai tak sampai, saat melihat tuan mudanya baik-baik saja, dan kekhawatirannya sia-sia, padahal Edo sudah sangat takut, saat Kevin mengatakan butuh oksigen, namun melihat Kevin duduk santai dan tersenyum senang, membuat Edo geram nggak ketulungan, ingin sekali melemparkan tuan mudanya itu, ke kutub utara, tapi mana berani dia, hehehe, mau tinggal nama??
"Huh.! aku kira tuan muda kenapa-napa.! Kesal Edo yang di kerjain tuan mudanya itu.
" Bagai mana?? apa kamu sudah membuat Dinda klepek-klepek??
"Kenapa jadi bahas itu tuan muda??
" Berarti kamu belum berbuat apa pun.!
"Nggak mungkinlah tuan muda secepat itu, saya juga harus bisa lebih dulu membuat Dinda menyukai saya.!
" Bagai mana Dinda bisa menyukai kamu, satu ruangan saja kalian tidak terlihat akrab, malah seperti kerja sebagai penjaga makam saja.!!
"Kok tuan muda tahu??
" Aku tadi mengintip kalian, dan aku lihat kau dan Dinda sangat kaku, seperti mummy, dan sialnya aku sampai di tatap aneh sama karyawan karena mengintip kalian.!! kesal Kevin.
__ADS_1
"Ya jelas aneh lah, tuan muda si CEO yang tegas ternyata bisa juga mengintip karyawannya, apa itu nggak aneh, karena selama ini mereka nggak pernah begitu, jangankan begitu, bahkan tersenyum pun mereka tidak pernah melihat itu.!! Edo pun puas, karena tuan mudanya bagai senjata makan tuan.!!
" Sudah, sudah.! kembali ke ruangan mu, aku tahu kamu senang kan karena aku kepalang malu.! huh.!!
"Baiklah tuan muda, tapi, _ menjeda ucapannya sengaja.
"Apa.!!
" Tuan muda masih butuh oksigen??
"Brengsek.!! pergi sana, melemparkan buku pada Edo, dan Edo pun berlari keluar, menangkis agar terhindar dari lemparan buku itu.
Dinda melihat Edo yang masuk ngos-ngosan dan tersenyum senang, tapi Dinda sama sekali tidak ingin bertanya.
" Laporannya sudah selesai pak, coba bapak periksa.!
Edo pun menerima laporan itu, memeriksa, dan hasilnya cukup baik, lalu Edo pun mengajak Dinda, mereka akan kelapangan meninjau proyek baru itu.
"Kelihatannya cukup baik, dan sekarang kita kelapangan, ajak Edo berjalan lebih dulu.
Dinda pun mengikuti langkah Edo dari belakang, dan saat di parkiran Edo sempat berdiri bengong di samping mobilnya, melihat Dinda yang memilih mengendarai mobil sendiri, dan sepertinya tidak ingin satu mobil dengannya.
"Kita satu mobil saja, kamu naik ke mobil saya.!!
"Terima kasih pak, tapi saya menggunakan mobil saya saja pak.!
"Jangan membantah, ini perintah, dan saya tidak suka mengatakannya dua kali.!!
Dinda yang memang malas berdebat, menurut saja, dia pun masuk ke mobil Edo, dan bersikap biasa saja membuat Edo jadi serba salah.
Sepanjang jalan Edo dan Dinda tidak ada yang buka suara, keadaan di mobil itu pun hening, namun sesaat kemudian keheningan itu pun berubah, karena ponsel Dinda berdering, Dinda melihat layar ponselnya, bibirnya tersenyum melihat nama yang tertera di layar, dan mengangkat panggilan itu.
"Halo Brian, apa kabar, aku merindukanmu.! Dinda menjawab panggilan itu, dan kalimat pertama yang keluar dari mulut Dinda, membuat Edo, deg, deg ser.
"Oh ya, aku senang mendengar kamu sudah kembali, kamu bawakan Bri oleh-oleh untukku?? Dinda pun lanjut bicara di ponselnya.
Mendengar Dinda bicara dengan seorang pria, apa lagi terlihat dekat, membuat darah Edo panas dingin, dan karena kesal Edo pun sengaja menyalakan Bluetooth, memutar lagu dengan volume yang lumayan kuat, hingga pembicaraan Dinda pun terganggu.
Dinda yang tahu Edo tak suka, mengakhiri sambungan ponselnya dengan Brian, Dinda hanya mengira Edo menilainya tidak sportif dalam kerja, karena ini masih jam kerja.
Edo yang melihat Dinda bersikap biasa dan tidak marah, membuat Edo makin kesal, karena Dinda seperti tak menganggapnya ada.
Ternyata wanita itu sulit di tebak, dan merepotkan, batin Edo, menambah kecepatan mobilnya, melampiaskan kekesalannya.
Makanya jangan gengsi Bro, πππ
Bersambung.
__ADS_1
Salam Authorπππ