BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
65. Yang Sebenarnya.


__ADS_3

Pagi menyapa, dan segala aktivitas pun di mulai, dengan semangat baru, tapi tidak dengan Dinda yang suasana hatinya masih berkabut.


Kevin tidak tahu apa yang terjadi semalam antara Edo dan Dinda, baginya Dinda dan Edo bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Kevin berangkat lebih dulu dan Dinda belum juga turun dari kamarnya, Kevin sengaja tak menyuruh pelayan memanggil Dinda, tak ingin Dinda jadi semakin tertekan.


Dinda terlihat sangat tidak bersemangat turun dari kamarnya, Gaby melihat wajah sembab dan mata Dinda yang bengkak.


Semalam Kevin menceritakan semuanya tentang Edo dan Dinda, Gaby pun mencoba memberi Dinda sedikit pandangan agar tidak menyesali kelak.


"Din.! apa kamu baik-baik saja??


Dinda tak menjawab, menundukkan kepalanya, tak berani menatap Gaby, ia yakin Gaby bertanya demikian karena melihat wajahnya yang sembab, dan matanya yang bengkak, akibat menangis semalam.


" Ada apa Din?? ayo duduk sini, cerita sama kakak, kalau kamu ada masalah.!


Dinda pun mengangkat kepalanya, menatap Gaby dalam, berpikir sepertinya memang ia butuh teman bicara, curhat masalah perasaanya, dan semoga saja ia mendapatkan solusi yang terbaik, setelah cerita dengan Gaby.


"Apa Edo menyakiti mu semalam?? tanya Gaby menatap Dinda yang masih berat untuk bicara.


" Tidak.! hanya saja aku bingung, Edo menuntut aku jujur dengan perasaan ku padanya, sementara Edo sudah memilih Nita jadi wanitanya.! ujar Dinda.


"Apa semalam kamu sudah berkata jujur pada Edo??


Dinda menggeleng, berpikir untuk apa ia jujur soal perasaanya, karena Edo sudah memilih Nita, kalau pun ia jujur, dan Edo akan memutuskan hubungan dengan Nita, dan Dinda tidak ingin Nita tersakiti dan merasa di khianati.


" Itu tidak akan mungkin, aku nggak mau Nita merasakan sakit hati yang sama seperti aku, ujar Dinda.


"Dengar Nita.! Edo butuh kamu jujur akan perasaanmu padanya, dan jangan memikirkan yang lain dulu, dan sebaiknya nanti kalian bicara baik-baik, agar semuanya jelas, dan kakak berharap kamu membuat keputusan yang tepat, karena kakak tidak ingin kamu menyesal karena sudah salah mengambil keputusan. "


"Tapi kak, _


" Dinda, kakak tahu ada yang mengganjal di hati mu, kakak hanya mau bilang sama kamu, segala sesuatu, kalau kita bicarakan baik-baik dan jujur, pasti akan mendapat solusi yang baik pula,, ujar Gaby"


Dinda pun diam, mencerna ucapan Gaby barusan, jujur ia memang memiliki rasa yang sama pada Edo, apakah saat ia nanti jujur, lalu bagai mana dengan Nita??


"Ya sudah, kamu berangkatlah ke kantor, kakak mu sudah berangkat lebih dulu, katanya ada rapat penting pagi ini, dan siapa tahu kakak mu membutuhkanmu di sana, dan bicaralah pada Edo baik-baik, ujar Gaby yang tahu Dinda masih merasakan keraguan.


" Baiklah kak.! aku berangkat dulu. " ujar Dinda dan pergi berangkat ke kantor.

__ADS_1


Sementara Edo masih duduk diam di ruangannya, perasaanya gelisah, karena Dinda belum juga datang, dan Edo akan mengatakan yang sebenarnya, semoga Dinda tidak lagi berbohong soal perasaanya.


Tak lama Dinda pun tiba di kantor, saat masuk ke ruangannya Dinda menundukkan kepalanya, tak berani menatap Edo yang duduk juga menatap kedatangannya.


Edo melihat wajah sembab dan mata bengkak Dinda, hatinya sakit melihat itu, berpikir pasti Dinda semalaman menangis, Edo pun semakin tak tahan, beranjak dari duduknya, menutup pintu ruangannya dan mengunci dari dalam, Edo sudah bertekad untuk bicara yang sebenarnya, ia sudah tidak tahan lagi, apa lagi melihat Dinda yang bersedih seperti itu.


Dinda yang melihat Edo menutup pintu dan mengunci dari dalam, menatap heran pada Edo, berpikir apa yang akan Edo lakukan, karena Edo menatapnya begitu dalam Dinda pun kembali tertunduk.


Edo berjalan, mendekati Dinda, menarik lengan Dinda agar berdiri dari duduknya, Dinda pun berdiri tapi tetap tak berani menatap mata Edo.


Edo pun menyentuh wajah sembab Dinda, dan tangannya mengangkat wajah Dinda agar menatapnya, Dinda pun terpaksa menatap Edo yang berdiri di hadapan nya.


"Bodoh.! kau gadis yang paling bodoh yang pernah aku temui, menangis semalaman apa kamu dapat jawabannya?? ujar Edo pada Dinda yang sudah ingin menangis.


Melihat mata Dinda mulai berkaca-kaca ingin menangis Edo pun menarik Dinda memeluk Dinda erat, hatinya sakit melihat Dinda yang diam saja dan sudah mau menangis.


"Aku tahu kamu berbohong, dan aku tidak akan pernah melepas mu, dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi, ujar Edo, merasakan punggungnya basah karena Dinda menangis dalam dekapan nya.


" Aku mencintai mu, aku dan Nita tidak punya hubungan apa pun, aku sengaja bicara select itu pada Nita agar kamu cemburu, dan jujur dengan perasaanmu, dan sekarang aku tanya padamu, apa kamu mencintaiku??


Dinda pun mengangguk dalam dekapan Edo, dan tangisnya semakin pecah, ingin sekali ia memukul Edo, karena sudah membuatnya salah paham pada Nita.


Edo pun merenggangkan pelukan nya, menghapus air mata Dinda lembut, dan menatap dalam mata Dinda.


" Jahat, kamu tega melakukan itu padaku, membuat aku sakit hati karena sikap mu, ujar Dinda kembali menangis.


"Huh, cengeng.! sudah jangan menangis lagi, aku nggak mau melihat air mata ini lagi, dan sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya, dan kamu mau kan jadi wanita yang berada di sini.?? ujar Edo sambil menepuk dadanya, menandakan Dinda adalah wanita yang sudah terpahat namanya di hati Edo.


Dinda pun mengangguk, merasakan genggaman tangan Edo begitu erat, seolah mengatakan bahwa Edo sungguh-sungguh dengan perasaannya, dan cintanya sudah terbalaskan.


Edo pun mendekatkan wajah nya pada Dinda, Dinda yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu pun melotot terkejut, karena Edo menciumnya dalam, ciuman yang lembut dan tidak berdasarkan n****su, Dinda pun memejamkan matanya, merasakan sentuhan di bibirnya itu dan akhirnya Dinda pun menyambut dan membalas ciuman Edo.


Dinda tertunduk malu, saat Edo menyudahi ciuman mereka, tapi dia senang karena Dinda membalas ciumannya tadi, meski berdurasi sedikit, tapi dia puas, karena Dinda sudah tidak lagi menyembunyikan perasaanya.


Edo pun merapikan anak rambut yang menutup wajah Dinda, mengelus wajah sembab Dinda dan mengecup mata bengkak Dinda.


"Lain kali aku nggak mau melihat wajahmu seperti ini lagi, kamu tahu hati ku sakit, jadi jangan pernah bersedih lagi karena aku nggak mau kamu menangisi hal yang tidak berguna, paham??


" Paham.!, sahut Dinda tersenyum hangat pada Edo, ia bahagia, ternyata Edo pria yang begitu dewasa, dan penuh pengalaman.

__ADS_1


"Gadis cengeng, nangis, semalaman sampai mata bengkak begitu.!


" Itu kan karena kamu, kalau saja semalam kamu nggak mengungkit soal itu, aku nggak mungkin nangis.


"Bicara jujur aja susah, gengsi kan.!


" Biarin, siapa suruh buat aku salah paham??


"Sudah, yang terpenting sekarang, kamu sudah tahu dan kita sudah baikan, dan mulai saat inj, kamu adalah wanita ku, dan aku nggak mau ya kamu dekat-dekat sama laki-laki lain, apa lagi terlihat akrab, karena aku nggak akan membiarkan itu terjadi, dan aku kan menghajar laki-laki itu.! ujar Edo agar Dinda tahu apa yang tidak ia suka.


"Kalau sama Baron nggak papa kan??


" Apa.!! coba saja, kalau kamu berani, aku akan mengurung mu, dan aku akan melempar pria itu ke kutub utara.!! kesal Edo, karena Dinda sengaja membuatnya cemburu.


"Huh, dasar tukang cemburu.!


" Biar saja, lagian ya, mana ada orang yang mau melihat kekasihnya dekat dan akrab dengan pria lain.!


"Iya, iya, aku akan ingat itu, tapi kalau sampai aku melihat mu juga seperti itu, lihat saja, apa yang aku lakukan.!! ujar Dinda tak mau kalah.


" Memangnya kamu mau melakukan apa??


"Yah, mungkin memotong.!!


" Memotong?? maksud nya??


"Itu tuh.! ujar Dinda sambil mengarahkan pandangan nya kebawah, dan Edo pun mengikuti pandangan Dinda yang menunjukkan ke arah bagian bawah celananya.


Edo pun menelan ludahnya kasar, saat tahu apa yang di maksud Dinda, tidak menyangka Dinda langsung membuatnya merinding, membayangkan aset berharganya di potong.


"Huh.! apa kamu tidak merasa rugi kalau memotong nya?? kamu kan belum tahu rasanya bagai mana, udah mau main potong aja.!!


" Mesum.!


"Biarin, kan mesumnya sama kamu, nggak sama orang lain.!!


" Udah ah, jadi bahas yang tidak-tidak, ujar Dinda, menyesal karena telah membahas hal itu.


Edo pun tersenyum, ia tahu Dinda jadi malu sendiri, tapi ia senang karena tidak ada lagi kesalahpahaman antara mereka dan semoga hubungan mereka kedepannya baik-baik saja, dan Edo akan membawa Dinda ke pelaminan, menjadikan Dinda wanitanya dan mereka akan membangun keluarga kecil mereka.

__ADS_1


Bersambung.


Salam Author 🙏🙏🙏


__ADS_2