BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
15. Perhatian Yang Di Abaikan


__ADS_3

Setelah Gaby tak sadarkan diri, Dokter Leo yang menangani Gaby pada saat itu pun mengatakan pada Kevin, jika Gaby dalam tekanan berat, dan itu tidak baik untuk wanita hamil mudah, karena masih rentan.


Kevin pun merawat Gaby penuh kehangatan, namun Gaby sama sekali tidak luluh, pikirannya hanya mengarah pada Kevin yang berpura-pura baik dan perhatian agar bisa mendapatkan anak yang di kandung Gaby setelah lahir.


Meski, Clara sudah mengatakan hal yang jujur pada Gaby, bahwa hubungan mereka adalah sepupu, dan kedatangannya adalah rencana Kevin yang ingin membantunya meluluhkan hati Gaby, dan ingin tahu perasaan Gaby yang sesungguhnya pada Kevin.


Namun Gaby tetap tak percaya, ia merasa itu hanya akal-akalan mereka semata, agar Gaby tidak merasa was-was dan mereka sepenuhnya akan mewujudkan rencana mereka guna mengambil anak yang di kandung Gaby setelah lahir.


Gabu tersadar dari lamunannya saat melihat pintu kamarnya terbuka, dan Kevin masuk dengan sebuah nampan berisi makanan.


"Kamu makan dulu, lalu minum obat, setelahnya istirahatlah, ucap Kevin lembut"


"Aku tak lapar.!!!! sahut Gaby ketus dan memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin bertatapan pada Kevin.


Kevin yangendengar jawaban ketus dari Gaby, hanya menghela nafas, dan mencoba bersabar dengan sikap Gaby, Kevin pikir itu hanya pengaruh hormon ibu hamil, seperti yang di katakan Dokter Leo, ibu hamil akan mengalami perasaan yang berubah-ubah, dan perlu kesabaran yang tinggi, menurut Kevin tak masalah, selagi Gaby masih bersamanya, dan itu juga salah satu buat Kevin memperbaiki hubungan mereka, dengan merawatnya dan memberi perhatian pada Gaby.


" Jangan membantah, kamu harus makan.! aku akan menyuapimu, ujar Kevin dengan sabar, meski ia merasakan sakit atas jawaban Gaby yang ketus"


"Buka mulutmu, Kevin menyodorkan sendok yang berisi bubur ingin menyuapi Gaby"


Gaby yang tak suka pun karena Kevin memaksanya, menepis kasar tangan Kevin, hingga mangkuk bubur yang di pegang Kevin pun terjatuh ke lantai hingga pecah berantakan"


Namun Kevin tak marah, ia memunguti semua pecahan mangkuk itu dengan sabar, bahkan tak mengatakan apa pun pada Gaby, ia mencoba sabar dan menerima setiap penolakan Gaby, dan mereka tak menyadari kejadian itu di saksikan Clara yang bermaksud ingin pamit kembali ke London.


Clara juga merasakan sakit,melihat Kevin yang sabar dengan sikap Gaby, bahkan ia meneteskan air mata, tak menyangka Kevin akan menjalani hari-hari yang berat menghadapi Gaby, sementara Kevin tetap berusaha memberikan perhatian namun di abaikan.


Kevin membawa pecahan mangkuk dan nampan makanan yang sudah berantakan itu, namun saat akan keluar ia melihat Clara yang berdiri di pintu kamar Gaby dan Kevin melihat Clara menghapus air matanya.


"Cla,, kenapa berdiri di situ?? ujar Kevin setenang mungkin tak ingin menunjukkan ia sedang kerasakan sesak dan sakit atas sikap Gaby barusan, Kevin pun tahu Clara melihat dan mendengar kejadian tadi.


"Aku hanya ingin pamit padamu juga Gaby, ujar Clara yang juga bersikap seolah ia tak melihat hal yang baru saja terjadi"


"Masuklah, aku menunggumu di bawah, ucap Kevin dan berlalu menuju dapur"


Clara pun masuk, dan ia melihat Gaby yang memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar,meski Clara tahu Gaby juga begitu membencinya, ia tetap pamit dengan baik-baik pada Gaby.


"Gab,,, panggil clara dengan hati-hati, takut Gaby marah lagi"


"Hmm, sahut Gaby dengan deheman saja, meski ia juga tak suka pada Clara, namun Gaby merasa taj punya masalah apa pun padanya, dan ia tidak ingin egois, walau pun Clara sudah ikut menbohongi Gaby, karena Clara tak mungkin melakukan itu bila bukan Kevin yang memaksanya, dan Gaby melihat Clara wanita yang baik dan lembut, selama di mansion ia tak pernah bersikap kasar dan tak sopan pada Gaby, hanya melakukan akting yang membuat hatinya panas dan cemburu.


"Aku minta maaf untuk semua yang terjadi, dan mungkin maafku juga tak berlaku untukmu, ucap Clara yang sudah meneteskan air matanya"


"Aku paham bagaimana perasaanmu Gab,, dan juga sudah terlalu sakit dan sulit untuk membentuknya lagi seperti awal."

__ADS_1


"Aku tak berpihak untuk siapa pun di antara kalian, aku hanya berharap kalian bisa berbaikan, aku tahu itu sulit, tapi ketahuilah, semua yang terjadi atas kesalahan masa lalu, dan Kevin melakukan hal itu padamu karena masa lalu yang lebih dulu menyakitinya, tidak mungkin ada asap bila tak ada api" Clara bicara setenang mungkin, walau ia tahu perkataannya juga menyakiti Gaby.


Gaby hanya diam dan mendengar, tak berniat menanggapi ucapan Clara, namun ia Gaby juga membenarkan ucapan Clara, tapi tetap saja, Kevin sudah menyakitinya, dan membuatnya terluka.


"Maaf,,,, aku mengatakan itu bukan menyalahkan siapa pun atau memihak siapa pun, aku hanya ingin mengatakan, setiap orang punya kehilafan, namun caranya berbeda-beda, dan cara Kevin memperlakukanmu memang salah, tapi ketahuilah, semua itu tidak terlepas dari kesalahan di masa lalu"


"Kehidupan yang ia jalani sangat berat, saat di mana ia butuh tempat mengeluh, bersandar dan menangis, tak ada, yang ada hanya derita yang menyakitinya setiap kali ia melihat keadaan aunty dan om Bora"


"Hal itulah membuat ia jadi gelap mata, tak punya perasaan, dan hilang kepercayaan diri, andai kau di posisinya saat itu, aku yakin kau juga tidak akan bisa menerima hal itu, bahkan yang kau lakukan tidak akan bisa di tebak siapa pun karena hati dan perasaanmu kosong yang ada hanya " Dendam"dan membalasnya.


Gaby yang mendengar penuturan Clara tertegun, ia pun meteskan air matanya, apa yang di katakan Clara benar adanya, tapi tetpa juga Gaby belum bisa memaafkan dan menerima Kevin, penderitaan yang ia rasakan begitu sakit, dan ia merasa Kevin melibatkan ia dengan masa lalu yang ia tak tahu dan tak ikut berbuat, walau ia putri Alvaro, tapi ia tak tahu soal perbutan keji orang tuanya.


"Aku hanya berharap, kelak kalian bisa baikan, dan Kevin bisa berdamai dengan masa lalu, ucap Clara lagi"


"Maafkan aku yang sudah ikut masuk dalam permainan Kevin, aku menyesalinya, dan aku ke sini untuk pamit, aku akan kembali ke London, pamit Clara.


Gaby tak menjawab hanya tangis pilulah yang bisa ia perlihatkan saat itu, seraya memandang langkah Clara keluar dari kamarnya.


Clara yang sudah turun pun, mendapati Kevin duduk di sofa ruang tamu termenung dan entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


" Vin,, aku berangkat sekarang, ucap Clara,membuyarkan lamunan Kevin"


"Baiklah,,, maaf sudah membuatmu terlibat dalam masalahku, dan kamu jadi di benci Gaby, ucap Kevin tertunduk"


"Maksih Cla,, aku menyesalinya, dan aku akan berusaha sebisaku,ucap Kevin memeluk Clara"


"Kamu hati-hati ya, sampaikan salamku pada paman dan bibi, tolong rahasiakan ini dulu, sebelum aku berhasil, ucap Kevin yang tak ingin paman dan bibinya ikut sedih dengan keadaanya, karena saat ia terpuruk dulu, paman dan bibinya yang begitu berjasa membangkitkannya dari keterpurukan itu.


"Kamu jangan hawatir, aku jamin itu, sahut Clara dengan senyum terbaiknya'


"Tak usah mengantarku, kau jagalah Gaby, aku tahu sebenarnya dia hanya belum bisa percaya, namun seiring berjalannya waktu akan terjawab segala rasa kecewa dan bimbang dalam dirinya'


Clara pun, akhirnya kembali ke London, dengan sejuta rasa bersalah dan penyesalan, namun ia optimis, Kevin bisa memperbaiki hubungannya dengan Gaby, walau ia tahu, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Setelah kepergian Clara, Kevin meminta pelayan, memberi Gaby makan, karena Gaby belum makan apa pun, dan ia tak mau janin dalam perut Gaby kenapa-napa.


Pelayan pun membawa makanan itu ke kamae Gaby, dan memberi sedikit pengertian, karena ia tak boleh egois karena ada nyawa yang juga harus ia pikirkan, akhirnya Gaby pun memakan makannya, dan beruntung Gabu tidak mengalami ngidam, dan ia bebas memakan apa saja.


Sementara Kevin pun pergi ke kantornya, ia tak ingin membuat Gaby semakin membencinya, dan ia sadar Gaby butuh waktu dan ketenangan, dan Kevin memberikan ruang untuk Gaby bisa menerimanya dengan terbuka tanpa ada embel-embel sakit hati lagi.


"Edo,, panggil Kevin dan ingin bicara sesuatu di ruangannya, Edo yang di panggil pun langsung menghadap"


Kevin meminta Edo di sofa, dan bertanya tentang keadaan di pulau pribadinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan di pulau.? Kevin bertanya'


'Semenjak anda meminta kami untuk mengatakan pada tuan Alvaro tentang keinginan anda, mereka sangat berterima kasih, dan mengatkan maaf yang tulus pada anda juga Nyonya dan Tuan Besar, ucap Edo menerangkan.


'Dan sepertinya mereka menerima situasi kehidupan mereka di pulau, meski mereka terkurung di pulau, seperti yang saya amati, mereka masih bersyukur hidup normal, dan bergerak bebas di pulau, tanpa siksaan dan terkurung, ucap Edo lagi menyampaikan perkembangan di pulau.


Semenjak Kevin pulang dari Jerman, dan kedua orang tuanya meminta agar ia berdamai dengan masa lalu itu, tanpa sepengetahuan Gaby, Kevin tidak lagi menyiksa Alvaro dan Bita, Kevin memberi mereka hidup layak, meski tidak seperti kehidupan Alvaro yang berkuasa dulu, tapi mereka menerima itu, karena pada dasarnya mereka memang salah dan sudah membuat hal yang menghancurkan mereka sendiri.


Namun Kevin juga mengatakan sebelum Kevin bisa memutuskan untuk mereka hidup bebas, walau Kevin memberi mereka hidup layak, bukan berarti Alvaro dan Bita akan berbuat hal untuk melarikan diri.


Alvaro dan Bita yang sudah menyesali, dan merasa bersalah pada Gaby , putri kesayangannya itu, menghargai keputusan Kevin, hingga tiba waktunya Kevin membebaskan mereka.


"Tapi bos, tuan Alvaro memohon kala itu, ingin bertemu dengan Nona, ujar Edo menyampaikan pesan Alvaro'


'Akan ada waktunya, dan katakan padanya untuk bersabar, aku tak ingin Gaby semakin membenciku, karena saat ini Gaby belum bisa menerimaku, ujar Kevin dengan helaan nafas berat, mengingat Gaby yang selalu bersikap ketus dan selalu emosi bila berhadapan dengannya'


'Baiklah bos, akan saya sampaikan pada tuan Alvaro, dan saya berharap juga Nona bisa menerima anda, saya tak tega harus melihat anda selalu di tolak, dan terkadang saya ingin sekali mengatakan pada Nona bahwa anda sudah memperlakukan Tuan Alvaro dan Nyonya Bita, dengan baik, ujar Edo mengungkapkan isi hatinya yang tak tega dengan situasi yang di alami bosnya itu.


'Jangan sampai iti terjadi Do, aku ingin mempertemukab mereka dengan keadaan yang sudah membaik, dan biarlah Alvaro yang menceritakannya sendiri pada Gaby, karena tak mungkin ia tak mempercayai mereka, sahut Kevin dengan sejuta gejolak dalam dadanya.


" Bila itu keputusan anda,, saya akan bungkam, tapi saya tak janji bila Nona masih tetap bersikeras dan bersikap kasar pada anda, karena say tak punya cuku kesabaran bila melihat anda selalu diam dengan sikap Nona, ujar Edo lagi yang membuat Kevin tertegun karena Edo juga merasakan sakit dengan sikap Gaby.


"Kirimkan kebutuhan mereka ke pulau, dan izinkan juga mereka menghirup udara bebas,tetap suruh para pengawal mengawasi, ucap Kevin pada Edo lagi"


"Sesuai perinta anda bos, sahut Edo patuh, dan beranjak keluar dari ruangan sang bos'


Tak terasa hari sudah sore, Kevin pun pulang ke mansion, berharap Gaby tidak lagi marah padanya nanti, meski ia tak yakin dengan itu, namun ia tak putus asa.


Kevin yang sudah tiba di mansion, membersihkan dirinya terlebih dahulu, dan nanti ia akan menemui Gaby di kamarnya.


Seusai mandi Kevin pun menemui Gaby di kamarnya, saat ia masuk Kevin mendapati Gaby duduk di sofa melamun dengan tatapan kosong, lagi-lagi Kevin merasakan sakit melihat Gaby seperti tak punya semangat hidup, dan itu karena perbuatannya yang sudah terlalu dalam melukai Gaby, dan sekarang ia menyesali hal yang sudah merugikan dirinya bahkan ia merendahkan harga dirinya agar Gaby bisa memaafkan dan menerimanya.


'Apa kamu bosan.? Kevin bicara menyadarkan lamunan Gaby, dan Gaby pun tersentak karena Kevin tiba-tiba ada di kamarnya, dan Gaby tak menyadari karena pikirannya yang melambung jauh, dan entah hal apa itu hanya Gaby yang tahu.


Gaby tak menanggapi ucapan Kevin bahkan tidak menoleh, namun Kevin tetap sabar.


"Bagaiman keadaan baby, apakah dia nakal, ucap kevin selembut mungkin, dan ia mengulurkan tangannya, untuk mengelus perut rata Gaby, namun reflek, Gaby berbalik ke arah Kevin dan langsung melayangkan tamparan pada Kevin dengan sorot mata tajam dan emosi yang memabara terkilat di mataGaby'


Kevin yang secara tiba-tiba di tampar Gaby, hanya diam terpaku merasakan panas di pipi kanannya, akibat tamparan itu.


Kevin tak marah dan tak membalas perbuatan Gaby, dia hanya diam di tempatnya, menatap Gaby yang gemetar karena emosi dan menatap tangan yang ia gunakan menampar Kevin.


Kevin tak ingin masalah bertambah, mencoba tersenyum agar Gaby tak merasa bersalah, ia pun berdiri mengelus lembut kepala Gaby berjalan pergi meninggalkan Gaby, walau sesungguhnya ia merasakan sakit di hatinya, dan ingin menangis ia berusaha tenang meninggalkan Gaby yang terpaku dengan perlakuannya, dan Kevin tak marah justru tersenyum dan mengelus kepalanya begitu lembut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2