
Gaby sama sekali tak bisa tidur, meski dia tidur di ranjang yang nyaman, tapi tetap saja ia tak bisa terlelap, pandangan matanya hanya tertuju pada Kevin yang terbaring lemah, hanya suara monitor yang mengisi ruang perawatan itu.
Lagi dan lagi, Gaby turun dari ranjangnya, mendekati ranjang Kevin, tak bosan-bosannya ia bicara pada Kevin meski tak ada respon dari Kevin, Gaby merasa Kevin bisa mendengar semua yang ia katakan.
"Aku tak bisa tidur Vin, perasaanku hampa, bangun dan bujuk aku untuk tidur, hiks, hiks, Gaby kembali menangis karena tak tega melihat keadaan Suaminya.
" Maaf sudah membuatmu seperti ini, aku memang bodoh, aku bahkan berani berniat kabur darimu, ku mohon jangan meninggalkanku dan anak kita, hiks, hiks.
"Waktu itu juga kau memintaku bertahan untukmu dan anak kita, jadi lakukan itu juga untukku dan anak kita, buktikan padaku kalau kau memang berjuang untuk kami, perkataan Gaby semakin menuntut, akibat merasa bersalah, bahkan tak tahu harus berbuat apa, agar Kevin secepatnya sadar dan membuka mata.
Gaby naik ke atas ranjang Kevin, walau sempit ia tak perduli, Gaby hanya ingin tidur di samping suaminya.
Gaby merebahkan dirinya di samping Kevin, dielusnya lembut pipi Kevin, lalu dengan hati-hati ia memeluk Kevin dari samping, ia ingin merasakan kehangatan bersama suaminya, meski suaminya sama sekali tak merespon apa yang di lakukan nya, dan perlahan ia pun memejamkan mata, berharap ia orang pertama yang melihat suaminya sadar.
Edo yang berjaga bersama para pengawal di luar ruang rawat Kevin, sesekali memeriksa keadaan di dalam, namun belum sampai masuk ke dalam, Edo sudah menutup lagi pintu kamar ruang rawat itu, karena tak sengaja melihat tuan dan Nona mudanya tidur satu ranjang.
"Mudah-mudahan, setelah kejadian ini, hubungan tuan dan Nona Gaby membaik, dan mereka hidup layaknya suami istri yang saling mencintai, ucap Edo bicara sendiri.
Saat Edo kembali duduk di kursi tunggu itu, dering notifikasi terdengar dari ponselnya, Edo pun melihat isi pesan di Hpnya, dan ternyata pesan itu dari orang suruhannya, yang menyampaikan informasi tentang para preman yang sudah di bekuk habis dan tak bersisa, dan sudah di amankan di markas, setelah membaca pesan itu Edo pun tersenyum menyeringai, sepertinya besok ia akan mendapatkan permainan baru, kalau saja ia tidak memikirkan keamanan tuan mudanya itu, ingin sekali rasanya Edo pergi malam itu juga, dan menghajar para preman itu sepuasnya.
Pukul 4:00 pagi hari, Gaby sudah terbangun dari tidurnya, saat ia ingin beranjak dari tempat tidur itu, ia sangat terkejut, saat melihat tangan Kevin memeluknya dari samping, sesaat jantung Gaby pun berdetak kencang, ia masih bingung, karena malam tadi Kevin tidur dengan tangan yang biasa saja, apa lagi di tangannya masih terpasang jarum infus.
Gaby pun perlahan mengangkat tangan Kevin, takut Kevin merasa sakit dan tak nyaman, namun saat ia ingin meletakkan tangan Kevin ke sisi kanan, tiba-tiba Kevin membuka mata dan bersuara, membuat Gaby terkejut dan merasa seperti mimpi.
__ADS_1
Sebum Gaby bangun, Kevin sudah sadar lebih dari satu jam, saat Kevin mengumpulkan tenaganya dan kesadarannya, ia merasakan ranjangnya amat sempit, lalu ia pun menoleh ke samping, dan betapa bahagianya ia melihat istrinya tidur di sampingnya, walau pun sempit.
Kevin tersenyum bahagia, namun saat ia menatap dalam wajah Gaby, ia jadi tak tega, terlihat jelas mata sembab istrinya, yang pasti begitu banyak menangis, dan tentunya merasa takut.
Di sisi lain, Kevin juga bahagia, melihat istrinya tidur di sampingnya, itu pertanda, istrinya sudah menerimanya dengan tulus.
"Kamu nggak suka ya aku peluk?? ujar Kevin, masih memegang tangan Gaby.
" Aku nggak mimpi kan??
"Kamu memang sudah sadar?? dan benar ini kamu yang bicara?? ujar Gaby masih linglung, berpikir ia bermimpi saat itu.
" Kamu tidak mimpi, apa kamu sudah tidak mengenali suaraku lagi?? ujar Kevin menjawab pertanyaan Gaby.
"Terima kasih, sudah bertahan untukku dan anak kita, dan maaf atas kesalahanku, ujar Gaby tak lagi bisa menahan sesak di dadanya.
" Kesalahan?? maksudnya?? tanya Kevin bingung.
"Kalau bukan karena kebodohan ku, kamu tidak akan mengalami kejadian itu, niat dan pikiran bodohku ingin lari dari mu, malah menjadi fatal, dan berujung mencelakai mu, ujar Gaby jujur.
" Sudahlah, jangan di bahas ya, aku tak menyalahkan mu soal kejadian ini, bagai mana pun ini musibah, dan jangan menyalahkan dirimu lagi, tapi berjanjilah satu hal padaku, ujar Kevin membuat Gaby terdiam.
"Kau mau kan berjanji untukku??
__ADS_1
Gaby hanya mengangguk tanda ia setuju, tapi ia tak tahu apa maksud Kevin memintanya berjanji.
" Berjanjilah setelah ini jangan pernah berpikir untuk pergi dariku dan meninggalkanku, tetaplah disisi ku, aku tahu kau sangat menderita semenjak bersamaku, tapi ku mohon, mari perbaiki bersama hubungan kita, demi anak kita dan keluarga kita, ujar Kevin, sembari mengelus perut Gaby lembut.
Setelah Kevin mengatakan itu, tangis Gaby pun semakin pecah, hingga terdengar ke luar ruangan, membuat Edo panik, dan langsung menerobos masuk, takut terjadi sesuatu pada tuan mudanya.
Namun saat masuk, Edo malah di kejutkan dengan tuan mudanya yang sudah sadar dan Nona nya dalam posisi memeluk tuan mudanya, membuat Edo jadi kikuk sendiri.
"Tuan muda, anda sudah siuman??
" Ah iya Do, terimakasih sudah melakukan yang terbaik untukku, ujar Kevin yang selalu salut pada Edo, selalu sigap dan siaga, apa pun keadaan yang terjadi padanya.
"Itu sudah tugas dan tanggung jawab saya tuan muda, kalau begitu saya keluar dulu, ujar Edo, tak enak melihat suasana canggung dalam ruangan itu.
" Baiklah, Terima kasih sekali lagi, ujar Kevin lagi.
"Sama-sama tuan muda, dan Edo pun keluar, lalu menutup pintu itu serapat mungkin, ia paham tuan dan Nona mudanya butuh waktu saat ini untuk semakin dekat dan berbaikan.
" Sini tidur lagi, aku sangat merindukanmu, walau ranjang ini sempit, tapi aku nyaman karena istriku ada di sampingku, ujar Kevin tersenyum senang, apa lagi Gaby jadi terlihat malu.
Gaby sama sekali tak menolak, ia pun tidur kembali di samping Kevin, namun wajahnya memerah, karena detak jantungnya begitu keras, membuat ia semakin malu.
Selama ini mereka tidak pernah tidur seranjang, Kevin menyentuhnya hanya memenuhi hasratnya, setelah itu ia meninggalkan Gaby di kamarnya, hingga hubungan mereka semakin memburuk, dan terancam bercerai, namun takdir berkata lain, Kevin yang di sadarkan ke dua orang tuanya, hingga Kevin bisa berdamai dengan masa lalu, walau sulit tapi ia mencoba untuk melalui semua itu, di tambah lagi, Gaby mengandung darah dagingnya, ia tidak mau anaknya di kemudian hari membenci dan menyimpan dendam padanya, akibat perlakuan buruknya pada istrinya.
__ADS_1