BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
19. Gaby Siuman.


__ADS_3

Sudah seminggu Gaby tidak juga sadar, Kevin yang bolak-balik dari rumah sakit dan kantor, sangat menguras tenaganya, belum lagi urusan kantor yang begitu padat, pikirannya terbagi, apa lagi saat ini Kevin sedang melakukan pertemuan bisnis dengan rekannya, terlihat dia tak fokus pada perbincangan mereka, membuat Kevin ingin sekali mengakhiri pertemuan itu, dan ingin cepat-cepat kembali ke rumah sakit, melihat keadaan istrinya yang masih belum siuman dan sudah seminggu lebih satu hari, tidak ada tanda-tanda istrinya membuka mata.


Saat pertemuan berakhir, ponsel Kevin berdering, dan panggilan itu dari rumah sakit, Kevin pun langsung mengangkat cepat.


"Ya ada apa??


"Maaf tuan kalau saya menganggu waktu anda.


"Tidak masalah, katakan ada apa kau menghubungiku, apa terjadi sesuatu pada istriku??


"Tidak tuan, Nona baik-baik saja, dan saya ingin memberitahu anda, bahwa Nona sudah siuman.


Deg


Jantung Kevin langsung berdebar kuat, seminggu ini ia menanti kabar istrinya itu, dan hari ini kabar baik ini ia dengar sendiri, dan ia begitu senang, karena istrinya sudah sadar dari tidur panjangnya.


Karena sangat senang, Kevin langsung berlari ke mobilnya, ingin secepatnya menuju rumah sakit, dan menemui istrinya itu.


Kevin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli banyak orang mengumpatnya, karena terlalu kencang melajukan mobil dan mengejutkan para pengendara lain.


Hanya 35 menit Kevin sudah sampai di rumah sakit, kalau di kira jarak waktu tempuh seharusnya memakan waktu lebih kurang satu jam, tapi karena Kevin melaju cepat ia pun tiba dengan waktu yang cukup singkat.


Kevin berlari masuk ke dalam rumah sakit, bahkan ia tidak memperdulikan banyak pasang mata melihatnya yang lari terburu-buru, yang terpenting saat ini baginya bisa secepatnya bertemu dengan istrinya.


Pintu ruangan rumah sakit pun terbuka cukup keras, karena Kevin sedikit kasar membuka pintu itu, dengan nafas yang ngos-ngosan, ia pun masuk berjalan mendekati ranjang tempat istrinya terbaring lemah, dan beberapa perawat dan seorang dokter juga berada di dalam, masih memeriksa keadaan Gaby dan memastikan baik-baik saja.


"Tuan bisa kita bicara sebentar di luar, ucap dokter itu pada Kevin yang mengerutkan dahinya bingung, tapi ia tetap mengikuti langkah dokter itu keluar dari ruangan Gaby.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau bicarakan??


"Begini tuan, setelah Nona sadar, Nona sama sekali tidak mau bicara, dan kami sudah beberapa kali mengajak Nona bicara, tapi tidak ada respon, Nona hanya menatap dan memutar bola matanya, ucap dokter Damien serius.


Deg


Lagi dan lagi jantung Kevin berdetak kuat, mendengar istrinya tidak bicara sama sekali, membuat pikiran Kevin frustasi, sungguh ia begitu sakit merasakan semua ini, padahal ia sangat bahagia tadi mendengarkan istrinya sudah sadarkan diri, tapi lagi-lagi ada saja kabar yang membuat dadanya sesak dan pikirannya berkecamuk.


"Maksudmu istriku tidak bisa bicara??


"Saya belum bisa mengatakan apa pun saat ini tuan, tapi melihat kondisi dan hasil pemeriksaan saya, Nona tidak mengalami gangguan apa pun, dan tidak ada yang serius, keadaan Nona juga sudah stabil, ucap dokter Damien itu.


"Kalau begitu, apa yang terjadi dengan istriku.! dan kenapa dia tidak bisa bicara.??


"Saya akan mencari tahu tuan, dan ini hanya dugaan saya saja, Nona sebenarnya tidak apa-apa, hanya belum ingin bicara, dan sepertinya tuan harus lebih memahami Nona, dan saran saya bicara saja pada Nona seperti biasanya, saya yakin Nona hanya belum mau bicara pada siapa pun saat ini.


"Baiklah tuan, kalau begitu saya undur diri, dan silahkan anda menemui Nona.


Kevin pun masuk ke ruangan Gaby, di lihatnya istrinya hanya menatap kosong, dan tak menoleh sedikit pun, walau mendengar pergerakan dai langkah kaki Kevin.


"Ada yang sakit?? bicara selembut mungkin, agar Gaby lebih rileks.


Gaby tak merespon,ia menoleh sebentar lalu membuang wajahnya ke arah lain, namun Kevin tak putus asa ia terus mengajak Gaby bicara dan menanyakan keadaanya.


"Apa kau ingin minum??


"Atau kau lapar hm??

__ADS_1


"Katakan padaku, di mana yang sakit??


Satu pun pertanyaan Kevin tak di respon oleh Gaby, Kevin bisa melihat dari tatapan mata Gaby, kalau istrinya itu bukan tidak bisa berbicara atau ada masalah dengan lidahnya, tapi memang istrinya tidak ingin bicara pada siapa pun saat ini.


Kevin mengangkat tangannya, menggenggam tangan Gaby, mencoba menyalurkan perasaanya lewat sentuhan itu, namun sesaat Kevin merasakan sesak di dadanya, hatinya sakit, saat Gaby melepas genggaman tangannya, dan tidak menoleh sedikit pun pada Kevin, namun Kevin tidak putus asa, dia harus bersabar, mengembalikan dan meyakinkan istrinya untuk mempercayainya sepenuhnya.


"Baiklah kalau kau masih tidak ingin bicara, aku tahu kau masih sangat membenciku, tidak apa-apa, aku bisa paham dan menerima itu, aku akan pergi dari sini, dan meminta perawat menemani mu, kau bisa meminta tolong padanya, bila perlu sesuatu, Kevin pun keluar dari ruangan itu, bahkan air matanya sudah menetes, merasakan sesak di dadanya, melihat istrinya sama sekali tak ingin bicara dan melihat wajahnya.


Di luar ruangan di kursi tunggu Kevin, menangkup wajahnya, dengan kedua telapak tangannya, tubuhnya bergetar karena menangis, ia tak bisa menahan air matanya, berharap istri siuman dan mereka akan berbaikan dan hidup bersama, tapi harapan tak sesuai dengan kenyataan yang di dapatkan Kevin.


Gaby menangis di dalam ruangannya, saat Kevin berjalan keluar, hatinya sakit melihat suaminya pergi, ia hanya tak ingin di kasihani Kevin, baginya sudah cukup, dan ia sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Kevin.


Gaby mengira surat cerai yang di tanda tanganinya, juga sudah di tandatangani Kevin, dan ia merasa hubungannya tidak lagi ada dengan Kevin, dan mereka hanya sebatas mantan suami dan istri, itu sebabnya Gaby memutuskan tak bicara, karena ia tidak akan sanggup dan tidak bisa menahan air matanya, berusaha kuat dan tidak lemah di hadapan Kevin, namun hatinya hancur, apa lagi saat mendengar Kevin bicara lembut tadi padanya, membuat hati Gaby semakin sakit, dan meratapi dirinya yang di permainkan nasib dan hidupnya begitu buruk.


Kevin masih tetap duduk di kursi tunggu, walau ia tak masuk ke dalam, setidaknya ia menjaga di luar, ia tak ingin istrinya kenapa-napa, dan menunggu sampai istrinya pulih.


Seorang perawat yang di tugaskan Kevin untuk membantu istrinya, tak sengaja memberitahukan keberadaan Kevin yang menunggu di luar duduk di kursi tunggu, bahkan tertidur di sana.


Gaby penasaran, memastikan sendiri ucapan perawat itu, dia pun turun dari ranjang itu, dan di bantu perawat yang menjaganya, berjalan menuju pintu.


Gaby pun membuka pintu perlahan, mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit, melihat Kevin tertidur dengan posisi duduk di kursi tunggu itu, hatinya bagai di iris, melihat suaminya masih bertahan di sana, apa lagi sampai tertidur dalam posisi duduk begitu, membuat Gaby meneteskan air matanya, menangis dalam diam, berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini, karena ia merasa bukan lagi bagian dari Kevin, dan seharusnya menjauh dari kehidupan Kevin.


Bersambung.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2