
Melihat Sarah pingsan, Edo pun menyuruh pengawal untuk menyiram Sarah dengan air, agar Sarah sadar kembali.
Byuuurrr.!!!
Satu ember air pun di siram ke Sarah, membuat Sarah membuka matanya, merasakan perih dan sakit luar biasa, karena luka yang ada di tubuh Sarah semakin perih karena siraman air itu, bahkan tubuhnya gemetar karena menahan sakit, kakinya pun sangat lemas, andai saja bukan karena tiang besi sebagai penyangga tubuh Sarah, ia pasti sudah ambruk.
"Menyenangkan bukan?? ujar Bita pada Sarah yang sudah tidak berdaya.
" Inilah akibatnya karena kau sudah berani mencari masalah dengan kami.!! ujar Ayuma tak kalah galaknya bicara pada Sarah.
"Kau masih beruntung karena menantuku sedang hamil, kalau tidak, Kevin sudah membuat mu tinggal nama.!! ujar Ayuma lagi, karena tahu betul bagai mana sifat putranya.
" Ma.. af, ujar Sarah bicara seolah tak sampai, karena sudah sangat kesakitan dan memilih lebih baik mati, dan mereka mengakhiri hidupnya, agar ia tidak merasakan sakit lebih lama lagi.
"Maaf mu sudah tidak berlaku.! berani berbuat, harus berani menanggung resikonya, ujar Bita yang masih geram pada Sarah, meski sudah babak belur, tidak membuat mereka iba.
Orang-orangnya Sarah pun ikut menyesal, mereka bahkan tak percaya karena lawan mereka bukan orang sembarang, bahkan wanita saja bisa bersikap kejam begitu, dan pantas saja, para musuh mereka berpikir dua kali untuk berurusan dengan keluarga Bora, karena mereka tidak bisa di anggap sepele.
Ayuma dan Bita pun berhenti menyiksa Sarah, bagi mereka itu sudah cukup, dan selanjutnya itu adalah urusan Edo, dan mereka pun menyerahkan sepenuhnya pada Edo.
"Urus mereka semua, dan buat mereka membusuk di penjara, karena mereka pantas mendapatkan nya.!! ujar Ayuma pada Edo, dan mereka pun keluar dari ruangan itu, ruangan yang sudah di penuhi bau amis dan darah yang bercecer ke mana-mana.
" Sudah puas Mom?? tanya Bora pada Ayuma istrinya, yang menemui mereka di ruangan yang lain.
"Sangat, sangat puas.! jawab Ayuma, yang lelah, duduk di sofa, karena tenaganya terkuras karena mencambuk Sarah tadi.
__ADS_1
"Apa kalian membuatnya mati?? tanya Alvaro, yang melihat istrinya dan Ayuma, dengan nafas yang tidak beraturan.
" Wanita itu tidak boleh mati secepat itu.! ujar Kevin,, yang masih ingin Sarah menikmati ganjaran nya.
"Jangan menyentuh wanita itu, istrimu sedang hamil, Daddy nggak mau sesuatu terjadi pada kalian.! ujar Bora pada Kevin, mengingatkan agar tidak tersulut, dan menyentuh Sarah sedikit pun.
" Ya Daddy benar, karena aku akan meminta Edo melakukan nya untuk ku, ujar Kevin, yang tak mau membantah perkataan Daddy nya.
"kita pulang saja, Gaby pasti sudah lapar, ujar Ayuma yang tetap perhatian pada menantunya itu.
Mereka pun pergi meninggalkan markas, tak ingin berlama-lama di sana, karena setiap kali melihat wajah Sarah, mereka akan tersulut, dan bisa-bisa, Sarah mati di tangan mereka.
Rencana berubah di tengah jalan, karena Gaby tiba-tiba ingin makan sesuatu, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk makan di salah satu restauran, tempat yang menu makanannya yang sesuai dengan keinginan Gaby.
Berbagai makanan yang lezat dan nikmat di sajikan para pramusaji restauran itu, membuat Gaby berbinar menatap semua makanan lezat itu, entah kenapa Gaby begitu pingin makan bebek panggang utuh, membayangkan saja pun, air liurnya sudah hampir menetes.
"Pelan-pelan sayang, nggak akan ada yang mau merebut makanan mu, ujar kevin, yang melihat istrinya makan belepotan.
Gaby tidak memperdulikan apa yang di katakan suaminya, dengan lahap nya Gaby menikmati bebek panggang itu, hingga ludes, setelah itu, Gaby pun masih ingin ikan Baker, membuat mereka semua menatap tak percaya pada Gaby.
"Kenapa kalian melihat ku begitu?? tanya Gaby, yang tak suka di tatap aneh seperti itu.
" Kamu serius sayang, masih mau makan ikan bakar itu?? tanya Kevin yang melihat istrinya sudah menarik piring yang berisi ikan bakar itu.
"Kamu ini ya, pake nanya lagi, biarin aja, Gaby makan sepuasnya apa yang dia mau, ujar Ayuma yang juga tak suka mendengar ucapan Kevin.
__ADS_1
" Bukan gitu Mom, aku hanya takut Gaby sakit perut, karena kekenyangan, karena dia baru saja menghabiskan satu bebek panggang, utuh lagi, ujar Kevin yang khawatir istrinya jadi sakit, karena kebanyakan makan.
Mendengar Kevin bicara seperti itu, membuat Gaby, menghentikan makan nya, dan menjauhkan piring yang berisi ikan bakar itu, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Loh, kenapa sayang?? tanya Ayuma yang melihat Gaby tidak jadi memakan ikan bakar itu, dan sudah mau menangis.
Gaby tidak menjawab, menggeleng lemah, bahkan air matanya sudah menetes, dan menundukkan kepalanya.
Ayiuma pun melotot tajam pada Kevin, karena ucapannya, Gaby jadi tersinggung, dan sudah menangis.
Kevin yang di tatap tajam oleh mommy nya pun, jadi serba salah, padahal ia mengatakan itu bukan karena pelit, atau pun mengatakan Gaby rakus, tapi karena takut Gaby sakit perut, apa lagi Gaby sedang hamil.
"Maaf, mas bukan nya bermaksud lain sayang, mas hanya takut kamu sakit, itu saja, nggak Ada maksud lain, ujar Kevin, membujuk istrinya yang sudah menangis dan ngambek.
Gaby bukannya diam menangis, malah semakin mengencangkan tangisnya, hingga membuat mereka semua melotot tajam pada Kevin, yang nggak peka jadi suami.
Kevin yang tersudut sendiri, akhirnya pun menyerah, mengambil ikan bakar itu, meletakkan di depan istrinya, bahkan juga mengambil ayam goreng sebagai bonus, agar istrinya nggak ngambek lagi dan berhenti menangis.
Gaby yang melihat ikan goreng itu tepat di depannya, langsung menghapus air matanya cepat-cepat, dan tanpa perduli pada siapa pun, Gaby menyantap dengan lahap ikan bakar itu, dan akan melanjutkan makan ayam goreng sebagai bonus yang di berikan Kevin.
Melihat tingkah istrinya yang begitu mudah berubah, membuat Kevin menggeleng dan tepok jidat, dan yang lainnya pun, senyum mengejek pada Kevin, yang akhirnya menyerah pada ibu hamil itu, dan terlalu bucin karena tak bisa melarang istrinya, hanya karena sudah meneteskan air mata buaya.
Alvaro dan Bora pun, tertawa, melihat Kevin yang sama seperti mereka berdua yang tak berkutik, bila kedua ratu itu sudah berbuat semaunya, tapi mereka senang karena Ayuma dan Bita, begitu menyayangi mereka sebagai suami, meski pun galak, tapi mereka begitu penyayang.
Bersambung.
__ADS_1
Salam Author 🙏🙏🙏