
Lantai yang dingin jadi saksi bisu kesakitan dan ketidakberdayaan Sarah, dia melihat sekelilingnya, masih banyak darah yang hampir mengering di lantai.
Sarah menangis dalam sepinya ruangan itu, tak mengeluarkan suara atau pun isak tangisnya, hanya air matanya lah yang menetes sebagai bukti Sarah menyesali perbuatannya.
Sekelebat bayangan ingatan terlintas di benak Sarah, kenangan saat Sarah dan Kevin masih remaja masa mereka masih sekolah, hubungan persahabatan yang baik, dan mereka melalui kebersamaan itu begitu indah dan damai.
Namun seiring berjalannya waktu, Sarah menjadi orang yang egois, perasaan suka dan cinta pun tumbuh dalam hatinya, karena mereka begitu dekat.
Keegoisan Sarah pun bertambah, karena cintanya semakin besar, pada Kevin, hingga ia melupakan hubungan baiknya dengan Kevin sebagai sahabat, hingga siapa saja yang dekat dengan Kevin, Sarah tidak segan-segan memberi peringatan dan membuly orang itu.
Dari dulu Sarah memang sangat mencintai Kevin, tapi Sarah salah dalam menyikapi perasaannya pada Kevin, hingga cinta yang tumbuh membuatnya buta dan cemburu, karena Kevin tidak pernah merasakan perasaan apa pun pada Sarah, dan akhirnya cinta yang di miliki Sarah berubah jadi sebuah obsesi, dan membuatnya melakukan apa pun demi obsesinya.
Sarah juga mengingat bagai mana ia selalu mengikuti dan mencari tahu informasi tentang Kevin,, bahkan setiap detiknya Sarah tahu Kevin sedang berada di mana, dan selama itulah ia terus berusaha sampai bisa mendapatkan Kevin menjadi kekasihnya.
"Kenapa kau tidak pernah melihat cinta yang begitu besar dalam diriku?? kenapa Vin?? tangis Sarah, karena cintanya begitu menyakitkan dan tak berbalas.
" Selama ini aku berusaha selalu bisa dekat pada mu, agar kau bisa melihat cinta yang aku miliki begitu besar untuk mu, kenapa ini harus terjadi padaku?? kenapa cinta ini tumbuh?? kenapa harus kamu yang aku cinta?? ujar Sarah lagi, dalam penyesalannya yang mendalam.
"Aku tahu aku salah, telah melakukan perbuatan buruk dan dibutakan cinta yang tak berarti, apakah kau tak bisa memaafkan aku, dan mengingat aku sebagai sahabat mu dulu?? ujar Sarah masih bicara sendiri, meratapi nasibnya yang menyedihkan.
" Andai saja waktu bisa di putar kembali, aku akan lebih memilih tidak mengenalmu, karena ternyata memperjuangkan cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan, tangis Sarah pun pecah, dadanya sesak, merasakan sakit dengan ucapannya sendiri.
Sarah menangis pilu, meratapi semua itu, melihat sekujur tubuhnya yang babak belur, bahkan kulitnya tak ada yang tidak terluka, membuat Sarah ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga, melihat di sekitarnya benda apa saja yang bisa ia gunakan untuk memotong urat nadinya, karena ia sudah tidak tahan lagi, dan berpikir untuk apa lagi dia hidup karena semuanya sudah hancur dan berakhir.
Sarah pun mencari-cari benda yang bisa ia gunakan untuk mengakhiri hidupnya, tapi tak ada yang ia dapat, akhirnya sarah pun pasrah, bagai mana pun nantinya ia di perlakukan, Sarah siap dan berharap ia cepat mati.
Dengan tangan yang bergetar Sarah menyentuh wajahnya yang lebam dan ada luka sobek akibat cambukan yang di terimanya tadi, di raba nya wajahnya itu perlahan, lalu tangan nya pun terangkat, meraba kepalanya yang sudah tidak berambut lagi, bahkan di sana pun juga terdapat luka.
Sarah yang lelah menangis, akhirnya tertidur di atas lantai yang dingin itu, merasakan sakit di sekujur tubuhnya, namun Sarah tak bisa berbuat apa pun, karena ruang penjara itu tidak terdapat apa-apa.
Sekitar satu jam Sarah tertidur, namun tiba-tiba Sarah merasakan dingin yang luar bisa sampai ia menggigil kedinginan, karena para pengawal itu menyiram Sarah dengan air, agar Sarah bangun, dan mereka akan membawa Sarah.
"Bangun.!! jangan pernah bermimpi bisa tidur nyenyak di sini, karena tempat ini bukan surga tempat mu untuk bermimpi indah, tapi neraka yang akan menjemput ajal mu.!! ujar pengawal itu, sembari menyeret Sarah keluar dari ruang penjara itu.
Sarah yang di seret meringis sakit, saat luka-luka di tubuhnya bergesekan dengan lantai, dan membuat luka itu berdarah dan semakin parah.
Saat sudah di luar ruangan penjara itu, Sarah yang mereka hempaskan begitu saja, tersungkur tepat di kaki Edo yang datang lagi ke markas, untuk membawa Sarah ke penjara, sesuai yang di perintahkan Kevin.
Sebelumnya..
Setelah Kevin dan yang lainnya selesai makan siang, mereka pun kembali ke mansion, lalu Kevin mengajak Edo bicara di ruang kerjanya.
"Tak perlu menyiksa nya lagi, cukup serahkan dia pada polisi, dan Sarah harus bertanggung jawab dengan perbuatannya, ujar Kevin pada Edo yang terlihat heran dengan ucapan Kevin.
" Kenapa tuan muda merubah keputusan anda?? bukankah tuan muda bilang sendiri, kalau Sarah tidak akan mendapat ampun, ujar Edo yang masih bingung dengan keputusan yang Kevin ucapkan barusan.
"Kau benar, aku memang pernah mengatakan itu, mengingat Sarah yang sudah jauh bertindak dengan perbuatan jahatnya, ujar Kevin membenarkan perkataan Edo.
" Lalu apa alasannya tuan muda??
"Aku masih memberi Sarah kesempatan satu kali lagi, mengingat kami pernah jadi sahabat yang baik dan akrab, dan Sarah pernah menolongku dulu, jadi sebagai balasannya, aku memberinya kesempatan.! ujar Kevin, seraya menghela nafasnya panjang, sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal keji pada Sarah, namun Sarah sudah keterlaluan.
"Baiklah tuan muda, kalau itu sudah menjadi keputusan tuan muda, ujar Edo yang paham maksud Kevin.
"Setelah ini pergilah ke markas, temui Sarah, dan katakan padanya, aku memberinya satu kesempatan, tapi bila terulang kembali, maka tidak akan ada kata ampun lagi.! ujar Kevin pada Edo.
" Baik tuan muda, sesuai keinginan anda, Saya akan ke markas, dan akan mengurus masalah ini dengan pihak kepolisian, ujar Edo, pamit pada Kevin, Edo pun pergi melakukan tugasnya.
__ADS_1
Edo lebih dulu pergi ke kantor polisi, untuk membicarakan prihal masalah Sarah, dan mereka akan menyerahkan Sarah pada polisi, dengan segala bukti kejahatannya.
Setelah dari kantor polisi, Edo pun langsung menuju markas, untuk membawa Sarah ke kantor polisi, dan Edo juga berharap Sarah bisa berubah kelak, dan menjadi orang baik.
Saat Edo masuk, ia pun langsung menyuruh para pengawal itu mengeluarkan Sarah dari ruang penjara, pengawal yang melihat Sarah tertidur, langsung menyiram Sarah, agar Sarah bangun, dan menyeret Sarah, menghempaskan Sarah hingga tepat di kaki Edo.
Sarah yang melihat sepatu tepat di hadapan matanya, mendongak ke atas, melihat siapa pemilik sepatu itu, dan Sarah pun merangkak, berusaha bangun, namun karena badannya sakit semua, apa lagi luka-luka nya bertambah perih karena air yang di siram tadi.
"Bagai mana rasa nya?? apa menyenangkan?? tanya Edo bicara pada Sarah, seraya menatap tajam pada Sarah.
Sarah tidak menjawab, hanya menatap Edo sayu, ia mengira Edo akan menyiksanya lagi, hingga Sarah pun menoleh kanan kiri.
" Menyesal pun tiada guna kan, karena pada akhirnya kau kalah, dan kini nasib mu, ada dalam genggaman tuan muda.! ujar Edo lagi yang masih geram pada Sarah, karena Kejahatannya.
Sarah tetap tak menjawab, diam dan berusaha bangkit, menegakkan tubuhnya.
Edo yang muak melihat Sarah, hanya meringis, membelakangi Sarah, berpikir Sarah mencari simpatiknya agar Edo iba, dan Edo tidak akan mudah termakan trik yang murahan seperti itu.
Sarah yang sudah bisa duduk tegak, melihat Edo membelakangi nya, lalu menoleh pada kedua pengawal yang menyeretnya tadi.
Sarah yang melihat ada kesempatan, berusaha merangkak, mengambil sesuatu yang bisa ia pergunakan, Edo pun mendengar pergerakan Sarah, tapi berpikir Sarah masih pura-pura, dan mencoba mengambil perhatiannya agar ia kasihan, dan Edo pun, masih belum membalikkan badannya.
Sarah yang sudah dekat dan bisa menggapai benda yang ingin ia ambil itu pun, menyimpan di dalam bajunya, dan menatap Edo yang masih berdiri di posisi yang sama, begitu juga dengan para pengawal itu, yang sibuk membenahi rantai yang membelenggu kaki Sarah, karena mereka membuka rantai itu, karena Sarah akan di bawa saat itu juga.
"Apa kau sudah siap?? tanya Edo seraya membalikkan badannya, menatap Sarah yang bersandar di kaki meja.
" Ii iya, aku siap, ujar Sarah terbata, namun arti siap itu berbeda bagi Edo juga pada Sarah.
"Kau tahu, tuan muda masih berbaik hati pada mu, memilih mengirim mu ke penjara, dari pada menghabisi nyawa mu.!! ujar Edo, menatap Sarah sinis.
Sarah pun mencerna perkataan Edo barusan, bahwa Kevin lebih memilih, menjebloskannya ke penjara dari pada menghabisinya, seperti yang pernah Kevin katakan.
Mendekam di penjara selama bertahun-tahun, dan hidup dalam penyesalan dan penderitaan, bagi Sarah sama saja seperti sudah mati.
"Aa apa aku bisa meminta sesuatu?? ujar Sarah memohon satu permintaan.
" Apa kau mau meminta supaya kami membebaskan mu.!! ujar Edo, berpikir Sarah akan memohon untuk di lepaskan.
"** tidak, aku hanya mau minta secarik kertas dan pena, ujar Sarah pada Edo.
Edo pun memberi kode pada pengawal, agar memberikan Sarah secarik kertas dan pena, entah apa yang ingin Sarah lakukan dengan kertas dan pena itu, Edo tak mau bertanya soal itu, tapi ia penasaran apa yang mau di lakukan Sarah.
Pengawal itu pun memberikan kertas dan pena itu pada Sarah, dengan tangan yang gemetar, Sarah menerima kertas dan pena itu, lalu ia meletakan kertas itu di atas lantai, dan menggenggam pena itu sangat erat, karena tangannya kaku dan sakit saat di kepalkan.
Sarah pun mulai menulis, tangannya masih terlihat gemetar, namun ia tetap berusaha, dan kalimat pertama ia tuliskan adalah..
*Teruntuk Kevin Bora sahabatku.
Mungkin saat kau menerima surat ini, kau akan jijik dan tidak sudi membacanya, tapi aku merasa pantas dengan itu, dan ku harap kau membacanya, meski pun kau muak dengan sikap dan perbuatan ku.
Maaf, untuk segala hal yang pernah aku lakukan pada mu juga istrimu, aku begitu bodoh, di butakan cinta yang tidak berbalas, terobsesi pada mu, dan aku sampai lupa kalau kamu itu sahabat terbaikku, sahabat yang selalu ada, dan akan selalu menjadi sahabatku sampai kapan pun.
Mungkin dosa-dosaku tidak akan bisa di ampuni Tuhan, dan aku pasrah dengan itu, karena aku sudah berbuat kesalahan pada mu, sebagai permohonan terakhirku, aku hanya ingin kau memaafkan aku, sahabat mu yang bodoh ini, yang sudah menyakiti sahabat nya sendiri.
Bisa kan aku mendapat maaf itu???
Aku tidak marah dan sakit hati, karena kau sudah menghukum ku dengan caramu, dan aku tidak akan membawa dendam dalam kematian ku, dan aku berharap kau dan istrimu, hidup bahagia, dan kalian akan jadi keluarga yang harmonis.
__ADS_1
Semoga anakmu lahir dengan sehat , kalau dia laki-laki, dia pasti akan sepertimu, kalau perempuan, pasti seperti ibunya, dan aku yakin kau akan jadi ayah yang baik, dan suami yang bijak.
Sampaikan maafku pada Gaby istrimu, dan katakan padanya aku sangat menyesal, dan aku ada satu permintaan pada Gaby, kalau anak kalian perempuan, beri dia nama Gabriella, yang memiliki arti seperti malaikat, karena ibunya seorang wanita yang berhati malaikat, itu permintaan terakhirku, dan aku harap kalian bisa mewujudkannya, agar aku tenang, dan bebas, dari rasa bersalah dan penyesalan.
Terima kasih untuk waktu yang pernah kau berikan saat kita bersama dulu, sebagai sahabat yang selalu saling dukung,, tertawa dan menangis bersama.
Kevin Bora, akan selalu jadi sahabatku.!!
Maaf...
Sarah elvelin*.
Sarah melipat kertas itu dengan rapi, lalu ia memberikan pada Edo, agar surat itu sampai pada kevin.
"Tolong berikan ini pada tuan muda, ujar, Sarah menyerahkan surat itu pada Edo.
Edo pun menerima surat itu, menatap surat itu lalu menatap Sarah sebentar, lalu Edo pun mengangguk tanda ia akan memberikan surat itu pada kevin.
Sarah memaksakan senyumnya, saat melihat Edo mengangguk, lalu ia pun, mengambil benda yang ada di dalam bajunya, yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Edo dan dua pengawal itu.
Saat benda itu sudah Sarah genggam erat, ia pun tanpa ragu menancapkan benda itu ke perutnya, bahkan sengaja menahan tusukan itu, agar ia tidak akan bisa terselamatkan, Sarah mengakhiri hidupnya, dengan sebuah besi runcing, yang ia dapat dekat kaki meja, dan Sarah memang sudah tekad untuk mengakhiri hidupnya, hingga Sarah pun ambruk saat menghembuskan nafas terakhirnya, Edo pun terkejut saat melihat Sarah ambruk dan bersimbah darah, lalu melihat sepotong besi, tertancap di perut Sarah, membuat Edo dan dua pengawal itu panik dan mendekat pada Sarah.
Edo pun memeriksa denyut nadi Sarah, lalu mencek melalui hidung Sarah, dan Sarah sudah tidak bernyawa lagi, Edo pun langsung berdiri, tak menyangka Sarah nekat mengakhiri hidupnya, lalu Edo pun tersadar akan surat yang Sarah berikan tadi, Edo sempat berpikir itu adalah surat ucapan terima kasih untuk kevin, yang sudah memberi Sarah satu kesempatan lagi, namun ternyata tidak sesuai dengan apa yang di pikirkan Edo.
"Panggil dua orang pelayan, untuk membersihkan tubuh Sarah, ujar Edo pada pengawal itu.
Pengawal itu pun mengangguk lalu pergi, memangil pelayan untuk membersihkan mayat Sarah.
Edo pun mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi kevin, memberitahu kabar dan kejadian ini, dan akan bertanya apakah mayat Sarah akan di kuburkan dengan layak atau tidak.
" Ya, ada apa Do?? sahut kevin dari seberang saat mengangkat ponselnya.
"Tuan muda, sesuatu terjadi di luar dugaan kita.! ujar Edo.
" Maksud kamu??
"Sarah bunuh diri tuan muda.!
" Kau serius??
"Iya tuan muda, dan sepertinya Sarah benar-benar putus asa, hingga nekad mengakhiri hidupnya.!
" Apa itu pasti kalau Sarah yang memang mengakhiri hidupnya, atau ada yang janggal di sana.!
"Pasti tuan muda, karena itu terjadi di hadapan kami semua, ujar Edo memastikan dan berkata jujur.
Kevin terdiam sejenak, tak menyangka Sarah, nekad melakukan bunuh diri, padahal ia sudah memberikan Sarah kesempatan untuk bisa berubah dan kembali ke jalan yang benar, namun, niat baik kevin sia-sia.
"Tuan muda, apa mayat Sarah akan di makamkan dengan layak?? tanya Edo, menyadarkan kevin dari lamunannya.
" Makamkan dengan layak, dan buat makamnya di sebelah barat, jangan satukan dengan makam yang lain.! ujar kevin, menyuruh Edo memakamkan Sarah, terpisah, dari makam para penjahat yang mereka kubur di sebelah timur.
"Sesuai perintah anda tuan muda, ujar Edo, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Sarah pun di makamkan dengan layak, sesuai dengan keinginan kevin, bagai mana pun kevin tidak mungkin melupakan Sarah pernah jadi sahabat terbaiknya, namun Sarah terlalu berambisi akan hal yang tidak akan mungkin jadi miliknya, hingga berujung naas yang siapa pun tidak akan pernah tahu.
Bersambung.
__ADS_1
Vote ya, like ya, komen ya.
Salam Author๐๐๐