
Sudah sebulan lebih, Gaby tak juga luluh dengan segala usaha yang di lakukan Kevin.
Seperti saat ini lagi-lagi Gaby mengatakan hal begitu menyakitkan bagi Kevin, saat Kevin mengatakan akan membawa Gaby periksa kandungannya yang sudah masuk usia 2 bulan.
'Bersiaplah kita akan pergi ke rumah sakit memeriksa kandungan mu, aku rasa kamu juga ingin tahu perkembangan baby di dalam rahimmu, ucap Kevin lembut menyampaikan niatnya'
"Aku tak butuh di periksa.!! sahut Gaby dengan suara yang sedikit meninggi, menunjukkan ia tak ingin pergi dan tak butuh bantuan dari Kevin'
" Aku tak ada maksud lain, aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan baby, ujar Kevin menjelaskan agar Gaby tidak berprasangka buruk'
'Yang terbaik untukku dan baby.?? Hahahahaha, Gaby terbahak bak orang gila, menatap Kevin sinis.
'Sejak kapan kau memikirkan yang terbaik untuk "j******ng" sepertiku.!!
Kevin yang mendengar ucapan Gaby pun mengepalkan tangannya, ia merasa Gaby selalu mengungkit hal yang sangat ingin di hapus Kevin dalam ingatannya, namun lagi dan lagi, Gaby seolah sengaja mengatakannya, memancing Kevin agar emosi.
'Apa kau lupa anak ini adalah anak seorang 'j*****ng.?? darah yang mengalir di tubuhnya kelak pun adalah darah seorang 'j*****ng', Jadi berhentilah sok perduli dan perhatian, karena itu tidak akan merubah apa pun.!!
"Baiklah,, aku minta maaf kalau sudah lancang memintamu untuk periksa, dan aku juga minta maaf, bila perhatian dan kepedulian ku membuatmu tak nyaman, ucap Kevin dengan bibir bergetar dan dada yang sesak bahkan kakinya pun terasa lemas.
Menurut Kevin mungkin ini saatnya ia melepas Gaby, karena sebisa usahanya untuk mempertahankan Gaby sepertinya sia-sia, melepas mu lebih baik, dari pada mengikatmu dengan keterpaksaan, tidak akan bisa membuat hubungan akan menjadi lebih baik, batin Kevin berkata'
Setelah mengatakan maaf itu, Kevin keluar dari kamar Gaby, dan langsung menuju mobilnya pergi dari mansion.
Gaby pun menangis pilu, dan ia merasa bingung dengan sikapnya bila sudah berhadapan dengan Kevin.
Ia merasa senang kala Kevin berusaha meluluhkan hatinya, namun entah kenapa, mulut dan hatinya selalu bertolak belakang.
Sebenarnya ia sudah mulai bisa menerima Kevin, karena melihat usaha Kevin yang selalu sabar, dengan sikapnya dan tetap bicara lembut meski Gaby selalu berkata kasar dan ketus menanggapi.
Gaby pun merasa frustasi, niatnya hanya ingin Kevin menyesali perbuatannya, namun Gaby seolah belum puas melihat Kevin benar-benar menyerah dengan usahanya meluluhkan hatinya.
'Apa aku sudah keterlaluan.?? bicara pada diri sendiri"
'Aku bahkan begitu mencintaimu, hingga sakit yang dapat darimu, tidak menggoyahkan perasaan ini'
'Tapi kenapa begitu sulit untuk mengatakan padamu bahwa aku sudah memaafkan mu' ucap Gaby lagi yang bingung dengan sikap dan perasaannya.
Hari pun berganti malam, Gaby berharap Kevin kembali secepatnya ke mansion, Gaby sudah membulatkan tekadnya, untuk bicara baik-baik pada Kevin, dan mencoba menerima Kevin pria yang sudah membuatnya hancur, dan sekaligus pria yang sangat di cintainya.
Sudah hampir tengah malam Gaby menunggu, namun Kevin tak juga pulang, Gaby pun mulai dirundung rasa gelisah.
"Biasanya se marah apa pun aku, dia tetap kembali, dan selalu dengan sabar menemaniku, meski ku abaikan pikir Gaby, yang mulai khawatir'
Sementara Kevin yang di tunggu memang tak ada niat untuk pulang, karena saat ini ia berada di apartemennya.
Kevin sudah membulatkan tekadnya, untuk melepas Gaby, pertahannya sudah runtuh, tak ingin membuat hubungan yang terpaksa, karena akan menyakiti satu sama lain, Kevin merasa salah menilai, menganggap Gaby juga mencintainya, ternya salah.
'Besok temui lah Gaby, dan bawa berkas itu minta dia menandatangi, setelahnya berikan pada pengacara kita, ucap Kevin dengan suara seraknya, karena begitu berat baginya mengatakan langsung pada Gaby mereka akan bercerai'
Edo yang mendengar ucapan sang bos pun menatap sendu, tak menyangka bosnya merasakan sakit berulang-ulang, ia pun berpikir jangan sampai bosnya itu depresi lagi hanya karena masalah ini.
" Bos,,, apa anda sudah memikirkannya?? tanya Edo memastikan keputusan sang bos untuk bercerai dengan Nona nya'
'Itu akan lebih baik, aku tak ingin Gaby dalam tekanan tak nyaman karena selalu emosi melihatku, dan itu tak baik untuk anakku'
"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan anda, saya akan melakukannya sesuai perintah anda, ujar Edo dengan perasaan yang juga berat dalam situasi bos dan Nona nya itu'
" Kau istirahatlah, besok lakukan sesuai yang aku katakan, ucap Kevin mengingatkan Edo'
__ADS_1
"Saya permisi bos, dan akan saya lakukan sesuai keinginan anda, ucap Edo dan pergi meninggalkan Kevin yang dalam keadaan putus asa'
Gaby yang menunggu Kevin pun tertidur di sofa, bahkan ia sudah lupa apa tujuannya, karena bawah alam sadar sudah membawanya berkelana dalam mimpi.
Keesokan harinya, Edo sudah menuju mansion untuk menyampaikan apa yang sudah di perintahkan sang bos.
Gaby yang sudah bangun dari tidurnya, menemui seorang pelayan dan menanyakan Kevin pulang apa tidak, dan ternyata Kevin tak pulang, hingga membuat Gaby semakin merasa bersalah.
" Baru kali ini ia tak pulang, meski kami bertengkar hebat, dia selalu pulang, ke mana dia sebenarnya?? bertanya dalam hati, seraya berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Saat Gaby selesai dari ritual mandinya, bertepatan Edo juga sudah tiba di mansion.
"Tuan,, hormat pelayan saat melihat Edo di mansion'
'Apakah Nona sudah bangun.?Edo bertanya pada pelayan'
'Sudah tuan, sebentar lagi Nona pasti turun untuk sarapan, ucap pelayan memberitahu'
" Katakan pada Nona aku menunggu Nona di ruang kerja bos, ucap Edo memilih tempat itu karena tak ingin pelayan mendengar pembicaraan mereka'
'Baik tuan, sahut pelayan patuh berjalan menuju kamar Nona nya'
'Tok,,tok..
Mendengar ketukan pintu, Gaby pun bergegas membuka, dan ia berpikir itu adalah Kevin, namun saat membuka wajahnya terlihat kecewa saat pelayan yang berdiri, di depan pintu kamarnya.
'Ada apa Bik.??
"Tuan Edo meminta anda untuk ke ruang kerja tuan Kevin, katanya ada sesuatu yang ingin di bicarakan, ujar pelayan menyampaikan apa yang di perintahkan Edo tadi'
'Baiklah, saya akan ke sana, sahut Gaby, dengan perasaan tidak tenang, karena berpikir kenapa ia di suruh ke sana, dan Kevin, ke mana dia sebenarnya, apakah dia juga ada di sana.?? pikirnya.
Gaby yang mengira Kevin ada di sana, mencoba sedikit berdandan, karena ia ingin menyampaikan isi hatinya, tak ingin lagi berteka-teki, dan ia sudah memutuskan untuk berbaikan dengan Kevin.
"Silahkan duduk Nona, ucap Edo sopan, mempersilahkan Gaby duduk'
Gaby duduk tanpa menjawab, namun ia merasa aneh dengan raut wajah Edo yang tampak kurang semangat, biasanya wajah itu selalu terlihat tegas, pikir Gaby.
" Maaf sebelumnya Nona, sebenarnya, saya tak pantas mengatakan ini semua, namun bos meminta saya menemui anda, dan sesuai yang sudah di putuskan bos, anda akan bebas, dan bos tidak akan melarang anda untuk keluar dari mansion ini, ucap Edo hati-hati'
'Maksudnya?? saya tidak paham, ucap Gaby, yang belum bisa mencerna apa yang di katakan Edo'
"Bos membebaskan anda ke mana pun tujuan anda dan tanpa ikatan yang membelenggu anda lagi, ucap Edo"
'Langsung aja apa tujuan sebenarnya, saya tak paham dengan apa yang kamu katakan, bebas, belenggu, tujuan, apa maksud semua ini?? tanya Gaby yang mulai merasakan firasat tak baik, bahkan tangan sudah kembali basah, dan keringat di dahinya pun sudah mulai menetes.
"Bos, meminta anda menandatangani berkas perceraian anda dan bos, ucap Edo langsung tanpa basa basi lagi'
Duuaaarrrrrr
Gaby pun tersentak, jantungnya seperti di paksa keluar dari dadanya, tak menyangka Kevin menyerah dengan menceraikannya dan akan membebaskannya, tapi bukan itu yang Gaby mau.
Gaby yang shock dengan kenyataan itu pun mengalami kontraksi mendadak, padahal janinnya masih 2 bulan, tapi ia merasakan sakit yang luar biasa, hingga tak sadarkan diri, Edo pun melihat darah mengalir di kaki Gaby.
Edo yang melihat darah segar yang mengalir, sontak berteriak meminta bantuan para pengawal mansion untuk membawa Gaby ke Rumah Sakit.
Saat Gaby di tangani beberapa dokter, Edo pun memberi kabar pada Kevin, agar tidak di salahkan dalam hal yang dramatis itu.
Kevin yang menerima kabar dari Edo, langsung bergegas menuju Rumah Sakit.
__ADS_1
Saat tiba, bertepatan dokter keluar dari IGD, untuk menemui keluarga pasien.
"Siapa suaminya, tanya dokter itu ramah'
'Saya suaminya Dok, jawab Kevin yang membuat Edo menoleh karena tak melihat bosnya sudah tiba'
" Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok, tanya Kevin yang terlihat sangat hawatir'
"Apakah wanita di dalam istri tuan Bora?? tanya dokter penasaran'
Kevin pun mengangguk, tanda mengiyakan.
" Nyonya baik-baik saja, tak ada hal yang serius, hanya Nyonya shock, hingga mengakibatkan kontraksi, dan wanita dalam usia kandungan masih rentan, tidak boleh stres, karena tidak baik bagi janinnya, bahkan bisa mengalami keguguran, tutur dokter itu menjelaskan'
"Untung saja cepat di bawa ke Rumah Sakit, dan bisa di selamatkan, dan Nyonya sudah di pindahkan ke ruang perawatan, ucap dokter seraya permisi dari hadapan mereka.
Kevin yang tak ingin Gaby semakin stres, memilih tak menampakkan wajahnya pada Gaby, ia hanya melihat Gaby dari kaca lalu setelahnya duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Gaby.
Sebenarnya ia ingin sekali masuk dan memeluk Gaby, namun ia urungkan karena akan membuat Gaby semakin tak nyaman dengan keberadaannya.
Setelah dua hari Gaby sudah di perbolehkan pulang, namun tak sekali pun ia melihat Kevin datang melihatnya, Gaby pun menangis pilu, menyesali semua, karena terlalu mengikuti egonya, bahkan Kevin sudah melayangkan surat perceraiannya, 'Apakah hanya aku yang mencintaimu" batin Gaby bertanya dengan isak tangis pilu.
Sementara Edo yang di minta Kevin agar membawa Gaby ke rumah yang sudah di belinya sebagai kompensasi perceraian mereka, karena Kevin tak ingin Gaby tinggal di rumah yang tak layak, jadi ia memberikan rumah itu dan uang yang cukup untuk kebutuhan Gaby hingga melahirkan dan untuk masa depan anaknya kelak.
"Maaf Nona, ucap Edo saat sudah masuk ke ruang rawat Gaby'
Gaby menatap Edo sejenak lalu bicara menanyakan Kevin yang tak pernah datang melihatnya, bahkan mulai dari mereka bertengkar Gaby tak melihat Kevin lagi hingga hari ini.
" Dimana dia?? tanya Gaby datar dan dingin, Edo pun merasakan aura berbeda dari Nona nya itu.
"Sebaiknya saya mengantar anda Nona, ucap Edo tak menjawab pertanyaan Gaby'
" Apa dia memang tak ingin melihatku lagi?? masih tetap bertanya'
"Saya tidak tahu soal itu Nona, sahut Edo yang tak ingin bicara terlalu jauh lagi'
"Bos hanya meminta saya membawa anda ke rumah yang sudah di beli untuk anda Nona, sebagai kompensasi dari perceraian bos dengan Nona, ucap Edo lagi'
" Saya tidak tertarik dengan rumah itu, dan saya hanya akan pulang ke mansion, atau tidak sama sekali, saya bisa pergi sendiri, tanpa merepotkan mu, ucap Gaby bersikeras untuk kembali ke mansion'
'Dan katakan ini pada tuan mu, aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu,dan aku tidak ingin bercerai, bila memang ia ingin menceraikan ku dan membuang ku dari hidupnya, maka suruh dia sendiri yang membawa berkas perceraian itu, ucap Gaby dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya'
"Maaf Nona,,, saya tak bermaksud mencampuri masalah anda dan bos, namun sebelum semua terlambat dan ke salah pahaman ini berakhir, sepertinya Nona harus tahu'
Gaby yang mendengar ucapan Edo pun menatapnya dalam, apa maksud Edo dengan ke salah pahaman?? begitulah kira-kira arti tatapan Gaby.
'Apakah anda tahu Nona, setelah bos pulang dari Jerman, saat itu bos pergi dalam satu minggu, dan Nona bahkan di telpon bos waktu itu saat bos esoknya akan kembali ke mansion
'Tuan besar dan Nyonya besar, memohon pada bos agar berdamai dengan masa lalu, setelah bos mengatakan bos begitu mencintai anda sebelum anda mengandung, sepulang dari Jerman bos malah mendapat ucapan menyakitkan dari anda, padahal bos sudah bertekad waktu itu mengatakan perasaannya pada anda, namun harapan tak sesuai dengan kenyataan yang di harapkan bos waktu itu.
Namun meski pun demikian, bos tetap tidak mempermasalahkan karena menurutnya anda belum siap menerima perasaan bos.
'Esok harinya bos pergi ke pulau di mana kedua orang tua anda tinggal, sesuai permintaan tuan besar Bora, bos membebaskan orang tua nona dari siksaan dan memberikan kehidupan layak, bahkan hingga hari ini kedua orang tua Nona hidup bebas tanpa belenggu dari bos lagi, dan anda bisa menemui mereka di tempat baru mereka saat ini.
Namun sepertinya pertahanan dan usaha bos runtuh karena tak berhasil meluluhkan hati Nona, hingga memutuskan untuk melepas anda dengan bercerai, mungkin awalnya anda dan bos sama-sama punya rasa ego yang tinggi sehingga menimbulkan ke salah pahaman, apa lagi saat Nona Clara turut dalam rencana bos, membuat hubungan anda dan bos semakin rumit dan tak jelas, cerita Edo meluruskan hal yang membuat bos dan Nona nya jadi dalam hubungan di ujung tanduk.
Gaby yang mendengar cerita Edo pun semakin merasa bersalah, ternyata Kevin sudah berbuat banyak yang tidak ia ketahui sedikit pun, saat ini hanya tangis pilu yang mampu di uraikan Gaby dengan sejuta rasa sesal yang tak melihat usaha dan perasaan Kevin selama ini.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor