BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
61. Di Anggap Tak Ada.


__ADS_3

Sehari berlalu, Dinda yang kemarin tidak melihat Edo masuk kantor, jadi semakin merasa bersalah, dan berharap Edo hari ini masuk kantor, Dinda tidak mau Edo jadi menghindar dari pekerjaan hanya gara-gara masalah mereka, dan kalau Edo memang tidak ingin melihat Dinda lagi, Dinda akan mundur dari pekerjaan itu.


Edo yang sudah siap untuk berangkat bekerja, lebih dulu menghubungi karyawan wanita yang akan jadi rekannya membuat Dinda cemburu, agar semua terungkap kalau Dinda punya perasaan yang sama dengan Edo.


Setelah memastikan karyawan wanita itu mau dan bersedia membantu Edo, Edo pun semakin bersemangat berangkat ke kantor.


Kali ini Edo tidak akan melepaskan Dinda lagi, dan sudah cukup baginya memendam rasa selama ini, walau banyak tantangan Edo tidak perduli, yang terpenting baginya bagai mana caranya Dinda akan luluh dan mengakui perasaannya.


Edo pun tiba di kantor nya, semua karyawan menyapanya sopan, Edo hanya menyapa biasa, dan setidaknya dia menghargai para karyawan yang sudah bersapa ramah padanya.


Edo pun masuk ke ruangannya, melihat Dinda sudah tiba lebih dulu, Dinda yang melihat Edo masuk kantor, merasa lega, karena kemarin Dinda begitu memikirkan keadaan Edo.


"Selamat pagi pak.! sapa Dinda seperti biasa nya.


Edo tak menjawab sapaan itu, hanya menatap Dinda sebentar, lalu mengalihkan pandangannya, dan berjalan menuju meja kerja nya.


Dinda yang melihat sikap Edo begitu dingin, merasa dadanya sesak, tapi Dinda tidak memperlihatkannya pada Edo, dan bersikap tenang, meski hatinya sakit.


Nita, wanita yang membantu Edo itu pun, bersiap memulai aktingnya, dan kali ini Dinda akan semakin sesak melihat permainan yang akan mereka perankan.


"Selamat pagi, permisi nona, saya membawakan kopi untuk pak Edo.


" Oh, silahkan.! pak Edo baru saja tiba.! Dinda mempersilahkan Nita masuk dan merasa aneh, kenapa bukan OB yang membuatkan kopi untuk Edo, seperti biasa nya.


"Eh, Nita silahkan, terima kasih ya sudah membuatkan kopi untuk ku.! ujar Edo bersikap manis pada Nita, dan tersenyum cerah dan lembut.


" Sama-sama, lagian kan udah biasa aku buatin kopi kamu, kalau pun OB yang mengantar, itu karena aku sibuk.!


"Ah, kebetulan Nit, aku mau minta tolong, apa kamu bisa membantu ku.??


" Boleh, dengan senang hati.! ujar Nita dengan semangat.


Edo pun memberikan Nita sedikit kerjaan, dan itu berhubungan dengan proyek baru itu.


"Bukankah ini berkas proyek baru ya??


" Ya, itu berkas proyek baru, kamu tolong buatkan rincian pengelolahannya agar aku lebih mudah, melihat sejauh mana proyek itu beroperasi.!


"Baiklah, tapi kamu harus traktir aku makan siang nanti.!

__ADS_1


" Beres.! itu sih nggak sulit.!


Dinda yang mendengar Edo menyuruh Nita membuat rincian proyek itu jadi kepikiran. "Bukankah itu seharusnya aku yang mengerjakan?? batin Dinda bertanya.!


"Apa Edo tidak mau lagi bicara denganku, sengaja menyuruh Nita melakukan pekerjaan yang seharusnya aku yang melakukan itu?? Dinda jadi tak fokus, karena jadi sibuk mendengar pembicaraan Edo dan Nita.


" Oh iya Nit, kita udah lama juga nggak nonton ya??


"Itu kan karena kamu yang terus sibuk, aku mana berani ganggu kamu.!


" Bagai mana kalau akhir pekan kita nonton, pasti seru.!!


"Kamu ngajak aku nggak karena ada maunya kan??


" Iih nggak lah, memangnya aku mau apa.??


"Siapa tahu aja, saat kita pergi nonton, kamu sekalian mau nembak aku.!


" Kalau kamu mau, ya nggak papa sih, aku pasti senang kalau kamu mau jadi pacar aku, dan jadi istri kalau boleh.


"Elleh, ngomong doang, aku tahu kamu nggak serius kan??


"Ngomong apaan sih, kok jadi baper??


" Yah, kali aja kan kamu malu, punya kekasih kayak aku.!


"Nggak lah, kita jalani aja dulu ya, kalau memang kita cocok, kenapa nggak??


Edo mengangguk sambil tersenyum pada Nita, dan senyuman kebahagian itu pun, di lihat Dinda yang memang dari tadi memasang kuping mendengarkan pembicaraan Edo Dan Nita.


Dinda yang tak sanggup melihat kedekatan Edo dan Nita, keluar dari ruangan itu, dan masuk keep toilet.


Dinda pun menangis di dalam toilet itu, meremas dadanya yang sesak, sesak karena Edo seperti menganggapnya tak ada, dan hatinya perih mendengar Edo begitu mudah nya memberi Nita harapan untuk menjadi wanita yang akan jadi teman hidupnya kelak.


"Kenapa aku harus menangis dan sedih, mendengar itu, bukankah aku sendiri yang menolak Edo.??


" Kenapa hati ini harus sakit,, melihat mereka.?? kenapa??


"Apa karena aku tidak berkata jujur, Edo berpikir aku tidak mempunyai perasaan apa pun padanya??

__ADS_1


Bicara sendiri di dalam toilet itu, menangis pilu, karena Edo sudah menentukan pilihannya pada Nita.


Sementara Edo dan Nita, yang melihat Dinda pergi dari ruangan itu, langsung bertos ria, karena mereka yakin Dinda panas mendengar pembicaraan mereka, dan cemburu melihat kedekatan mereka.


Dinda yang di toilet itu pun, membasuh wajahnya, membersihkan air matanya, yang sudah meleleh deras di pipinya, dan tak mau Edo tahu kalau dia menangis di toilet.


Dinda yang kembali dari toilet, semakin merasakan sakit, saat Edo dan Nita saling pandang, seolah saling mendamba satu sama lain, apa lagi Edo menggenggam erat tangan Nita, membuat Dinda semakin sesak.


"Ok, sudah selesai.! ujar Nita pada Edo, sengaja mengeraskan suaranya agar Dinda mendengar jelas.


"Terima kasih ya Nit, nanti jam makan siang aku menemui mu, kita makan di luar.!


" Baiklah, aku tunggu ya.!


Edo mengangguk dan senyuman manis itu pun tak luput dari bibir Edo, membuat Dinda yakin kalau Edo sudah menembak Nita saat dia ke toilet tadi.


Sepeninggalnya Nita, Edo kembali bersikap dingin, membuat Dinda ingin sekali menangis, tapi Dinda berusaha kuat, menutupi kesedihannya.


Dinda pun beranjak dari meja kerjanya, membawa selembar laporan untuk ia berikan pada Edo.


"Ini laporan untuk jadwal proyek pak.! ujar Dinda, sambil menyerahkan laporan itu.


" Hm.! Edo menerima laporan itu, dan hanya berdehem menjawab Dinda, dan sengaja melihat ke layar laptop nya, dan tak melihat Dinda sedikit pun.


Sikap Edo yang demikian membuat Dinda semakin tak tahan, hingga Dinda memberanikan diri, bicara pada Edo tentang kejadian kemarin malam.


"Maaf untuk masalah yang kemarin.! ujar Dinda , memberanikan diri bicara, soal masalah itu.


" Masalah apa ya?? Edo sengaja pura-pura bingung.


"Aku tahu kakak sakit hati karena aku tidak menjawab jujur malam itu, tapi, _


" Ah, iya aku lupa masalah itu, tenang saja, itu tidak serius, dan kalau kamu mengira aku memikirkan itu, kamu salah, dan aku tidak masuk kantor kemarin, itu juga bukan karena aku memikirkan atau pun frustasi, tapi karena aku sedang ke luar kota, bohong Edo.


Dinda yang mendengar penuturan Edo, semakin sakit, bertanya dalam hati, apakah Edo sengaja mempermainkan perasaannya?? kalau memang Edo tidak punya rasa padanya, lalu kenapa Edo mengatakan cemburu karena dia terlalu akrab dengan pria lain, apa itu hanya agar membuat Dinda percaya dan merasa Edo benar-benar menyukainya??


Dinda yang tak lagi bisa membendung air matanya, akhirnya tumpah juga, tak menyangka akan mendapat jawaban itu dari mulut Edo, padahal Dinda minta maaf dan sekaligus ingin mengatakan kalau dia juga memiliki perasaan yang sama, tapi apa yang dia dapat, Edo semakin menyakiti perasaannya.


Bersambung.

__ADS_1


Salam Author 🙏🙏🙏


__ADS_2