BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
64. Masih Tak Jujur.


__ADS_3

Dengan keadaan terpaksa Edo masuk keep ruang kerja Kevin, karena apa pun alasannya Kevin tidak akan merubah keputusannya.


Melihat Dinda duduk tenang di dalam, bersikap seperti biasa saat mereka di kantor, antara bawahan dan atasan.


"Maaf, membuatmu menunggu, karena sesuatu yang saya bicarakan pada tuan muda.! ujar Edo membuka suara lebih dulu,, mencairkan suasana canggung antara dia dan Dinda.


"Berikan pada saya, mana yang harus saya selesaikan.! ujar Dinda, bukannya menjawab perkataan Edo, malah bicara soal pekerjaan yang akan mereka selesaikan.


Edo pun melirik Dinda sekilas, melihat sikap bicara Dinda, yang terlihat datar dan tanpa beban.


"Ya Tuhan, dia semakin dingin dan datar, tampaknya dia sangat sakit hati padaku"


Dalam hati Edo bicara, tak sanggup melihat sikap Dinda yang datar dan dingin, padanya.


Edo pun memberikan beberapa berkas untuk Dinda kerjakan, dan selebihnya Edo yang menyelesaikan, ia tidak mau Dinda terlalu lelah, dan agar Dinda lebih dulu istirahat.


"Cukup kerjakan yang itu saja, kalau sudah selesai, kamu boleh istirahat, dan sisanya biarkan aku yang menyelesaikan.! ujar Edo, merasa lebih baik dia sendiri yang lembur dari pada berdua, membuatnya tak fokus bekerja, apa lagi Dinda sangat irit bicara, membuat Edo serba salah.


Dinda tidak berkomentar apa pun, mengambil berkas-berkas yang di berikan Edo, lalu mulai bekerja, sedikit pun Dinda tidak melirik Edo, meski ada hal yang ingin ia tanyakan, Dinda tidak berniat untuk bertanya, walau kurang maksimal, yang penting baginya pekerjaan itu selesai.


Edo sama sekali tidak bekerja, pandangan dan pikirannya hanya pada Dinda, yang tak bersuara sejak tadi, membuat Edo terus menatap Dinda yang asik sendiri bekerja, seolah Edo tak ada di sana.


"Ehem.! Edo sengaja berdehem, agar Dinda sedikit terkecoh, tapi tetap tidak bergeming, dan asik dengan berkas-berkas itu.


" Ehem, ehem.! Edo berdehem lagi, berharap Dinda mau menoleh keep arahnya.


Melihat Dinda tetap tidak merespon, akhirnya Edo memberanikan diri bicara, meski pun nantinya Dinda tidak mau menjawab perkataan nya, setidaknya Edo mengatakan niat hatinya.


"Din.! maaf kalau kamu jadi sedih karena ucapan ku, di kantor tadi.!


Dinda menoleh sebentar, lalu kembali mengerjakan berkas-berkas itu lagi, seperti tak perduli dengan ucapan Edo.


" Din.! kamu dengar kan apa yang aku katakan.!


Dinda yang mendengar Edo bicara seperti memaksa, menatap Edo cukup lama, tapi tetap tidak mengatakan apa pun, lalu mengalihkan pandangan nya, dan melanjutkan pekerjaan nya.


Edo yang di abaikan, merasa tidak terima, beranjak dari duduk nya, mendekat pada Dinda yang sibuk dengan pekerjaan nya.


"Din.! aku bicara padamu, tidakkah kau bisa menghargai sedikit saja.!! ujar Edo, sembari menarik lengan Dinda, agar menoleh padanya.


Dinda yang terkejut, karena tiba-tiba di tarik, menatap Edo tajam, lalu menepis tangan Edo dari lengan nya.

__ADS_1


" Sepertinya bapak lupa kita sedang apa, bukankah bapak yang bilang sendiri, kalau saat bekerja, jangan membicarakan hal yang tak penting, dan bersikaplah professional dalam pekerjaan.!! ujar Dinda, bicara datar, dan ketus, bahkan saat bicara pun, Dinda tidak melihat Edo sedikit pun.


"Tapi kita tidak sedang di kantor.??


" Tapi kita sedang menyelesaikan masalah pekerjaan kantor, apa bedanya??


"Aku tahu kamu bersedih karena ucapan ku tadi.!! itu sebabnya, aku ingin minta maaf padamu."


"Itu tidak Perlu.! lagi pula siapa bilang aku bersedih karena ucapan bapak??


" Mulut mu mungkin bisa tidak berkata jujur, tapi tidak dengan wajah mu.!!


"Wah, hebat sekali bapak bisa menebak, tapi sayangnya, aku tidak sedih dengan ucapan bapak.!!


" Lalu apa ini.?? ujar Edo, menunjukkan rekaman video saat Dinda menangis di taman.


"Oh itu, apa bapak berpikir saya menangis karena ucapan bapak?? aku menangis karena rindu dengan mama.!!


" Lalu ini?? ujar Edo lagi, memutar rekaman suara Dinda, yang mengatakan untuk apa berharap pada orang yang tidak memikirkan mu, apa lagi menghawatirkan mu. "


"Itu, aku ucapkan untuk kekasihku, apa bapak kira saya tidak punya pacar apa??


" Baiklah kalau kamu masih tidak mau jujur, dan semoga saja ucapan mu benar, dan kamu tidak membohongi dirimu sendiri.!! ujar Edo, menyerah, tak lagi memaksa Dinda untuk berkata jujur, meski dia tahu Dinda memang berbohong.


" Sebenarnya saya juga nggak tertarik, tapi tuan muda yang menyuruh saya mencari mu, karena kamu pergi tanpa pamit, dan saya di suruh tuan muda mencari keberadaan mu, karena beliau khawatir.!! bohong Edo, memakai nama tuan muda, agar kebohongannya tidak di curigai oleh Dinda.


"Ok, kali ini saya bisa terima, tapi tidak untuk lain kali, dan kalau sampai itu terjadi, aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini.!! ujar Dinda mengancam.


Edo pun bungkam, takut bicara akan membuat Dinda semakin marah, apa lagi Dinda sudah mengatakan, kalau dia akan mengundurkan diri, dan sudah tentu Dinda akan pergi dari kota ini kalau sampai itu terjadi.


"Baiklah, aku minta maaf soal itu, dan aku akan bilang pada tuan muda kalau kamu tidak suka di awasi.!


"Tidak Perlu.!! biar aku saja yang bicara pada kakak.! ujar Dinda yang ingin mengatakan langsung pada Kevin.


" Baiklah, itu hak kamu, dan aku tidak akan mencampuri lagi, dan maaf sudah membuat mu marah karena itu.!


Dinda tidak menjawab, tapi hatinya semakin sakit, karena Edo masih mengungkit masalah itu, membuat Dinda ingin sekali menangis, tapi dia tidak mau Edo melihat nya terpuruk.


"Aku ingin menanyakan satu hal lagi pada mu, dan aku harap kamu jujur.! ujar Edo, masih berusaha membuat Dinda jujur akan perasaanya pada Edo.


Dinda tidak membantah, ingin tahu apa yang akan di tanyakan Edo, diam mencerna ucapan Edo.

__ADS_1


" Soal ucapan ku di apartment, apakah kamu sudah jujur pada ku, dan kamu memang tidak punya perasaan apa pun pada ku??


Deg


Jantung Dinda berdetak kencang, dadanya terasa sesak, saat Edo bertanya soal Edo yang mengungkapkan perasaannya malam itu.


Ruang kerja itu pun hening, Dinda pun merasakan sulit bernafas, pertanyaan Edo membuatnya jadi mengingatkannya pada Nita, berpikir apa yang sebenarnya di inginkan Edo menanyakan kembali soal perasaanya, bukankah sudah jelas Edo akan menjadikan Nita wanitanya, dan untuk apa lagi Edo menanyakan perasaanya lagi.


"Kenapa diam?? aku rasa tidak sulit untuk menjawab kalau memang kamu tidak ada rasa dan perasaan apa pun pada ku bukan??


"Apa itu masih penting?? lagi pula, untuk apa aku harus menjawab pertanyaan itu, karena dengan aku menjawab atau pun tidak, semua akan tetap sama, dan sudah terlambat.!


" Terlambat?? maksud kamu.??


"Tidak apa-apa, dan aku tidak ingin membahas soal itu.!


"Kenapa?? apa susahnya bagi mu mengatakan kalau memang kamu tidak punya rasa.!


" Cukup.!! aku bilang tidak mau, ya tidak mau, kenapa kamu memaksa??


"Aku tidak memaksamu, setidaknya jawabanmu itu penting bagi ku, dan aku bisa menentukan pilihan dan memantapkan hati ku.!!


" Itu tidak ada hubungannya dengan ku, mau kamu menentukan apa pun, itu hak mu, dan aku tidak mau membahas soal itu lagi.!!


"Baik.!! kalau begitu, aku sudah yakin, kalau kamu memang tidak punya perasaan apa pun padaku, dan aku tidak akan ragu lagi menempatkan satu nama di hati ku, untuk aku jadikan is, _


Belum sempat Edo melanjutkan kata-katanya, Dinda sudah pergi, karena tak sanggup mendengar ucapan Edo, hatinya sakit, dan arah pembicaraan Edo pun dapat Dinda tebak, bahkan air matanya pun sudah mengalir deras, karena memang sudah sejak tadi Dinda menahan di hadapan Edo agar tidak tumpah.


Edo yang melihat Dinda pergi, tersenyum senang ia tahu Dinda tidak sanggup mendengar ucapannya, dan ikut keluar dari ruang kerja itu, mengejar Dinda.


"Din, Dinda, tunggu.!! aku tahu kamu masih tak jujur padaku, dan aku tahu kamu punya perasaan yang sama, tapi kamu membohongi dirimu.!!


Ucapan Edo membuat Dinda berhenti melangkah, berdiri membelakangi Edo.


" Sampai kapan kamu akan terus berbohong Din.?? aku mencintai mu.! ujar Edo agar Dinda mau berbalik dan menatap nya.


Namun justru membuat Dinda pergi, berjalan secepat mungkin, menangis, dan pergi keep kamarnya mengunci pintu kamarnya dari dalam, karena ia ingin sendiri dulu, menenangkan hatinya.


Edo pun menarik nafasnya panjang, meremas rambutnya kasar, karena Dinda malah pergi meninggalkannya. Tapi Edo merasa lega, karena Dinda sebenarnya punya perasaan yang sama dengan nya, dan Edo tidak lagi ragu, untuk mempertahankan Dinda jadi miliknya, dan berencana besok ia akan jujur soal Nita, bisa saja Dinda tidak mengatakan yang sebenarnya karena kepikiran soal Nita, dan semoga Dinda bisa menerima dan tidak marah, pikirnya, membiarkan Dinda sendiri dulu.


Bersambung.

__ADS_1


Salam Author 🙏🙏🙏


__ADS_2