
Dinda sama sekali tidak teriak dengan kecepatan mobil yang melaju tinggi, meski ia takut, tapi Dinda bisa menutupi ketakutannya dan bersikap tenang.
Mereka pun sampai di lokasi proyek, namun sebelum turun Edo bicara pada Dinda, membuat Dinda bingung dengan ucapan Edo.
"Lain kali kalau mau pacaran dan mesra-mesraan, jangan saat jam kerja, saya tidak suka kamu bekerja tidak total, dan pikiran kamu kemana-mana.!!
Dinda tak paham maksud Edo yang mengatakan pacaran dan mesra-mesraan, tapi Dinda tidak komentar soal itu, dia pun hanya minta maaf, meski bingung dengan ucapan Edo.
"Maaf pak, saya mengerti.!
Dinda pun turun, dari mobil, sementara Edo semakin kesal, karena Dinda begitu tenang, padahal Edo sudah terbakar sendiri.
Dinda mengikuti langkah Edo yang masuki lokasi proyek, saat mereka berjalan, kepala instruksi proyek itu pun menghampiri mereka.
"Selamat pagi pak Edo.!
" Selamat pagi.! jawab Edo, tapi tak berniat memperkenalkan Dinda, karena masih kesal.
Namun Edo tak menyangka karena Dinda justru terlihat ramah dan menyapa kepala instruksi itu.
"Selamat pagi pak, perkenalkan saya Dinda, saya juga Tim dari proyek ini.!
" Selamat pagi Bu Dinda, saya Baron, kepala instruksi proyek.! senang bekerja sama dengan ibu Dinda.!
"Sama-sama pak.! sahut Dinda ramah, dan mengembangkan senyumnya pada pak Baron.
Edo yang melihat Dinda bersikap ramah pada Baron, merasa tidak suka dan tak adil, karena saat Dinda bicara padanya sangat datar, bahkan tersenyum pun tidak, tapi saat dengan orang lain, Dinda sangat bersikap manis, membuat Edo geram, dan ingin sekali mencongkel mata si Baron yang menatap Dinda dengan tatapan mendamba, apa lagi Baron juga pria tulen sepertinya.
"Sudah selesai kalian kenalannya?? kalau sudah tunjukkan di mana tempat operasionalnya.!! Kesal karena di abaikan.
" Oh, silahkan pak Edo, mari kita ke sana.!
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju, lokasi utama, dan Dinda semakin aneh melihat sikap Edo yang garing bagai ikan yang keluar dari kolam, yang melompat-lompat mencari air.
Baron pun menunjukkan segala akses yang menyangkut proyek itu, dengan telaten dia menjelaskan, dan Edo pun merasa puas dengan penjelasan Baron, meski kesal tapi Edo tidak memungkiri kalau Baron professional.
"Baiklah, saya rasa cukup untuk hari ini, dan untuk selanjutnya, buat laporan untuk kelengkapan dokumen, jangan sampai tidak terperinci baik, karena tuan Bora tidak mau hal apa pun terlewatkan.!!
" Baik pak Edo, saya akan secepatnya mengirim laporan itu.
Sementara Dinda sibuk mengambil gambar, sebagai opsi untuk selanjutnya, dan dia tidak ingin sedikit pun terjadi kesalahan, apa lagi proyek ini proyek besar, dan salah satu impian kakaknya.
Dinda yang merasa baron akan jadi rekannya untuk mengetahui perkembangan proyek, meminta nomor ponsel Baron, agar mereka bisa saling memberi informasi satu sama lain.
"Maaf pak Baron, apa saya bisa minta nomor ponsel bapak??
" Oh, tentu buk Dinda, biar saya ketikan.! meminta ponsel Dinda, lalu mengetik nomor ponselnya di hp Dinda.
"Sudah buk, ini ponselnya.!
Edo sudah hampir gila melihat keakraban Dinda dan Baron, hingga Edo mengajak Dinda pergi, meninggalkan tempat itu, dan tak ingin lagi berlama-lama di sana, karena itu bisa membuat Edo semakin terbakar karena melihat Dinda begitu ramah pada Baron.
"Kalau sudah selesai kita pergi.!
" Kami permisi ya pak Baron, terima kasih untuk waktu nya, ujar Dinda sopan dan pamit pada Baron, membuat telinga Edo panas dan hampir saja mengeluarkan asap panas.
Setelah pamit, Dinda pun meninggalkan Baron, dan masuk ke dalam mobil. Saat di mobil Dinda melihat wajah Edo memerah, tapi Dinda tidak merasa ada yang salah, dan membuat Edo marah atau pun kesal, Dinda pun tidak menghiraukan itu.
"Nomor ponsel ku saia tidak kamu minta, tapi nomor Baron begitu penting untuk kamu, apa kau tertarik dengan nya?? pertanyaan konyol itu pun keluar karena Edo sudah tidak bisa lagi menahan kesalnya.
" Bapak bicara apa sih?? jangan menuduh saya begitu.!!
"Apa saya salah menebak begitu?? kan benar yang saya katakan, kenapa kamu tidak meminta nomor ku, tapi nomor Baron yang baru kamu kenal saja sudah kamu minta, apa lagi kamu terlihat akrab tadi.!
__ADS_1
" Saya minta nomor Baron, karena saya akan butuh suatu saat, dan menanyakan informasi selanjutnya, kalau saya tidak minta nomor bapak itu karena kita kan satu kantor, dan kalau saya perlu menanyakan sesuatu, saya bisa langsung bertanya tanpa menghubungi bapak, kenapa bapak jadi menilai saya yang tidak-tidak.!!! Dinda pun kesal karena Edo malah menilainya lain, dan Dinda sakit hati karena Edo menganggapnya seperti wanita yang merayu pria.
"Kalau saya keluar kota, dan kamu perlu menanyakan sesuatu pada ku, apa kamu bisa menghubungiku karena nomorku nggak tersimpan di ponsel mu???
" Aku bisa minta dari kal Kevin, atau dari karyawan lainya, lagian nggak mungkin mereka nggak punya nomor bapak, dan sekarang apa lagi yang mau bapak buat untuk menilai saya tidak baik.!!
Dinda sudah ingin menangis, tak menyangka Edo bisa bicara begitu padanya, padahal Dinda sama sekali tidak kepikiran apa-apa, tapi Edo sudah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Tidak ada.!! sahut Edo ketus, sama kesalnya.
"Terus, apa maksud bapak mengatakan kalau saya tertarik pada Baron, kalau pun saya tertarik itu adalah hak saya, apa urusannya dengan bapak.!!! Dinda pun bicara sedikit keras, karena Edo terlalu menyudutkannya, dan tidak terima di nilai seperti wanita penggoda, karena sakit hati, Dinda sampai meneteskan air matanya.
Edo yang memang cemburu, juga tak terima Dinda mengatakan tak punya urusan, hingga Edo yang memang murah emosi pun tersulut, karena Dinda seperti tidak menganggapnya siapa-siapa.
"Diam.!!!! Edo merem mobil mendadak, dan hampir saja Dinda terbentur ke kaca depan mobil.
Dinda yang terkejut karena Edo yang marah dan merem mobil mendadak, semakin menangis, nggak tahu apa yang ada di pikiran Edo, yang tiba-tiba marah nggak jelas, bahkan menilainya buruk.
" Aku turun di sini, dan naik taksi saja, ujar Dinda ingin keluar dari mobil itu.!
Mendengar Dinda ingin turun dan naik taksi, Edo pun langsung menarik tangan Dinda, mencegah Dinda keluar dari mobil.
"Maaf, aku minta maaf, jangan turun, kita pulang, ujar Edo menarik Dinda agar tidak turun, minta maaf pada Dinda yang sudah dia buat menangis tanpa sebab.
Dinda pun diam di tempatnya, mendengar Edo minta maaf, Dinda pun mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil, dan menghapus sisa air matanya.
Edo pun melajukan kembali mobilnya, menyadari sikap nya yang berlebihan pada Dinda, merasa dirinya cemburu tak beralasan, dan Edo sangat mengutuk dirinya yang lepas kendali karena cemburu, padahal Dinda belum jadi kekasihnya, boro-boro jadi kekasih, mengungkapkan perasaannya saja belum, kenapa aku jadi cemburu tidak berdasar begini, batinnya malu.
Sepanjang jalan Edo berpikir keras, dan kali ini dia tidak akan melepaskan Dinda, takut ada yang mendahuluinya, dan itu sangat mungkin terjadi, karena Dinda gadis yang ramah, baik juga cantik, sudah tentu, banyak pria yang mendambakan gadis seperti Dinda, dan Edo pun berencana tidak kembali ke kantor, dan akan membawa Dinda ke apartment nya, dia akan menyatakan perasaannya, dan berharap Dinda menerima Perasaannya.
Bersambung.
__ADS_1
Salam Author๐๐๐