
Edo masih mengikuti Dinda, namun saat sudah melewati batas kota, Edo sudah paham kalau Dinda tidak menuju kantor, dan terus mengikuti Dinda.
Saat sudah ada beberapa menit, Edo barulah semakin paham, saat mobil Dinda menuju jalan pulang ke mansion.
Edo lega karena Dinda lebih memilih pulang dan tidak pergi ke tempat lain.
Saat mobil Dinda memasuki area mansion, Edo pun berhenti di luar pagar mansion, memastikan Dinda sudah kembali ke mansion, barulah Edo memutar balik mobilnya, dan juga memilih pulang ke apartment nya.
Dinda yang sudah masuk ke mansion, tak melihat suasana mansion sangat sepi, dan menebak kalau Gaby kakak iparnya sedang berada di kamar, Dinda pun masuk ke kamarnya.
Berbaring sebentar di atas tempat tidurnya, karena kepala nya pusing, karena kebanyakan menangis dan sangat lelah.
Merasa lebih tenang dan sakit kepalanya mulai hilang, Dinda pun masuk ke kamar mandi, mengisi air di bath up dengan air hangat, mencek suhu air, dan di rasa lumayan cukup hangat, Dinda pun masuk dan berendam di dalam bath up itu, merilekskan pikirannya yang berat, sambil memejamkan mata Dinda menikmati air hangat itu.
Lima belas menit waktu di habiskan Dinda berendam di bathup itu, dan kini Dinda sudah terlihat segar, meski mata sembabnya belum hilang, tapi Dinda sudah lebih nyaman sekarang.
Membersikan dirinya, lalu Dinda pun menyudahi mandinya itu, dan keluar dari kamar mandi, dengan perasaan cukup hangat.
Dinda menuju lemarinya, mengambil baju rumahan dan memakainya, melihat dirinya di cermin dan menatap mata sembabnya itu, membuat Dinda sekilas mengingat kesedihannya tadi.
Tapi Dinda sudah bertekad, untuk bertahan dan berusaha kuat, meski sakit, Dinda akan melewati itu semua, hingga semua bisa ia lupakan.
Sementara Edo di apartment nya, jadi gelisah sendiri, memikirkan Dinda yang masih terbayang-bayang saat melihat Dinda menangis di taman itu, merasa bersalah telah membuat Dinda jadi berpikir tidak dianggap siapa-siapa bagi Edo, membuat Edo pusing sendiri memikirkan rencananya yang sudah kepalang berjalan dan nggak mungkin Edo berhenti di tengah jalan, sampai ia benar-benar mendengar Dinda mengatakan perasaannya yang sejujurnya.
Dinda pun turun dari kamarnya, melihat kakaknya dan Gaby sudah menunggunya di meja makan, dan ikut bergabung menikmati makan malam.
"Apa kamu sakit Dinda?? tanya Kevin yang melihat wajah sembab Dinda.
" Tidak kak, kenapa kakak bertanya begitu??
"Wajahmu sembab, seperti baru menangis, makanya kakak tanya.!
" Tadi aku tidur sebentar, mungkin karena baru bangun.! bohong Dinda.
Kevin hanya mengangguk, dia tahu Dinda pasti menangis tadi, dan mungkin itu karena rencana yang sudah di buat Edo, tak apalah saat ini kau menangisi si brengsek itu, tapi besok kau akan tersenyum karena pria brengsek yang kau tangisi itu hanya menginginkanmu, batin Rafa, menatap Dinda sekilas lalu menyuapkan makanannya.
"Apa tadi kamu cepat pulang ya Din?? tanya Gaby di sela makan mereka.
"Iya kak, kepalaku sedikit pusing, jadi aku pulang lebih awal.! bohong Dinda lagi.
Kevin hanya menatap Dinda biasa, ia tahu Dinda berbohong pada istrinya, tapi biarlah pikir Kevin, dengan begitu kau akan lebih paham dan menata hatimu untuk menentukan yang terbaik dalam pilihan hidup mu, batin Kevin.
Kevin pun jadi tak tega, melihat Dinda yang seperti putus asa, dan hingga berencana memanggil Edo datang ke mansion nya, meski tidak dalam keadaan baik, setidaknya mereka bisa saling melihat.
__ADS_1
Sambil mengunyah makanannya, Kevin pun mengetik pesan untuk Edo, agar Edo datang dengan alasan ada hal yang ingin ia tanyakan masalah proyek baru itu.
Bunyi notifikasi menyadarkan Edo dari lamunannya, mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk itu.
Edo pun membaca pesan itu, dan tak ada firasat apa pun, Edo pun bersiap dan langsung membersihkan dirinya.
Tak perlu waktu lama, Edo sudah rapi dengan kaos lengan panjang berwarna putih, dan mengunakan celana training, membuat Edo lebih cool dan modis, menarik lengan bajunya sampai siku, semakin menambah gagah dan penampilan Edo sedikit berbeda dari penampilan saat berpakaian formal.
Edo pun berangkat menuju mansion Kevin, dengan kecepatan sedang Edo melajukan mobilnya, dan saat sudah setengah jalan, ia pun baru menyadari bahwa di sana juga akan ada Dinda, apakah aku bisa melihat wajah sedihnya nanti?? batin Edo
Meski demikian Edo tak mengurungkan niatnya, tetap melaju hingga ia pun tiba di mansion.
Edo tidak langsung turun dari mobilnya, menarik nafasnya panjang, berharap Dinda tidak larut dalam kesedihannya lagi, tapi itu tidak akan mungkin pikirnya lagi, jadi pusing sendiri, bertanya dan menjawab sendiri.
Edo pun turun dari mobilnya, saat masuk Edo melihat Kevin, Gaby dan Dinda duduk santai di ruang tamu, karena mereka baru usai makan malam, dan itu sudah kegiatan rutin di mansion, sehabis makan bersantai sebentar di ruang tamu.
"Selamat malam tuan muda.! sapa Edo menghilangkan kecanggungan, saat tatapan matanya bertemu dengan Dinda.
" Ah, kau sudah datang ternyata.! ujar Kevin pura-pura, tidak menyadari kehadiran Edo.
"Iya tuan muda.! menunduk hormat dan tetap berdiri.
" Duduklah Do.!
" Apa kau bawa laporannya??
"Iya tuan muda, saya juga membawa setiap rincian pengelolahannya, ujar Edo sekaligus memberikan laporan itu pada Kevin.
Kevin pun mengambil laporan itu, memeriksa sebentar, agar tidak terlihat sengaja menyuruh Edo datang, karena semua laporan itu, bisa saja ia lihat saat di kantor.
Saat Kevin memeriksa, matanya melirik ke arah Dinda dan Edo, melihat sikap dingin masing-masing dan Edo bahkan tak berani menoleh pada Dinda, sementara Dinda, sibuk dengan ponselnya, seolah tidak perduli pada sekitar nya.
"Aku minta maaf sebelum nya, besok pihak material ingin melihat semua rincian pengelolahannya, dan aku meminta waktu kalian berdua untuk menyelesaikannya malam ini, dan mungkin bisa di katakan ini lembur mendadak.! ujar Kevin langsung pada pokok masalah nya.
Mendengar kalimat kakaknya mengatakan kalian berdua, Dinda pun tersentak kaget, harus bekerja berdua dengan Edo malam ini, membuat Dinda membuat wajah memelas, pada Kevin agar dia tidak ikut andil bekerja, karena hatinya masih sakit pada Edo.
"Kamu nggak keberatan kan Din?? tanya Kevin, yang tidak menghiraukan wajah memelas Dinda.
Dinda tidak menjawab, hanya menggeleng saja, padahal ia ingin sekali membantah, tapi tak berani menentang perintah kakaknya itu.
" Baiklah, karena akan menguras, banyak waktu, kalian kerjakanlah dan kalian bisa gunakan ruang kerjaku untuk menyelesaikannya.! ujar Kevin, membuat jantung Edo berdetak kencang.
Dinda beranjak lebih dulu dan berjalan menuju ruang kerja Kevin, sementara Edo sengaja masih bertahan, ingin mengatakan sesuatu pada Kevin.
__ADS_1
"Tuan, anda tidak sengaja mengerjai saya kan?? tanya Edo yang mulai tak nyaman.
"Maksud kamu sengaja bagai mana?? pura-pura tidak paham.
" Membuat lembur mendadak ini??
"Jangan ngaco kamu ya, untuk apa aku melakukan itu, kalau bukan karena laporan ini sangat penting besok.! ujar Kevin pura-pura kesal.
" Ok, tapi masalahnya Dinda akan muak melihat saya, karena kejadian di kantor tadi.! ujar Edo tak lagi merahasiakan.
"Itu nggak ada hubungannya ya, dan aku tidak perduli kalau kalian lagi marahan, yang jelas selesaikan laporan itu.!! ujar Kevin membuat Edo bungkam.
Edo tak bertanya atau mengatakan apa pun lagi, dia pun beranjak dari duduk nya, pergi menuju ruang kerja Kevin, dan Dinda sudah menunggunya di dalam.
" Mas.! mas memang sengaja kan, ujar Gaby yang dari tadi hanya diam, tak ingin mencampuri urusan pekerjaan suaminya.
"Suutt.!! jangan keras-keras ngomong nya, kalau mereka dengar bagai mana??
" Lalu kenapa mas maksa mereka menyelesaikan laporan itu??
"Sudah.! jangan banyak tanya, pokoknya mas melakukan itu, karena mereka harus menyelesaikan masalah mereka, sudah ayo, kita istirahat saja, biarkan mereka menyelesaikan itu.!! ujar Kevin menarik lengan istrinya, mengajak ke kamar mereka.
" Iihh, iya jangan di tarik-tarik dong.!
"Biarin, soalnya kamu bawel banget, untung mereka nggak dengar tadi.!
" Makanya, jangan suka ngerjain orang begitu, mereka bisa kok nyelesain masalah mereka sendiri, mas aja yang kebakaran jenggot, ujar Dinda sambil menutup pintu kamar mereka.
"Apa kamu bilang?? kebakaran jenggot??
" Iya.!! memang benar kan??
"Ooh, udah berani kamu ya?? ujar Kevin, melangkah mendekati istrinya yang mundur perlahan, menarik istrinya yang akan menghindar, dan mengangkatnya me atas ranjang mereka, dan menggelitik Gaby sampai minta ampun karena kegelian.
" Ampun mas.!!
"Ampun??
" Iya.!
"Maaf kali ini aku nggak akan mengampuni kamu, ujar Kevin, merengkuh erat istrinya dan, menatap dalam mata istrinya itu, dan akhirnya malam yang panjang pun terjadi, kamar itu akan di hiasi alunan musik yang mendayu, membuat mereka kepanasan dan gerah bermandikan keringat, sementara di ruang kerjanya dua insan manusia, saling melempar tatapan ketegangan, dan mudah-mudahan tegangannya tidak membuat sampai korslet, karena akan membahayakan aliran darah mereka, dan merubah ruang kerja itu menjadi ruangan yang minim oksigen.
Bersambung.
__ADS_1
Salam Author 🙏🙏🙏