
Gaby yang memaksa kembali ke mansion, membuat Edo tak punya pilihan lain, hanya bisa menuruti keinginan Nona nya itu.
Saat tiba di mansion, Gaby langsung menuju kamarnya, selama perjalanan dari rumah sakit dia hanya diam, pikirannya kosong, perasaanya tak bisa ia ungkapkan, sepi dan sangat menyakitkan, itulah yang di rasakan nya saat ini.
Sudah beberapa hari ia tidak melihat Kevin, Gaby berpikir, apa sebaiknya ia pergi saja, dan menandatangani surat perceraiannya dengan Kevin, apa dengan memutuskan langkah masing-masing, mereka akan terlepas dari belenggu kebencian.?? batin Gaby, menatap kosong duduk di balkon kamarnya.
Sementara Edo, sudah menyampaikan pada Kevin, tentang Nona nya yang memaksa kembali ke mansion, dan Kevin tidak mempermasalahkan hal itu, baginya Gaby masih mau tinggal di mansion, pertanda Gaby masih perduli, setidaknya demi bayi yang ada dalam kandungannya.
Gaby lelah dengan pikirannya, namun selama merenung ia pun mengambil keputusan, dan mungkin inilah jalan terbaik menurutnya, bertahan tinggal di mansion, membuat Kevin meninggalkan haknya sendiri, membuat Gaby berpikir, dia sama sekali tidak punya hak bertahan lagi, sementara' Kevin sudah melayangkan surat perceraian mereka.
Gaby pun meminta para pelayan untuk menghubungi Edo, dan menyuruh agar Edo datang ke mansion, dan membawa berkas perceraian itu, ia sudah siap untuk menandatangani dan keluar dari mansion.
"Halo Tuan,
"Ya, ada apa??
"Nona Gaby, meminta anda datang ke mansion dan juga meminta agar anda membawa berkas perceraian itu, ucap pelayan itu.
"Kau yakin Nona mengatakan itu??
"Iya Tuan, dan Nona menunggu anda sekarang.
"Baiklah, katakan pada Nona, lima belas menit lagi aku tiba, ucap Edo, dan menutup teleponnya.
"Tuan, baru saja pelayan di mansion menghubungi saya, katanya Nona Gaby setuju menandatangani surat perceraian itu.
Deg
Dada Kevin sesak mendengar perkataan Edo, pupus sudah pertahanannya, mendengar keputusan Gaby, Kevin menguatkan hatinya, karena ia sendiri yang ingin melepaskan Gaby, karena tak ingin semakin tersiksa dan tertekan, dan menambah penderitaannya.
__ADS_1
"Pergilah, dan berikan juga rumah itu, tapi kalau dia menolak, jangan memaksanya, biarkan ia menentukan keputusannya tanpa tekanan, dan ikuti kemana ia akan pergi, ucap Kevin pasrah.
"Sesuai perintah anda, saya permisi Tuan, ucap Edo, dan berlalu pergi.
Kevin meremas dadanya yang sesak, kakinya bahkan lemas, membayangkan istrinya akan pergi dan mengakhiri hubungan mereka, hubungan yang berawal dari masa lalu yang menyakitkan, hingga dendam yang merajai jiwanya, membuat Kevin menyesali segala perbuatanya, hingga istrinya menyerah dan memilih untuk berpisah dengan membawa darah dagingnya.
Edo pun tiba di mansion, di lihatnya Gaby duduk di sofa dengan memegang tas yang tidak begitu besar, dan Edo bisa menebak isi tas itu adalah pakaian Nona nya.
"Selamat siang Nona, sapa Edo sopan.
"Duduklah, dan berikan berkas yang harus ku tandatangani, ucap Gaby tanpa ada basa-basi lagi.
"Maaf sebelumnya Nona, apa anda sudah memikirkannya dengan matang?? ucap Edo masih berusaha menggagalkan perceraian tuan dan nona nya itu.
"Ya, dan aku sudah siap, ucap Gaby dengan bibir yang bergetar, menahan tangis.
"Ada sebuah rumah yang di berikan tuan untuk anda, dan uang yang cukup untuk biaya hidup dan persalinan anda kelak, dan itu akan jadi hak anda sepenuhnya, ucap Edo menawarkan dengan hati-hati, agar Nona nya itu tidak tersinggung.
"Baiklah Nona, bila itu keputusan anda, anda bisa langsung menandatangi berkas ini, ucap Edo tak sampai hati, jujur ia juga merasakan sesak di dadanya, melihat Nona nya yang putus asa dan pasrah.
Gaby pun menandatangani surat cerai itu, tangannya gemetar, bahkan air matanya menetes membasahi surat perceraian itu, berakhir sudah, batinnya.
Setelah menandatangani berkas itu, Gaby pun langsung beranjak dari duduknya, membawa tas kecil di tangannya, dan berjalan perlahan, matanya menatap lekat mansion yang sudah di tinggali nya cukup lama, dan kenangan pahit seolah tertulis indah di dinding mansion itu, sebagai tanda ia pernah mengalami penderitaan yang begitu sakit dan berakhir menyedihkan.
Di usapnya lembut perutnya yang mulai membuncit itu, seolah berbicara pada janin itu, ucapkan selamat tinggal nak, kita akan pergi jauh, meninggalkan mansion ini dan papa mu.
Selama berjalan menuju pintu utama, air mata Gaby mengalir deras, namun saat selangkah lagi kakinya keluar dari pintu utama, sesuatu menubruk tubuhnya tiba-tiba, dan karena terkejut Gaby pingsan dalam pelukan Kevin.
Setelah Edo pergi menemui Gaby, Kevin berteriak histeris, ia frustasi tak sanggup menerima kenyataan, hati dan pikirannya kosong, namun sesaat ia sadar, dengan langkah cepat ia keluar dari apartemennya, berlari ke arah mobilnya yang terparkir, masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mobil itu dan langsung menginjak gas dan melaju dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan pikirannya tertuju pada Gaby, dan berdoa agar istrinya belum meninggalkan mansion, dan dia tidak terlambat sampai di sana.
__ADS_1
Saat ia tiba, turun dari mobil dengan terburu-buru, dan berlari menuju pintu utama, tatapannya menangkap sosok yang tak ingin ia lepas dan pergi meninggalkannya, karena kalut dan takut Kevin langsung menubruk Gaby memeluknya erat, namun saat ia menyadari Gaby tak melakukan perlawanan dan bergerak, merenggangkan pelukannya dan melihat istrinya tak sadarkan diri.
Kevin pun langsung menggendong Gaby, membawa ke kamar, meminta pelayan menghubungi dokter, Kevin pun meletakan Gaby di atas tempat tidur dengan hati-hati.
Di genggamnya erat tangan dingin istrinya itu, wajah yang pucat dan matanya tertutup rapat, membuat Kevin takut, panik dan khawatir bercampur jadi satu.
"Bangun sayang, maafkan aku yang bodoh ini, aku mohon buka mata mu, mengguncang tubuh Gaby dan mengelus lembut wajah pucat istrinya itu.
"Di mana dokternyaaa..!! teriak Kevin merasa dokter itu sangat lama, dan takut istrinya kenapa-napa.
"Tenanglah Tuan, dokter akan tiba sebentar lagi, ucap Edo yang paham kekhawatiran tuannya itu.
"Tapi istriku,_
"Jangan berpikir yang macam-macam Tuan, saya tahu anda hawatir, tapi Tuan juga harus tenang dan berpikir jernih, Nona akan di tangani dokter dan akan tiba sebentar lagi, ucap Edo menenangkan Kevin.
Tak lama dokter yang di tunggu pun tiba, secepatnya langsung bergerak memeriksa keadaan Gaby yang terlihat sangat lemah, dan pucat.
"Bagai mana, apa yang terjadi pada istriku.!! tanya Kevin takut ada hal yang serius pada Gaby.
"Sebaiknya Nona di bawa ke rumah sakit, keadaan Nona sangat lemah, perlengkapan alat di rumah sakit lebih mendukung membantu Nona, dan sepertinya Nona mengalami tekanan berat', ucap dokter wanita itu menjelaskan.
"Edoo..!! siapkan mobil, menggendong Gaby tanpa menunggu waktu lagi, Kevin sangat takut dan bahkan jantungnya berdetak kencang.
"Siap Tuan, sahut Edo cepat dan berlari menyiapkan mobil.
Bersambung.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.