BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
78. Mengunjungi Makam Sarah 2


__ADS_3

Semalaman Kevin memikirkan Sarah yang sudah berpulang dengan cara tak wajar. Namun semua sudah tidak lagi bisa di kembalikan seperti semula, karena semua sudah terjadi dan berujung naas, karena Sarah terlalu obsesi pada kevin yang memang tidak memiliki perasaan apa pun pada Sarah.


Kevin merenungi perjalanan hidupnya yang selalu penuh dengan butiran luka. Dimulai dari masa lalunya yang kelam, hingga ia mengorbankan masa depan istrinya, yang sama sekali tidak bersalah, namun karena mengingat rasa sakit yang di alaminya, kevin di butakan dengan dendam yang berkepanjangan, hingga membalaskan dendamnya pada Gaby istrinya, hingga berujung menyimpan rasa sakit yang mendalam pada Gaby.


Kini kevin harus di hadapkan lagi dengan sahabatnya yang terobsesi, hingga di butakan dengan kenekatan Sarah dan melupakan ikatan persahabatan mereka.


Kevin menghela nafasnya panjang, menatap istrinya yang terlelap, damai dalam tidur nyenyak nya.


"Maaf,, aku telah melibatkan mu dalam dendam ku selama ini, ujar kevin bicara sendiri, sambil memandangi istrinya yang terlelap"


"Aku nggak tahu seberapa tahan kamu akan bertahan di sisi ku, mengingat aku yang begitu kejam, dan juga tak punya hati, saat menyiksamu dulu, membuat luka di hatimu begitu berbekas" ujar kevin lagi sembari mengecup kening Gaby perlahan, agar tidak menganggu tidur lelapnya.


Pikiran kevin pun kembali pada Sarah, mengingat kembali betapa Sarah sangat menginginkan dirinya, dicintai seperti wanita lainnya, namun Sarah tidak paham akan satu sisi, bahwa cinta tidak bisa di paksakan, karena bagi kevin Sarah ia tempatkan di hatinya hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu.


"Maaf,, karena aku, kamu harus bertindak jauh, hingga kamu berakhir dengan tidak wajar" ucap kevin dengan helaan nafas berat.


Kevin pun merebahkan tubuhnya di samping kevin, mencoba menenangkan pikirannya, dan berharap ia bisa memejamkan mata, dan esok ia akan mengunjungi makam Sarah.


Akhirnya kevin pun terlelap, setelah lelah memikirkan semua yang terjadi, dan semoga saja, kedepannya, tak ada lagi hal-hal yang begitu menyakitkan ia lalui.


Pukul 10:00 wib, Gaby sudah selesai dengan ritual mandinya, mengenakan pakaian yang sesuai, karena mereka akan pergi ke markas, mengunjungi makam Sarah.


Namun saat bangun, Gaby tidak lagi mendapati kevin di ranjang mereka, dan Gaby berpikir, mungkin kevin bangun lebih awal, dan sudah bersiap untuk pergi.


Gaby pun menuruni anak tangga, melihat sekitar cukup sepi, dan melihat hanya seorang pelayan yang sedang bersih-bersih.


Tak ada siapa pun di ruang tamu dan di meja makan, hingga Gaby berniat bertanya pada pelayan yang bekerja tadi.

__ADS_1


"Apa kau melihat suami ku?? tanya Gaby pada pelayan itu.


" Oh, tuan muda sedang ada tamu di ruang kerjanya, dan sudah cukup lama tuan muda dan tamunya berada di sana, jawab pelayan itu sopan, menjelaskan pada Gaby.


"Terima kasih, lanjutkan pekerjaan mu, sahut Gaby, dan ia pun menuju ruang tamu, menunggu kevin selesai dengan tamunya, dan mereka akan sarapan bersama.


Saat duduk di ruang tamu, Gaby sedikit penasaran, siapa gerangan tamu suaminya, karena sepagi ini sudah bertamu, dan seperti pelayan itu bilang, bahwa kevin dan tamunya sudah cukup lama berada di ruang kerjanya, dan apa yang sedang mereka bahas.?? batin Gaby bertanya-tanya.


Namun Gaby tidak ingin terlalu ikut campur, mungkin saja itu urusan pekerjaan pikirnya, dan ia pun menyalakan televisi mengusir kebosanannya.


Sekitar lima belas menit, kevin dan tamunya pun keluar dari ruang kerjanya, saat Gaby mendengar langkah kevin dan tamunya itu, Gaby menoleh, dan melihat siapa tamu itu, namun Gaby tidak mengenali tamu itu, namun perasaannya tak enak saat melihat wajah kevin tidak bersemangat dan sedikit tegang, membuat Gaby menebak, pembicaraan mereka cukup serius, tapi entah apa itu, Gaby tak bisa menebak, dan ia hanya menunggu sampai kevin cerita padanya.


"Saya permisi Tuan Bora, dan secepatnya saya tunggu keputusan dari anda" ujar tamu itu dan berlalu pergi meninggalkan kevin yang berdiri dengan senyum terpaksa nya.


Kevin menyadari di perhatikan Gaby, langsung merubah mimik wajahnya, tersenyum pada Gaby, menutupi ketegangannya, ia tidak ingin istrinya berpikir yang tidak-tidak, dan takut istrinya stres, bisa menganggu janin dalam kandungannya.


" Sedikit, sahut Gaby dan membalas senyuman hangat itu, namun ia tahu suaminya mengalihkan penasarannya.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu, kita sarapan dulu, setelah itu kita akan ke markas, ujar kevin, berusaha tenang, agar Gaby tidak bertanya soal tamunya, yang datang sepagi ini.


Gaby tak menyahut, hanya mengangguk tanda mengerti, dan ikut berjalan menuju meja makan.


Mereka pun makan dengan suasana hening, Gaby sesekali memperhatikan suaminya, tampak tidak seperti biasanya, membuat Gaby bertanya dalam hati, siapa orang itu, yang bertamu tadi, dan apa yang mereka bicarakan??


"Tumben ada tamu sepagi ini, apa ada hal yang serius?? tanya Gaby hati-hati, takut suaminya nggak suka ia bertanya.


" Ah, itu, dia datang dari luar negeri, hanya masalah pekerjaan, dan nggak ada yang begitu serius, jawab kevin tenang, tak ingin terpancing dengan pertanyaan Gaby, dan ia harus mencari waktu untuk bicara pada istrinya, dan semoga saja ia bisa secepatnya menceritakan hal itu pada istrinya.

__ADS_1


"Oh, pantas aku tak mengenalinya, ternyata tamu kamu bukan dari lokal, ujar Gaby tak ingin lagi bertanya, ia semakin yakin ada hal yang serius mereka bicarakan tadi, melihat suaminya cukup hati-hati bicara.


" Habiskan makananmu, Edo sudah menunggu, ujar kevin, agar istrinya berhenti bertanya, dan Bisa-bisa dia keceplosan bicara.


Gaby pun mengangguk, namun pikirannya masih terarah pada tamu suaminya itu, dan bertanya-tanya, apa yang mereka bicarakan sebenarnya.


Urusan sarapan pagi pun selesai, kevin senjata langsung mengajak Gaby pergi, dan tak ingin ada lagi pertanyaan-pertanyaan dari istrinya, karena ia masih mencari waktu untuk bicara sejujurnya.


Edo membukakan pintu mobil pada Gaby dan kevin, saat melihat keduanya sudah keluar dan berjalan menuju mobil, namun Edo juga terlihat tegang di mata Gaby, membuat Gaby semakin yakin, ada hal yang serius, yang di sembunyikan mereka dari Gaby, namun Gaby tak ingin memaksa untuk tahu apa hal serius itu, dan mungkin saja, itu cukup rahasia, dan tidak boleh di ketahui siapa pun, dan kevin bilang tadi ini masalah pekerjaan.


Selama perjalanan menuju markas, kevin hanya bicara sesekali pada Edo, menanyakan beberapa urusan kantor, selebihnya tidak ada lagi, dan hening, hingga mereka tiba di markas.


Edo memberikan buket bunga pada Gaby, karena mereka akan mengunjungi makam sarah, yang terletak di makam khusus, karena kevin, masih menghargai sarah sebagai sahabatnya, dan melupakan perbuatan keji sarah selama ini, meski pun sakit, tapi kevin masih punya hati memaafkan perbuatan sarah.


Gaby meletakkan buket bunga itu di atas pusara sarah, Gaby tak dapat membendung air matanya, mengingat sarah harus berakhir naas secara tak wajar, dengan mengakhiri hidupnya sendiri.


"Aku tahu kamu pasti marah, kesal dan kecewa pada kami, tapi semua sudah terjadi, maaf karena kejadian ini, membuatmu jadi seperti ini, ujar Gaby dengan isak tangisnya.


" Itu bukan salahmu, dan juga bukan salah siapa pun, ujar kevin, menenangkan istrinya yang merasa bersalah."


"Sarah..! aku sama sekali tidak pernah membencimu, dan maaf kalau aku tidak bisa mencintaimu sebagai kekasih, karena aku menyayangimu sebagai sahabat, semoga kamu tenang di sana, dan maaf untuk semuanya, ujar kevin, mengusap pusara sarah, sebagai permintaan maafnya.


Setelah selesai mengungkapkan isi hati dan perasaan mereka, kevin pun mengajak Gaby pergi dari sana, dan berencana mengantar Gaby pulang ke mansion, lalu ia akan pergi ke kantor, dan akan bicara pada Edo, mencari cara bagaimana menyampaikan pada Gaby, hal yang cukup serius, pada istrinya itu, mengingat istrinya sedang hamil, dan takut istrinya akan stres, karena masalah ini cukup serius.


Bersambung...


Jangan lupa dukung terus ya gaes..

__ADS_1


__ADS_2