BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
9. Amarah Kevin


__ADS_3

Sesampainya Kevin di bandara, Edo sudah siaga menanti kedatangannya dan mepersilahkan bosnya itu masuk ke dalam mobil mewahnya.


Edo pun mulai melajukan mobilnya, karena sang bos meminta membawanya langsung menuju kantor.


Saat di perjalanan menuju kantor, Kevin bertanya bagaimana dengan wanita tawanannya.


"" Bagaimana keadaannya, dan apa saja yang di lakukannya selama aku di Jerman??


"" Nona tetap seperti biasa bos, tidak bicara, dan hanya menangis, terkadang tidak mau makan, itu membuat Nona terlihat semakin kurus dan pucat, jawab Edo serius.


"" Itu bagus..!!!! Dengan dia mati perlahan, aku tidak akan mengotori tanganku untuk membunuhnya, bahkan penderitaan itu terlalu ringan buatnya, dan belum seberapa, ujar Kevin dengan tangan terkepal.


Mobil yang di kemudikan Edo memasuki area kantor "Bora Grup"


Kevin pun turun setelah Edo membukakan pintu mobil.


Kevin memasuki lift bersama dengan Edo menuju lantai ruangannya. Namun saat di lift, Edo mendengar ada notifikasi di hanponenya pun memeriksa info apa yang masuk.


Saat melihat, Edo sedikit ragu memberitahu, namun bila tak di sampaikan bisa jadi dia akan jadi sasaran kemarahan sang bos.


"" Maaf bos, ada laporan dari mansion, kalau Nona mencoba kabur, namun tertangkap para pengawal kita, ujar Edo sedikit takut.


"" Apa.!!! Beraninya dia melakukan itu, ujar Kevin yang langsung tersulut Emosi.


Dan tanpa bicara apa pun, Kevin menekan tombol lift hingga Ke lantai dasar, karena ia akan pulang ke mansion dan berniat memberi pelajaran pada Gaby agar tidak berani lagi mencoba untuk kabur.


Edo melirik wajah bosnya lewat kaca mobil, dan nampak jelas terlihat amarah yang akan segera meluap, dan Gaby akan jadi sasaran empuk saat ini, batin Edo.


Kevin pun tiba di mansion, dengan langkah lebar dan tegas ia berjalan menuju ruang bawah tanah, tanpa menghiraukan hormat dari para pelayan dan pengawal.


Gaby yang tidak tahu kedatangan Kevin pun berteriak pada pengawal yang mengurungnya di penjara, dan meminta di keluarkan dari sana, namun para pengawal di mansion itu seolah tuli dan tak perduli dengan suara jeritan Gaby.


Kevin yang sudah tiba tepat di depan ruang penjara dan mendengar terikan Gaby agar di bebaskan menatap Gaby seolah ingin menelannya hidup-hidup, apa lagi saat Edo mengatakan Gaby berusaha kabur.


"""Tutup mulutmu itu "ja*****ng.!!!


Apa kau kira bisa dengan mudah kabur dariku, ujar Kevin tersenyum sinis.


"" Buka pintunya.!!!


Pengawal pun patuh dan dengan sigap membuka pintu penjara itu.


Kevin pun langsung masuk, dan menyeret Gaby kasar, dan dia tak perduli Gaby teriak meronta agar di lepaskan, apa lagi merasakan sakit di bagian kepalanya karena Kevin bukan menarik tangan Gaby melainkan rambutnya.


Saat tiba di kamar Gaby, Kevin menghepaskan Gaby di ranjang dengan kasar, tanpa perduli dengan raungan Gaby, Kevin merobek pakaian Gaby, hingga memperlihatkan tubuh polosnya yang hanya di tutupi segitiga pengaman dan kacamata reben milik Gaby.

__ADS_1


Kevin yang ingin Gaby merasakan hancur saat Kevin melahap tubuh Gaby dengan kasar, agar Gaby tidak akan berani lagi mencoba kabur karena akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dan menyakitkan.


Kevin pun men*********hi Gaby secara brutal dan tak mengenal ampun, bahkan Kevin berulang-ulang melakukannya, hingga Gaby hanya menatap kosong langit-langit kamar seolah tidak lagi memiliki rasa.


Kevin yang merasa puas pun menyudahi kegilaannya yang menyentuh Gaby tanpa ampun.


Tidak hanya selesai dengan me********hi Gaby, Kevin pun memaksa Gaby menariknya kasar menuju kamar mandi, lalu mengguyur Gaby di bawah shower dan membiarkannya di sana hingga ia sendiri yang akan menyudahi bila sudah merasa puas menyiksa Gaby.


Kevin pun keluar dari kamar Gaby, menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah usai dengan ritual mandinya, Kevin pun menuju ruang kerjanya, dan meminta Edo agar ikut bersamanya.


Karena selama seminggu ia meninggalkan perusahaan, dan dia ingin memeriksa berkas penting, dan ingin menayakan bagaimana keadaan Alvaro saat ini.


""Apa ada masalah selama aku di Jerman??


"" Muso Grup memutuskan kontrak kerjasama dengan kita bos, dan sepertinya tuan Alan mengetahui kalau Nona ada bersama kita, ujar Edo melaporkan hal penting itu.


"" Apa Alan pikir dia bisa mengambil 'ja******ng itu dariku.?? Kevin tersenyum menyeringai.


"" Tuntut dia karena memutuskan kontrak sepihak, sesuai kesepakatan dia harus membayar ganti rugi 2x lipat dari hasil yang kita dapat, ujar Kevin santai, seolah permainan jni semakin menyenangkan pikirnya, karena ada yang mencoba jadi pahlawan kesiangan.


"" Sesuai perintah anda bos, sahut Edo patuh dengan perintah sang bos.


"" Keluarlah,,, dan besok jangan lupa terus pantau Alan aku tak ingin ia terlalu jauh mencampuri urusanku..!!


Setelah kepergian Edo, Kevin yang merasa lelah karena kegiatan panasnya tadi betsama Gaby, membaringkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya itu.


Namun saat ia memejamkan matanya, tiba-tiba bayangan saat ia me***********hi Gaby terlintas dalam benaknya, namun ia menepis dan merasa Gaby hanya "ja*******ng mainannya


Namun, tak lama ia memejamkan mata ia kembali membukanya, tak bisa terpejam karena wajah Gaby selalu terlintas.


"" Mengapa aku jadi memikirkanya.?? dan kenapa pula wajahnya selalu terlintas saat aku memejamkan mata??


Kevin yang bertanya pada dirinya sendiri pun bingung, padahal ia selalu menepis agar pikirannya tak tertuju pada Gaby, namun wajah itu seolah menari-nari di kepalanya.


Sesaat ia tersadar yang meninggalkan Gaby di kamar mandi dengan air shower yang menyala, tiba-tiba ia bangkit dari rebahanya dan secepat mungkin berjalan menuju kamar Gaby.


Saat ia masuk ke dalam kamar mandi ia melihat Gaby masih tetap di posisi semula tanpa ada pergeseran pada saat Kevin meletakkan Gaby di sana.


Deg


Tiba-tiba dadanya bergetar, dan mendekati Gaby di bawah shower itu, dan seditik kemudian Kevin terlihat panik, karena melihat Gaby yang pucat dan tak sadarkan diri.


Secepat mungkin Kevin mengangkat Gaby dan membaringkanya di ranjang, lalu menyelimuti Gaby karena Gaby masih polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


"" Pengawalll.!!!!!!!


Hubungi dokter cepat.!!! teriaknya semakin panik, lalu ia mengabil pakaian Gaby dan memakaikannya..


Saat memakaikan Gaby pakaiannya dia melihat banyak memar di tubuh mulus Gaby, Kevin yang semula tidak perduli, seolah merasakan lain di hatinya, tapi dia tak menyadari, rasa panik dan hawatir yang campur aduk membuat ia hanya sebatas Gaby hanya ingin tetap hidup dan masih belum puas dengan membuat Gaby menderita.


Tak lama dokter Leo pun tiba, Kevin tak ingin terlihat hawatir dimata Leo, bicara ketus datar seperti biasanya.


"" Cepat periksa dia.!!!! Dan pastikan pemeriksaanmu dengan baik kalau kau masih ingin hidup, ucapnya mengancam, dan tak menyadari bahwa ia terlihat cemas saat ini.


Dokter Leo, yang paham dengan sikap Kevin tak ingin memperkeruh suasana, ia hanya patuh dan melaksanakan tugasnya.


Setelah memahami apa yang diagnosanya, Leo pun bicara sesuai dengan keadaan Gaby yang seperti mayat hidup itu.


"" Nona mengalami tekanan berat, dan sepertinya dia tidak mendapat asupan makanan, hingga Nona sangat lemah, ujar Leo serius.


Leo yang memperhatikan tubuh Gaby sudah dapat menebak apa yang di alami Gaby, namun ia tak berani memperingati Kevin karena akan habis dia tinggal nama, batinya.


"" Lakukan apa pun agar ia cepar pulih, perintah Kevin tak terbantahkan.


Leo pun menghubungi pihak rumah sakit untuk membawakan alat-alat yang ia butuhkan, ia tahi Kevin tidak akan mau membawa Gaby ke rumah sakit, secara Gaby tahanannya, kalau orang lain tahu maka masalah akan semakin runyam.


Tak lama para perawat dan seorang dokter wanita tiba di mansion, serta membawa alat yang di minta oleh Leo.


Leo pun meminta dokter wanita yang bernama Leni itu, memasangkan infus pada Gaby, dan Leo memasang alat deteksi jantung serta selang oksigen pada pernafasan Gaby.


Setelah selesai dengan penuh ketegangan, akhirnya selesai, dan Leo meminta dokter leni untuk tetap tinggal di mansion agar memantau perkembangan Gaby setiap jamnya, dan ia pun mengatakan pada Kevin agar memberikan satu kamar untuk leni bisa istirahat, karena Leo tahu Kevin tak ingin ada orang lain seruangan dengannya, apa lagi seorang wanita.


Saat hanya kevin dan Gaby yang tinggal di kamar itu, Kevin hanya menatap Gaby dari sofa tak jauh dari ranjang Gaby


Saat memandangi wajah pucat Gaby, Kevin seperti tidak dirinya sendiri, yang memiliki emosi tinggi tiba-tiba saja merasakan ada perasaan yang sulit untuk ia kendalikan.


""" Maaf,,, ucapnya lirih dan mendekati Gaby di ranjangnya, entah terdorong dari mana seolah tarikan magnet ia berjalan menatap Gaby sendu dan mengelus wajah pucat Gaby.


Sesaat ia tersadar dengan tindakannya, dan melangkah menuju sofa tempat ia duduk tadi


"" Mengapa aku seperti frustasi melihat ia terbaring lemah begini, dan kenapa aku seperti merasa bersalah??? Bukankah ia pantas mendapatkan hukuman itu, karena mencoba kabur dariku.??


Karena rasa lelah akhirnya Kevin tertidur di sofa dengan posisi duduk dan bersandar.


Bahkan karena lelapnya, hingga dokter Leni datang melihat keadaan Gaby, Kevin tak terusik sama sekali, hingga hari menjelang pagi Kevin masih pulas dalam tidurnya.


Dokter Leni yang terhitung sudah 4 kali bolak balik memeriksa keadaan Gaby, merasa aneh karena Kevin seolah enggan beranjak dari kamar Gaby dan terlihat nyaman dalam tidur lelapnya.


Nampaknya Kevin mulai ada rasa sama Gaby, namun apakah Gaby merasakan yang sama juga, kita lihat aja yaaaaaa

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2