
Setelah makan siang, Kevin pun menyuruh Dinda dan Edo pergi bersama, dan Kevin tidak lagi kembali ke kantor, dan sengaja menyerahkan segala urusan pada Edo.
Edo yang tahu taktik dan rencana tuan mudanya itu, tak bisa berbuat apa-apa, tapi dia kesal pada Kevin, yang terlalu terburu-buru mendekatkannya pada Dinda.
"Ayo kak, aku sudah siap.! mengajak Edo pergi ke kantor, dan akan bekerja bersama Edo sesuai yang di katakan kakaknya, Kevin.
Edo hanya mengangguk, mempersilahkan Dinda berjalan lebih dulu, namun sebelum pergi Edo sempat melemparkan tatapan kekesalannya pada Kevin, yang sengaja melakukan hal itu padanya.
Kevin yang di tatap demikian, merasa santai dan tersenyum tipis, tak merasa bersalah dan merasa menang karena Edo masuk dalam perangkap nya, dan untung saja Dinda menurut saja apa yang di perintahkan nya, membuat rencana Kevin berjalan lancar, dan hasil nya cukup membuat Kevin puas, meski masih di awal, tapi sepertinya Dinda dan Edo cocok dan bakal berhasil jadi pasangan nantinya.
Melihat senyum kemenangan Kevin, Edo pun semakin kesal, karena kesal nya Edo pun sengaja membuat Kevin kesal juga, agar satu sama pikirnya, dan menyempatkan waktu sebentar menjahili Kevin yang masih mengembangkan senyum kemenangan itu.
"Apa tuan muda tidak ingin menitip salam.??
" Untuk.??
"Yah untuk siapa lagi, dan siapa tahu tuan muda merindukan nya.!
" Maksud kamu Do.??
"Tuan muda nggak mau titip salam untuk wanita yang mengejar-kejar anda, maksud Saya.! pergi dengan sedikit berlari karena Edo tahu tuan mudanya murka.
" Edoooo.!!!!!
Teriak Kevin kesal, karena Edo sengaja menjahili nya, dan setelah berteriak Edo pun muncul lagi dari balik dinding, dan bertanya lagi.
"Bagai mana tuan muda, apa salam anda akan Saya sampaikan.??
Karena kesal, Kevin melempar Edo dengan buah jeruk yang ada di depannya, namun Edo dengan sigap menangkapnya, dan tersenyum mengejek pada Kevin.
" Dapat.!! anda belum beruntung, cobalah sekali lagi.! ujar Edo, membuat Kevin tambah kesal, dan ingin melempar Edo lagi, tapi Edo sudah keburu kabur, dan Kevin pun hanya teriak kesal, karena Edo membalasnya.
Edo yang merasa puas, menemui Dinda yang sudah menunggunya di dalam mobil, senyum kepuasan pun mengembang di bibir Edo, menambah ketampanannya, membuat Dinda yang tidak pernah melihat senyum itu, jadi terpanah, karena Edo sangat jarang tersenyum, karena bawaannya selalu serius dan tegas.
"Maaf ya Din, jadi menunggu lama.!
" Nggak papa kok kak, tapi kenapa kakak senyum-senyum gitu.??
Edo pun jadi malu, karena ketahuan senyum-senyum sendiri, apa lagi Dinda sampai bertanya padanya.
"Ah, nggak papa, tadi tuan muda cerita lucu, dan itu membuat kakak tersenyum.
" Cerita lucu?? tapi kak Kevin bukan tipe yang suka cerita lucu, Dinda baru tahu.! merasa aneh, karena Dinda tahu betul bagai mana sifat kakaknya itu, karena tidak pernah mau cerita yang begituan, karena sifat nya penuh keseriusan dan nggak muluk-muluk.
__ADS_1
"Ah iya, bukan cerita lucu sih, cuma bercanda, ujar Edo bohong dan menyetir dengan santai, agar Dinda tidak bertanya lagi.
Sementara di mansion, Kevin masih kesal, karena bisa-bisanya Edo menjahili nya tadi.
" Edo brengsek.!! nggak ada akhlak.!!
"Apa sih mas, ngomongnya kok gitu??
"Kamu nggak dengar tadi Edo bilang apa?? dia sengaja meledek aku, dasar.!!
" Kan mas duluan yang menggoda Edo tadi, ya wajarlah dia kesal dan balik menjahili mas.!
"Suami kamu siapa sih.!! kok malah belain Edo???
" Iih kok gitu sih ngomongnya mas.! jadi marah-marah??
"Kamu tuh, bukannya bela suami, malah bela si Edo somplak itu.!!!
Gaby hanya menggeleng, tak habis pikir dengan sikap suaminya, padahal jelas-jelas suaminya yang lebih dulu menjahili Edo, giliran di balas, malah nggak terima.
Sementara Edo dan Dinda pun sudah tiba di kantor, saat mereka berjalan bersama, mereka terlihat serasi, dan para karyawan yang melihat pun mengira asisten baru itu punya hubungan dengan adik sepupu tuan muda mereka.
Edo pun mengajak Dinda ke ruangannya, dan nantinya Edo akan menyuruh petugas menyiapkan meja kerja untuk Dinda, jadi sementara Dinda bekerja satu meja dengan Edo.
" Oh iya kak, aku akan pelajari.!
"Kalau di kantor jangan panggil aku kakak, kau harus memanggil ku sama seperti yang lain, panggil aku dengan sebutan "Pak".!
" II iya kak, eh Pak.! Dinda sampai gugup menjawab, karena Edo mengingatkan nya dengan tegas, dan Dinda pun tak mempermasalahkan soal itu, karena itu adalah profesional kerja.
"Apa kamu keberatan.??
" Tidak.! aku paham soal itu, dan aku juga tidak mau di anggap sebagai orang istimewa di sini, karena kak Kevin.!
Edo yang mengira Dinda wanita yang suka mengumbar posisi dan keistimewaan Dinda sebagai adik sepupu Kevin, kagum pada Dinda yang ternyata tidak memanfaatkan siapa dirinya yang jelas-jelas bisa berbuat apa pun dengan semua nya, tapi Dinda wanita yang profesional, mandiri dan tidak manja.
"Baiklah, silahkan bekerja, dan kalau kau butuh kopi atau teh, tekan tombol hijau itu, OB akan datang, dan kamu bisa minta apa yang kamu mau.!
" Terima kasih pak, tapi saya tidak begitu suka minum teh atau kopi, hanya sekedar saja.!
Dinda langsung terbiasa bicara formal pada Edo, dan Edo jadi sedikit menyesal, karena terlalu tegas pada Dinda, karena kalau mereka terlalu formal begitu, kapan Edo bisa bicara lebih santai dan dekat dengan Dinda??
Edo jadi pusing sendiri, tapi dia senang karena Dinda bukan gadis yang suka membantah, dan terlihat Dinda punya potensi kerja, karena Dinda begitu serius memeriksa berkas-berkas proyek itu.
__ADS_1
Hampir sejam berlalu, Edo dan Dinda bekerja satu ruangan, namun selama bekerja Edo malah tak fokus karena, sesekali dia malah curi-curi pandang pada Dinda, membuat Edo mengutuk dirinya sendiri.
"Sial.!! kenapa aku jadi nggak fokus gini.?? apa Dinda tidak menganggap aku juga di ruangan ini??, bicara kek.! atau tanya kek.! ruangan ini jadi terasa horor, sepi seperti kami lagi akting film hantu saja.!! bicara dalam hati, menatap Dinda yang asik dengan pekerjaannya, bahkan menoleh pun tidak, membuat Edo sesak sendiri.
Dinda pun tersenyum, karena pekerjaan itu tidak begitu sulit untuknya, bahkan Dinda sudah menyelesaikan semua nya, dan membuat rincian untuk tahap awal proyek baru itu, dan membuat skema yang beralur teratur untuk tahap operasional proyek tersebut.
"Ini hasil nya pak, tolong bapak periksa, siapa tahu masih ada yang kurang, dan saya akan perbaiki kalau masih ada.! Dinda menyerahkan hasil kerjanya pada Edo, Edo pun terkejut karena Dinda sangat cepat memberikan hasilnya, menerima laporan itu, dan Edo pun melihat hasil kerja Dinda.
Satu persatu Edo periksa dengan teliti, dan tidak ada celah sedikit pun, bahkan Edo sangat kagum dengan hasil kerja Dinda. Namun Edo tak mau memuji hasil kerja itu, dia tidak ingin Dinda langsung merasa puas, hanya menilai baik dan lumayan.
"Bagus, lumayan untuk di awal, dan kalau semua sudah beres dan terselesaikan, kita sudah bisa terjun lapangan besok.!
" Baik pak, dan apa ada yang masih bisa saya kerjakan pak??
"Sepertinya cukup.! dan kamu istirahat saja dulu.!
" Maaf pak, kalau nggak ada lagi, saya permisi pulang lebih dulu, ujar Dinda yang memang sudah waktu pulang kerja.
"Kita pulang bersama, dan saya akan mengantarmu pulang.!
" Maaf pak, bukannya saya membantah atau pun menolak, sebagai karyawan yang baru, saya akan datang dan pulang sendiri, saya tidak ingin karyawan yang lain menilai saya karyawan yang istimewa, dan itu tidak adil bagi yang lain.!
Edo pun bungkam, menatap Dinda dalam, mengira Dinda tersinggung dengan ucapannya tadi.
"Apa kamu tersinggung karena aku mengatakan harus memanggil saya Pak??
" Tidak sama sekali, saya tidak ada kepikiran sampai ke sana, saya hanya ingin sama seperti karyawan lainnya, tidak karena apa pun.!
"Baiklah kalau memang itu mau kamu, saya tidak akan memaksa, dan kalau tuan muda bertanya, tentu kamu bisa jawab kan, karena saya tidak mau di salahkan karena membiarkanmu pulang sendiri.!
" Bapak jangan khawatir, saya akan jelaskan pada kak Kevin nanti.! kalau begitu saya duluan ya pak.!
"Silahkan, selamat sore.!
Edo pun membiarkan Dinda pulang sendiri, tapi Edo merasa bersalah, karena terlalu tegas tadi pada Dinda, hingga Dinda mengatur jarak pada nya.
" Bodoh, bodoh.!! mengumpat dirinya sendiri, karena Dinda bukannya jadi dekat malah menjauh, dan membuat batasan.
Syukurlah kalau kamu sadar ya Edo, πππ, author resek dikit ya πππ
Next.
Salam Authorπππ
__ADS_1