BUTIRAN LUKA

BUTIRAN LUKA
67. Kejutan Part 2.


__ADS_3

Bora dan Ayuma sudah berangkat, Edo sudah mengatur segalanya, dan tinggal menunggu kedatangan tuan dan NY besar itu.


Sebelumnya Edo sudah lebih dulu menjemput Alvaro dan istrinya, menempatkan di rumah yang lain juga milik Kevin, agar Alvaro dan istrinya bebas melakukan apa pun, dan untuk sementara waktu mereka harus menahan sabar untuk bertemu putri kecilnya itu, perasaan sesak pun menyelimuti hati Alvaro dan Istrinya, merasa tak akan sanggup melihat putri nya itu, yang sudah jadi korban karena perbuatan mereka, dan menanggung dosa-dosa mereka di masa lalu.


Edo sudah menunggu kedatangan Tuan dan NY besar nya itu, pesawat yang mereka tumpangi sudah take off di bandara kota yang sudah lama mereka tinggalkan, semenjak kejadian itu, mereka tak lagi pernah menginjakkan kaki mereka di kota itu, karena Kevin tak ingin bayang-bayang masa lalu selalu menyakiti mereka.


"Tuan, NY besar, selamat datang.! ujar Edo menunduk hormat pada Bora dan Ayuma, menyambut kedatangan mereka.


" Terima kasih Edo, apa kau sudah lama menunggu.?? tanya Bora membalas sapaan Edo.


"Tidak juga Tuan, silahkan Tuan, NY, ujar Edo mempersilahkan Bora dan Ayuma masuk ke dalam mobil, dan beberapa pengawal juga ikut menyambut kedatangan mereka, dan mobil mereka pun di kawal ketat dan posisi mobil mereka berada di tengah.


" Edo.! bagai mana kabar mu?? terima kasih karena susah tetap setia pada keluarga kami, dan selalu berada di sisi Kevin, ujar Ayuma, yang bersyukur karena Edo orang kepercayaan yang penuh dengan janji setia, dan selalu ada untuk keluarga mereka.


"Saya baik NY, jangan bicara begitu NY, karena itu memang tanggung jawab dan tugas saya.! ujar Edo merasa sungkan, karena tak layak mendapat ucapan terima kasih itu, justru dia yang harus berterima kasih pada mereka, terutama pada tuan mudanya, yang sudah menampungnya dulu, saat semua orang membencinya, atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.


"Apa Kevin memperlakukan Gaby dengan baik?? tanya Ayuma lagi.


" Tentu NY, dan mereka hidup dengan baik, dan bisa menerima satu sama lain, ujar Edo memberitahu.


"Syukurlah, kami lega, ujar Bora, senang mendengar kabar itu.


Pembicaraan mereka pun terputus, saat mobil sudah memasuki halaman rumah mewah yang berlantai dua itu, rumah yang begitu banyak kenangan bagi Bora dan Ayuma, di rumah itulah, masa kecil Kevin berlangsung, semua kenangan yang sempat mereka kubur karena trauma yang besar.


Edo pun turun, lalu membukakan pintu mobil pada Bora dan Ayuma, mempersilahkan mereka turun, lalu Edo menyuruh beberapa pengawal membawa barang-barang Bora dan Ayuma.


Bora dan Ayuma pun masuk, menuju pintu utama, merasakan tubuh mereka bergetar saat menginjakkan kakinya di depan pintu utama, tatapan mata Ayuma bahkan sudah berkaca-kaca, apa lagi saat pintu di buka lebar-lebar, bayangan Kevin saat berumur tujuh tahun, terpampang jelas di hadapannya, yang berlari senang, saat melihatnya pulang dan memanggil mereka dengan teriakan bahagia.


"Mommy, Daddy.!!


Edo yang melihat langkah Tuan dan NY besarnya terhenti, tak ingin menegur, ia tahu apa yang dirasakan mereka saat inj, karena rumah itu penuh dengan kenangan yang hampir mereka lupakan.


Bora tersadar dari lamunannya, bayangan yang bermain di depan matanya, mengisyaratkan kalau ia sudah kembali hidup seperti masa yang dulu lagi, ia pun tersenyum, menatap istrinya yang juga menatap nya, lalu mereka pun mengangguk bersama, tanda akan bersama melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam rumah itu.


Akhirnya mereka pun masuk, dan di ikuti Edo dari belakang, melihat Tuan dan NY besarnya, menatap isi rumah itu, dan masih terlihat sama, tidak ada yang berubah, membuat Bora dan Ayuma menatap Edo secara bersamaan.

__ADS_1


Edo yang di tatap pun paham, tatapan yang menunjukkan pertanyaan tentang keadaan rumah itu, ia pun mengangguk lalu bicara.


"Tuan muda sering berkunjung ke rumah ini, dan setiap letak dan keadaanya tetap sama seperti semula, karena tuan muda sangat menjaga rumah ini, rumah yang mengingatkan tuan muda dengan masa kecilnya, dan kebersamaanya dengan Tuan dan NY besar.! ujar Edo menjelaskan, dan Bora juga Ayuma pun mengangguk paham.


"Tuan dan Ny beristirahatlah, saya masih akan melakukan sesuatu untuk acara besok, saya pamit Tuan, NY.! ujar Edo undur diri.


" Baiklah, terima kasih.! ujar Bora


Edo pun pergi dari sana, minta beberapa pengawal untuk menjaga keamanan di sekitar rumah, karena ia tak ingin mengambil resiko, karena ia tahu, bagai mana sifat Tuan mudanya, yang selalu waspada pada apa pun.


Edo juga menugaskan dua orang pelayan, untuk membantu menyiapkan kebutuhan Bora dan Ayuma, seperti menyiapkan makanan dan lainnya, dan memilih pelayan yang memang bisa ia percaya dan dalam pengawasannya.


Edo pun pergi menuju tempat yang akan di gunakan untuk acara besok, namun saat di tengah perjalanan, ia pun teringat pada Dinda yang seharian ini tidak ia beri kabar, dan Edo pun menepuk jidatnya, karena terlalu sibuk sampai lupa dengan pujaan hatinya, dan sudah pasti, Dinda ngambek, karena Edo sudah mengabaikannya seharian ini.


Edo pun mengambil ponselnya dari saku celananya, ingin menghubungi Dinda, dan berharap Dinda nggak marah dan mau mengangkat panggilannya.


Edo pun menekan nomor Dinda, tertera di layar ponselnya tertulis "Sayangku", saat sudah menekan, Edo menghela nafasnya kasar, karena yang menjawab panggilannya adalah operator, karena ponsel Dinda tidak aktif, entah itu memang sengaja Dinda matikan atau tidak, yang jelas itu adalah isyarat bahwa si pemilik ponsel sedang mode bertanduk alias marah.


Edo pun, secepatnya menyelesaikan urusannya, pikirannya tak fokus karena belum bisa menghubungi Dinda, dan ponsel Dinda masih tetap sama, belum juga aktif, membuat Edo ketar-ketir memikirkan kekasihnya yang marah dan tidak akan memaafkannya.


Mobil pun melaju cepat, Edo tak lagi memikirkan hal lain, pikirannya hanya pada Dinda dan Dinda.! memutar otak, mencari cara membujuk kekasihnya yang ngambek itu, sungguh ia sangat bodoh, karena lupa dengan wanitanya, yang pasti sudah kesal karena tak ada kabar dari nya.


Mobil pun memasuki halaman mansion, harap-harap cemas pun Edo rasakan, tapi Edo tidak akan mundur, biarlah ia mendapat hukuman, asalkan Dinda memaafkannya.


Tanpa perduli dengan para pengawal dan pelayan yang menyapanya, Edo berjalan menuju kamar Dinda, dan dengan perasaan takut Edo pun mengetuk kamar Dinda dengan hati-hati.


Tok, tok.!


"Din, Dinda.! panggil Edo tapi tidak ada sahutan, dan Edo pun semakin frustasi, dan sudah jelas Dinda benar-benar marah sekarang.


Kevin yang mendengar suara Edo, menghampiri Edo, melihat Edo yang masih mengetuk dan memanggil Dinda dari luar.


" Apa kau butuh bantuan?? ujar Kevin tersenyum mengejek pada Edo, yang memelas pada Dinda agra pintu di buka.


"Cih.!! kalau hanya mau menertawakan ku saja, sebaiknya anda pergi saja tuan muda.! ujar Edo yang kesal.

__ADS_1


"Bukankah aku menawarkan bantuan?? kenapa kau jadi marah, ujar Kevin santai, merasa tak bersalah karena sudah memberi Edo tugas yang banyak seharian ini.


" Bantu sih bantu, tapi nggak perlu mengejek saya begitu tuan muda.! ujar Edo yang tahu Kevin mengejek nya.


"Hahahaha, aku tidak mengejek, hanya lucu saja melihat mu mengetuk pintu seperti itu, ujar Kevin, tertawa lucu, karena Edo seperti ingin mendobrak pintu kamar Dinda.


" Dia marah, karena aku tidak memberi tahu aku pergi kemana, dan pasti dia mengira aku mengabaikannya, ujar Edo yang semakin kesal.


"Sudah.! tak perlu mengetuk, dasar bodoh, kan ada kunci cadangan, makanya, jangan terlalu bucin, sampai otakmu nggak bisa loading, ujar Kevin, tersenyum mengejek pada Edo, yang menggaruk kepalanya yang tak gatal, membenarkan perkataan Kevin, meski ia kesal.


Kevin pun melemparkan kunci cadangan itu, Edo pun langsung sigap menangkap, dan dengan cepat ia pun membuka pintu kamar Dinda.


Saat pintu sudah terbuka, Edo menelan ludahnya kasar, melihat sorot mata tajam berdiri di depannya, tapi Edo tetap masuk dan menutup pintu kamar itu perlahan.


Melihat Dinda tak bergeming, dan masih melotot tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup, Edo merasakan bulu kuduknya berdiri, habislah aku.! batinnya.


"Keluar.!! Dinda menyuruh Edo keluar dari kamar nya dan masih menatap tajam.


" Aku bisa jelaskan sayang, maaf kalau aku lupa memberimu kabar.! ujar Edo yang merasakan oksigen di kamar itu sangat sedikit.


"Aku nggak mau dengar penjelasan apa pun.! ujar Dinda datar, melipat kedua tangannya di dada, dan membuang pandangannya ke arah lain.


" Sungguh, aku sangat sibuk seharian ini, sampai lupa memberimu kabar, maaf sayang, apa kau tak kasihan aku sangat lelah, dan juga lapar, ujar Edo membuat wajahnya seiba mungkin, agar Dinda luluh.


Mendengar Edo lelah dan lapar Dinda pun merasa kasihan, tapi ia masih marah, karena seharian ini sangat mencemaskan Edo yang tak ada kabar, membuat ia tak fokus karena memikirkan Edo, bahkan berkali-kali menghubungi nomor Edo, tapi jawaban tetap sibuk, entah siapa yang Edo hubungi, membuat Dinda berpikiran buruk, dan cemburu.


"Maaf, aku lupa mengabari mu, karena aku harus pergi pada dua bandara sekaligus dan melalukan tugas yang lain, dan salahkan juga kakakmu itu, yang memberiku tugas, begitu banyak, hingga aku nggak punya waktu mengabari mu, ujar Edo membela diri, dan menjadikan Kevin kambing hitam.


Dinda yang memang tidak tega, di tatapnya Edo yang memang terlihat lelah, apa lagi penampilannya sedikit kacau, membuat Dinda kasihan, apa lagi Edo mengatakan sangat lelah dan lapar, akhirnya ia pun luluh, mengambil air Putih yang ada di kamar nya, menuangnya ke dalam gelas, lalu memberikan pada Edo.


"Minumlah, aku percaya pada mu, tapi lain kali aku nggak akan memaafkan mu, kalau ini terulang lagi, ujar Dinda memberikan gelas yang berisi air itu pada Edo.


" Iya, aku janji sayang, terima kasih sudah memaafkan ku.! ujar Edo mengambil air minum itu dan tersenyum hangat, merasa lega, karena Dinda bisa memahami keadaannya seharian ini.


Bersambung.

__ADS_1


Salam Author 🙏🙏🙏


__ADS_2