
Hari ini adalah jadwal dari undangan di kapal pesiar itu. Seperti yang sudah direncanakan, jika Bisma dan Kia akan mengajak surya dalam acara kali ini. Bisma sesekali ingin memberi kepercayaan besar pada adik iparnya itu, agar Ia merasa berguna dan tak terlalu di asingkan dalam keluarga.
Sayangnya Jinan tak dapat ikut, karena Ia ingin fokus pada sena mulai saat ini. Bahwa kejadian sakitnya sena, begitu menyentuh hatinya bahwa hartanya yang berharga adalah Farisena_sang buah hati. Jinan hanya membantu surya untuk membereskan beberapa pakaian yang harus dibawa.
"Mas, sudah semua." ucap kia, yang juga telah rapi dengan dress ungunya.
Bisma yang mencium aroma tubuh Kia itu langsung mengangguk dan berdiri mengulurkan tangannya, sedangkan tangan satunya memegangi tongkat seperti biasa.
"Wajahmu," pinta Bisma sebelum pergi.
"Kita kan pergi bareng, Mas. Kenapa cari wajah Kia?" tanyanya heran, tapi tetap memberikan wajah cantiknga untuk diraba oleh sang suami saat itu.
"Sudah?" tanya Kia, dan Bisma mengangguk melepas tangannya dari wajah Kia.
Keduanya turun menghampiri surya yang telah menunggu dibawah sana dengan semua barangnya. Ia pun amat rapi saat ini, seperti akan memegang teguh akan amanat yang Bisma berikan padanya.
"Hey, kakak iparku. Kalian sudah siap rupanya," sapa Surya dengan senyumnya yang menawan. Ia tengah menggendong putranya saat Jinan tengah membuat susu dibelakang.
__ADS_1
"Kau siap?" tanya Bisma.
"Siap dong, Kak. Siap banget malahan. Siapa sih, yang ngga suka diajak kerja sambil liburan? Ngga papa deh, kalau harus nemenin bulan madu...."
"Surya..." tatap Kia dengan kedua bola matanya yang membulat sempurna. Demi menjaga emosi sang istri, Bisma mengusap tangan Kia dengan amat lembut. Untung saja Jinan datang, dan Kia langsung merubah mode wajahnya.
"Udah siap semua?" tanya Jinan, dan Oma pun keluar dari kamarnya. Seperti biasa, oma memberi beberapa nasehat untuk mereka berdua. Terutama untuk Bisma, cucu kesayangannya.
"Oma, nanti ketinggalan loh. Ini udah siang," tegur Jinan. Sepertinya rasa iri itu perlahan memudar dengan segala kondisi yang ada. Bahkan Jinan mulai bisa memberi senyum pada Kia_kakak iparnya.
"Hati-hati... Aku titip Kak Bisma," ucap Jinan.
"Iya, aku jaga dia dengan baik. Byeee," Kia melambaikan tangan pada sena, dan Jinan membalas untuk Kia dengan tangan mungil sena.
Mereka pergi, dengan Yanto mengantarnya menuju Dermaga. Dan benar saja, jika disana sudah amat ramai dengan para undangan yang ada. Daksa ada disana saat itu untuk sebuah misi.
"Kau sudah siap?" sapa Daksa yang menghampiri dan memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kau kenapa disini?" tatap Surya dengan curiga. Ia seperti menangkap sesuatu diwajah Daksa, apalagi saat menatapnya.
"Tak ada. Hanya memastikan disini semua aman terkendali." jawab Daksa dengan lugas. Surya memicingkan mata padanya, menguatkan kecurigaan yang Ia miliki.
Daksa mengangkat koper Bisma dan Kia. Tak terlalu besar, karena hanya pesta semalam dan meriah. Disana pun sebenarnua hanya sebuah pembahasan kerjasama antar para pemilik hotel besar untuk sebuah project megah. Dan Bisma salah satunya, bahkan salah seorang tamu kehormatan.
"Ini kamar kamu sama Kia, dan disebelah itu kamar Surya." Daksa mengantar mereka kekamar masing-masing.
"Kamarku kecil?" protes surya.
"Kau sendiri, untuk apa kamar besar? Atau, kau mau..." Ucapan Daksa itu langsung mengundang sebuah respon dari Bisma. Surya langsung menunduk dan menggaruku kepalanya yang sama sekali tak gatal itu.
"Ya... Baiklah, aku akan pasrah. Aku masuk," pamit surya kekamarnya. Ia juga menutup pintunya agar bisa segera rebah diantara semua kemalasan yang Ia miliki.
"Aku tak yakin membiarakanmu pergi," ragu Daksa.
"Aku aman," Bisma meyakinkan sahabatnya. Sedangkan Kia merapikan barang mereka dikamar itu, Daksa dan Bisma berunding akan sesuatu. Entah apa, dan hanya mereka yang tahu.
__ADS_1